LOLIPOP CINTA DAN DUSTA

LOLIPOP CINTA DAN DUSTA
EP 12


__ADS_3

Ada motor berhenti didepan penjual bakso. Aninda mengernyit melihat motor vigo. Pengendaranya memang vigo. Cowok itu berjalan mendekati aninda sambil melepas helm.


“pak, bakso satu ya. Biasa, nggak pake sambel” kata vigo tanpa menegur aninda.


“ngapain kamu kesini?” Tanya aninda ketus.


“dia memang langganan saya dik” ujar si tukang bakso.


Vigo menatap aninda dengan penuh kemenangan. “jelas?!”


Aninda memutarkan bola matanya, males berdebat dengan cowok macam vigo.


“kamu udah makan belum?” Tanya vigo tiba-tiba.


Belum sempat aninda menjawab, perutnya sudah duluan mengeluarkan suara.


Vigo tersenyum puas. “pantes aja nggak bisa gede. Baksonya satu lagi, pak” Aninda mengeluarkan senyum konyolnya.


“makan yang teratur. Kalau sakit kamu juga yang repot. Sekolah jadi terganggu” vigo mulai menceramahi aninda.


“iya! Tahu kok” ujar aninda ketus. Batinnya jengkel karena vigo selalu mengomentari segala hal yang ia lakukan.


“lagi ngapain kamu disini?” Tanya vigo setengah heran. Mereka mulai menyantap bakso.


Aninda bersendawa kecil, merasakan kepuasan dengan rezeki yang tiba-tiba mendatanginya. “lagi pengen kesini aja. Main.”


“apa habis naruh sesajen dibawah pohon?” sindir vigo.


Alis aninda terangkat. “ih… nggak banget deh. Omong-omong, makasih buat baksonya ya”


“anggap aja itu sedekah”


Tukang bakso tertawa kecil mendengar perkataan vigo. Aninda jadi sebal. “terserah kamulah”


“cewek payah! Buruan habisin”


Aninda menggerutu dalam hati, kapan vigo bisa bersikap sedikit halus padanya? Seperti yovi… halus.


“udah sore banget nih. Kalau udah, pulang yuk” ajak vigo.


Aninda mengangguk sambil berdiri. Keduanya berjalan menuju motor vigo.


Aninda terpeleset ketika menaiki motor vigo. Untung vigo sigap memegangi tangan aninda. “bego banget sih. Nggak pernah bisa ati-ati!”

__ADS_1


Tuh… vigo kasar kan?


Aninda berkunjung kerumah yasmin pada hari minggu, sekadar ingin tahu keadaan yasmin dan bakal juniornya.


“nah, gitu dong. Sering main kesini.” Sambut yasmin senang.


“yah, mumpung lagi ada waktu nih” jawab aninda sambil nyengir.


“gimana di sekolah nin? Kangen nih, pengen sekolah lagi”


“nggak asyik nggak ada kamu”


“hmm… aku nyesel nin, kalau tahu gini jadinya. Nggak bisa sekolah lagi, nggak bisa main kesana kemari. Huff…”


Aninda bingung mau menjawab apa. “udahlah yas, nggak usah kayak gitu. Ambil hikmahnya aja. Oke?”


Yasmin menarik sudut bibirnya. “nggak nyangka kamu bisa ngomong gitu”


“dasar! Eh, satriya mana yas?”


“tadi keluar sama vigo, paling juga main basket” yasmin tampak kesal.


Aninda berdecak pelan. “wah wah, vigo memang pembawa dampak buruk.”


Aninda melempar bantal kearah yasmin. “ih! Kok kamu jadi ngebelain vigo gitu sih?”


“emang gitu, anin. Vigo nggak sejahat yang kamu kira lho!” lagi-lagi yasmin membela vigo.


“tapi dia selalu kasar padaku yas”


Yasmin tak berkomentar melihat kejengkelan aninda. Temannya yang satu ini selalu bisa menghiburnya. Bila anaknya cewek, ia sudah berniat menamainya aninda. Baginya, aninda sahabat sejati yang sudah seperti saudara kandung. Dia mau menerimanya dalam keadaan suka maupun duka, bahkan saat kondisinya seperti ini. Penyesalan memang selalu membayanginya karena telah melakukan sesuatu yang belum pada waktunya.


“udah terasa bergerak-gerak belum yas?” aninda mengelus perut yasmin pelan-pelan.


Yasmin tertawa. “belumlah nin, baru juga empat bulan. Itu akibatnya kalau pelajaran biologi tidur terus”


Aninda mengerucutkan bibirnya, tangannya masih mengelus perut yasmin yang mulai membuncit.


“nin, rencananya kalau junior udah lahir, mau ada resepsi buat pernikahanku sama satriya”


“oh ya? Udah mulai direncanain?”


“udah dari kedua pihak keluarga. Biar semua nggak penasaran lagi, jadi pada tahu aku dan satriya udah nikah. Lagian ada cewek kegatelan yang ngejar-ngejar satriya terus.

__ADS_1


Bulan September tiba. Itu tandanya satu minggu lagi akan diadakan pensi yang menjadi puncak peringatan ulang tahun ke 40 SMA Harapan Jaya. Mengingat sedang musin hujan, acara kali itu diadakan di aula SMA yang telah dipermak sedemikian rupa sehingga mirip hall istana. Persiapannya memang dicicil sedikit demi sedikit, meskipun acaranya masih seminggu lagi. Maklumlah, anak-anak dekor kan harus sekolah juga.


Apa lagi sekarang ada bazar. Biarpun pengisi stan kebanyakkan dari luar sekolah—stan penerbit ternama, toko buku, sepeda santai, sepeda motor, perusahaan HP dan jaringan seluler, pemerhati lingkungan hidup, makanan dan minuman—tetap saja pengurus OSIS dan panitia ulang tahun kerepotan. Pihak sekolah berharap bazar tersebut mendorong para siswa berpikir lebih kreatif dalam menyongsong masa depan mereka.


Kebanyakkan para cewek genit menghabiskan waktu di stan kosmetik dan perawatan wajah. Para cowok berlabel metroseksual juga tak mau kalah dengan para cewek genit itu dengan ikutan nimbrung disitu. Bagi marsya dan kedua dayang setianya, stan kosmetik dan perawatan wajah adalah surga.


“sya, ini produk terbaru kan?” jerit syifa girang melihat seperangkat alat kosmetik yang sedang tren di kalangan artis.


Mata marsya membulat. “wah, benar syif! Beli yuk! Diskon lima puluh persen lagi!”


“aku juga mau beli!” merli tak mau kalah dengan kedua temannya.


Alhasil mereka bertiga keluar dari stan dengan menenteng tas kertas kecil. Senyum puas mereka merekah bersamaan. Masing-masing meniatkan diri menjadi yang tercantik diantara yang paling cantik pada malam pensi nanti.


Satu hari sebelum pensi, SMA Harapan Jaya digegerkan dengan wajah trio cheerleader. Semua syok, termasuk aninda.


Saat itu aninda sedang berada di bilik toilet. Ia bermaksud keluar, namun diurungkan niatnya ketika mendengar marsya cs berada didepan cermin.


“sial, kita ditipu! Wajahku jadi nggak karuan gini!” marsya marah-marah.


“sebenarnya aku udah curiga dari awal. Produk terbaru masa banting harga gitu!” merli tak kalah berangnya.


“kita mesti tuntut perusahaan mereka!” syifa bersuara, terdengar seperti cicitan tikus diloteng aninda.


Mereka bertiga terus menggerutu, memperdebatkan kondisi kulit wajah mereka dan kosmetik palsu yang mereka beli dibazar. Sudah pasti mereka mengeluh bagaimana mereka bisa tampil pada acara pensi besok. Toilet disesaki keluhan mereka.


Aninda penasaran dengan masalah yang menimpa seniornya. Ia membuka pintu sedikit, mengintip diam-diam. Aninda bisa melihat bayangan ketiga cewek itu dicermin.


Ya ampun! Batin aninda berteriak ngeri. Wajar ketiga cheerleader dipenuhi bentol merah mirip jerawat yang mengerikan. Wajah mereka persis penyihir, pas sekali dengan perangai mereka yang sebenarnya.


Aninda menahan tawa, menunggu sampai marsya cs meninggalkan toilet.


“res aku minjem yang ini ya?” aninda menunjuk sebuah novel terbitan terbaru.


“iya ambil aja” kata restiana halus. Kamar restiana tampak seperti perpustakaan saking banyak buku koleksi.


“ini ceritanya bagus nggak sih?” Tanya aninda sambil membalik sekilas novel itu.


“menurutku sih bagus nin. Ceritanya tentang penantian seorang cewek buat cinta pertamanya.” Celoteh restiana lancer.


Aninda penasaran karena sipnosisnya tampak seperti kisah cerita cintanya sendiri. Penantian dirinya pada umar yang masih berlanjut, penantian terlama dalam hidupnya.


Fb@ardhy ansyah

__ADS_1


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2