
Addrin yang mulai melupakan kejadian malam itu justru gelap dan indahnya malam kembali mempertemukannya dengan cara yang sama, dibawah langit dengan sinar bulan yang tenang di dekat danau. Addrin yang tidak sengaja memegang dada Linn dan juga Sara yang menyebut nama “Narez” dalam tidurnya. Entah mengapa hal itu bisa terjadi, aroma tubuh sarapun sangat melekat dipenciuman Addrin ketika ia pertama kali bertemu. Ketika itu Addrin sengaja untuk tidak menemui lagi Linn atau Sara karena ia takut jika ia benar-benar mencintainya. Namun takdir mengatakan hal yang berbeda dan kini ia dalam dilema untuk mempertahankan atau menjauhinya. Semakin ia menjauh semakin ia merindukannya. Namun jika ia yang mendekatinya Sara akan pergi lebih jauh untuk selamanya.
Perang hanya jalan satu-satunya untuk Addrin. Ia sadar tidak mungkin bisa melepas kutukan itu. Untuk saat ini ia hanya bisa membanru ayahnya dan juga tanggung jawabnya untuk merebut wilayahnya dan juga kembali mensejahterakan rakyatnya yang sudah lama menderita karena keadaan istana yang sedang tidak memungkinkan. Addrin tahu itu semua karena ulahnya. oleh karena itu ia ingin bertanggung jawab dan mengambil kepercayaan daei orang-orang yang sudah meragukannha. Yang pasti ia tidak ingin menyakiti orang yang dicintainya. Ia ingin membebaskan orang yang terbebani dan merasa bahaya mengintainya jika ia terus hidup.
Tidak teintas dibenak Addrin akan bertemu dengan "Lelaki jadi-jadian" itu diistana ini , tepat berada didekatnya. Addrin tidak percaya ketika ia bertemu untuk terakhir kalinya sebelum berperang, ia sengaja pada hari itu tidak kekamar Sara karena ingin menghindarinya tapi ia justru dipertemukan. Addrin tidak bisa menyalahkan jika Sara mengungkapkan kalimat yang begitu menyenangkan hatinya ketika ia mendengarnya tapi Addrin yakin jika Sara berani mengatakan hal itu karena Sara tidak tahu kenyataan.
Addrin yang telah sampai ditanah perang masih belum bisa melupakan ucapan Sara yang begitu menghangatkan. Tapi hari ini bukanlah saatnya ia mengenang kebersamaanya bersama Sara, ia harus mengahdapi kenyataan jika didepannya adalah musuh brutal yang harus ia tangani. Musuh yang benar-benar tidak mengenal belas kasih setiap kali menjarah ataupun menyerang. Perang ini juga adalah perang pertama setelah ia bersembunyi terlalu lama di balik dinding istana. Setidaknya pertemuan dengan Sara tidak ingin ia sia-siakan. Addrin menatap kedepan betapa banyaknya pasukan kerajaan Daarz yang disiapkan hanya untuk memerangi kerjaan Lasverre yang sudah jelas hampir seperempatnya wilayahnya sudah dikuasai oleh beberapa Kerajaan yang sengaja mencari keberuntungan dari kelemahan kerajaannya. Kalau bisa Addrinpun ingin meminta bantuan Lingga yang telah ia dengar beritanya jika beberapa Anggota Lingga membantu mempertahankan wikayah milik kerajaan dari serangan musuh. Setidaknya ia lega jika Lingga berasal dari Kerajaan, seperti yang Addrin dengar Lingga sangatlah hebat dan lucunya Lingga hanya merampok orang-orang tertentu dan kebanyakn dari mereka adalah bangsawan sombong.
Setidaknya Addrin tahu jika Lingga bukanlah orang yang mementingkan diri sendiri. Namun ia terlalu sulit untuk ditemukan apalagi ditemui rasanya itu snagatlah mustahil.
__ADS_1
Raja Naren, Addrin dan pastinya Leo memimpin pasukan digaris depan, Beltin tetap berada di tenda untuk memperhitungkan dan strategi yang akan diambil langkah selanjutanya sedangkan Raska ia membantu beltin untuk mencari informasi mengenai musuh-musuhnya. Mereka bekerja sesuai kemampuan mereka masing-masing. Hanya Leo dan Addrin yang memiliki kekuatan yang tangguh. Leo yang penuh ambisi dan benci kekalahan tidak mudah untuk musuhnya mengharapakan kemenangan sedangkan Addrin memiliki tanggung jawab dan ia benci perang karena sekali ia membunuh, pedangnya tidak bisa dihentikan, ia akan terus mengayun dan menyerang. Pedanganya menyeimbangi Addrin yang mulai haus darah ketika ia mempertahankan keinginannya.
Ia bukanlah Addrin dulu yang terus diam, kini ia bersumpah untuk mengambil kembali wilayahnya dan akan menghidupkan kerajaan yang telah mati. Mungkin ia telat untuk menyadari perasaan ini tapi ia merasa bersyukur karena perasaan itulah yang menyadarkan dan membangkitkannya. Kewajibannya hanya satu sebagai seorang pangeran dan juga putra mahkota yang akan kandidat raja yaitu mencintai rakyat dan melindungi negrinya, mengenai keinginannya yang sudah tumbuh dan tersimpan dalam hati ia jadikan Nomor 2. Hanya itu tanggung jawab yang bisa ia lakukan karena ia tidak akan pernah mungkin bersatu dengan orang yang dicintainya dan ia juga rela menanggung kutukannya sampai waktu menghentikannya.
Dimedan perang ini ia bersumpah untuk menjadikan negerinya seperti semula. Cukup sudah negeri ini terkoyak dan rakyatnya terlantar karena kesalahannya, ia duduk dipangkuan kuda yang juga sudah bersiap untuk menyerang mengikuti gerakan Addrin . terompet perang ditiup menggema menguasai udara di langit. Tanggan kanan Addrin memegang pedang yang sudah lama sekali tidak ia sentuh dan tangan kiri ia memacu kudanya dengan kencang sekencang angin, hentakan kuda terdengar sekali menggembur tanah. Prajurit dibelakangnya hampir tertinggal jauh. Pedang dan matanya sama-sama tajam, aura membunuh sangat terasa sekali mengelilingi Addrin yang benar-benar berubah seperti monster yang kelaparan karena telah dikurung terlalu lama.
Addrin mengamuk sejadinya, dari dulu Addrin memang bukanlah orang yang mudah diremehkan. Perang perdananya setelah sekian lama membuahkan hasil. Kalah jumlah kini sudah tidak jadi halangan lagi untuk Lasverre semua karena Addrin yang membabi buta. Baik sang Ayah ataupun Leo tidak percaya dengan tinkgah Addrin yang kemampuan tidak menurun sama sekali padahal ia tidak pernah ikut ke medan perang ataupun latihan. Untuk kesekian kalinya Leo dibuat kesal karena Addrin yang selalu menghalangi jalannya. Kegagahan Addrin membuat semu terpukau.
Addrin mencoba berbaur dengan prajurit yang sudah lama sekali ia tinggalkan. Ia melirik kekiri dan kekanan melihat prajuritnya sebelum ia masuk ke tendanya untuk beristirahat. Addrin menemui sang Ayah, ia tersenyum menatap sang ayah namun yang ditunjukkan sang Ayah justru berbeda. Raja Naren memberikan wajah sedihnya setelah Addrin berusaha memenangkan peperangan. Addrin tidak mengerti yang dimaksud dari wajah ayahnya itu.
__ADS_1
“Ada apa ayah” ujar Addrin bingung.
“Maafkan ayah Nak” Naren memeluk Addrin dengan tangisan.
“Ayah berhentilah menangis, kau seorang Raja jangan sampai Prajuritmu melihat kelemahanmu” Addrin balas memeluk Ayahnya. “Mengenai kutukan itu, ayah tidak perlu resah. Aku tidak pernah menyalahkan ayah. Kau harus kuat ayah perang ini masih belum selesai”.
“Andaikan saja ayah tidak ceroboh ketika itu, kau tidak akan mendapat hukuman yang seharusnya itu untuk ayah” ungkap Naren.
“Sudahlah Ayah. Kau harus ingat jika kau adalah seorang Raja”
__ADS_1
Ayah dan anak itu saling menumpahkan kesedihan, kekesalan dan rasa bersalah mereka. Naren sangat sedih dan terus menerus meminta maaf pada anaknya. Ia mengungkapkan ketidakbecusannya sebagai seorang raja yang tidak bisa melindungi rakyatnya dan juga seorang ayah yang tidak bisa melindungi anaknya. Ungkapan Anak dan ayah itu menghentikan langkah kaki seseorang. Leo yang ingin menemui ayahnya untuk merayakan sejenak kemenangannya harus mengurungkan niatnya karena mendengar ungkapan mereka berdua.