
Sara memegang tangan Narez karena ia sangat bodoh tapi Sara sangat bahagia sekali begitupun dengan Narez yang menyukai senyuman Sara yang bebas. Ia bahkan terkadang sengaja melakukan sesuatu hanya untuk membuat Sara alias Linn tersenyum. Pertemuan singkat ini justru membuat kedua tidak ingin melepaskan genggamannya, untuk pertama kalinya Sara merasakan sesuatu ketika menggenggam tangan seorang lelaki padahal ketika awal bertemu Narez menindihnya ia tidak merasakan apapun. Narez yang balik menggenggam tangan Sara berkeringat bahkan sejenak Sara tidak bisa mampu melihat lama-lama wajah Narez. Genggamannya membuat Sara merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dan juga tidak tahu apa itu.
Keadaan diantara mereka berdua menjadi hening. Tidak hanya Sara, Narez juga merasakan hal yang sama, ia sangat senang dan ingin terus melihat senyuman Sara. Narez tidak mungkin jika ada yang tidak normal dalam dirinya, ini adalah kedua kalinya ia merasakan rasa seperti ini, rasa yang ia rasakan ketika berumur 14 tahun dan semenjak saat itu tidak ada lagi wanita yang bisa menggetarkan hatinya. Kini hanya karena seorang lelaki manis ia bisa terpengaruh akan hal itu. Ia mengusir pikiran itu mungkin ia hanya senang dan nyaman bersama lelaki yang bersamanya ini. kenyamanan yang juga tidak pernah ia dapatkan di rumahnya.
“Hey… Linn. Apa ada tempat yang indah lagi?” ujar Narez memecahkan suasana yang tiba-tiba canggung. Narez sangat sadar jika ia terlalu lama bersamanya ia takut kenyamanan ini tidak ingin ia akhiri tapi ia juga tidak ingin melepaskan tangan Linn alias Sara yang kini digenggamnya.
“A..Ada” ujar Sara tersenyum lebar untuk menenangkan hatinya yang serasa kacau karena berada didekatnya, ia tidak mungkin mengusirnya karena ia yang mengajakanya.
Sara mengajaknya kesebuah Danau yang biasa ia gunakan untuk menatap bulan dimalam hari, tempat yang sangat menenangkan hatinya ketika ia mengetahui jika dirinya adik tiri. Tempat yang tidak diketahui oleh Pon bahkan Rawnie, Sara yang biasa terbuka kepada mereka berdua untuk kali ini ia sengaja tidak ingin diketahui oleh mereka karena Sara merasakan hal itu adalah hal yang paling menyedihkan dalam hidupnya. Entah malam ini serasa begitu tenang dari malam-malam biasa ia datang kesini, iapun mengelak jika hal ini karena kehadiran Narez disampingnya yang sedari tadi terus mengenggam tangannya. Sara yang kini menyamar sebagai Linn yang berperan sebagai laki-laki tidak bisa menyembunyikan perasaan jika ia memang seorang perempuan. Sara juga tidak ingin tangan Narez yang cukup besar itu melepaskan genggamannya.
__ADS_1
Sara dan Narez kini telah menginjakkkan kaki disebuah danau yang dimaksud sara, danau dengan rerumputan yang melambai meliuk-liuk lembut diterpa angin malam. Mereka berdiri menatap cahaya bulan yang terefleksi di air danau. Cahaya bulan dimalam ini lebih indah. Kunang-kunang mulai bermunculan, sara melepaskan genggamannya dan mengejar kunang-kunang, hal aneh yang tidak pernah ia lakukan sebelumnha. Narez hanya duduk mendongakan kepala melihat cahaya bulan dilangit dengan tatapan sendu, seolah semua ini tidak ingin berakhir tapi ia harus tetap mengakhirinya. Sara yang sibuk mengejar-ngejar kunang-kunang memanggil Narez betapa nikmatnya mengejar kunang-kunang. Narez memenuhi undangan Sara, ia juga tidak tahu kapan lagi akan merasakan hal seperti ini. Narez melakukan hal yang sama mengejar kunang-kunang yang sangat sulit mereka tangkap. Sara mulai kelelahan begitupun dengan Narez tapi Sara tidak mau menyerah dan terus mengejar sampai ia mendapatkannya, namun lagi-lagi gagal. Sampai pada akhirnya Sara harus menghentikannya karena kakinya tersandung oleh batu yang tersembunyi diantara rerumputan. Narez langsung menangkap dan menopang tubuhnya dari belakang. Namun Narez tidak sengaja telah menyentuhnya, ia terkejut begitupun dengan Sara.
“Kau tidak apa-apa Linn” Ujar Narez bersikap biasa pura-pura tidak tahu.
“Aku tidak apa-apa, terima kasih” ujar Sara berusaha mengimbangi sikap Narez.
“Siapa itu?” Narez memicingkan matanya menangkap kehadiran seseorang dibelakang Sara.
“Sepertinya ini sudah terlalu malam aku harus cepat pergi, ayah dan ibuku sudah menungguku” Ujar Sara mencari alasan agar ia bisa menghindar dari perasaannya saat ini.
__ADS_1
“Benar juga, aku harus cepat pergi nanti aku bisa ditinggal rombongan ayahku”
Sara dan Narez menuju kota bersama hanya saja Sara harus mengambil jalan lain agar tidak diketahui siapapun. Ia tidak ingin berpisah dengan Narez namun itu tidak bisa ia lakukan karena perintah mutlak sudah ada didepan matanya. Sara berharap suatu saat nanti ia bisa bertemu dengan Narez sebagai Saralee bukan sebagai Linn yang seorang laki-laki, Sara belum menyadari perasaannya tapi hatinya menginginkan hal itu yang membuatnya melupakan tujuan sebenarnya ia keluar.
Narez membalas dengan lambaian tangan dan senyuman yang mewakili ucapan terima kasihnya. Narez sadar jika pertemuan singkatnya ini menumbuhkan rasa cinta dihatinya dan ia juga bersyukur karena orang yang ia sukai saat ini seorang perempuan misterius yang menyembunyikan identitasnya. Sama sepertinya halnya Sara, Narez juga berharap suatu saat nanti ia bisa dipertemukan kembali.
Dalam lubuk hati mereka berdua. Lebih baik mereka menjadi orang biasa tapi kebahagiaan selalu menyertai mereka tanpa ada beban hidup yang sulit. Sama halnya ketika Sara menjadi seorang Linn dan juga Ketika bangsawan menjadi seorang Narez menikmati pemandangan malam yang berwarna gelap dan hanya diselimuti samar warna sinar bulan. Tidak ada warna terang namun malam itu mereka sangat bahagia dan merasakan kesenangan yang sangat berarti bagi mereka berdua.
Khususnya Narez yang tidak mempercayai dirinya sendiri. Keyakinan hatinya mulai goyah ketika ia menyukai seorang lelaki, hatinya cukup berdegup kencang perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan. Namun Narez beruntung kecelakaan itu membuatnya bahagia. Kini ia yakin tidak salah jatuh cinta. Hal itu membuktikan jika dirinya masih bisa merasakan dan mencintai seseorang namun ia tidak yakin keyakinannya akan selalu berdampingan dengan takdirnya. Sama halnya dengan Sara, Narez yang juga memiliki kedudukan dan seorang bangsawan tidak bisa menentukan keinginan hatinya. Meski begitu ia masih berharap jika takdir bisa berkata lain dan bisa bersanding dengan seorang bernama Linn.
__ADS_1
Narez cukup bahagia dengan pertemuannya bersama Linn. Bahkan ia sudah melupakan masa masa menangkap kunang-kunang. Kehampaan dalam hatinya perlahan menutup semua warna dan keyakinan yang dilihat oleh matanya sendiri.