LINN

LINN
Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

Setelah melewati beberapa koridor dan ruangan. Sara diantar ke sebuah ruangan utama yang tidak kalah besar dan megah. Runagn yang didominasi dengan warna gold dan putih itu banyak sekali lampu gantung lengkap dengan alat musik dan pengirinnya. Semua makanan tersaji dengan apik dan mewah. Ruangan yang besar ini diyakini Sara sebesar rumahnya. Ruangan yang sungguh menyilaukan mata.


Tidak hanya itu, pandangan Sarapun disilaukan dengan para bangsawan perempuan kaum priyayi yang dikumpulkan ruangan ini. Mereka lebih menyilaukan dari semua yang berada disini. Cara makan mereka yang anggun, riasan yang cantik dan juga gaun yang indah membuat Sara terdiam sejenak ia mempertanyakan tentang dirinya yang hanya memiliki rupa seorang wanita namun didalam diriya ia memiliki sifat liar yang sudah mendarah daging dan juga sulit ia hilangkan. Bagaimanapun ia lebih menyukai identitasnya sebagai Linn namun tempatnya berdiri membuatnya semakin yakin jika dunianya sangat berbeda.


Sara ingin segera menyudahi pertemuan ini. Ia sangat lelah dengan pemandangan yang tidak mengenakan. semua wanita saling melempar senyum dan berkenalan. Senyum dan tawa mereka meriuh di aula besar Ballroom ini. Tidak ada satupun yang mendekati Sara, tapi itu justru membuat matanya melirik kanan kiri untuk memperhatikan mereka. Keuntungan ini digunakan Sara untuk menyantap makanan mengisi perutnya yang kosong.


Tidak lama kemudian drama pun mulai mereka perankan. Mereka yang merasa memiliki kedudukan lebih besar mulai menunjukkan gadingnya. Tidak sedikit pula yang menerima ketidakadilan. Sara semakin geram namun ia tahan untuk tidak ikut campur, bukannya ia tidak mau membantu tapi ia juga tidak bisa melakukan apapun, untuk saat ini yang penting ia harus melindungi dirinya sendiri. Setidaknya itu yang terlintas dipikirannya untuk menyembunyikan dirinya. Peraturan dirumah saja sudah menbuatnya ingin melarikan diri dan ia tidak ingin berurusan dengan peraturan istana yang pastinya akan berkali-kali lipat membuatnya terbunuh.


Akhirnya pertemuan yang membosankan berakhir sudah. Sara langsung merebahkan tubuhnya sesampainya dikamar. Ia sudah lelah berjalan menelusuri koridor istana yang membingungkan seperti labirin. Ia bahkan terus bersungut-sungut tanpa henti bagaikan sedang memproklamirkan surat perdamaian. Kamarnya sangat luas 4 kali lipat dari kamar yang biasa ia gunakan. Ia bahkan pusing terus menerus menggelengkan kepala melihat seisi tempat yang digunakan khusus undangan. Satu yang ia syukuri karena kamar mandinya berada didalam kamarnya sehingga iapun tidak perlu repot untuk mencari kamar mandi di istana ini. Padahal tempat yang ia gunakan baru istana bagian barat yang dikhususkan untuk undangan.


Sara terus mengomel saat ia pertama masuk karena kemegahan satu tempat yang ia baru lihat. Diteruskan dengen lelahnya mendengar dan mengikuti semua yang dikatakan oleh Dayang Duna yang merupakan penanggung jawab kebutuhan para wanita undangan. Dayang Duna juga adalah Dayang khusus dibawah kendali Ratu. Kini ia sedang bertugas menjelaskan peraturan Istana. Istana yang belum ia lihat sebagian ini seperti menyerupai satu wilayah.

__ADS_1


Jarak Kamarnya seperti berada dirumahnya, ruang makannya jauhnya seperti dihutan tempat Pon. Seraya mendengarkan gerakan bibir yang terus terucap, mulut didalam hati Sarapun tidak kalah cepatnya dengan gerakan bibir Dayang Duna. Bahkan ia sudah tidak kuasa untuk menaruh pantat, ia merasa tiga perempat nyawa sudah hilang dan terbagi mencari keberadaan untuknya melabuhkan rasa lelahnya mengitari sedikit istana ini.


Tok... Tok... Seseorang mengetuk pintu kamar Sara yang mengharuskannya dan Rawnie untuk berdiri kembali, padahal baru saja ia beristirahat. Bisa jadi itu Dayang Duna. Rawnie menghampiri pintu dan membukakannya. Seorang gadis yang tidak jauh umurnya terus terunduk.


"Maaf... Saya Adia. Saya pelayan yang ditunjuk untuk membantu keperluan Nona Saralee" ujarnya sopan dan terus tertunduk.


Sejenak sara lupa ia sedang berada dimana. Sara ikut membungkukkan. Kepala aSara kini dibawahnya dan mendongakkan untuk melihat wajah pelayan baru yang menunduk. Pelayan itu terkejut melihat wajah Nonanya berada dibawahnya dan mundur kebelakang karena tingkah Nona yang akan dilayaninya. Sara yang masih dibibir pintu tersenyum dengan tingkah lucu pelayan barunya yang kini gemetaran karena ulahnya.


"Masuklah Adia" Ujar Sara diikuti Adia menurut dan Rawnie menutup pintu.


Sara mengarah ke jendela dan membukanya. Matanya terus berkeliling dan ia terkejut karena ia baru sadar jika ia bukan lagi berada dilantai 3 seperti rumahnya. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya bahkan tidak ada satupun pohon yang bisa ia jadikan pijakan. Rawnie yang mengetahui maksud Nonanya langsung menepuk pundaknya menyadarkan posisinya sekarang ini bukanlah hal yang harus ia langgar.

__ADS_1


Sara hanya memasang wajah tanpa ekspresi pada Rawnie dan mengahmpiri Adia. "Apa kau tahu ada jalan keluar dari kamar ini tanpa diketahui?"


Rawnie terkejut karena Nonanya masih mencari jalan untuk melarikan diri, tapi bisikan itu tidak kalah mencengangkan Adia. Rawnie yang melihat raut Aida memberikan tatapan mengancam kepada Nonanya. "Aku hanya becanda, bantulah Rawnie membereskan barang-barangku dan barang yang sudah bersda dikamar ini jangan samapi 1 centi pun berpindah".


Ucapan Sara sedikit menenangkan Adia. Sara mengernyit merinding dengan tatapan yang ditujukan Rawnie. Ia membalikkan badan menuju bibir jendela, aura Rawnie masih terasa mengancamnya. "Aku hanya duduk disini. Tenang saja aku tidak akan loncat dan kau tidak perlu khawatir tidak akan ada yang melihatku meski duduk dijendela"


Rawnie memastikan ucapan Sara ia melihat sekeliling jendela dan ia bersyukur karena kamar nonanya menghadap hutan. Sara yang kurang mengetahui dan mengerti mengenai peraturan istana tidak menyadari jika kelakuannya sekarang yang bisa dikatakan menyalahi aturan. Sebagai seorang wanita dan calon tunangan pangeran tidak seharusnya ia mengatakan atau bertanya hal itu kepada pelayan dan parahnya lagi ia sedang asyik memainkan kakinya di bibir jendela seraya menikmati pemandangan alam yang terlalu indah dilewatkan apalagi ia melihatnya dari tempat yang cukup tinggi.


Sara sangat tahu jika Rumah keluarga Esvarat memiliki permasalahan, namun sayangnya ia terlalu polos dan masih belum memperbaiki sikapnya menjadi "wanita" walau tidak seanggun wanita bergaun merah. Kerajaan Lasverre yang sedang ia pijaki lebih banyak memiliki peraturan. Ia juga tidak tahu jika keberadaannya kini tertangkap oleh beberapa pasang mata dengan berbagai ekpresi yang yang pastinya berbeda dengan yang ada hatinya. Ujian Sara kini dihadapkan dengan orang yang memiliki berbagai macam ekspresi berbeda di wajah dan hati mereka.


*******

__ADS_1


2 minggu sudah Sara berada didalam istana. Ini adalah waktu terlama Sara berada didalam ruangan. Ia juga kini telah benar-benar menjadi seorang wanita, untungnya beberapa etika pernah ia pelajari sejak kecil karenanya beberapa hal tidak terlalu memberatkan. Perlahan ia juga mulai memahami kehidupan di istana. Ia benar-benar bosan, lelah dan kewalahan menghadapi semuanya. Ia ingin menjadi Linn kembali namun itu sangatlah mustahil. Dan kini sisa 1 minggu lagi sebelum berkenalan dengan pangeran secara resmi dan pemilihan tunangan. Hanya jendela yang bisa melepas kerinduannya terhadap alam.


Ia hanya bisa memutar tubuhya dikasur menunggu waktu. Ia harus bersabar menunggu satu minggu untuk keluar. Sara yakin ia tidak akan mungkin terpilih. Dari sekian banyak perempuan yang sangat jelas terlihat mereka adalah wanita dambaan. Apalagi wanita bergaun merah dari awal kedatangan sampai saat ini ia terus menjadi perhatian, sedangkan Sara selalu berusaha untuk menenggelamkan dirinya agar tidak mencolok. Bahkan iapun hanya melakukan pekerjaan sebiasanya, hampir pekerjaan yang diberikan lebih cocok untuk kakak pertamanya yang lembut dan cantik, tapi sayangnya ia sudah menikah sedangkan kak Isvara walaupun tidak pandai akan hal ini tapi ia selalu berusaha menjadi yang terbaik dan sara kesal karena harusnya kak Isvara yang berada disini.


__ADS_2