LINN

LINN
Malam itu...


__ADS_3

“Rawnie kau bisa jelaskan sekarang” ujarnya sembari menutup pintu. “Arrgghhh… Si.. siapa kau?”


Sara tersungkur kepintu melihat sosok hitam yang belum jelas karena hanya mengandalkan terang bulan. Sosok itu sudah dipastikan bukan Rawnie ataupun Adia.


“Kau lupa padaku” ujarnya dengan sorot mata dingin.


“Yang Mulia” teriaknya. “Se… sedang apa kau disini?”


“Kau tunanganku? Kau lupa pada calon suamimu” ujarnya meledek.


Sara lupa siapa dirinya sekarang. Ia lupa jika ia telah memiliki calon suami mutlak dan tidak bisa tergantikan. Namun tetap saja ia tidak tahu harus berkata apa.


“Kau tidak perlu takut” ujarnya tenang.


Sara dan Addrin duduk berduaan. Addrin terlihat tenang tidak seperti Sara yang berpikir ratusan ribu cara untuk menghadapi keadaan seperti ini. padahal ia sering bersama lelaki tapi tidak pernah gugup seperti ini.


“Kau pernah menyukai seseorang?” tanyanya yang membuat Sara terbelalak.


Sara tidak tahu harus menjawab apa, perasaanya terhadap Narez masih belum jelas “E… e… “


“Bagaimana menurutmu jika ada seseorang yang menyukaimu?” Tanya Addrin.


“Eh… aku belum tahu” ujar Sara singkat terus tertunduk sembari menggenggam tangannya.


“Ah…” rintih Addrin kesakitan memegang dada kirinya.


“Ada apa denganmu?” gelisah sara langsung menyentuh tangan kanan Addrin yang sedang meremas dadanya. “Kau tidak apa-apa?”.

__ADS_1


Sara kelabakan kebingungan. “Aku harus panggil tabib” ujarnya pelan beranjak dari tempat tidur namun pergelangan tangan kanan Sara yang hendak turun ditahan oleh Addrin yang masih kesakitan. “Tidak perlu, aku sudah terbiasa, tabibpun tidak akan bisa menyembuhkannya”


“Kau yakin?” Sara khawatir dengan keadaannya, disaat seperti ini hanya tabib yang bisa menyembuhkannya, ucapan dan gelengan kepala Addrin memaksa Sara mengikuti apa yang dikatakannya. Padahal jelas sekali jika wajahnya saat ini sangat pucat dan berkeringat. Sara merebahkan tubuhnya dengan pahanya menjadi bantalan untuk kepala Addrin agar ia bisa leluasa mengelap keringat yang terus keluar disekitar dahinya. Sarapun tidak sadar dengan posisinya karena kekhawatiran lebih jelas dibanding dengan perasaan pribadinya. Sara terus mengelap keringat Addrin yang tertidur lelap sampai Sara tidak sadar telah tidur dalam posisi duduk bersandar.


Tengah malam Sara yang mulai merasa lelah dipunggungnya terbangun, ia tidak melihat Addrin bersamanya, matanya berkeliling mencari keberadaan Addrin, ia lega karena Addrin tertidur di meja belajarnya. Sara mengambil selimut, ia kenakan pada Addrin yang terlihat lelah. Ia melihat yang dibaca Addrin, ternyata ini sebuah peta, ia melihat peta yang sudah di beri tanda silang oleh Addrin, ia melihat satu persatu dengan seksama. Sara mulai mengerti maksud yang ditandai oleh Addrin, sepertinya itu adalah wilayah yang sudah diserang oleh kerajan lain karena memanfaatkan keterpurukan kerajaan Lasverre.


“Ini semua sudah gila” gumam Sara dalam hati, wilayah kerajan Lasverre sudah terlalu banyak yang terkena bencana, “Ini sangat parah” gumam kembali Sara melihat tanda itu sebentar lagi mengarah ke wilayahnya. Sara sulit menutup mata melihat kekisruhan dinegara ini. Sara lebih memilih duduk dibibir jendela menikmati bulan yang sebentar lagi mengakhiri tugasnya.


Sara mengerutkan kedua matanya yang masih tertutup namun sangat terasa sekali silaunya, bias cahaya matahari yang masuk dari jendela langsung menerpa Sara yang berada didekatnya, ia juga merasa hangat, ia membuka mata perlahan. Selimut yang sebelumnya ia balutkan ke Addrin kini membalut tubuhnya. Sara tersenyum semakin mendekap selimut yang masih beraroma Addrin itu, Aromanya sangat menenangkan sekali. ia tersenyum menyambut matahari yang sangat hangat terasa menerpa kulitnya. Tidak seperti pagi biasanya, ia merasakan kebahagiaan yang begitu membludak dihatinya.


Sara terbangun dari duduknya. Ia merasakan merinding karena sentuhan geli dari lehernya, Sara memegangnya, selama ini ia tidak pernah sekalipun menggunakan aksesoris kecuali dalam keadaan terdesak dan pastinya hanya sementara, Sara sangat terganggu sekali dengan sentuhan pada kulitnya. Ia melihat secarik kertas diatas tempat tidurnya beserta sebuah kotak. Secarik kertas itu bertuliskan selamat ulang tahun dari Addrin sedangkan Kotak itu berasal dari ayahnya. Sara yang terlalu sibuk berpikir melupakan hari pentingnya. Sara semakin senang karena hadiah kalung ini diberikan oleh Addrin tapi ia harus merasakan akibat dari kalung itu, ia juga tidak mungkin menyimpannya, ia takut meluaki perasaan Addrin. Sedangkan Kadi dari ayahnya langsung Sara simpan kado itu kedalam lemarinya tanpa dilihat, ia berharap diulang tahun kali ini ia akan mendapat pedang atu panah yang lebih bagus lagi atau senjata yang berbeda dari biasanya.


Sara kembali teringat dengan kejadian semalam ia harus menagih kepada Rawnie tapi sayangnya sejak semalam Sara terlalu sibuk karena hal itu yang Rawnie harapkan agar ia tidak mendapatkan tatapan mematikan dari Nonanya yang pastinya akan mencecarnya dengan banyak petanyaan melebihi kuota otaknya. Karena jika bukan ulah Sara, Rawnie tidak mau melakukan hal ini. Entah itu karena keadilan atau Hobi, Sara sangat menakutkan ketika sedang mengangkat pedangnya.


“Hey kau pikir, kau bisa melarikan diri?” ujar Sara melihat Rawnie jalan mengendap setelah ia membuka jendela kamarnya.


“Kau sudah bangun, ku pikir nona masih tidur aku takut menganggumu”


Sara memasang wajah datar tanpa ekspresi, Sara tahu apa yang sedang diperbuat Rawnie yang sedang berpura-pura. Meski Rawnie bisa dibilang sudah dikendalikan tapi jika sedang bersalah seperti ini ia terkadang lupa akan jati dirinya.


“Bisa kau jelaskan?” Sara menarik otot menatap dalam Rawnie.


Rawnie tertunduk dan pastinya ia menyerah. “Tidak semua masalah harus kau turun tangan, selagi aku dan Pon. Oh tidak, selagi Pon masih bisa untuk mengurusnya aku akan biarkan dia yang menanganinya”


Sara mengangguk menyetujui penjelasan Rawnie. “Tapi apakah harus kau sembunyikan semua itu dariku, setidaknya kau bisa memberitahuku”


Mendengar penjelasannya, dengan jelas Rawnie melihat Sara tidak setuju. Rawnie bukanlah orang bodoh, ia jelas tidak mungkin memberitahu Sara apa yang sebenanrya terjadi, berbohongpun percuma lebih baik ia tidak menceritakannya. Ia dipastikan tidak akan mendengar penjelasan apapaun bahkan menyelesaiakn pembicaraan jika ada satu kata yang menurutnya itu adalah perbuatan keji, Rawnie pasti tahu Sara akan langsung pergi tanpa panjang lebar. “Aku pasti akan memberitahumu jika hal itu sangat mendesak dan diperlukan”

__ADS_1


“Lalu bagaimana keadaan sampai sekarang” Tanya Sara tegas.


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya baik saja”


“Apakah termasuk pemusnahan di wilayah Aselin” sambar Sara.


“Apa maksudmu?” Rawnie tidak mengerti.


“Inilah yang aku takutkan, apa kau akan memberitahuku jika mereka semua sudah tergeletak di tanah” ujar Sara membuat Rawnie bingung.


“Kau pasti tahu jika Kerajaan Lasverre sedang diserang”


Rawnie mengangguk.


“Apa kau tahu juga Aselin akan di serang. Wilayah Aselin walau jauh dari kerajaan lainnya tapi Kerajaaan Daarz-lah yang wilayah bisa dibilang dekat dengan Aselin. Aku yakin pasti Daarz yang akan menyerang, kaupun tahu seperti apa Kerajan Daarz itu, Sistem disana memperbolehkan budak. Kekuasaan, kekuatan dan kekayaan adalah segalanya, jika ada yang membantah mereka bisa disiksa bahkan dihukum sampai mati, begitupun prajuritnya yang cukup tangguh, karena itulah aku melatih kalian semua untuk berjaga jika ada musuh seperti Daarz tapi jika terlalu banyak kalian tidak mungkin bisa melawannya” jelas Sara.


“Kau tahu darimana jika Aselin akan diserang” Tanya Rawnie bingung.


“Aku melihat peta Pangeran Addrin, kaupun pasti tahu wilayah yang sudah diserang, setidaknya kau harus menyelamatkan 2 wilayah sebelum Aselin. Kau harus menghentikan mereka Di Wilayah Bangsawan Toran untuk menyelamatkan Aselin”


“Baiklah aku akan segera memberitahu Pon”


“Apakah itu alasanya kau sering sekali tidak berada diIstana meninggalkanku? Gunakan kelompok Lingga untuk membantu kerajaan Lasverre tapi jangan sampai ada yang mengetahuinnya” titah Sara.


Rawnie yang bertengger di jendela bersiap keluar memalingkan tubuhnya ke Sara. “Nona kau yakin tentang Narez Dioba?”


“Apa maksudmu?” Tanya Sara aneh dengan kikuk wajah Rawnie yang kusut.

__ADS_1


“Ah… sudahlah Nona tidak perlu dipikirkan” Rawnie beraksi kembali tanpa penjelasan.


__ADS_2