
Satriya dan vigo tiba dirumah sakit. Dengan panik dan tergopoh-gopoh satriya menerobos masuk kekamar yasmin untuk menemui kekasihnya.
Mendengar pintu kamar terbuka dan melihat satriya bergegas mendekati ranjang. Aninda langsung berbalik dan menampar satriya, meluapkan segala sakit hatinya.
“kenapa satriya?” teriak aninda histeris pada satriya sambil menarik kerah baju cowok itu.
“aku, aku…” satriya tak kuasa menjawabnya.
“udahlah nin. Aku juga ikut bersalah.” Ujar yasmin lirih masih terisak.
“kamu mesti tanggung jawab sat! Kalian kan baru jadian kemarin!” aninda masih histeris.
“ceritanya nanti saja nin” jawab satriya gemetar.
Dengan langkah besar aninda meninggalkan kamar. Perasaan terluka benar-benar membuatnya kacau.
Melihat aninda keluar, yovi yang menunggu di depan kamar langsung memeluknya erat. Spontan aninda menangis dipelukan yovi, mengisi kesalahannya karena merasa tak bisa menjaga sahabatnya. Menangisi kebenciannya pada satriya, dan menangisi kekecewaannya pada yasmin. Ia menangis sejadinya, meluapkan emosi yang tak terbendung lagi.
Di kursi koridor tak jauh dari kamar yasmin, seorang cowok bangkit berdiri. Diam-diam vigo meninggalkan rumah sakit.
“kami sudah saling mengenal sejak liburan kelulusan yasmin nin. Kami jadian udah lama tanpa sepengetahuan kamu” jelas satriya.
Aninda mendelik.
“maafin atas semua kesalahanku nin” satriya mengucapkannya dengan tulus.
Kini koridor sepi karena ricko, yovi, dan restiana sedang menemani yasmin dikamar.
Aninda mendengus kesal. “penyesalan mu telat sat!” “aku ngelakuin ini sama yasmin karena aku cinta dia nin”
Aninda tertawa getir. “cinta? Kamu bilang ini cinta sat?” Satriya tak menjawab.
Aninda menatap tajam ke arah satriya. “ini yang namanya cintamu, sat?! Dengan ngancurin masa depan yasmin dan masa depanmu sendiri? Iya sat? Nggak sat. Asal kamu tahu ya, ini bukan cinta.
__ADS_1
Itu Cuma nafsu sesatmu. Pinter banget kamu manfaatin kepolosan yasmin.” Satriya tertunduk lesu. Rasa sesal di hatinya tak terhitung lagi.
“aku bener-bener nggak nyangka sat. Jujur aku kecewa. Banget! Aku nggak tahu mesti gimana sekarang. Masa depan yasmin ancur. Kamu bisa ngembaliin itu semua? Nggak kan? Kamu juga pasti nyesel kan?” aninda benar-benar kacau-balau.
Satriya menatap aninda tajam. “aku bakal tanggung jawab nin. Aku bakal nikahin dia. Aku nyesel nin, aku nyesel. Tapi aku janji bakal ngebahagiain yasmin.”
“kupegang kata-katamu!” ancam aninda keras.
Pembicaraan panas mereka berakhir saat kedua orangtua yasmin datang dengan wajah cemas.
Aninda dengan segera mengajak teman-temannya pulang. “pulang dulu ya yas. Cepat pulih” pamit aninda lembut.
Tak ada obrolan yang mengiringi langkah mereka sewaktu meninggalkan rumah sakit.
Kemana vigo? Tanya aninda dalam hati.
Aninda benar-benar tak bisa terlelap malam itu, hatinya masih gelisah. Rasa kecewa terus menyelimutinya, tak mau pergi barang sekejap. Apalagi ia juga terus bertanya-tanya, kemana vigo tadi.kenapa perasaan gelisah karena merasa ditinggal vigo datang padanya? Bersamaan perasaan rindunya pada umar tiba-tiba merasuki angannya.
“pasti anindaku sayang. Jagain rasa sayang aku ya? Kamu nggak boleh macem-macem sama cowok lain. Aku Cuma pergi sebentar. Pokoknya kamu tungguin aku dibawah pohon itu” umar menunjuk pohon yang berada disamping lapangan kecil.
Aninda mengangguk pelan. “aku nggak mau sama cowok lain selain kamu. Janji!”
Mereka mengaitkan jari kelingking mungil mereka. Setelahnya umar pergi tanpa jejak.
Satu minggu kemudian…
Yasmin dan satriya melangsungkan ijab Kabul segera setelah yasmin keluar dari rumah sakit. Aninda dan restiana diundang menghadiri acaranya.
Seperti sudah diduga, pasangan pengantin dadakan itu memang di dropout dari sekolah. Sekarang aninda duduk dibangku kelasnya seorang diri. Tak ada lagi yasmin yang selalu menemaninya, tak ada lagi teman yang bersedia membantunya menerjemahkan kata-kata bu purwanti. Ada rasa berbeda.
Bahkan kini vigo perlahan menjauhinya, bikin aninda gelisah karena merindukan perdebatan mereka, yang kalau diingat-ingat bisa membuatnya tertawa.
Hari itu yovi dan vigo mengikuti lomba cerdas cermat di luar kota. Kepergian mereka membuat aninda jenuh berada disekolah. Bingung mau ngapain, ia memutuskan mengisi waktu istirahatnya dengan keperpustakaan untuk baca breaking dawn yang sudah hampir selesai. Hari itu restiana menemani ricko latihan karate. Keduanya mulai terlihat akrab.
__ADS_1
Aninda menganggap ricko sebagai adiknya sendiri sejak SD. Mulanya ia hanya merasa iba pada ricko yang setiap hari ditindas umar cs. Lama-kelamaan aninda merasa wajib melindunginya karena umar cs semakin semena-mena. Dan sejak itu lah mereka seperti kakak-adik yang tak terpisahkan.
Benarkah perasaan ricko pada aninda seperti kakak-adik? Ricko memaknai perlindungan yang diberikan aninda selayaknya cewek menyukai cowok. Rasa itu tumbuh dan terpupuk subur dalam hati ricko, hingga saat ini. Sayangnya aninda tak tahu hal itu, ia malah mengira ricko menyukai restiana.
Aninda menyusuri koridor meninggalkan perpustakaan. Kebanyakkan siswa di SMA-nya bukan jenis makhluk yang gemar baca. Jadi bisa dipastikan koridor tersebut benar-benar sepi.
Aninda menengok kebelakang, ia merasa diikuti. Bulu kuduknya meremang. Segera saja ia berlari super kilat, tak mau jadi mangsa hantu disiang bolong.
Dengan napas memburu aninda menuju toilet yang kebetulan terletak disamping aula tempat ricko berlatih karate. Ketakutan membuat kandung kemihnya ingin mengeluarkan air yang ditampung. Dengan perasaan lega ia keluar dari toilet. Marsya cs sudah menunggunya diluar toilet.
“hai kak!” sapa aninda polos.
Merli langsung mendorong aninda kuat-kuat. Aninda luar biasa kaget hingga begitu mudah terjatuh kelantai. Jantungnya berdegup kencang, rasa takut menjalari aninda.
“hei cewek kampung! Nggak usah caper sama kakak kelas deh!” Aninda gelagapan, tak mengerti maksud mereka.
“jangan terlalu kasar mer” bisik marsya waswas.
“marsya! Kamu harus inget sya. Dia ngerebut yovi dari kamu!” syifa berseru dalam emosi tinggi.
Merli mendengus kesal. “cewek kecentilan!”
Pikiran aninda langsung melompong. Ia sungguh tak paham situasi yang sedang dihadapinya. Keringat dingin meleleh dari dahinya. Itu pertama kalinya ia dilabrak kakak kelas. Aninda ketakutan. Ia tak seperti biasanya yang berani melawan. Nasib malang yasmin masih membuat aninda down.
“nin, aku cuman minta kamu jauhin yovi” kata marsya lalu mengajak kedua temannya meninggalkan aninda yang masih tersungkur dilantai.
Aninda masih belum bergerak. Kaget. Akhirnya ia tahu makna tatapan dingin marsya selama ini bisa berpapasan dengannya. Ia paham kenapa marsya selalu buang muka bila tak sengaja melihat ia bersama yovi. Apakah marsya sudah menghubungi yovi hingga cowok itu sekarang menjauhi aninda?
Ricko yang sedang berlatih karate sempat kaget mendengar suara “gedebum” dari toilet. Ia terdiam sesaat, kemudian memutuskan untuk mengeceknya. Restiana membuntutinya.
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123
__ADS_1