LINN

LINN
Kisah Yang berakhir


__ADS_3

Selembut hembusan angin ketika malam itu menyentuh Sara, juga selembut sentuhan ringan yang menyebut namanya pelan. Sara masih diam menutup mata, ia bukannya tidak mendengar nama itu, namanya yang dipanggil lembut sangat jelas terdengar ditelinganya hanya saja Sara tidak percaya jika kehadiran orang yang diinginkan itu benar berada didekatnya saat ini. hanya dengan mendengar suaranya saja membuat Sara senang dan nyaman sekali.


“Senyummu terlalu manis” ujarnya.


Kalimat yang cukup panjang itu membuka mata Sara. Itu tidak mungkin jika Raska apalagi kehadiran Narez ada didepannya. Sara sedang tidak memikirkan mereka berdua melainkan calon tunangannya. Sara menoleh kekiri asal suara itu, ia melihat Addrin berdiri disebelahnya. Ini bukanlah mimpi walau ia sempat mengerjapkan mata beberapa kali karena ia tidak tidur sama sekali.


“Kau Addrin?” Tanya Sara masih tidak percaya.


“Senyummu terlalu manis” Ujarnya kembali seakan membuat Sara menangis. Entah ia mengingat Narez atau karena Addrin yang mengatakannya rasanya sakit sekali Sara medengar hal itu. Sara mencoba menahan tangisnya.


“Maaf yang Mulia, hamba tidak tahu anda berada disini” ujar Sara gelagapan.


“Panggil saja aku Addrin dimanapun kamu berada” ujarnya tersenyum. Sinar matanya bagaikan lembayung yang menghangatkan namun warna yang pudar terlihat menyakitkan. “Kau jangan sampai tertidur lagi”

__ADS_1


“Apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya Sara penasaran.


“Aku hanya ingin mengingat masa bahagia ketika aku bersama wanita yang aku cintai tapi tidak mungkin aku miliki” ujarnya sedih.


Sara terkejut mendengar ucapan Addrin. Apa itu ditunjukkan untuknya. Selama ini tidak ada tanda-tanda yang ditunjukkan Addrin kepadanya. Kecuali kalung yang ada dilehernya. "Apa berarti benda ini merupakan tanda cintanya" Sara terpikirkan hal itu. Sebelumnya ia sudah cukup sedih dengan kehidupan barunya, lalu tidak bisa bertemu Narez dan kini ia mendengar suaranya, tidak bisa bermain bersama Pon atau Rawnie seperti dulu dan sudah cukup sedih melihatnya dan kini rasa itu bertambah ketika ia mendengar Addrin yang mencintainya, atau mungkin ia yang terlalu percaya diri. Sara mencoba untuk tetap tenang dan mencoba menyakinkan itu bukan dirinya.


“Bukan tidak mungkin untuk dimiliki, tapi belum bisa dimiliki” Kata Sara tidak sengaja tiba-tiba terlontar kata-kata yang seolah ia tidak menolaknya.


“Itu sudah dipastikan tidak mungkin” tambah Addrin yang membuat Sara kecewa mendengar ucapannya.


“Tidak, tanpa pertunangan ataupun karena aku seorang pangeran. ia tetap tidak kumiliki”


“Maaafkan aku karena…” ucapannya terpotong.

__ADS_1


“Tidak masalah. Awalnya aku pikir telah salah mengartikan rasa ini. setelah sekian lama akhirnya aku merasakan cinta itu tapi sayangnya rasa cinta itu menjadi rasa sakit untukku. Disaat aku mengenalnya aku ingin menjauhinya, disaat aku rindu dengannya aku ingin mencampakkannya dan disaat aku bertemu dengannya aku ingin membencinya. Aku mencoba menghindarinya tapi ternyata ia semakin mendekat kepadaku. Rasa sakitku semakin sulit untuk kutahan. Aku tidak ingin dia mencintakuiku biarkan aku saja yang mencintainya. Mencintainya saja sudah membuatku sakit, dan itu akan bertambah sakit jika ia membalas cintaku”


“Itu tidak adil” sara memicingkan matanya kesal mendengar ucapan Addrin.


“kebahagiaan tidak hanya sekedar senyuman bahkan terkadang kau pun bahagia melihat orang menangis. Bukan berarti kau bersenang-senang diatas penderitaan orang lain, tapi kebahagiaan bisa kau dapat karena kau menemui berbagai macam penderitaan. Kebahagiaan adalah ketika kau merasakan rasa sedih dan senang bersama dengan orang yang kau sayangi. Percayalah pasti wanita itu tidak akan bahagia bila kau harus menanggung semuanya, lalu untuk apa kehadirannya selama ini” ungkap sara dengan intonasi tinggi karena kesal mendengar ucapan Addrin yang terkesan egois.


Addrin tersenyum senang sekaligus terkejut mendengar ucapan Sara, “Wanita itu mirip sekali denganmu?”


Sara tidak kalah terkejutnya, matanya bulat sempurna mendengar ucapan Addrin. Rasanya ia terombang ambing dan terjebak disetiap kalimat yang ia ucapkan.


Percakapan malam itu sukses membuat Sara mematung dan senyam senyym sendiri, wajah merona merah setiap kali mengingatnya. Sejenak Sara seperti mengkhianati perasaannya pada Narez, mungkin ini adalah yang terbaik untuk Sara, sebesar apapun perasaan Sara pada Narez, ia tidak mungkin untuk bersatu dengannya. Sara juga tidak menyangka jika pertemuannya yang hanya sesaat bisa tumbuh rasa tidak ingin berpisah dengannya. Kini sara hanya bisa berdoa dan mengantar kepergiannya keranah perang yang paling ia benci. Sara juga berpesan kepada Rawnie untuk menyelamatkan tanahnya dan membantu pasukan kerajaan. Rawnie menjanjikan jika ia akan melindungi wilayah Aselin tapi tidak mungkin untuk melindungi kerajaan, karena anggota Lingga tidak mungkin untuk melindungi kerajaan, hal itu akan terlalu berbahaya jika mereka harus mendekat. Apalgi Anggota Lingga bukan tipe penyerang secara terang-terangan, kalaupun anggota Lingga bisa membantu tanpa harus mendekat hal itu tidak perlu Sara beritahu. Sara mengetahui maksud Rawnie hanya saja Ia merasa khawatir dengan Addrin.


Perang ahkhirnya terjadi antara kerajaan Lasverre dengan kerajaan Daarz yang mengira kerajaan Lasverre lemah karena selama ini mereka tidak bertidak apapun hanya diam sampai beberapa kerajaan telah mengambil alih dan masyarakat banyak yang sengsara karena penyerangan yang membuat mereka kehilangan keluarga dan tanah mereka. Raja Naren hanya pusing karena terlalu memikirkan anaknya, namun bukan berarti ia meluoakan penduduk dan tanggung jawabnya. Jika terus seperti ini tidak mungkin kerajaan Lasverre memiliki keturunan. Sifat raja Naren ketika itu tidak hanya membuat musuh-musuhnya tertawa puas tetapi membuat pangeran pertama Leo memendam geram. Ia tidak peduli dengan kutukan, kalaupun memang kutukan itu ada dan ia tidak bisa memiliki keturunan ia akan menikahi semua wanita yang ada dimiliki kerajaan Lasverre baik itu bangsawan ataupun para pelayan bahkan budak sekalipun. Ucapan itu terus tengiang ditelinga Raja, istri raja bahkan pangeran lainnya. hal itu juga yang membuat Leo benci pada Addrin. Padahal kutukan itu ada karena ulah ayahnya sendiri.

__ADS_1


Selama mendapat kutukan, peperangan terus terjadi dimanapun, Addrin juga harus menerima kebencian dari semua orang dan juga keadaan istana yang sekarang tidak aman. Addrin mengetahui ha itu namun ia tidak mungkin untuk bertindak mengingat keadaannya sekarang yang tidak aman untuknya berkata, jalan yang ia ambil hanyalah melindungi adik kandungnya Ira, setidaknya ia harapan Addrin jika memang ia harus mati bersama kutukan itu.


Pertemuannya ketika itu membuat Addrin sadar jika ia mencintai ataupun dicintai tetap membuatnya tersakiti bahkan berlipat ganda jika ia benar-benar mencintai wanita itu. Addrin yang selama ini diam bertindak layaknya putra mahkota dan mengajukan diri kepada Raja Naren untuk ikut andil dalam mempertahankan wilayah Kerajaan Lasverre meski itu harus dengan jalan perang. Raja Naren sedikit terkejut dengan ucapan Addrin meski ia telah mendengar penjelasan dari Addrin untuk bergerak. Naren tidak yakin tapi Addrin memohon untuk mengikti keinginananya “Jika aku tidak bisa melindungi rakyatku. Aku tidak pantas untuk menjadi seorang raja ayah”. Addrin berlutut dengan Air mata yang akhirnya ia perlihatkan dalam cahaya, karena selama ini ia membiarkan air matanya tenggelam dalam kegelapan.


__ADS_2