
Setelah perisai sihir milik ALPHA ZEA menerima banyak serangan, dirinya pun mulai merasa jengkel dengan semua serangan itu, lalu dengan satu tembakan dari senjatanya, dimensi yang di buat oleh Fricilla pun mulai berlubang dan akhirnya hancur seketika.
"Gawat, dimensinya telah hancur, jika seperti ini, akan butuh waktu yang cukup lama untuk mengembalikannya."
"Kalian sudah membuat ku jengkel dengan semua usaha kalian, sekarang tidak ada waktu untuk bermain-main lagi, mari kita selesaikan ini." Seketika senjata yang tadinya ada dua, kini bergabung menjadi satu membentuk sebuah meriam yang terlihat sedang mengumpulkan banyak energi sihir untuk di tembakan dengan kekuatan penuh.
"Waktu bermain sudah habis, saatnya menghapuskan kalian semua para Ìrrērumiar, meriam sihir lepaskan semua energi yang di kumpulan." Semua energi sihir yang terkumpul di meriam itu mulai di lepaskan dengan kekuatan penuh, dan saat energinya dilepaskan, terlihat Padang rumput yang di lewati energi itu terbakar dan terkikis sampai ke tanah.
Melihat serangan itu di arahkan kepada semua orang, Ryouta memberikan perisai Gregorius kepada Rui lalu berkata,
"Rui, gunakan perisai itu untuk melindungi yang lainya dari beberapa serangan bola-bola sihir yang melayang di sekitar dirinya, aku akan memotong serangan meriam sihir itu," Ucapnya, lalu berlari sambil memegang Black Scythe of Abyss miliknya, lalu memotong dan membatalkan tembakan itu dengan Dimensional cut, dan Cancel cut miliknya.
Setelah serangan itu di batalkan, dirinya pun mulai melompat ke atas lalu dengan satu ayunan Scythenya, dia pun berteriak,
"Terima ini, Soul Hunter." Dengan serangan Soul Hunter miliknya, Ryouta pun berhasil mengambil beberapa energi sihir dari tubuh Alpha Zea.
Saat energi sihirnya di ambil dengan mengunakan Soul Hunter secara berulang-ulang, energi dari meriam sihir yang di gunakan Alpha Zea untuk menyerang, masih belum berhenti juga. Beberapa jam berlalu, pertarungan panjang pun masih terus berlangsung, tapi saat ini Ryouta dan yang lainya sudah mulai terlihat kewalahan menghadapi semua serangan yang di lepaskan ke arah mereka.
"Jika seperti ini terus, maka pertarungan ini tidak akan pernah selesai," Ucap Fricilla yang mulai terlihat kelelahan karena berusaha menahan sambil terus menyerang balik.
"Sepertinya aku hanya punya satu pilihan, yaitu skill Soul Sacrifice, untuk mengevolusikannya, menjadi Soul Taker untuk dapat mengetahui kenapa dia masih mempunyai banyak energi sihir sedangkan kita semua sudah hampir kehabisan energi, makanya aku akan mengunakan Soul Sacrifice dan mengorbankan sebagian besar kekuatan ku untuk membuat skill ini berevolusi."
"Itu terdengar agak berbahaya, tapi jika tidak mencoba kita tidak akan pernah tau hasilnya benarkah?" Tanya Erina sambil terus menembaki serangan yang di luncurkan ke arah mereka.
"Kau benar, jika skill Soul Take gagal, maka kita akan kalah, tapi jika berhasil, maka kita bisa mencari tahu kenapa dia memiliki energi sebesar itu."
"Sepertinya hanya itu pilihan kita, tapi untuk membuat ini berhasil, kami akan mencoba untuk mengalihkan perhatiannya, lalu di saat perhatiannya teralihkan, maka itulah kesempatan kita," Jawab Fricilla untuk meyakinkan semua orang.
Karena dari tadi Alpha Zea hanya mendengar pembicaraan mereka, dirinya pun mulai bosan lalu berkata,
"Sudah waktunya mengakhiri ini, saatnya menghapuskan kalian dari dunia ini para Ìrrērumiar." Sebuah bola energi raksasa muncul tepat di atas kepala Alpha Zea, dan saat bola itu muncul bola itu pun di lemparkan kerah Ryouta dan yang lainnya. Melihat bola itu yang mengarah ke hadapan mereka, Fricilla pun mulai membuka halaman ke 4 dari Grimoire miliknya, lalu berkata,
__ADS_1
"Tidak akan ku biarkan, Buka Grimoire Bab ke 4, Pelahap Dimensi." Seketika itu juga aura hitam menyelimuti bola raksasa itu, dan perlahan-lahan mulai memakannya.
Melihat kesempatan yang di berikan oleh Fricilla, Ryouta pun mulai mengaktifkan skill Soul Sacrifice miliknya lalu menusukan Scythe yang di pengangnya itu ke arah tubuhnya, untuk mengambil sebagian besar dari energi sihir yang dimilikinya untuk mengevolusikan South Sacrifice miliknya menjadi Soul Taker. Setelah evolusi selesai, Ryouta pun mulai berlari ke arah Alpha Zea untuk mengunakan Soul Taker miliknya.
Karena sudah tau bahwa Ryouta akan menyerangnya, dirinya pun mengaktifkan perisai sihir untuk menghalau semua serangan yang akan di lakukan, tapi di sisi lain terlihat Fricilla mulai membuka Grimoire miliknya, dan perlahan-lahan kaki dan tangannya pun mulai membeku sebelu perisai sihir di aktifkan.
"Jangan lupakan kami, karena jika kau hanya fokus ke satu orang saja, maka kau akan kalah," Ucap Fricilla dengan Grimoire miliknya yang masih melayang.
Karena kesempatan itu, Ryouta pun mulai melompat lalu mengayunkan Scythenya sambil berteriak,
"Kali ini, kemenangan akan berada di pihak kami, Soul Taker."
Setelah Soul Taker berhasil mengenai Alpha Zea, Ryouta pun mulai mengerti siapa sebenarnya Alpha Zea itu.
"Aku sudah mengerti, kenapa dia memiliki banyak energi sihir yang ada di dalam dirinya, karena dia hanyalah boneka yang di kendalikan oleh Dewa Zokl."
"Itu menjelaskan tentang kekuatannya yang cukup besar, karena dia hanyalah sebuah boneka yang menampung energi sihir dari orang yang mengendalikannya," Ucap Fricilla yang mulai menutup Grimoire miliknya untuk menghemat energi.
"Aku tau, bagai mana kalau kita gunakan kalung budak, karena dari yang pernah aku baca, kalung itu akan menahan dan menekan semua energi sihir dari orang yang di pakaikan kalung itu," Ucap Rui memberikan usulan untuk mengunakan kalung budak.
"Kita tidak mungkin punya kalung itu, karena semua kalung sudah ku lepaskan?"
"Tidak, kita masih punya satu kalung yang tersisa, itu adalah kalung budak milik ku, aku mengambil kembali kalung itu karena waktu itu aku ingin menghancurkannya sendiri, tapi aku tidak jadi," Jawab Rui yang selama ini masih menyimpan kalung budak itu.
"Baiklah, semuanya, karena Rui akan pergi mengambil kalung budak miliknya, kita harus mengalihkan perhatian Alpha Zea dari Rui, agar dia bisa bebas pergi dan mengambil kalung budak itu."
"Kalau begitu, aku akan memulainya duluan, Artemis Divine Charge Shoot." Semua pistol yang melayang di samping Erina kini mulai berubah bentuk menjadi senapan sihir yang bergerak seperti lingkaran, lalu menembakan energi sihir, dan mengisinya secara bergantian.
"Kurasa aku juga akan ikut dalam keseruan ini, Athena Speed Stab." Chisaki yang juga tidak mau kalah pun melesat dengan cepat dan dengan Rapiernya, dia membuat tusukan beruntun kearah Alpha Zea.
"Kalian benar-benar membuat ku jengkel, Anti Barrier." Sebuah pelindung sihir pun muncul dan membuat semua yang mendekat kearahnya terpental.
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlalu, Rui pun berhasil kembali sambil dengan membawa kalung budak miliknya, lalu bergegas melemparnya ke arah Ryouta. Saat kalung budak berhasil di dapatkan, dirinya pun melompat dan mengaktifkan skill Cancel Cut miliknya untuk membuat Anti Barrier milik Alpha Zea di batalkan, tetapi saat akan mendekatinya sebuah serangan sihir pun di lepaskan ke arah Ryouta.
"Sepertinya serangan pertama gagal, tapi, ini hanya pengalihan saja, serangan sebenarnya di mulai saat ini," Ucap Ryouta yang melemparkan kalung budak itu ke arah Rui yang sudah menunggu belakang Alpha Zea.
Rui yang sudah berada di belakang pun mulai melompat lalu memasangkan kalung budak itu tepat di leher Alpha Zea. Setelah kalung itu terpasang, pergerakannya pun mulai melambat, lalu akhirnya berhenti sepenuhnya.
"Sepertinya dia sudah tidak bisa menerima energi sihir lagi, karena kalung itu menghalangi energi sihir miliknya," Ucap Fricilla menutup kembali Grimoire miliknya.
"Akhirnya selesai juga, oh iya Ryouta, mau kau apakan dia nantinya? Apa kita perlu membuangnya?" Tanya Erina yang penasaran apa yang akan di lakukan kepada Alpha Zea setelah dia di kalahkan.
"Aku tidak akan membuangnya, karena aku sudah punya rencana lain untuknya, dan seperti yang selalu di katakan orang bijak, kalau tidak rusak kenapa harus di buang."
"Yang di katakan Ryouta memang benar, tapi apa yang akan kau lakukan dengan dirinya?" Ucap Chisaki yang lanjut bertanya setelah Erina.
"Aku akan memberikannya sebuah jiwa yang baru, tapi aku akan melakukannya setelah mengalahkan Dewa palsu itu, karena jika dia belum di kalahkan, maka dia akan mengunakan Alpha Zea lagi untuk menyerang orang-orang."
"Kalau begitu, ijinkan kami untuk ikut bersama mu," Ucap Fricilla sambil menatap Rui dan yang lainnya.
"Tidak, aku tidak ingin membahayakan kalian lagi, di tambah lagi, jika kalian semua ikut pergi bersama ku, siapa yang akan menjaga kerjaan ini jika kita semua ikut bertarung."
"Baiklah, kami akan tetap tinggal disini, tapi, bawalah ini, dan berjanjilah untuk kembali dengan selamat," Ucap Fricilla merobek salah satu halaman dari Grimoire miliknya, lalu memberikannya kepada Ryouta.
"Onii-chan, sebelum kau pergi, bawalah lonceng ini, mungkin ini tidak terlalu membantu, tapi anggaplah itu sebagai jimat keberuntungan," Ucap Rui menyerahkan salah satu lonceng yang terpasang di katananya kepada Ryouta.
"Semuanya terimakasih, aku berjanji bahwa aku akan kembali dengan selamat, setelah menyelesaikan urusan ku dengan Zokl si Dewa palsu itu."
***********************************************
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya Ryouta pun sampai di sebuah kuil yang sangat besar, dan setelah tiba di kuil itu, gerbang pun terbuka dan saat memasuki gerbang itu, cahaya putih terang menyelimuti tempat itu, dan setelah cahaya putih itu menghilang sebuah tahta besar yang sangat megah pun terlihat, dan dari tahta itu suara seorang laki-laki terdengar berkata,
"Selamat datang di Altar Suci milik ku."
__ADS_1
~Bersambung~