LOLIPOP CINTA DAN DUSTA

LOLIPOP CINTA DAN DUSTA
EP 13


__ADS_3

Malam itu aninda membaca tuntas novel pinjaman restiana. Air matanya berlinang saat membaca lembar penutup. Ceritanya berakhir dengan kematian si cowok karena tertabrak mobil saat berusaha mencari jejak pujaan hatinya. Namun si cewek tak tahu hal itu hingga sepuluh tahun mendatang. Saat tak sengaja bertemu teman lama mereka, barulah si cewek tahu fakta tersebut. Penyesalan mendalam membuat si cewek mengakhiri setiap malamnya dengan meratap dan menangis sedih, hingga akhirnya ia memutuskan tidak menikah sampai ajal menjemputnya.


Aninda merinding saat mendapati jam dinding menunjukkan jam dua malam. Ia melamunkan kisah dirinya yang mungkin saja setragis cewek dalam novel itu. Bagaimana kalau ternyata umar sudah tiada? Pikirnya kalut. Ia melangkah ke dekat jendela kamar yang masih terbuka lebar, memandang bulan temaram dengan hati gundah. Memikirkan umar dan umar lagi. Apakah dirinya memang ditakdirkan untuk menunggu umar? Ia tak tahu. Aninda menghela napas perlahan. Mengucek matanya yang hampir kehabisan daya pijar.


“bulan, bolehkah aku merindukan seseorang yang mungkin sudah tak mengingatku lagi?” bisiknya pelan.


Bulan diam tak menjawab. Dan tetap berada diatas, memancarkan sinarnya yang temaran.


Aku merindukannya. Tolong pertemukan kami.


Saat itu, ditempat berbeda…


Umar berdiri di balkon kamar. Sendirian memandang bulan yang temaram. Wajah pucatnya menengadah penuh harap. Hanya satu yang ada diotaknya, yang selalu membayangi setiap tidur malamnya. Seseorang yang telah menerima janjinya, janji yang belum juga ditepatinya.


“bulan, aku merindukannya malam ini” kata umar lirih.


“akhirnya aku berhasil menemukannya.”


Bulan diam. Ada banyak orang yang berbicara padanya malam ini.


Seperti biasa, saat jam istirahat aninda sudah stand by dikantin ditemani restiana. Kali ini ia memesan mi ayam untuk mengisi perut.


“ceritanya sedih banget tuh novel res” kata aninda kurang jelas karena ada mi yang sedang dikunyah dalam mulutnya.


“iya, tapi kata-katanya mengena semua kan?” restiana menyedot es kuwut.


Aninda menelan mi terburu-buru. “iya sih, tapi tetep aja bikin sakit hati yang baca”


“nggak lah nin. Tapi ada juga bagian yang bikin bingung. Seperti prinsip si cewek yang tertuang dalam kalimat ‘kita boleh menanti, tapi jangan terlalu menanti yang tak pasti’”


“dan tetep aja si cewek menanti” aninda melanjutkan kalimat novel itu.

__ADS_1


Restiana tertawa. “nah, itu yang bikin aku bingung nin. Nggak mudeng sama maksud penulisnya.”


Pembicaraan mereka berhenti saat vigo datang mendekati aninda.


“ntar malem datang ke pensi bareng aku. Yovi sibuk ngurus acara” kata vigo datar.


“ya udah, aku berangkat sendiri aja kalau gitu.” Ujar aninda pelan.


“nggak bisa nin, kamu tetep berangkat bareng aku. Ntar aku jemput jam enam.” Vigo langsung pergi dengan gaya dinginnya.


Aninda merengek pada restiana. “dia mulai lagi res”


“sabar nin, paling itu juga kemauan yovi”


“dasar sengak! Makin benci aku!”


“ssst… nggak boleh gitu nin. Nanti justru kamu jadi suka gimana?”


Aninda menarik salah satu ujung bibirnya. “nggak mungkin!”


Marsya duduk sendirian di ruang OSIS. Melamunkan sesuatu yang membuatnya gelisah. Rapat OSIS baru saja berakhir, namun ia memutuskan tetap berada disitu sejenak untuk merenungkan banyak hal. Terngiang-ngiang di benak marsya percakapan yovi dengan seseorang seusai rapat tadi. Marsya mendengar jelas yovi memesan seikat bunga mawar untuk malam ini. Seingat marsya, yovi hanya melakukan itu untuk dirinya. Tapi kini, yovi tak bersamanya lagi, jadi untuk siapa bunga itu? Itulah yang sejak tadi dipikirkan marsya.


Marsya memang belum sepenuhnya merelakan kepergian yovi. Terlalu sulit melupakan kenangan indah yang pernah mereka rajut bersama. Semua itu tertanam dihatinya.


Ia sendiri bingung, sebenarnya pada siapa hatinya bermekaran? Yovi atau vigo? Atau duaduanya? Marsya harus lebih banyak belajar memahami kata hatinya. Apalagi hatinya tak seindah kecantikan wajahnya.


Malam itu aninda mengenakan kemeja putih dan rok hitam pendek. Ia mengucirkan rambutnya agak tinggi dan membiarkan poninya jatuh alami di dahinya. Vigo semakin terlihat tampan dengan kemeja putih yang ia gulung rapi dibagian lengannya. Mereka berjalan berdampingan bak sepasang kekasih, menuju aula sekolah.


Acara pensi dimulai dengan sambutan bertele-tele dari petinggi sekolah. Yovi juga mengisi sambutan karena menjabat ketua OSIS sekaligus ketua pensi. Aninda bangga melihat yovi memberi sambutan dengan penuh wibawa, beda jauh dengan vigo yang selalu bersikap dingin pada semua orang yang dijumpainya.


“Anin!” restiana datang bersama ricko.

__ADS_1


“cantik banget kamu res!” seru aninda takjub.


Ricko melirik kearah vigo dengan ekspresi datar. Begitupun sebaliknya, vigo tak memperdulikan kehadiran ricko.


Semua yang hadir malam itu sangat menikmati acara pensi. Tawa dan kegembiraan memenuhi udara. Apalagi pembawa acaranya konyol bukan main. Saat band tamu membawakan lagu ceria, semua berjoget ria. Ini pertama kali aninda menghadiri acara pensi, dan ia begitu takjub dengan kegilaan murid-murid sekolahnya.


“harap tenang dulu, teman-teman!” seru agus, si pembawa acara. Siswa kelas sebelas itu memang doyan melawak. “semua diam. Tarik napas kalian kuat-kuat!” Semua siswa, termasuk guru benar-benar mengikuti perintah agus.


Agus melanjutkan acara. “inilah reality show kita malam ini! Pernyataan cinta dari seseorang yang sudah sangat kita kenal!”


Semua langsung antusias, penasaran siapa yang akan menyatakan cinta malam ini.


Suara agus membahana lagi. “saat orang ini tampil ke panggung, yang tepuk tangan wajib bayar sepuluh ribu kesaya!”


Semua tertawa dan semakin penasaran.


“kalau ternyata orangnya cowok, dan nyatain perasaannya ke aku dengan cara kayak gini pasti langsung ku terima!” canda restiana. “soalnya pasti cowok itu punya keberanian tinggi nin.”


Aninda terkikik pelan. “aku juga res. Gila! Didepan orang banyak gini pula!”


“nggak usah ngomong ngawur gitu nin!” kata vigo kasar sambil menjitak kepala aninda.


Aninda mengelus kepalanya yang kesakitan. “sakit tau!”


Aninda kaget saat semua orang bertepuk tangan sambil menatap ke panggung. Aninda kembali melihat ke arah panggung dan jantungnya berhenti berdetak. Yovi!


Cowok itu mengenakan kemeja putih dibalik jas hitam yang berpotongan bagus. Seikat mawar merah ada di genggamannya.


Agus kembali berbicara. “yang tadi tepuk tangan jangan lupa bayar loyalitinya ya. Termasuk Mrs. Purwanti, I can see you, Mam!” agus tersenyum lebar sambil mengedipkan mata pada Bu Purwanti yang tertawa lebar.


Semua yang tadi tepuk tangan tertawa, menyadari ketololan mereka.

__ADS_1


FB@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2