Living In Another World With Cheat

Living In Another World With Cheat
Chapter 15 Malam Suci Seribu Bintang


__ADS_3

Setelah semua orang mendengar berita tentang malam seribu bintang akan di mulai, keesokan paginya semua orang pun mulai menghiasi rumah dan toko mereka dengan berbagai hiasan cerah, bahkan jalanan pun dihiasi berbagai hiasan. Ryouta yang saat itu sedang berkeliling di sekitar kota pun berkata,


"Sepertinya disini cukup ramai ya," ucapnya berjalan sambil memperhatikan sekitar.


Saat sedang berjalan-jalan di sekitar kota, banyak anak-anak datang menghampirinya untuk mengajaknya bermain. Setelah bermain dengan anak-anak, Ryouta pun melanjutkan perjalanannya.


Beberapa menit kemudian, saat dirinya tengah berkeliling kota, tiba-tiba dirinya berhenti di depan tempat seorang pandai besi, lalu dirinya teringat bahwa pedang milik Rui sudah mulai rusak, dan karena kemarin setelah dirinya mengalahkan Behemoth dia sempat mengambil beberapa sisik milik Behemoth yang terlepas saat bertarung dengannya. Karena sudah ada di depan tempat pandai besi, Ryouta pun memutuskan untuk masuk ke dalam tempat pandai besi itu.


"Mumpung aku ada disini, sebaiknya aku masuk dan melihat-lihat sekeliling mungkin aku bisa membelikan Rui hadiah, karena waktu itu aku pernah mencari tau tentang "Malam Suci Seribu Bintang" di perpustakaan kerajaan, dan sepertinya tradisi itu sama seperti hari Natal di dunia lama ku," ucap Ryouta masuk ke dalam tempat pandai besi itu.


Setelah masuk ke dalam, tampak seorang laki-laki tua menghampirinya lalu bertanya,


"Selamat datang anak muda," ucap laki-laki itu menyambut Ryouta


"Terimakasih sambutannya, oh iya ku lihat disini banyak sekali senjata dan armor yang bagus, apa ini buatan anda?"


"Kau punya mata yang bagus anak muda, benar semua ini adalah buatan ku, meskipun demikian semua itu hanyalah pajangan saja."


"Memangnya kenapa semua senjata dan armor yang bagus ini hanya menjadi pajangan saja?"


"Semua orang sudah tidak mengenal tempat ini, dan para prajurit kerajaan tidak lagi membeli atau menempa senjata disini, mereka lebih suka membeli dari toko senjata yang ada di gerbang timur kerjaan."


"Begitu ya, sayang sekali padahal kualitas senjata disini sangat bagus," ucap Ryouta sambil berkeliling keliling melihat semua senjata dan armor yang telah di buat.


Setelah cukup lama berkeliling, pandangannya pun tertuju pada salah satu pedang berwarna hitam kebiruan yang tampaknya patah menjadi dua bagian. Karena tertarik dengan pedang itu, Ryouta pun memutuskan untuk mengambilnya lalu menyerahkannya kepada laki-laki tua yang merupakan seorang pandai besi lalu berkata,


"Paman, apa kau bisa memperbaiki pedang ini dengan material yang aku punya," ucap Ryouta menyerahkan satu kantong sedang yang berisi sisik dari Behemoth.


Melihat Ryouta memberikannya sisik dari Behemoth, dia pun bertanya kepadanya,


"Apa kau yakin menyerahkan ini kepada ku?"


"Tentu kenapa tidak, oh iya apa kau bisa membuat pedang yang seperti ini," ucap Ryouta memperlihatkan potongan katana milik Rui yang pertama.


Setelah melihat bentuk pedang itu, laki-laki tua itu berkata kepada Ryouta,


"Ini adalah senjata dari wilayah Timur, dan hanya di gunakan oleh prajurit kerjaan Timur yaitu kerjaan Raizan, pedang milik mereka dikenal memiliki berat yang sangat ringan dan juga bilah pedang yang tajam yang mampu memotong armor musuh mereka dalam sekali tebas, aku sangat senang bisa mengerjakan pedang ini untuk mu, dan akan ku gunakan semua keterampilan ku untuk menyelesaikan pedang ini dalam satu malam."


"Ahh... Aku percayakan pad Paman untuk membuat pedang itu menjadi yang terbaik," ucap Ryouta berjalan meninggalkan tempat itu.


Setelah selesai dari tempat pandai besi, dirinya pun kembali melanjutkan perjalanan untuk berkeliling kota kerajaan Deltras. Setelah agak lama berjalan, dirinya pun mulai berhenti lagi di sebuah toko aksesoris, di sana dirinya melihat berbagai macam aksesoris yang cantik, terlebih lagi toko itu sekarang sedang ramai di kunjungi oleh para perempuan dan juga mereka yang memiliki kekasih. Di tengah keramaian itu, Ryouta melihat seorang gadis berambut biru gelap yang di ikat twintail terlihat sedang kebingungan untuk memilih aksesoris untuk seseorang lalu setelah melihat semua aksesoris itu dirinya pun berkata,


"Sepertinya disini juga tidak ada, ha...ahh... Sepertinya aku tidak bisa memberinya hadiah tahun ini."


Ryouta yang mendengar ucapan gadis itu pun menghampirinya lalu bertanya kepadanya,


"Apa yang sedang kau cari?"


Ketika mendengar seseorang bertanya kepadanya dari sampingnya, gadis itu pun terkejut lalu tanpa di sengaja kepalanya dan kepala Ryouta saling berbenturan.


"Sakit... Ah kau, kalau tidak salah kita pernah bertemu sebelumnya, dan kalau aku tidak salah ingat namamu Ryouta kan?"


"Benar nama ku Ryouta, tapi kenapa kau bisa tau nama ku, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Apa kau tidak ingat hah, kita pernah bertemu saat di kota Logsverial."


"Apa kau itu Arisa?"


"Mou kenapa kau baru mengingat sekarang, Baka..."


"Maaf-maaf aku memang sering melupakan hal yang sudah lama tidak ku ingat."


"Dasar kau itu, kau memang pelupa ya Ryouta," ucap Arisa padanya


"Oh iya Arisa, tadi kau bilang kau ingin memberikan seseorang hadiah, tapi kau tidak menemukan barang yang kau cari di tempat ini kan?"

__ADS_1


"Ahh... Itu benar, memangnya ada apa?"


"Boleh aku tau barang apa yang kau cari?"


"Aku sedang mencari kalung kristal Aurora, yang akan memancarkan cahaya berbeda saat terkena cahaya apapun termasuk sinar bulan, tetapi aku tidak menemukannya disini."


"Begitu ya, apa kau sudah memeriksa toko yang lain?"


"Aku sudah memeriksa lima toko sejak aku tiba disini dan ini adalah toko keenam yang aku periksa tapi aku tidak menemukannya juga."


"Baiklah, aku rasa aku bisa bertanya kepada paman pemilik toko ini, apakah ada toko yang menjual kristal Aurora, bagai mana?" Ucap Ryouta berusaha membantu Arisa.


Setelah bertanya kepada pemilik toko, dirinya pun memberitahukan kepada Arisa bahwa dari informasi pemilik toko ini, ada salah satu toko di ujung barat kota ini dan di dalam toko itu biasanya mereka membuat aksesoris sihir dengan harga yang cukup mahal. Mendengar informasi yang di dapatkan Ryouta, Arisa pun berkata,


"Semahal apapun harganya, aku tetap akan membelinya, karena ini adalah untuk sahabat ku, sebagai hadiah ulangtahunnya."


"Jika kau bilang begitu, maka aku akan mengantarmu ke sana, mungkin aku juga bisa memberikan hadiah untuk seseorang, jadi ayo kita pergi Arisa."


"Ahh... Baiklah, ayo kita pergi."


Setelah pergi dari toko itu, mereka pun mulai mencari toko yang membuat berbagai macam aksesoris sihir. Beberapa jam setelah mencari dan mencari, akhirnya mereka tiba juga di depan sebuah toko yang bagian atas kiri toko itu terdapat sebuah Simbol peralatan sihir.


"Sepertinya ini adalah toko yang dimaksud itu, bagai mana kalau kita masuk sekarang," ucap Ryouta sambil menatap Arisa.


"Iya, ayo kita masuk kedalam."


Saat mereka membuka pintu, terdengar suara hell kecil berbunyi di atas kepala mereka, lalu terlihat seorang gadis berambut merah panjang dengan pakaian penyihir keluar dari ruangan yang berada di samping meja yang berisi beberapa kotak aksesoris sihir menyambut mereka lalu berkata,


"Yaho, selamat datang di toko Aksesoris dan Alat Sihir Lumira, kami menjual aksesoris dan berbagai macam perlengkapan sihir, kami juga menerima pesanan untuk membuat aksesoris atau alat sihir yang kalian inginkan."


"Umm... Permisi, apa kau menjual kalung kristal Aurora?"


"Ahh, kalung itu ya? Maaf tetapi kami tidak membuat kalung itu lagi saat ini, karena jalur suplai barang itu kini sedang terputus, karena insiden Behemoth kemarin."


Mendengar hal itu, Ryouta pun mulai berkata kepada Arisa,


"Kurasa hanya itu pilihannya, baiklah ku serahkan negosiasinya pada mu Ryouta," ucap Arisa mempercayakan negosiasi kepadanya.


"Baiklah serahkan pada ku."


"Umm... Permisi nona... Aaa...?"


"Ah benar juga ya aku belum memperkenalkan diri ku, nama ku Lumira Elmeraria Zuo, panggil saja aku Rumi ya," ucapnya memperkenalkan diri kepada Ryouta.


"Umm... Nona Rumi, apa kau bisa bertanya sesuatu pada mu?"


"Tentu, silahkan tanyakan apapun kepada ku."


"Aku ingin tau dimana biasanya orang yang menyuplai kristal Aurora, mendapatkan barang itu?"


"Ah itu ya, kristal Aurora hanya di temukan di balik dataran tinggi Sorian, di sana terdapat banyak sekali kristal berbagai jenis, salah satunya adalah kristal Aurora yang kalian cari itu."


"Begitu ya, oh iya aku juga ingin bertanya, berapa biaya yang di perlukan untuk membuat aksesoris sihir dari kristal Aurora itu? Dan berapa lama proses pembuatannya?"


"Biasanya biaya pengerjaannya itu tergantung detail dan kerumitan pesanan dari para pelanggan, biasanya proses pembuatannya memakan waktu sampai tiga hari, terutama untuk membuat ukiran dan memasukan mantra sihir di dalamnya."


"Begitu ya, tetapi jika kami sudah punya badan kalung yang telah di ukir, kira-kira akan berapa lama waktu pengerjaannya?"


"Jika kalian memiliki bahan itu, maka mungkin pengerjaannya bisa lebih cepat."


"Baiklah, sepertinya kita sepakat, dan soal biaya pembuatannya, kita bisa diskusikan nanti bagai mana?"


"Setuju, jika kalian sudah dapat bahanya, maka kami akan langsung mengerjakannya dengan cepat," ucap Rumi pada Ryouta.


Setelah sepakat dengan Rumi, Ryouta dan Arisa pun mulai pergi menuju ke dataran tinggi Sorian. Beberapa menit setelah mereka tiba di sana, terlihat banyak sekali kristal yang beraneka ragam ada di sana.

__ADS_1


"Sepertinya kita sudah menemukan tempat kristal ini, bagai mana kalau kita berpencar mencari kristal Aurora itu?"


"Kurasa itu tidak perlu, karena aku sudah menemukan kristal itu, jadi ayo kembali sebelum perayaan Malam Suci Seribu Bintang dimulai," ucap Arisa pada Ryouta untuk segera kembali ke toko Lumira agar bisa membuatkan kalung untuk sahabatnya.


Beberapa jam kemudian, setelah mereka tiba di toko Lumira, mereka pun menyerahkan kalung yang telah di ukir bersama dengan kristal Aurora yang mereka dapat untuk di satukan dan memasukan sebuah sihir di dalamnya.


Setelah menunggu selama beberapa jam, akhirnya kalung pesanan Arisa pun telah selesai di buat. Saat kalung pertama selesai di buat, hanya selang beberapa menit saja, sebuah gelang sihir dengan permata Ruby dan ukiran yang mirip seperti Naga juga telah selesai di buat, lalu saat gelang itu selesai di buat, Arisa pun mengambilnya, lalu memberikannya kepada Ryouta sambil berkata,


"Ini aku buatkan gelang sihir untuk mu, jangan salah paham ya, aku memberikan ini karena aku ingin berterimakasih kepada mu, hanya itu saja, kau jangan berharap yang lain dari ku."


Saat Ryouta menerima gelang itu dari Arisa, Lumira pun berkata kepadanya,


"Uwahh, sepertinya kau baru saja di lamar olehnya, dan gelang itu adalah tanda bahwa dia melamar mu, karena dalam tradisi kota ini, jika seorang laki-laki atau perempuan memberikan kepada mu kalung atau gelang yang berisi permata atau kristal, itu berarti dia jatuh cinta pada mu."


Seketika itu juga wajah Arisa memerah padam sambil berkata kepada Ryouta,


"J-jangan salah paham, a-aku memberikan ini bukan karena aku menyukai mu, ahh... Mou, sudah cukup, aku pergi dari sini," ucap Arisa dengan wajah yang memerah pergi keluar dari toko Lumira.


Setelah Arisa keluar dari toko itu, Ryouta yang masih berada di toko itu pun melihat dua buah lonceng kecil yang di hiasi sebuah permata yang ada di tali berwarna merah yang mengikat lonceng itu. Karena tertarik, dirinya pun berkata,


"Umm... Permisi, boleh aku tau berapa harga lonceng kecil itu?"


"Sepertinya kau punya mata yang bagus, lonceng sihir itu adalah lonceng istimewa, di dalamnya terdapat sebuah penguat sihir, semakin kuat penggunanya semakin kuat pula kekuatan lonceng itu."


"Begitu ya, baiklah, sudah ku putuskan, aku akan membeli lonceng itu."


"Pilihan yang bagus, karena itu, aku memberi mu potongan harga sekitar 30%, jadinya harga lonceng ini adalah 350 keping koin emas, bagai mana?"


"Sepakat, aku beli lonceng itu," ucap Ryouta menyerahkan 350 keping koin emas kepada Lumira.


Setelah membeli lonceng itu, dirinya pun mulai membungkusnya dengan sebuah kertas warna hasil buatannya, ditambah dengan pita kecil yang di lilitkan di kado itu. Beberapa jam berlalu setelah pergi dari toko Lumira, Ryouta kini memutuskan untuk kembali ke istana kerajaan Deltras untuk membantu Rui dan yang lainya di sana.


************************************


Di tengah perjalanan, dirinya melihat sebuah pohon besar yang nampaknya baru saja di tebang dari hutan, dan terlihat semua orang beramai-ramai menghiasi pohon itu dengan berbagai hiasan cerah. Setibanya Ryouta di istana Fricilla dan yang lainnya terlihat sibuk mengatur ruang aula kerajaan untuk pesta perayaan yang akan di adakan malam ini. Melihat hal itu Ryouta pun berkata dalam benaknya,


"Ahh... Tradisi ini memang mirip seperti perayaan Natal di dunia lama ku, ini membuatku sedikit merasa nostalgia."


Setelah beberapa menit berlalu, dirinya pun tiba di dapur istana kerajaan Deltras, di sana dirinya melihat Rui bersama para koki kerajaan sedang memasak bebagai macam hidangan dan juga berbagai macam kue. Karena melihat Rui dan yang lainya sedang sibuk, Ryouta pun memutuskan untuk memberikan hadiah ke Rui saat dia tidak sibuk.


Beberapa jam pun berlalu, tak terasa hari pun sudah mulai gelap dan dari luar istana terdengar suara Fricilla, Erina, Chisaki, dan Victoria bersama dengan tuan putri Asami berbicara bergantian. Karena penasaran, Ryouta pun memutuskan untuk pergi ke luar istana, dan setibanya dirinya di sana, dia melihat semua orang sedang menunggu sesuatu dari pohon besar itu, lalu beberapa menit setelah itu, Fricilla pun berkata,


"Apa kalian sudah siap? Jika kalian sudah siap, maka ayo kita mulai perayaan ini, atas nama Dewi Minerva berikan cahaya mu untuk menerangi pohon ini."


"Atas nama Dewi Athena, berikan cahaya mu untuk menerangi pohon ini."


"Atas nama Dewi Artemis, berikan cahaya mu untuk menerangi pohon ini."


"Atas nama Dewi Nemessis, berikan cahaya mu untuk menerangi pohon ini."


Setelah Fricilla, Chisaki, Erina, dan Victoria bersama memberikan cahaya dari empat Dewi, pohon yang di hiasi oleh semua orang mulai di kelilingi cahaya terang yang terus menerus berganti warna, lalu setelah pohon besar itu di selimuti cahaya, cahaya itu kini menyebar ke semua tempat dan menerangi semua dengan cahaya yang selalu berganti warna tanpa henti.


Saat setelah pohon itu bercahaya, banyak gadis menghampiri Ryouta, sambil memberikannya hadiah. Karena banyak hadiah yang di dapatkannya, Fricilla pun menghampirinya lalu berkata,


"Kau cukup populer juga ya Ryouta, kau bahkan dapat banyak hadiah dari semua orang."


"Itu benar, semua orang selalu memberikan ku hadiah, sampai-sampai aku kerepotan mengurusnya."


"Kau itu benar-benar aneh ya, meskipun kau dapat banyak hadiah, kau merasa bahwa yang kau terima cukup banyak, tetapi, aku kesini ingin memberikan mu hadiah spesial, sebagai perwakilan dari Erina dan yang lainya, aku memberikan mu gelang sihir yang terbuat dari pecahan kristal yang ada di dada Behemoth, meskipun kami tidak tau bagai mana kau akan memakainya."


"Ahh... Terimakasih banyak Fricilla, aku senang menerima hadiah ini, dan juga tolong sampaikan ucapan terimakasih ku kepada Erina dan yang lainnya."


"Sebelum itu, aku punya sesuatu yang ingin ku sampaikan pada mu, saat kau menyelamatkan ku waktu itu, kalau aku ini begitu keras kepala, aku selalu percaya diri dengan kemampuan ku, aku juga tidak pernah bisa mempercayai orang lain selain diri ku, tapi kau menyadarkan ku akan kelemahan ku, maka dari itu, aku ingin memberi mu ini sebagai hadiah dari ku." Fricilla pun menatap kearah Ryouta lalu dengan sedikit berjinjit dirinya pun mencium dahinya Ryouta.


"Terimakasih sudah menyadarkan ku akan apa yang selama ini kulakukan, Ryouta, tolong simpan rahasia ini dari yang lainnya ya."

__ADS_1


"Ahh... Akan ku jaga rahasia ini sampai saatnya tiba nanti."


~Bersambung~


__ADS_2