LOLIPOP CINTA DAN DUSTA

LOLIPOP CINTA DAN DUSTA
EP 18


__ADS_3

Dengan lembut yovi mengelus rambut aninda. Ia pikir aninda sedih karena SD tempatnya dulu bersekolah berganti menjadi hotel berbintang.


“Udah ya nin, nggak boleh nangis gini. Cup..cup..” Yovi berusaha menenangkan tangis aninda yang makin menjadi-jadi.


Aninda menangis dipelukan yovi selama beberapa menit. Dengan sendu ia menengadah, menatap yovi yang juga menatapnya.


“Yov?” Kata aninda. Tangisnya mereda.


“Apa nin?”


“Aku mau jadi pacarmu. Aku terima cintamu” kata aninda parau.


Yovi menatap tajam mata aninda, mencari kesungguhan didalamnya. Gelora dijiwanya menari senang. Yovi tersenyum lepas pada aninda, lalu memeluknya erat.


“Makasih nin. Mulai sekarang kamu milikku” yovi mengecup kening aninda. Memeluk lebih erat lagi kekasih barunya.


Kesyahduan mereka terganggu bunyi yang berasal dari hp yovi. Cowok itu merogoh saku celananya untuk mengambil hp.


“Halo?” Sapa yovi kalem.


Dia terdiam, menyimak sesuatu. Orang yang meneleponnya berbicara panjang.


Ekspresi yovi berubah panik. Aninda yang melihatnya ikut cemas.


“Apa? Dimana sekarang?” Tanya yovi pada orang di seberang sana dengan nada tergesa-gesa.


Kemudian sambungan putus.


Yovi menatap aninda panik. “Vigo dirumah sakit sekarang”


Satriya ada disamping vigo saat aninda dan yovi tiba dirumah sakit. Vigo terbaring lemah, tubuhnya lebam penuh bekas luka pukulan. Tergesa-gesa yovi mendekati adiknya dan menatapnya iba.


Aninda yang masih terkejut menatap satriya, seakan menerima penjelasan.


“Kata warga ditempat kejadian, dia dikeroyok anak-anak nggak jelas” jelas satriya datar.


Aninda mendekati vigo. Perasaan aneh kembali muncul dalam benaknya. Ia mengelus punggung yovi, mencoba membuat tenang hati pacarnya. Padahal hatinya sendiri terasa makin perih melihat keadaan vigo yang sungguh mengenaskan. Hari itu benar-benar menjadi hari yang harus aninda lupakan.


“Vigo emang doyan berkelahi, jelas dia punya banyak musuh” kata yovi lirih.


“Dia dikeroyok yov” jelas satriyo pendek. Merasa tak nyaman, dia langsung meninggalkan kamar vigo.


Yovi menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Ini salahku, nggak bisa jaga dia”

__ADS_1


Aninda menarik tangan yovi, lalu menggenggamnya erat. Ia tak kuasa melihat kekasihnya bersedih. “Ini musibah yov, kamu nggak boleh ngomong gitu” aninda memeluk yovi.


Setelah agak tenang, yovi berkata lirih pada aninda. “Kita pulang sekarang saja”


Pelan-pelan aninda mengelus kening vigo, memandangnya lekat.


“Vig, aku pulang dulu ya. Kamu mesti cepat sembuh” pamit aninda lirih.


Setelah sekali lagi memandang wajah kembarannya, yovi keluar. Ia langsung menemui satriya yang berdiri dikoridor.


“Sat, jagain vigo dulu. Aku nganter aninda pulang”


Satriya mengangguk.


“Tolong cari tahu siapa dalangnya” bisik yovi amat pelan.


Satu minggu telah berlalu...


Kabar aninda berpacaran dengan yovi menyebar luas disekolah. Kini semua orang tahu mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Aninda sampai gerah karena hampir semua orang membicarakan dirinya. Kebanyakan diri mereka cenderung membicarakan sisi negatifnya. Seperti, betapa beruntungnya gadis ***** itu mendapatkan pangeran sekolah, sampai-sampai ada rumor aninda memakai pelet untuk menggaet yovi.


“Omongan mereka nggak usah digubris nin” kata yovi lembut ketika sedang duduk berdua dikursi yang berada dikoridor usai jam sekolah.


Aninda memutar kedua bola matanya kesal. “Iya. Tapi kadang keterlaluan”


“Jangan terlalu dipusingin dong. Minggu depan ulangan umum semester dan kamu mesti belajar serius”


“Yuk belajar!” Yovi menarik lembut tangan aninda.


Rupanya yovi mengajak aninda belajar dirumahnya. Aninda masih saja terkagum-kagum dengan kemegahan rumah pacarnya. Sudah lama ia tak berkunjung, jadi maklum kalau ia masih saja melongo memandangi tatanan rumah mewah itu.


Aninda duduk lesehan dikarpet ruang keluarga, menunggu yovi ganti baju. Ia melepas tas punggungnya, lalu mengeluarkan lembar latihan tes semester yang baru saja dibagikan guru. Aninda membaca beberapa soal yang sama sekali tak ia pahami. Beberapa kali dahinya berkerut dan bibirnya mengerucut.


“Baca apaan nin?” Suara wanita yang tak dikenal aninda membuyarkan konsentrasi gadis itu. Ia menoleh, mencari sumber suara yang ternyata berasal dari dapur. Wanita itu membawa minuman dinampan.


Sesaat aninda bingung. Biasanya mbok tiyem yang membawakan minuman. Kok sekarang wanita cantik ini?


“Kok bengong? Mari, minum dulu. Haus kan pulang sekolah” wanita itu tersenyum lebar sambil duduk disofa empuk.


“Wah, tumben mama membuatkan minuman” vigo muncul dari kamar. Wajahnya sudah pulih kembali.


Oh, ini mama si kembar! Batin aninda. Buru-buru dengan senyum konyolnya dia memberi salam, “selamat siang, tante”


Wanita cantik itu terkekeh melihat kekikukan aninda. “Siang nin”

__ADS_1


Aninda bersalaman dengan Tante Lira, ibu kekasihnya. Kali ini ia tersenyum manis.


“Mau kemana vig?” Tanya mama heran karena vigo mengenakan jaket.


“Apa peduli mama?” Jawab vigo ketus sambil berjalan keluar tanpa pamit.


Tante Lira menggeleng pelan, ada sedikit raut prihatin diwajahnya. “Dia selalu seperti itu”


Menghadapi situasi yang tak terduga itu, aninda bingung harus berkata apa. “Mungkin dia lagi ada masalah tante”


Tante Lira tersenyum. “Nggak nin. Vigo bersikap seperti itu juga salah tante”


“Udahlah ma, vigo emang gitu kok” yovi muncul dari kamarnya. Ia mengambil minuman dimeja, lalu memilih duduk disamping aninda. Tangannya meraih salah satu lembar soal.


“Ya sudah, tante tinggal dulu ya nin. Kalian belajar yang rajin” tante lira beranjak kedalam.


Aninda tersenyum mengiyakan, ia masih sedikit kikuk. Tante lira cantiknya bukan main, pantas saja anaknya ganteng semua. Apalagi kata teman-teman aninda, si ayah keturunan bule. Lengkap sudah bibit keren keluar tersebut.


Ulangan umum semester tiba...


Sepanjang koridor SMA Harapan Jaya dipenuhi kumpulan wajah-wajah tegang. Siswa dan siswinya sibuk dengan buku catatan mereka. Tes pertama adalah matematika.


Aninda menggaruk-garuk kepalanya, otaknya hampir meledak melihat rumus-rumus trigonometri dari catatan. Restiana yang duduk disebelahnya masih serius menghafal.


“Bro, jangan lupa kirimin jawaban ya!” Teriak cowok gendut yang berjalan didepan aninda.


Cowok gendut itu rupanya berteriak pada yovi yang berpapasan dengannya. Ia menepuk pundak yovi dengan ekspresi girang.


Yovi tersenyum kalem sambil mengacungkan jempol. Ia mendekati aninda, kemudian berjongkok didepannya. Teman-teman aninda yang melihatnya cengegesan penuh iri.


“Gimana? Udah siap?” Tanya yovi menatap mata aninda yang menyiratkan kegugupan.


“Sebenarnya belum” jawab aninda pelan sambil menggaruk kepalanya lagi. Yovi tersenyum geli. “Yang penting kamu udah belajar. Ntar jangan gugup” Aninda mengangguk cepat. Kegugupannya makin terlihat jelas.


Bel masuk berbunyi keras. Bunyinya yang menandakan ulangan umum segera dimulai terdengar menakutkan bagi aninda.


“Good luck baby!” Sehabis berkata begitu, yovi berjalan cepat menuju kelasnya.


Aninda manggut-manggut, seolah tak mengerti ucapan kekasinya.


“Artinya, ‘semoga beruntung, sayang’” restiana mencibir aninda.


Aninda melongo.

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2