
Sara terus menatap langit-langit kamarnya. Ia bosan dan terus terdiam. Jika debu bisa terlihat oleh matanya lebih baik ia menghitung debu daripada harus rebahan tanpa melakukan apapun. Seketika Sara langsung terbangun mengejutkan Adia yang menemaninya didalan kamar.
"Adia..." Adia terperanjat meliht Sara memnggilnya tiba-tiba. "Aku ingat disini ada taman bunga dan lapangan yang cukup luas?" Tanyanya teringat hal yang menyenangkan ketika ia berkeliling Istana yang terletak dibagian barat ini.
"Ya betul Nona" jawabnya.
"Aku mau kesana" ujarnya.
Tanpa ditemani Rawnie. Sara dan Adia mengunjungi taman bunga yang luas dan bersebelahan dengan sebuah lapangan yang sepertinya tempat untuk latihan bertarung.
"Adia bukankah istana ini khusus untuk Wanita mengapa ada senjata dilapangan ini" tanya Sara sesampainya disana.
"Lapangan ini digunakan oleh Raja atau pangeran jika mereka ingin berlatih tanpa gangguan" ujar Adia.
Mendengar perkataan Adia. Piliran liar Sara langsung memburu, matanya berkeliling seolah-oleh sedang melihat kesekeliling padahal kenyataannya ia sedang memperhatikan gerak gerik sesuatu yang akan mencurigainya. Setelah dikira aman Sara mengambil sebuah pedang di tempat senjata yang sudah tersusun rapi dan sangat lengkap.
"Nona jangan, senjata itu tidak pantas untuk Nona dan terlalu berat" Adia gelagapan melihat tingkah Nonanya.
Sara hanya diam tidak memperdulikan ucapan Adia. Ia menimang pedang yang kini berada ditangannya. Pedang yang lumayan bagus jika hanya digunakan untuk berlatih, namun untuk ukuran berlatih seorang lelaki ini terlalu enteng. Sara melihat-lihat senjata lainnya dibarengi dengan ocehan Adia yang tidak mau henti memperingatkan khawatir Nonanya terluka.
"Adia"
"Ya Nona"
"Petiklah beberapa bunga dan ambil yang paling gelap untuk dibawa kedalam kamar" perintah Sara agar membungkam mulut Adia.
__ADS_1
Setelah aman Sara mengambil sebuah Busur dan Anak panah. Sara rindu sekali untuk memainkannya. Sara memegang dengan tegap, ia memasang kuda-kuda, tali busur ia tarik perlahan lalu sesejarkan dengan bahunya, matanya tajam menatap kedepan. Sara yang sedang fokus dikagetkan oleh tangan gempal yang menyentuh bahu kanannya. Sara yang terkejut langsung membanting busurnya ketanah. Tangan kirinya meraih tangan gempal itu lalu Sara berputar 180 derajat begitupun dengan orang itu yang harus berputar karena ulah Sara. Tangan lelaki itu Sara cengkram dan menempel dibelakang punggung lelaki itu dan tangan kanannya masih ada anak panah yang hanya ia sentuh ujungnya dan sodorkan ke tenggorokan lelaki itu. Sara sudah memperhatikan tidak ada satupun orang disini.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu" rintihnya.
"Siapa kau?" tanya Sara. Sara lupa dan terkejut dengan kejadian tadi, ia hampir lupa jika ia bukan berada diwilayahnya. Sara langsung melepaskan lelaki yang memakai baju yang bagus itu, Sara yakin jika lelaki itu adalah seorang bangsawan.
"Aku Raska. Aku yang bertanggung jawab atas istana ini" jelasnya yang membuat Sara mengangguk. Hal itu cukup masuk akal karena tidak mungkin bisa sembarangan orang bisa masuk ke sini. "Siapa namamu?"
"Aku Saralee"
Lelaki yang cukup tampan dengan rambutnya sebahu, jika dilihat dari wajahnya Sara yakin mungkin sekitar 2 tahun diatasnya. Ia tinggi dan perawakannya bagus. Gaya bicaranya cukup sopan ditambah lagi ia pasti bukanlah orang sembarangan, tangan dan caranya ketika Sara meringkusnya menunjukkan jika ia adalah orang terlatih.
"Sepertinya kau cukup mahir menggunakan senjata" ujar Raska.
"Bohong aku memang diajari oleh paman" ucap Sara dalam hati
"Tidak biasa ada wanita yang berani memegang senjata disini" ujar Raska membuat Sara terkejut, ia pikir itu hanyalah sebuah senjata yang memang tidak dikhususkan.
"Maaf" Sara menundukkan kepala.
Sara menikmati perbincangannya dengan Raska. Sesekali Sara juga diajari berpedang, berpanah dan lainnya meski hal itu tidak diperlukan. Mau tidak mau Sara harus melakukan hal itu dan mengikuti apa yang dikatakan Raska yang melatihnya, setidaknya Sara tidak merasakan kebosanan selama ada kehadiran Raska.
Lima hari sudah berlalu selama 5 hari itu pula Raska dan Sara mengikrarkan dirinya sebagai teman dan selama itu pula para wanita memperhatikan Sara dan memperbincangkannya. Sara tidak mengetahui sama sekali tentang kerajaan Lasverre. Akhirnya para wanita mengikuti yang dilakukan oleh Sara. Beberapa dari mereka ikut berkumpul dilapangan berharap Raska melihat dan melatih mereka. Beberapa wanita benar-benar memerankan perannya dengan maksimal. Mereka sadar tidak mungkin bisa bersaing dengan wanita si Gaun merah Misha dan juga beruntung karena tidak harus menikahi pangeran terkutuk, setidaknya mereka bisa mencari jalan lain untuk tinggal diistana. Karenanya mereka berbondong mendekati Raska.
Sara kembali menuju lapangan untuk berlatih, namun ia langsung menghentikan langkahnya ketika menyadari wanita bergaun itu memenuhi lapangan dan menggunakan senjata yang jelas-jelas tidak bisa mereka pegang. "Pertunjukan sirkus dimulai lagi".
__ADS_1
Sara memutuskan untuk kembali atau mencari tempat lain. Ia menuju sebuah ballroom yang besar namun tidak sebesar pertemuan pertama. Sara bertemu dengan seorang wanita yang sedang menari dengan indahnya. Sara berpikir apa wanita itu juga termasuk wanita yang mendapatkan undangan. Didalam ruangan itu juga ada seorang wanita yang sedang memangku dagunya di jendela menatap dunia luar, sekilas Sara berpikir mungkin ia juga ingin kebebasan.
"Hey Saralee" ujarnya menghentikan tariannya melihat sosok Sara didepan pintu.
Sara tersenyum namun ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia sama sekali tidak tahu tentang dirinya.
Melihat mimik wajah Sara, wanita itu tersenyum. "Salvia Laurinda"
"Owh, aku ingat. Bukankah kau yang... " Sara tidak berani mengatakan sehingga ia hanya memperagakan ketika Salvia di guyur oleh beberapa gelas oleh para wanita yang memang terlihat angkuh dan sombong.
Salvia mengangguk membenarkan ucapan Sara. "Aku senang kau kemari akhirnya. Aku ingin berbincang denganmu tapi sepertinya kau tidak ada niatan untuk berbicara dengan siapapun"
Sara hanya tersenyum karena betul yang dikatakan oleh Salvia. "Tapi siapa wanita itu?" Sara mengetahui apa yang dilakukan mereka namun Sara tidak tahu akar permasalahannya.
"Dia Blinda Adonia, ia merupakan bangsawan dengan wilayah cukup besar, ayahnya seorang petinggi dikerajaan ini. Aku tidak sengaja menumpahkan air lalu mereka langsung membalasku" ujarnya
"Maaf aku tidak bisa membantu"
"Tak apa karena banyak wanita yang mengalami kejadian seperti diriku. Aku dan beberapa wanita lainnya hanyalah bangsawan rendah dengan wilayah yang memiliki banyak kekurangan. Hal itu sudah tidak aneh. Setidaknya aku beruntung jika aku tidak terpilih"
"Kenapa begitu?" Sara tidak tahu jika akan ada wanita yang seperti dirinya.
"Aku sangat senang ketika menari. Aku merasa menjadi diriku sendiri, aku lebih baik menari bersama rakyatku daripada menghabiskan waktu disini. Kandidat juga terlalu kuat untuk aku hadapi. Selain Blinda Adonia, ada Misha Adelle Fradella yang aku dengar ia anak jenderal dan juga teman masa kecil pangeran. Ia memiliki wajah cantik, dingin dan ia juga pintar lalu ada Agata Aghna Arenina, ia juga merupakan bangsawan yang cukup terpandang, ia memiliki usaha yang besar dan ia pintar berkomunikasi. Bahkan ia dekat dengan rakyatnya" jelasnya.
Sara sangat bangga karena kandidat terlalu luar biasa. Ia merasa iri namun akhirnya ia juga senang karena bisa kembali berpetualang bersama Rawnie dan Pon. Sara sangat menantikan saat itu kembali. Dan pastinya ia berharap bisa bertemu dengan Narez, bayangannya semakin lama membuatnya gila dan sangat merindukan sosok itu. Iapun terus tersenyum dan sesekali bersenandung.
__ADS_1