
Addrin menatap lembut dan dalam wajah tunangan yang memangku kepalanya tertidur pulas, tangan halusnya masih memegang Dahi Addrin. Pertemuan dengannya semua serba kecelakaan dan tidak terduga. Semua karena Air, bulan dan malam. Setidaknya rasa yang pernah ia rasakan sebelumnya ditujukan kepada seorang Wanita. Meski samar terdengar itu cukup mengejutkan baginya mendengar kenyataan. Tapi Ia yakin tidak salah mendengar dan aroma dari Sara cukup familiar, aroma yang mendebarkan hatinya dan sulit terlupakan. Addrin berpikir mungkin ia tidak akan mendapatkan ataupun mencuri kesempatan untuk bertemu denganya. kini ia benar-benar beruntung jika wanita itu ada didekatnya.
Addrin ingin memastikan kembali alasan dibalik Sara melakukan hal itu, bahkan ketika acara pesta pertunangan hanya Sara yang tidak ada didekatnya dan muncul lelaki yang bersama adik tercintanya Ira, meski kasihan dengan keadaan Raska yang kelimpungan mencari Sara disudut istana, Addrin tidak mungkin untuk memberitahunya. Bahkan Addrin sadar jika adiknya menyukai Sara dan pastinya tidak hanya Addrin yang merasakannya. Addrin yang tidak dekat dengan saudara bukan berarti ia tidak mengenal sifat mereka. diantara semuanya hanya Raska-lah anggota kerajaan yang paling dekat dengan rakyat dan mudah berbaur dengan semua orang. diantara semua yang pernah mendekati dan didekati Raska tidak ada yang sedekat ini dengannya seperti Sara.
Addrin hanya bisa diam dan tidak bisa menyalahakan adiknya, bagaimanapun acara ini tidak hanya diperuntukkan untuk dirinya melainkan untuk semua Pangeran untuk memilah calon pengantinnya. Sepertinya halnya dengan Pangeran kedua yang sudah memiliki calon berkat pertemuan sebelumnya dan sekarang Raska yang sudah menambatkan hatinya kepada Sara. Addrin merasa beruntung karena Sara bisa terpilih menjadi calonnya. Jika benar adanya Sara adalah wanitanya ia tidak akan mungkin melepaskannya walau jika itu untuk Raska, tapi Addrin perlu menimbang kembali, jika ia tidak ingin melepaskannya apakah Sara juga menerima uluran tangannya. Jika iya, apakah Sara rela mati untuknya. Hanya dengan Sara ia merasakan detak jantungnya serasa mati hidup kembali. Addrin benci pada dirinya, jika memang benar adanya kutukan itu. melepas atau menerima Sara ia akan tetap tersakiti tapi hanya itu jalan satu-satunya ia bisa terlepas. Malam itu adalah momen yang pas untuk memberikan kalung pada Sara sebagai Hadiah ulang tahunnya. Walau tanpa hari spesialpun Addrin akan tetap memberinya. Kalung itu adalah kalung berharga milik Addrin, kalung dengan liontin berbentuk bulat menonjol berwarna putih dengan goresan berwarna biru safir sangat indah nan anggun.
*******
Sudah 4 hari berselang, Sara belum bertemu dengan Rawnie, ia ingin segera mendengar kabar tentang keluarganya dan wilayahnya. Tidak hanya Rawnie yang Sara khawatirkan melainkan keadaan kerajaan yang juga sedang genting. Sialnya para perempuan diistana tidak diizinkan untuk mengetahuinya. Hanya kabar angin yang bermacam-macam yang Sara dengar, bahkan selama itu pula ia tidak mendapat kabar dari Addrin dan juga melihat keberadaan Raska yang biasanya tidak diikutsertakan dalam pertemuan apapun. Sara mondar-mandir didekat jendela mengharapkan kedatangan Rawnie sembari menggenggam liontin dari kalung pemberian Addrin. Sara benar-benar khawatir dan benci karena tidak tahu apapun mengenai hal ini. Sara rasanya geram ia terus merutuk dihadapan Adia yang terus memperhatikannya.
Butuh waktu 2 jam menungggu kedatangan Rawnie. Ia berlutut lemas dan mengatur napasnya. Sara bisa membaca yang terjadi dari desahan napas Rawnie.
“Benar apa katamu Nona” Ujar Rawnie murung. “Daerah Toran sudah dikuasai, kini hanya tersisa wilayah Kerdon sebelum Aselin”.
“Aku harus cepat kesana” gelisah Sara.
“Kau tenanglah”
__ADS_1
“Bagaimana aku bisa tenang” bentak Sara.
“Kau harus tahu kau berdiri dimana saat ini, mungkin kau bisa menggantikan semua orang tapi tidak ada yang bisa menggantikan dirimu. hanya kau sendiri yang bisa melakukan itu. kau jangan terus bersikap egois, kau sekarang bukanlah kau yang dulu. Bagaimana jika keluargamu dan kerajaanmu tahu. Kau harus ingat di Aselin mungkin kau masih bisa menjadi Linn tapi diluar sana kau tahu siapakan” rawnie mengoceh kesal.
“Lalu aku harus bagaimana. Aku tidak bisa tinggal diam seperti ini. ini justru membuatku resah” tukas Sara resah.
“Setidaknya kau bisa melindungi kerajaan ini. aku tidak ingin memberitahumu tapi aku rasa kau harus tahu masalah ini. tidak hanya Kerajaan Daarz saja yang sedang mengincar Lasverre melainkan kerajaan lain juga bahkan mereka seolah berlomba untuk mendapatkan daerah kekuasaan disini. Dan aku dengar perang tidak bisa dihindarkan, 4 hari lagi ke empat pangeran akan berperang. Setidaknya kau bisa bersiap disini. Aku mohon untuk kali ini saja kau ikuti keinginanku. Aku akan mencari cara untuk melindungi wilayah kita ataupun Lasverre ini” pinta Rawnie berlutut memohon kepada Sara.
Adia mengikuti apa yang dilakukan Rawnie. “Iya Nona, aku mohon kau jangan bertindak gegabah”
Sara berjalan melalui lorong dan dinding besar, ia tertunduk kesal, pikirannya berkecamuk. Seperti yang diduganya ia memang tidak cocok tinggal diistana menjadi seorang putri. Dari semua putri pasti ia yang paling urak-urakan.
Bruggghh…. Keduanya saling tersungkur dan merintih kesakitan.
“Maaf” ujar mereka kompak.
“Kau tidak apa-apa?” ujar mereka kompak kembali dan tertawa.
__ADS_1
“Aku bantu kau bangun” ujar Sara mengulurkan tangannya membantu Misha yang sibuk membaca sembari berjalan.
“Terima kasih”ucapya lembut. “Aku harus buru-buru”
“Baiklah” angguk Sara.
Tidak lama Misha membalikkan badannya menghampiri Sara dan menyentuh pundaknya. Sara langsung berbalik namun kini tanpa perlawanan, ia sudah mulai membiasakan dengan sentuhan yang berada diistana ini yang sering sekali menyentuh anggota badannya tiba-tiba.
“Ya ada apa?” Sara terkejut dan menoleh kearahnya.
“Owh tidak apa-apa” geleng Misha tersenyum meninggalkan Sara.
Sara mengangkat kedua bahunya tidak mengerti. Ia kembali meratapi pikirannya, mencoba mencari jalan keluar tanpa ia melanggar keinginan Rawnie. Sama halnya dengan Sara, Misha yang awalnya sedang berpikir tentang hal lain berubah ketika rantai berliontin warna Safir itu melingkar indah di leher Sara. Ia yakin pernah melihat kalung itu, kalung yang tidak sengaja ia lihat disalah satu laci kamar Addrin ketika dulu ia sering bermain dengannya. Misha sangat mengenal tentang Addrin ia bukan tipe orang yang mudah menunjukkan ataupun memberikan apalagi barang miliknya yang berada dikamarnya. Addrin tidak pernah sekalipun menunjukkan kalung itu kepada Misha selama ia mengenalnya, bahkan ia pernah berharap jika kalung itu akan diberikan untukya. Namun sampai sekarangpun jangankan memberi, menunjukkan saja Addrin tidak pernah. Apalagi semenjak kutukan itu datang, Addrin berubah dan sangat berbeda dengan Addrin yang dulu ia kenal.
Misha aneh melihat kalung itu bisa berada di leher Sara, tidak mungkin jika Sara mengambilnya dan memakai terang-terangan jika itu bukan permintaan. Misha membenarkan pikirannya ketika ia melihat Sara keluar dari kamarnya tepat pada hari pertunangan. Mungkin Addrin telah membuka hati untuk Sara. Hanya saja Sara yang jarang sekali muncul dan jarang bersama dengan Addrin bisa mendapatkannya itu. meski Aneh tidak mungkin untuk Misha bertanya kepada Sara ataupun Addrin. Misha lebih baik diam daripada harus bertanya, bagaimanapun itu adalah masa lalu, namun tetap saja rasa penasarannya semakin memuncak.
Sesekali Sara menoleh ke Misha, ini untuk pertama kalinya ia berbicara sebanyak ini dengan Misha. Wajah Misha yang hampir sama dinginnya dengan Addrin membuat Sara tidak ingin bertanya dengannya.
__ADS_1