
Hari yang tidak ditunggu Sara akhirnya sudah tiba, para putri bangsawan menuju Istana utama untuk memperkenalkan para keluarga Kerajaan Lasverre. Para wanita berjajar rapi memasuki aula kerajaan. Sara tidak henti-hentinya memandang kemegahan didalam istana. Ia merasa takjub dengan kemewahan ini. Mahakarya ini membuatnya terpana namun ia lebih merana lagi jika ia tidak bisa merasakan kebebasan yang selama ini ia rindukan. Iringan para wanita sudah berjejer Memasuki ruangan untuk menghadap Raja dan pastinya yang ditunggu-tunggu sang pangeran terkutuk yang sampai saat ini belum pernah menunjukkan wajahnya.
Pintu besar sudah terlihat dari kejauhan. Dinding sangat tinggi dengan tiang yang kokoh dan besar. Sudah bisa terbayangkan kemegahan apa lagi yang akan disuguhkan. Perlahan Cahaya dengan garis tipis mulai melebar perlahan. Pintu besar akhirnya terbuka. Para wanita sudah berjejer rapi menghadap kedepan. Sang raja Naren Arsan dan Ratu Tatiana Arsan sudah duduk dengan gagah dan anggun.
Sara berdiri dan tertunduk sembari menunggu pengumuman yang mungkin bisa membuat kehidupannya berubah. Raja berdiri dan memerintahkan para wanita untuk menegakkan kepalanya. Raja mengucapkan beberapa kata untuk menyambut kedatangan para wanita yang akan menjadi pasangan untuk anaknya. Raja mengucapkan terima kasihnya, meski tidak diucapkan secara gamblang raja tidak menampik jika desas desus mengenai anaknya yang terkena kutukan memang benar adanya hanya saja kebenarannya hanyalah kerajaan yang mengetahuinya.
Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya diumumkan juga. Sara sudah tidak sabar untuk cepat pulang dari istana ini dan bermain bersama temannya di kampung halamanya, pastinya akan banyak aksi yang terjadi setelah sekian lama ia tidak merasakan liarnya angin, gelapnya malam dan pekatnya kehidupan. Keseruan itu yang ditunggu Sara.
Penasehat Raja membuka mulut mengucapkan beberapa nama yang akan dipilih menjadi tunangan pangeran. Penasehat itu hanya memilih 7 wanita dari sekian banyak wanita yang memenuhi setengah karpet merah. Sesuai prediksi para wanita yang berdesas-desus dan saling tebak menebak kandidat pasti tunangan pangeran. Tiga orang termasuk wanita bergaun merah itu benar adanya dan mereka dipastikan masuk sesuai kata yang keluar dari mulut penasehat raja itu. Sara menganggukkan kepala karena mereka pasti akan masuk, nama keempat dan seterusnya disebutkan dan Sara juga tidak henti-hentinya mengangguk kepala pelan mendengar satu persatu nama yang di sebutkan. Sampai nama terakhir juga ia terus mengangguk tidak sadar. Ia bingung apakah benar namanya dipanggil oleh penasehat raja. Kini sara menggelengkan kepala tidak mungkin ia pasti salah dengar. Sara bimbang dan menanyakan kembali nama terakhir yang disebutkan oleh penasehat raja.
__ADS_1
“Maaf yang Mulia” ujar Sara.
Raja menanggapi dan membalas ucapan Sara. Begitupun dengan para wanita yang mendengar jelas ucapannya.
“Maaf yang Mulia atas kelancangan saya. Saya ingin mendengar nama terkahir yang disebutkan?” ucap Sara canggung dengan situasinya saat ini. betapa bodoh dirinya harus menanyakan hal seperti ini.
Pupus sudah semua yang direncanakannya kini ia benar-benar harus tunduk kepada peraturan yang mengikat dan tidak mungkin bisa ia langgar dengan lantang seperti dirumahnya. Ia yakin ini bukanlah karma karena ia menentang semua yang ada dirumah keluarga Esvarat. Sara hanya bisa tertegun dengan pikiran yang setengah melayang-layang. Bahkan mimik wajahnya kini menjadi perhatian mata lain yang sedang bersembunyi dibalik mata para wanita yang berada disana.
Ketujuh wanita yang dsebutkan kini dipindahlan ketempat yang lebih kecil untuk diperkenalkan kepada keluarga kerajaan yang lainnya. Sara masih diam tidak percaya dengan yang didengarnya tapi langkah kakinya mengikuti arah penasehat Raja yang menuntunnya keruangan lain.
__ADS_1
“Hey Raska” ujarnya melihat sosok orang yang dikenalnya berada dibibir pintu untuk memasuki ruangan yang sama.
Sara benar-benar lega karena ada teman yang Ia kenal didalam istana ini selain Adia dan Rawnie. Sara tidak menyadari jika ucapannya bisa dikatakan menyalahkan aturan, ia tidak menyadari jika penasehat raja dan wanita lain itu menunduk hormat padanya. Raska yang mendengarnya hanya membalas dengan senyuman lucu.
Sara sudah memasuki ruangan kedua. Kemewahan terus menerus disuguhkan oleh istana ini, beberapa pelayan sudah siap berjejer rapi dan beberapa koki yang sedang menyiapkan makanan di sebuah meja panjang yang tidak terukur berapa panjangnya, itulah yang terbesit di otak Sara dengan kehadiran meja makan yang sangat besar. Sara dan keenam wanita lainnya dipersilahkan duduk di kursinya masing-masing sembari menungggu Raja, Ratu dan pastinya Pangeran yang dimaksud. Kedatangan Sang raja membuat mereka harus kembali berdiri dan memberi penghormatan. Ratu dan disusul keempat pangeran dan satu putri. Sang raja sengaja memilih perjamuan makan untuk memperkenalkan mereka.
Penasehat Raja yang berdiri disamping Raja memperkenalkan satu persatu dari pangeran pertama. Pangeran Pertama Leo Ezra Arsan, ia tersenyum diwajah yang tegas. Martabat sebagai seorng panheran dan oenerus sangat terlihat jelas dipenampilannya. ia terlihat kuat dan terhormat. Pangeran kedua Bertin Shilo Arsan, pangeran ini terlihat sangat santai bahkan lebih cuek, hal itu jelas terlihat dari senyuman yang dipemerkan seadanya sebatas syarat. Setidaknya hal itu lebih baik daripada pangeran pertama yang tidak menunjukkan apapun. Putra mahkota dan juga Merupakan pangeran Ketiga yang memiliki kutukan ini diperkenalkan. Pangeran itu bernama Addrin Egbert Arsan, sekilas tidak ada yang aneh dari pangeran yang memiliki kutukan semua terlihat normal, hanya saja ia memiliki wajah yang memang sangat dingin dari yang lain . Pangeran keempat yang membuat Sara terkejut setengah mati, ia salah mengartikan kehadirannya didepan mata, ia Euraska Nas Arsan, pangeran yang membut sara menarik kembali ucapan "Lega" sedangkan Raska hanya tersenyum lucu dengan manisnya melihat sara. Dan yang terkahir adalah sang putri yang bernama Ira Ismenia Arsan. sang putri yang masih kecil dan Sara yakin ia masih berusia sekitar 9-10 tahun. Ia terlihat manis dan cantik dengan gaun yang indah dan tingkahnya yang manja. Yang dipastikan semua pangeran itu sangat jelas tampan dan bertubuh sangat baik. Hanya saja Sara masih belum percaya jika pangeran terkutuk itu tidak seumuran ayahnya justru muda seumuran dengan kakak pertamanya, Sara berprasangka jika kutukan sebenarnya pasti tidak akan pernah bisa tua, seharusnya itu menguntungkan dirinya.
Penasehat Raja juga memperkenalkan Sara dan para wanita kepada keluarga kerajaan yang sedang menyantap makanan dengan bincang-bincang hangat. Semua wanita saling mengerlingkan mata seolah kode centil untuk pangeran tapi tidak untuk pangeran ketiga. Sara yang memang tidak tertarik ia hanya berbincang dengan Raska yang sudah dikenal sebelumnya begitupun dengan Raska yang hanya membalas kata-kata dari Sara. Mereka yang sudah akrab tidak saling mempermasalahkan status mereka. para wanita terus menerus menebarkan pesonanya kepada pangeran kedua dan pertama meski tidak dengan wanita bergaun merah, ia hanya diam dan makan sifat dinginnya mirip sekali dengan pangeran yang juga sudah memasang wajah seperti itu dari awal. Setidakya itu bukan hal yang aneh jika mereka sudah saling mengenal sejak dari kecil. Mungkin saja mereka memiliki ruangnya sendiri untuk berbincang.
__ADS_1