
“oke yov! Panggung ini milikmu sekarang!” kata agus sambil bergegas turun dari panggung.
“Good evening everybody!” kata yovi kikuk sambil memegang mikrofon.
“Good evening!!” jawaban serempak datang dari semua yang berada di depan panggung, kecuali aninda yang masih melongo.
Yovi tersenyum tenang. “oke, malam ini saya memang mau menyatakan perasaan saya pada seseorang. Tepatnya seseorang yang sudah lama saya suka, tapi baru malam ini saya mendapatkan keberanian untuk menyatakan perasaan saya padanya. Saya menyukai semua hal yang ada dalam dirinya, entah kenapa saya sangat dan sangat menyayanginya.” Semua hening, tak sabar menunggu yovi menyebutkan nama ceweknya.
Yovi masih melanjutkan kata-katanya. “saya akan berjalan turun dari panggung. Yang mendapatkan mawar ini, dialah orangnya”
Yovi mulai menuruni tangga panggung. Semua yang hadir diam, menahan napas karena penasaran. Kepada siapa bunga itu akan berlabuh.
Yovi berjalan pelan namun mantap, pandangannya lurus kedepan. Setiap orang menepi untuk memberinya jalan. Yovi berbelok. Ketika mendekati aninda, gadis itu ikutan menepi, memberinya jalan. Namun yovi tak melewatinya. Ia berhenti tepat didepan aninda. Semua orang terpaku, termasuk aninda.
Napas aninda memberat, kini semua mata memandangnya lekat. Gugup menerjang hingga tangannya bergetar.
“Aku?!” kata aninda tak percaya sewaktu yovi terus menatapnya.
Yovi mengangguk mantap, tatapannya tak lepas dari aninda.
Aninda salah tingkah hingga senyum konyolnya keluar begitu saja tanpa mampu dia tahan.
“Aku suka kamu nin, cinta kamu” yovi mengakui tanpa ragu. Matanya memancarkan ketulusan yang dalam.
Aninda gugup bukan kepalang. “Aku… Aku…”
Semua menantikan aninda bicara. Semua ingin tahu jawaban aninda.
Aninda menoleh ke samping kiri. Vigo seharusnya berada di situ, tapi cowok itu sudah tak ada, entah kemana. Hati aninda gelisah. Ia menoleh ke arah restiana yang tersenyum lebar.
“Kamu mau jadi cewekku kan nin? Jadi pendampingku?”
Pertanyaan yovi membuat aninda semakin gugup, napasnya memburu. Jantung aninda berdetak begitu kencang, kapan saja siap meledak saking tegangnya.
Keringat dingin aninda meleleh pelan di balik poninya. Ia memberi syarat pada yovi sambil mengedipkan kedua matanya.
Yovi tersenyum sabar. “Nggak usah jawab sekarang juga nggak papa nin. Aku Cuma minta kamu terima bunga ini” yovi menyodorkan buket mawar.
Semua kecewa dengan akhir adegan itu. Mereka ingin mendengar jawaban pasti dari aninda. Semua bertepuk riuh saat aninda menerima mawar dengan tangannya yang gemetaran.
“Makasih” ujar aninda lirih, masih dengan senyum konyolnya.
__ADS_1
“Wuih.. romantis! Kita menunggu kabar selanjutnya ya yov!” suara agus membuyarkan konsentrasi semua orang.
Yovi masih berdiri disamping aninda, merangkul bahu gadis itu dengan penuh sayang. Ia mengedip pada agus.
“Oke! Kita lanjutkan dengan acara lain. Pasang sabuk pengaman kalian karena band pujaan hati kita akan segera beraksi!”
Agus membuat semua orang yang berada diaula bersorak ria. Perhatian mereka untuk aninda dan yovi telah teralihkan. Namun ingatan tentang malam ini takkan pernah mereka lupakan.
“Paling si cewek tengil itu nerima” ketus merli sambil memandang aninda iri.
Syifa mengangguk kuat-kuat. “Paling juga gitu mer. Eh, marsya mana mer?”
“Tadi keluar. Lagi nyepi kayak biasa” gumam merli.
Di luar aula…
Gerimis turun. Awan hitam menutupi kerlap-kerlip bintang. Marsya memandang vigo dengan pengharapannya.
“Maaf sya, aku nggak bisa membalas cintamu” kata vigo halus.
“Iya nggak papa vig” marsya tersenyum pilu.
Marsya bingung. “Maksud kamu vig?”
“Kamu sendiri bahkan bingung kan sya? Seharusnya kamu sadar, kamu masih cinta sama yovi. Kamu nggak bisa ngelupain dia, nggak terima kalau dia deket sama cewek lain. Kamu Cuma sedikit simpati sama aku sya, nggak lebih”
Marsya masih terdiam kaku ketika vigo beranjak pergi menuju parkiran, merobos dinginnya malam. Akhirnya marsya tahu kekeliruan yang selama ini ia rasakan. Seharusnya ia menyadari sejak awal. Kenapa aku ini? Marsya menitikan air mata. Perasaan cintanya untuk yovi masih tersimpan jelas. Tersusun rapi dalam benaknya. Rasa sesal itu muncul kembali.
Semilir angin malam menggoyangkan rambut marsya. Tangannya terlipat didada, menghalau hawa dingin yang mulai merayapinya. Benang-benang cinta yovi untuknya jelas telah putus. Sudah ada gadis lain yang menggantikan posisinya dihati yovi. Isaknya bertambah. Ada yang mencabik-cabik hatinya. Begitu perih.
Sebuah sentuhan hangat singgah dipundak marsya. “Pulang yuk kak”
Ricko.
Marsya memandang ricko dengan nanar. Ia berdiri dan memeluk erat adiknya, meluapkan segala emosi.
Ricko mengelus rambut kakaknya dengan lembut, mengusap air matanya, lalu menggandeng marsya menuju mobil.
“Yuk res” ajak ricko pada restiana yang sejak tadi berada dibalik punggung ricko.
Restiana tersenyum hangat pada marsya dan ricko. Bertiga mereka berjalan berjajar menuju tempat parkir.
__ADS_1
Karena membawa sopir, ricko duduk didepan. Marsya duduk disamping restiana dan langsung menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada pundak restiana. Dalam hati restiana senang karena ia semakin dekat dengan ricko dan keluarganya.
“Habis ini langsung tidur aja nin, kamu pasti capek.” Yovi mengantar aninda sampai didepan pintu rumah gadis itu.
“Beres bos. Kamu juga ya” ujar aninda mantap.
“Inget nin, aku nunggu jawabanmu” yovi mengingatkan aninda.
Aninda mengangguk pelan.
Yovi melambai pada aninda. Aninda balas melambai hingga mobil yovi tak terlihat dari pandangannya.
Dikamar, aninda menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar, kemudian tatapannya beralih pada foto yang terpampang disudut kamar. Foto dirinya saat SD. Rambut dikepang dua, senyum konyolnya tergambar jelas. Disampingnya ada umar dengan ekspresi datar melirik aninda kecil.
Hatinya gundah gulana. Ia teringat pada prinsip cewek di novel restiana. Kita boleh menanti, tapi jangan menanti yang tak pasti. Tapi si cewek dalam novel tetap saja menanti tanpa gentar.
Aninda bingung. Katanya si cewek memegang prinsipnya itu? Tapi kenapa justru ia terus menanti? Tanya aninda pada dirinya sendiri.
Pikirannya terus berlari ke sana kemari, mengingat semua kejadian yang pernah ia alami. Dan semua terasa bagai mimpi saat ia memejamkan kedua bola matanya. Bermimpi lagi tentang masa SD-nya.
“Vig? Udah tidur?” tanya yovi mendekati vigo.
“Belum. Ada apa?” vigo membalik posisi tidurnya. Menatap yovi yang kini duduk disampingnya.
“Tadi kamu kemana? Aku sama aninda bingung nyariin kamu.” Yovi berbaring di ranjang sebelah vigo.
“Aku pusing yov, jadi mending pulang duluan aja” dusta vigo. Lalu berbalik, kembali memunggungi yovi.
Yovi dan vigo sama-sama diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Vig?” yovi menatap punggung adiknya.
“Hm?” vigo tak mengubah posisi tidur yang memunggungi kakaknya.
“Kayaknya aninda lagi nungguin seseorang, nggak tahu siapa. Tatapannya, lamunannya, bikin aku tambah yakin bahwa dia lagi menanti sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang.”
Vigo tak menjawab, membuat yovi mengira ia sudah terlelap. Padahal saat yovi sudah memejamkan mata, vigo masih terjaga. Sorot matanya yang tajam mengisyaratkan dirinya sedang berpikir keras.
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123
__ADS_1