LINN

LINN
Rencana


__ADS_3

Setelah kematian Luda, Addrin bangkit kembali. Meski butuh waktu Addrin mulai memiliki semangat untuk hidup setelah ia melihat adik kadungnya yang merasa gelisah dan ketakutan, ia berlari dengan cepat dan terus melihat ke belakang. Adrrin yang tidak sengaja melihatnya terkejut karena didalam Istana ada orang yang bisa membuat seorang putri terancam. Untuk seukuran pembunuh profesional ia terlalu terang-terangan. Addrin yang melihatnya pura-pura menyapa dan benar saja seperti dugaannya, orang yang mengejar Ira langsung pergi. Addrin merasa ada yang tidak beres dengan istana dan semakin menjadi setelah kepergian ayahnya, kejadian ini bukanlah sesuatu yang tidak sengaja melainkan kesengajan yang membuat pembunuhnya bebas berkeliaran. Pekerjaan mereka sungguh apik seperti mereka memang sengaja menggunakan alur yang tepat untuk membunuh.


Ira gemetaran dalam peluakn Addrin, ia tidak mengatakan apa-apa seolah ia ingin membereskan masalahnya sendiri. “Ira, ingat masih ada kakakmu disini, kalau kau merasa seperti ini larilah ke kakak” peluk Addrin membuat Ira pecah dalam tangisannya.


“AKu takut kak, aku takut pada kakak” Addrin terkejut mendengar ucapannya.


“Kau kenapa takut pada kakak?” kata Addrin lembut.


“Bukankah kakak tidak pernah melihat Ira lagi, semenjak itu aku tidak betani lagi bertemu kakak” Ira masih menangis dalam pelukannya.


“Maafkan kakak” Addrin mengusa Air mata Ira yang masih menangis. “Kau tahu siapa yang mengejarmu?”


“Aku tidak tahu kak, ia sudah mengejarku selama 1 bulan ini, namun ia akan berhenti jika aku tidak sendiri.


Betapa terkejutnya Addrin mendengar ucapan Adiknya yang sadar telah diikuti dan dikejar. Ia juga tidak menyangka jika selama ini adiknya hanya diam tidak mengatakan sepatahkatapun ataupun meminta tolong. Adik bungsunya yang begitu kecil dan rapuh ini berusaha untuk melindunginya sendiri.


Addrin memeluk erat adiknya dan ia yang selama ini hanya menghabiskan waktu dalam diam tidak tahu jika istana ini tidak dalam keadaan baik-baik saja dengan skala yang cukup besar. meski ia tahu Leo menginginkan tahta, Addrin terkejut karena anak kecil menjadi korbannya. Addrin yang tidak memiliki tekad dan keinginan untuk hidup akhirnya memutuskan untuk melindungi Ira dan mencari kesalahan dari istana ini.


addrin masih bersikap seperti biasa seolah tidak peduli dan dingin, ia tidak merubah sikapnya kepada siapapun, ia hanya merubah cara berpikir dan memandang sesuatu. Setelah diselidiki memang benar ada yang tidak beres. Ia sedikit terkejut namun ia memaklumi hal yang dilihat dan didengarnya, namun ini semua bukanlah kesalahannya jika ia diberi permintaan sebelum lahir kedunia ini, ia ingin menjadi orang biasa yang hidup rukun dan bahagia bersama keluarganya. Addrin merasa sedih dan terpukul dengan kenyataan, penyelidikkannya sungguh diluar nalarnya ia tidak membayangkan jika kebencian itu bukanlah sebatas kebencian biasa namun sudah mendarah daging.


“Kini kau sudah tahu semuanya kak Addrin” ujar Raska yang berada dibelakang Addrin.


“Lalu kenapa? Kau akan membunuhku?” ujar Addrin.


“Mungkin saja, tapi itu bukan urusanku. Jika bukan kau yang mati pasti dia, tapi biarkan tangan kalian yang menyelesaikan. Aku tidak punya hak untuk ikut campur” ujar Raska mengejutkan Addrin. Addrin tidak percaya dengan ucapan Raska yang terbilang umurnya masih muda , 4 tahun lebih muda darinya ucapannya cukup bertanggung jawab dibandingkan kakaknya.


“Kau yakin apa yang kau ucapkan?” Tanya Addrin menggoyahkan Raska.


“Aku yakin, aku rasa Kak Addrinpun tahu seperti apa Kakakku” Ujar Raska seolah bertaruh dengan Addrin.


“Kaupun tahu, bukan hanya kakakmu yang bekerja”


“Aku hanya bisa mengikuti keputusan Putra Mahkota, tapi aku juga tidak mungkin melanggar keinginan ibuku. Meski aku tahu tapi selama ini aku selalu tidak pernah peduli urusan kalian selagi kalian juga tidak mengusikku. Aku tidak mengingkan tahtamu sama sekali" ujarnya.


“Kau cukup pintar juga. Bukankah itu alasanmu datang kesini”

__ADS_1


“Mungkin. Aku hanya bisa berharap padamu” ujarnya meninggalkan Addrin.


“Tunggu…”


Raska menoleh kearah Addrin.


“Aku minta tolong padamu. lindungi Ira”


“Kau tidak perlu mengatakan hal itu. ia adalah adikku aku pasti melindunginya”


“Kau pun sudah tahu hal itu”


“Aku tahu. Dan aku minta tolong padamu untuk tidak mengatakan kepada siapapun percakapan kita”


Addrin tersenyum, “Baiklah, kau tidak perlu takut”.


Raska terdiam sejenak sembari melihat kepergian Addrin. "Jika kau tidak menginginkannya, aku yang akan merebutnya"


Addrin mendengar ucapan yang dujatakan Raska namun ia terus melangkahkan menjauh darinya.


Setelah kematian sang Raja, Addrin harus bersiap untuk menaiki tahta menggantikan ayahnya. momen ini sangatlah kebetulan, ia menggunakanya untuk merubah dirinya semakin dingin lagi dari sebelumnya. Ia benar-benar tidak memiliki ekspresi sama sekali. ia kembali menjadi Addrin yang dulu. Auranya benar-benar menakutkan, bahkan ia seolah tidak mengenal siapapun. Sara yang menunggu didepan pintunya diacuhkan. Sara semakin sakit melihat perlakuan Addrin padanya. ia benci karena Addrin ingin menanggungnya seorang diri. Ia terus disibukkan dengan kegiatan Istananya, ia sering rapat dan bepergian. Tidak sekalipun Sara dilihat ataupun ditanya. Padahal Sara hampir setiap hari mengekori Addrin, meski sedih setidaknya ia melihat Addrin dalam keadaan baik-baik saja, hal itu sudah cukup baginya.


Setelah peperangan tidak hanya Addrin yang mengurung diri didalam kamar, melainkan juga Rawnie yang kini sering sekali menggantikan Sara duduk di bibir jendela yang biasa Sara gunakan. Sara aneh dengan sikap Rawnie ia bukanlah type yang seperti ini melamun dan berpikir. Kalau tidak sedang ada kerjaan Rawnie pasti lebih memilih untuk mengunjungi Pon daripada didalam kamar. Sara duduk ditempat tidurnya sengaja menatap Rawnie yang menatap lebih dalam pemandangan diluar jendela. Bahkan Rawnie tidak sadar dengan keberadaan Sara yang baru masuk kedalam kamar setelah ia beberapa hari bolak balik duduk didepan pintu Addrin.


“Rawnie, ada apa denganmu?” Tanya Sara mengejutkannya.


“Nona…” Rawnie duduk menghadap Sara.


“Apa yang sebenarnya terjadi”


Sebelum rawnie menjawab adia masuk dengan sikap yang tidak biasa.


“Ada apa?” Tanya Sara.


“Pangeran…”

__ADS_1


“Apa…” Sara langsung memotong ucapan Adia, ia menghampiri dengan terburu-buru.


“Maafkan aku. aku bukanlah Addrin” ujarnya.


“Raska..”


“Bagaiaman dengan keadaanmu?” Tanya Raska.


“Kaupun tahu?”


“Aku sangat cemburu kepada kakakku” ledek Raska. “Kau mau jalan-jalan denganku?”


Sara menerima ajakan Raska, jalan-jalan lebih baik daripada dia harus berdiam didalam kamar. Iapun tidak bisa menggangggu Addrin yang benar-benar tidak melihatnya. Ia tidak mungkin terus menerus memkasa Addrin, Ia juga memiliki kesibukan dan kesedihannya sendiri. Sara rela berbagi kesedihan dengan Addrin, hanya saja Addrin terus menggacuhkannya. Raska dan Sara berjalan-jalan disekitar istana ia pun pergi ketaman. Sara duduk dibawah pohon yang biasa ia panjat. Ia tidak bisa melakukan hal itu karena ada Raska bersamanya.


“Kau tidak perlu bersedih, seperti itulah Kak Addrin” ujar Raska memecahkan keheningan ditaman itu.


“AKu benci dirinya” ucap Sara.


“Kalau begitu denganku saja. Aku tidak membencimu dan kau pun tidak membenciku”


“Aku memang tidak membencimu tapi aku kesal padamu”


“Hah…” canda Raska terbelalak tidak mengerti.


“Sudahlah…”


“Kalau kau terus bersedih akan ku cium kau”


“Kau tid…”


Chuppp.. Raska langsung mencium pipi Sara.


“Hey kau benar-bener menyebalkan, kau berani menciumku” Sara bangun dan mengejar Raska yang tidak bercanda dengan ucapannya.


Sejenak Sara melepaskan beban yang terus mengingat Addrin. Meski kehadiran Addrin yang diinginkannya tapi setidaknya ia senang dengan kehadiran Raska yang selalu ada disaat ia sedih. Begitupun dengan Raska yang merasa senang dengan sikap kakaknya yang berubah, ia memamfaatkan keadaan sang kakak padahal ia jelas tahu alasannya, tapi ia juga tidak mungkin untuk memberitahu Sara. Ia tidak ingin menghianati sang kakak dan juga kehilangan Sara. Biarkan kapal berjalan bersama langkahnya sampai ia lelah dan berhenti berlabuh, saat itu juga Raska tidak akan berdiam diri di dermaga yang sama lagi.

__ADS_1


__ADS_2