
Semua orang melihat aksi Sara sebagai Linn dan kejadian malam ini, mereka terkejut mendapat serangan dadakan. Pesta tahun inipun kembali dinodai oleh insiden yang memilukan. Nyawa Addrin dalam bahaya. Sara beruntung bisa melindunginya, hanya saja Sara tidak percaya banyak yang mengintai nyawa Addrin. Sara mulai menimbang kembali kabar yang ia dengar tentang Addrin dan juga kerajaan Lasverre. Meski sadar ia sedang diserang tapi Sara tidak melihat ketakutan di wajah Addrin. Sara mulai berpikir mengenai suaminya yang tidak takut karena dihadapan rakyatnya atau karena memang sudah terbiasa mendapatkan hal seperti ini. Sara terus menerus memikirkan dihari pertunangan, bahkan ocehan Rawnie karena kehilangan dirinya tidak ia hiraukan sama sekali.
Sudah lewat 6 hari sejak kejadian itu dan hari pertunangannya, namun Sara masih belum bisa melupakannya. Addrin yang sering melihatnya dibalas dengan tatapan kesedihan dari Sara. Sara tidak mengerti dengannya kali ini, biasanya ia merasa risih dan aneh setiap kali dua bola mata itu menjurus kearahnya. Sara tidak menyadari jika tatapan yang diberikan Addrin itu membuat anggota kerajaan lain dan tunangannya memiliki tanda tanya besar kepada Sara yang bisa dipastikan jarang sekali keberadaannya berada didalam istana. Ia hanya berada di istana saat waktu penting saja seperti acara istana ataupun makan malam. Sisanya tidak ada yang mengetahui keberadaan Sara bahkan Raska yang sering menghabiskan waktu bersamanya sering sekali mencari keberadaanya. Sarapun jarang sekali bergabung dengan tunangan yang lain, sama seperti Misha hanya saja ia tetap memberitahu keberadaannya.
Makan malam ini masih sama seperti pada malam biasanya, tetap sunyi dan tidak ada suara apapun hanya suara dari peralatan makanan yang tidak sengaja bersuara.
“Maaf yang Mulia, ada keadaan darurat?” ujar serang komandan pasukan yang terpaksa masuk.
“Ada apa?” kata Raja.
“Wilayah Barat kerajaan sudah diserang oleh Kerajaan Daarz” ujar Komandan.
“Apa... Bagaimana bisa mereka melakukan hal itu" Sang Raja menunjukkan wajah kecewanya.
"Sedari dulu seharusnya ayah memusnahakn mereka tidak perlu berbelas kasih kepada mereka" Ujar Leo santai namun tidak dengan ucapnnya.
"Baiklah… kumpulkan yang lainnya” ujar Raja terbangun dari duduknya disusul semua anggota kerajaan lainnya yang langsung ikut berdiri. “Kalian lanjutkan makan”
__ADS_1
Sara tidak percaya jika perang masih belum selesai juga, ia pikir selama ini sudah tidak terjadi apapun, bahkan Sara tidak pernah mendengar lagi dari Pon, karena hal itu jugalah ia sudah tidak pernah menutup wajahnya lagi menjadi Lingga. Melihat wajah komandan dan Raja sepertinya tidak semudah itu permasalahannya. Kekhawatiran diwajahnya sepertinnya perang masih berlangsung. Sara melirik ke Rawnie berharap akan ada penjelasan tentang semua yang terjadi. Rawnie mengetahui akan lirikan mata Nonanya yang tegas, ia yakin jika Sara benar-benar marah.
“Ayah. Aku akan ikut bersama ayah” ujar Leo.
“Addrin, Beltin kalian ikut juga” titah Raja.
Makan malam usai tidak lama setelah kepergian sang Raja. Sara langsung buru-buru melirik Sara dengan tajam meminta penjelasan. Rawnie mengikuti Sara dari belakang, terasa jelas aura yang keluar dari Sara.
“Sara” Panggil Raska yang mengharuskannya menoleh.
Raska menghampiri Sara dengan senyumnya yang merekah, satu hari saja tidak bertemu membuatnya ingin terus bersama Sara, walau Ia sadar siapa Sara. Tapi hatinya tidak bisa membohongi betapa rindunya kepada Sara. Sara sedikit kesal karena ia datang di waktu yang tidak tepat. namun ia tidak bisa mengecewakan Raska. Untuk sementara Rawnie bisa bernapas lega karena bisa jauh dari Sara yang kini pergi bersama Raska. Raska mengajak Sara ke balkon menikmati pemandangan langit malam. Entah sejak kapan mulai dekat dengan Raska. Bahkan sesekali Raska memegang tangannya dan memeluknya. Awalnya Sara tidak pernah menghiraukan akan hal itu sebelum ia mendengar hal jelek tentang Sara yang menggoda 2 pangeran sekaligus, dan hal itu juga yang membuatnya mengerti jika ia merasa dijauhi oleh tunangan yang lain. Meski ia tidak pernah menolak Raska namun kini ia sedikit hati-hati dalam bertindak. Sara baru mengetahu banyak mukut dan mata didalam istana ini.
“Aku hanya mendengar tapi aku tidak mungkin untuk ikut berperang” ujarnya.
“Apakah perang masih berlangsung?” Tanya Sara penasaran tidak bisa menunggu dari Rawnie.
“Perang masih berlangsung hanya saja tidak seperti sebelumnya, wilayah Kerajaan Lasverre tidak terlalu besar namun kami selalu menjaga wilayah-wilayah kami sampai kak Addrin mendapat kutukan itu, semua orang mengira kita lemah dan mereka menyerang secara diam-diam” jelas Raska. “Bahkan beberapa daerah sudah hangus dan diungsikan ke ibu kota”
__ADS_1
Sara dan Raska berbincang cukup lama ditengah malam. Sara terus menerus bertanya mengenai peperangan sedangkan Raska hanya bisa menjawab meski ia tidak ingin membahasnya tapi Sara terus menerus menanyakan Hal itu meski sudah ia alihkan. Sara telah melupakan sesuatu yang penting dalam hidupnya. Ia telah lupa jika ia telah memiliki calon dan hari ini adalah saatnya calonnya berkunjung ke kamarnya dan yang lebih penting lagi ia lupa jika malam ini adalah malam terkahirnya berumur 15 tahun. Sara mendongak kearah bulan, ia tersadar jika bulan telah meninggi. Ini sudah kelewat malam ia harus segera kekamarnya dan pastinya bertemu Rawnie.
Sara ingin cepat pergi dari sini tapi ia tidak mungkin membiarkan Raska begitu saja, ini bukan kali pertama berbincang banyak dan selama ini. Sara bingung haeus mencari alasan apa agar ia bisa terbebas dari Raska. Ia juga tidak ingin mendapat kutukan pandangan Ratu ke 2 yitu Arlira Arsan yang merupakan ibu kandung Raska dan juga pangeran pertama Leo. Mengingat Sara hanyalah anak haram yang selalu disembunyikan sangat berbanding terbalik dengan ltr belakng keluarga Ratu Arlira sebekum ia menjadi Ratu. ia sudah memiliki kedudukan yang kuat apalagi dengan statusnya yang sekarang bukan tidak mungkin ia bisa dengan mudah memusnahkan siapa saja yang menghalangi dan dibencinya. Bahkan tataoan matanya ketika berhadapan membuat getar harti Sara. Tatapan yang mirip dengan sang ibu tiri yang selaku memandang tajam dirinya.
Seolah tidak mengerti dengan keadaan, Raska terus bercuao-cuap mengatakan apapun yang dipikirannya sesekali ia seperti menyindir bahkan mengungkapkan yang ada dihatinya mengenai perasaannya kepada Sara, sayangnya Sara yang sedang tidak fokus dan dikejar waktu tidak bisa berpikir sesuai alur yang diceritakan Raska karena ia gelisah.
"Raska ini sudah malam, lebih baik aku masuk dulu" Ujar Sara.
"Hey ada apa denganmu, sepertinya kau sedang nemikirkan sesuatu?" Tanya Raska yang curiga.
"Tidak. Aku sedang tidak memikirkan apapun. Hanya saja ini sudah malam aku takut Adia dan Rawnie menungguku dan aku juga takut ada yang melihat kita" kata Srara tetap ramah meski ia ingin cepat sekali pergi darinya.
"Kau pasti sudah mendengar mengenai cerita tentang kau dan aku" ujarnya tersenyum penuh paksaan.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membawamu dalam masalahku. Aku senang kau menjadi temanku tapi aku rasa jika ini terus berlanjut yang ada kau akan merugi. aku tidak ingin kau terkena imbas karena masalahku" jelas Sara.
Raska hanya mengangguk, "Baiklah, aku mengerti, tapi aku berharap kau akan terus mengenalku"
__ADS_1
"Kau tidak perlu memberitahuku. Itu sudah oasri kau akan selaku menjadi temanku" Ucap Sara seraya pergi dari hadapannya.
"Teman" desah Raska setelah kepergian Sara. ia mengahadap bulan menyenderkan tubuhnya di oagar balkon dan menopang dagu.