
Tidak lama yang ditunggupun akhirnya datang. Prajurit suruhan Sara datang membawa Worri seperti yang diinginkan dengan tambahan Sara yang sebenarnya juga diharapkan. Tapi yang terpenting hanyalah peran Worri. Sara ingin mengajari mereka untuk berlatih bertarung, Sara tidak mungkin untuk melatih Ira bagaimanapun yang ia kenal adalah Linn bukanlah Sara yang hanya Tunangan Kakaknya. Sara mulai mengerti mungkin ini adalah alasan kenapa Ira harus berlatih diam-diam didalam hutan. Dilihat dari wajah Addrin sebelumnya sepertinya ia tidak mungkin mengizinkan tapi jika itu Raska beda lain ceritanya lagi.
Disana ada 6 pelayan perempuan dan juga sekitar 10 prajurit. Sama seperti sebelumnya yang Sara lihat dari pelayan itu hanyalah ketakutan sedangkan dari prajurit itu kurang terlatih. Mereka hanya cocok sebagai penjaga tapi tidak mungkin untuk bertarung. Worri yang sudah mengucap sumpah setia itu kaget karena ada orang yang bisa mengetahui tempat latihan Rahasianya dengan Rawnie, apalagi orang itu adalah seorang prajurit kerajaan, jika ia tidak membawa pesan yang dipastikan dari Sara prajurit itu sudah hilang tidak berbekas.
Sara berbisik kepada Worri untuk tidak memberitahu siapa dirinya ataupun Rawnie. Kehadiran disini tetap sebagai Kapten yang akan mengajari Ira, pelayan dan prajurit untuk berlatih. Menerima pelajaran dari Sara saja itu merupakan sebuah kehormatan bagi dirinya apalagi kini ia harus mengajari sang putri ini merupakan sebuah kehormatan dan penghargaan dalam hidupnya.
“Worri aku ingin kau mengajari Putri Ira untuk bertarung dan juga pelayan pastinya prajurit yang ada dihadapanmu” suruh Sara.
“Sebuah kehormatan bagi Hamba Yang Mulia. Jika Anda tidak keberatan” lutut Worri pada Putri Ira.
__ADS_1
“AKu mohon bantuannya” putri Ira membalas dengan hormat meminta bantuan Worri.
“Hamba mohon angkatlah kepala anda” ujar Sara. “Kau tidak perlu takut mereka adalah orang kepercayaanku”
Worri berkaca mengucapkan terima kasih berkali-kali, untuk pertama kalinya ada orang yang benar-benar butuh dan peduli pada dirinya. Worri merasa i hnya prajurut biasa, ia merasa terharu karena terbawa suasana.
“Rawnie, kau bawa Adia juga” titah Sara.
Sara dan Rawnie hanya duduk ditanah bearalaskan rumput, mereka dengan sigap mengikuti semua intrusksi yang diberikan oleh Worri. Sara yang baru melihat Worri setelah kejadian itu kini kemampuannya sudah berkembang daripada sebelumnya. Gerakannya dan cara ayunannya sangat baik, Rawnie ternyata cukup bisa diandalkan untuk mengajari walaupun pada awalnya ia menolak dan terus merajuk. Tidak hanya Worri yang serius mengajari mereka melainkan Putri Ira, Adia dan juga yang lainnya sungguh-sungguh mendengar ucapan Worri. Jelas sekali urat diwajah Ira yang menegaskan ia harus bisa melakukan semua ini dan ingin mengalahkan sumber ketakutannya selama ini. sara yang cukup terkejut mendengar pernyataan Ira menurutnya benar-benar tidak percaya. Sayangnya Sara tidak bisa mengikuti latihan ini, padahal ia juga ingin mengajari mereka karena statusnya kini mengukungnya dengan sangat jelas.
__ADS_1
Disela latihannya Ira beristrihat dan menceritakan ketakutannya selama ini yang tidak berani ia katakan pada siapapun termasuk Addrin. Selama ini Addrin tahu jika adiknya sedang dalam bahaya namun ia tidak tahu jika masalah itu sudah ada diranah istana. Ira hanya berani menceritakan kepada Raska karena hanya ia yang hampir mengetahui segala seluk beluk yang ada diistana dengan caranya sendiri, hanya ia yang bisa Ira andalkan secara keseluruhan dan karena hanya Raska satu-satunya pangeran yang jarang masuk ke ranah peperangan. Namun kini lain lagi ceritanya setelah ia mendengar jika Raska akan ikut bersama ayah dan kakaknya. Dan ia hanya bisa medengar kata-kata Raska untuk mempercayai Sara
Sara hanya mengangguk mengiyakan apa yang Ira katakan, meski ia tidak tahu alasan dibalik Raska menaruh kepercayaannya kepada Sara begitupun dengan Addrin yang telah memberikan kalung yang cukup berharga kepadanya, awalnya ia pikir ini hanyalah sebatas hadiah ulang tahun, sesuatu yang tidak berharga bagi Addrin tapi berharga baginya. Sara berterima kasih karena Addrin mau memberikan hadiah di ulang tahun pertama ia di istana. Itu sangat membahagikan. Sama seperti halnya kalung yang disematkan Addrin dilehernya, ia juga akan menyematkan keselamatan untuk Ira adiknya. Tanpa diperintahpun Sara pasti akan melindungi Ira karena ia melihat langsung adegan Ira yang terancam bahaya. Rasanya sungguh tragis sekali merasa terancam dirumah sendiri. Bagaikan hidup diantara dinding jarum yang sedikit saja lengah akan langsung melukai.
Tidak terasa Sara sudah mulai melihat perkembangan Ira yang baru 2 hari belajar tapi ia bisa dengan mudah memperlajari apa yang Worri intruksikan. Tekad dalam hatinya menguatkannya untuk bisa mengayun, menangkis dan menyerang. Semenjak Ira berada didekat sara tidak ada lagi yang mengusik ketenangan Ira setidaknya ira merasa nyaman berada didekatnya bahkan kini Ira sering tidur bersama dikamar Sara. Semenjak kesibukan didalam istana Ira tidak berani tidur dikamarnya, karena tidak ada Raska yang menemaninya sampai terlelap dan kamar mereka yang lumayan dekat membuat Ira merasa tenang. Sedangkan Sara disibukkan dengan pikirannya mengenai peperangan. Sebentar lagi Raja dan calon suaminya akan pergi ke medan perang. Sara terpuruk karena tidak bisa membantu, laporan dari Rawnie membuatnya semakin runyam. Kini Sara sadar mungkin ini maksud dari Rawnie yang tidak ingin memberitahunya, memang benar-benar tidak nyaman sekali.
Lagi-lagi sara bertengger di bibir jendela, sesekali ia mendongak ke atas langit malam yang begitu menenangnkan namun terasa mencekam. Sara teringat kembali danau yang pernah ia singgahi diistana ini dan berakhir tidur diranjang Pangeran Addrin. Entah mengapa malam ini Sara ingin bertemu dengan Addrin tapi ia tidak ingin bertemu dikamarnya. Sara berjalan menuju Danau, ia juga tidak ingin bermimpi bertemu dengannya setidaknya ia bisa meringankan pikirannya didanau seperti ketika itu.
Sara tidak mengetahui jika Addrin sering pergi kedanau setiap malam tepatnya ketika bulan berada dipuncaknya. Ia akan menatap bulan itu diatas pohon yang tidak jauh dari pinggir danau yang sekarang Sara pijaki. Ia menyilangkan tangannya dibawah dada mendekap tubuhnya yang kedinginan, ia mendongak keatas langit melihat bulan yang sedang indah-indahnya, ia menutup mata menikmati hawa malam yang begitu menenangkan. Danau ini memang tidak sebesar danau yang berada dihutan namun ia lebih menyukai danau yang berada disini.
__ADS_1
Tidak jauh berbeda dengan Sara, beberapa hari ini Addrin tidak kuasa menahan rindunya kepada Sara. Selama itu pula ia sengaja tidak ingin bertemu dengannya, karena hal itu akan membuatnya sakit. Ia lebih memendam semuanya sampai urusannya selesai walau ia tidak yakin hal itu akan terjadi. Kini sosok yang diinginkan ada dihadapannya, Addrin masih ragu untuk menghampirinya atau membiarkannya berdiri menikmati bulan yang ingin dikalahkan oleh Addrin. Addrin tidak ingin melewatkannya, biarkan malam dan bulan menjadi saksi cinta tak tersampaikan Addrin pada Sara.