LINN

LINN
Hal Memalukan


__ADS_3

Brukkkk…


Suara pintu yang terrpental keras memaksa untuk membuka mata Sara yang masih mengantuk berat. Ia duduk dari tidurnya, mengucek mata dan memegang kepalanya yang terasa berat. Selimut yang ia gunakan tersibak dan langsung disadari oleh Sara. Ia tidak mengerti dengan keadaan ini bagaimana bisa ia berada ditempat tidur ini bahkan bukan tempat tidurnya, ia terus melihat sekeliling dan behernti setelah mata tajam bagaikan elang itu memburunya dengan ganas. “Addrin…” desahnya. Ia tidak ingat bagaimana bisa ia berada disini dan parahnya lagi orang yang ia percaya masih tertidur pulas memeluknya. Sara terkejut dan tidak berkata apapun lagi. ia tidak ingin menafsirkan yang sekarang terjadi. Raska orang yang ia percaya telah berbuat sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan. Bagaimana bisa ia tidur dengan adiknya dalam keadaan seperti ini. iapun tidak berani menatap seseorang yang sudah berada didekat pintu masih dengan wajah dinginnya memergoki mereka berdua.


Addrin orang yang ia cintai terlihat sangat marah dan murka. Tapi Sara tidak bisa membuka bibir apa yang bisa ia katakan setelah kejadian ini benar-benar terlihat olehnya. Apa yang bisa ia lakukan untuk pembelaan semuanya sudah sangat jelas disaksikan oleh Pangeran Addrin, Leo, MIsha dan beberapa pelayan lainnya.


Jantung Sara berdetak lebih kencang, ia sangat marah, dan sedih. Iapun tidak tahu dengan kejadian yang sebenarnya. Iapun tidak bisa membela dirinya sendiri karena semuanya sudah terlambat tidak ada yang bisa ia katakan. Semua orang berbisik melihatnya. Betapa buruknya dan hina ia sekarang. Tidak lama kemudian Raska terbangun.


“Sara…” tubuhnya masih lemas dan kepalanya juga berkunang-kunang. “Bagaimana bisa kau ada dikamarku?”


Ucapan Raska sontak membuat Sara kaget, ia tidak percaya Raska berkata seperti itu disaat ia sedang genting. Ucapan Raska seolah Sara yang sengaja datang menggodanya. Sara hanya bisa mengutarakan dengan air mata yang terjatuh keatas selimutnya. Addrin tidak berkata sepatahkatapun ia langsung pergi diikuti dengan yang lainnya.


“Ada apa ini” Raska tidak kalah terkejut melihat Addrin dan yang lainnya, pastinya juga dirinya yang tidak mengenakan baju sehelaipun. “Sara,bagaimana ini bis…”


Plaaakkkk… Sara terbawa emosi menampar Raska yang juga tidak tahu apapun. Dimata Sara kini jelas hanya kebencian yang ia berikan kepada Raska. Ia mengganti bajunya lalu pergi dari kamar Raska. Ia hanya bisa menunduk dan menangis, ia juga mendengar dengan sangat jelas ucapan orang-orang yang melihatnya. Bisikan itu bagaikan setan yang membuat Sara kehilangan pikirannya, rasanya untuk sekarang ini ia ingin sekali menjauh dari Istana, ia ingin menjadii Linn, sejujurnya ia ingin sekali menjadi Lingga untuk melampiaskan amarah Saat ini. Sara tidak mungkin bisa melakukan hal itu yang ada dirinya akan semakin dicurigai.


Tapi Sara tidak mengerti bagaimana bisa ia bisa tidur tanpa busana dengan Raska, ia hanya ingat bermain ditaman dan tidak ingat apapun selain itu. ia membuka pintu kamarnya disana ada Adia dan juga Rawnie yang sudah mendengar kabar tentang Nonanya. Sara kesal dan mengabaikan mereka, ia menghadap dinding dekat jendela, dengan sekuat tenaga ia mengepalkan tangan dan menghantam dinding itu. dinding itu tidak sampai hancur namun retak sudah dipastikan. Sara benar-benar dipenuhi dengan kebencian, siapa yang berani melakukan ini semua, apakah itu Raska yang masih sulit untuk ia terima kebenaran jika pelakunya adalah Raska, atau memang ada yang tidak suka dengan dirinya. Ia jelas tidak suka mencari onar, karena tidak ada gunanya untuk melakukan hal itu didalam kerajaan yang sudah sangat jelas ia tidak bisa berbuat apapun dengan bebas.


“No…No…Nona. Apa kau baik-baik saja” Tanya Adia sedikit ketakutan dengan nonanya sekarang.


“Aku tidak akan pernah menerima diriku diperlakukan seperti itu bahkan oleh Raja” pandang tajam Sara dengan tangan yang masih mengepal di dinding.

__ADS_1


“Nona, aku mengerti maksudmu tapi kau sudah dilihat banyak orang dan kau sudah dipastikan bersalah” ujar Rawnie dengan sifatnya.


“HHhhh… kalaupun aku salah aku tidak ingin salah seperti ini. aku akan menerima kesalahan ataupun kekalahan dengan terhormat bukan yang seperti ini. Ini semua membuatku jijik” Sara mengeram suara tertahan diantara bibir.


Rawnie berlutut, “Aku akan serahkan pada Nona. Aku akan ikut apapun yang kau perintahkan”


“Aku ingin membakar semua yang ada istana ini” Kata Sara kesal.


“Baik Nona akan aku laksanakan jika itu maumu” tegas Rawnie.


“Apa... Nona!” Adia ikut berlutut ketakutan memohon ampun untuk tidak melakukan hal itu.


“Aku ingin melakukan itu dengan tanganku sendiri tapi aku rasa ada yang salah dengan kejadian ini. tidak mungkin jika Raska melakukan hal itu padaku” kata Sara semakin bengis dan dingin. Wajahnya kali ini sudah bisa dipastikan lebih takut dan seram dari Addrin. Setelah sekian lama akhirnya Rawnie benar-benar melihat wajah Sara yang ia rindukan selama ini adalah wajah yang seperti ini. wajah yang sesungguhnya dari Sara yang membuatnya yakin untuk mengikutinya namun tidak yakin untuk dipraktekan.


“Baik jika itu yang mereka inginkan aku akan membalasnya berkali-kali lipat. Jangan salahkan kebaikanku selama ini. aku sudah bersabar untuk menjaganya” Sara duduk dibibir jendela. Kali ini ia bukan untuk bersenang-senang melainkan membuat rencana untuk membalas rasa malunya.


“MAaf Nona sebelumnya” Ujar Adia sedikit gugup.


“Kau tidak perlu takut Adia, aku tidak akan menyalahkan orang yang benar. Aku percaya padamu karena itu juga aku berani membuka segala didepanmu” ujar Sara tersenyum seperti biasanya.


“Maaf jika aku lancang Nona. Bolehkah aku bertanya?” Adia tertunduk. “Aku mohon jangan bunuh aku”

__ADS_1


“Mengapa aku harus membunuh orang yang tidak bersalah. Apa yang ingin kau tanyakan”


“Nona Sara sejujurnya dari sekian tunangan pangeran hanya Nona yang berbeda. Ketika aku mellihat rupa anda sebagai Linn, jujur saja aku sedikit ketakutan aku akan melakukan sesuatu apalagi setelah aku mendengar Lingga, tidak ada yang baik tentang Lingga yang kudengar dan kaupun sangat Mahir dalam bertarung” jelas Adia yang benar-benar ketakutan.


“Penilaianmu cukup baik, aku senang dengan yang kau katakan. Jika aku menjadi raja sudah kutunjuk kau menjadi penasehatku. Kau juga orang yang hati-hati terhadap segala sesuatunya. ketika kau berucap, bertindak dan menatap kau memperhitungkan semuanya” Adia terkejut karena Nonanya mengetahuinya dengan sangat jelas.


“Kau juga cukup mahir untuk menjadi seorang mata-mata, orang tidak akan menaruh curiga padamu. tapi aku tahu kau bukan orang yang berbahaya. Hanya saja rasa penasaranmu cukup tinggi. Sara, Linn dan Lingga adalah diriku, itu semua bentuk kekecewaan ku terhadap dunia ini. kau bisa menganggapnya semua itu, tapi aku tidak peduli dengan urusan kerajaan ataupun bangsawan. Saralee adalah nama asliku yang sudah ku terima sejak kecil. Aku yakin kau pernah mendengar tentangku. Linn adalah nama samaranku, aku bosan hidup di rumah terus akhirnya aku mencari jalan dan caraku sendiri. Tapi menjadi Linn itu tidak mudah, mata terlalu sering melihat ketidak adilan yang tidak aku ketahui sama sekali ketika aku menjadi Sara dan aku menjadi Lingga adalah caraku untuk menegakkan keadilan, lingga bukanlah orang yang sembarangan ia bisa menyiksa dan membunuh tapi ia melakuakn hal itu bukanlah tanpa suatu alasan, bisa dibilang Linn adalah peraturan dan Lingga adalah hukuman”


“Maaf Nona aku berpikir jika Nona bermaksud untuk melakukan sesuatu” Ujar Adia.


“Kenapa tidak?” Sara menoleh ke Rawnie yang masih tertunduk.


“Aku beruntung karena menjadi pelayan Nona, bahkan nonapun menganggapku seperti teman”


“Aku juga beruntung karena aku mendapat pelayan sepertimu. Aku tidak akan pernah menyia-yiakan orang baik, hanya saja aku tidak akan berbelas kasih kepada orang yang telah menyia-yiakan kebaikanku seperti ini”


“Terima kasih Nona dan maafkan kelancanganku” ujar Adia merasa bersalah karena telah mencurigai Nonanya.


“Kau tidak perlu merasa bersalah. Semua kini sudah jelas, kaupun sudah ikut berlatih bersama dengan Putri Ira, Putri Ira ada dalam perlindungan Raska, tapi dengan masalah ini terjadi aku yakin ada seseorang yang sengaja melakukan hal ini padamu. aku percaya Putri Ira yang sekarang bisa melindungi dirinya sendiri tapi aku berharap kini kau menggantikanku dan Raska untuk melindunginya. Dia masih kecil dan meski ia mampu tapi masalah ini cukup berat” titah Sara.


“Baik Nona, aku akan melakukan yang Nona katakan” Adia berlutut.

__ADS_1


“Dan kau harus siap kedepannya akan sesuatu yang lebih dari ini. jangan pernah berbicara sepatahkatapun kepada siapapun bahkan kepada Putri Ira kecuali kepada Rawnie dan Worri. Dan bersikaplah seperti Adia yang biasanya. Didalam Istana hanya ada kau yang bisa aku andalkan”.


__ADS_2