LOLIPOP CINTA DAN DUSTA

LOLIPOP CINTA DAN DUSTA
EP 21


__ADS_3

Wajah-wajah semringah siswi SMA Harapan Jaya menyinari pagi yang mendung. Berita putusnya aninda dan yovi telah menggugah semangat mereka. Pujaan hati satu sekolah kembali melajang, dan inilah saat paling tepat untuk mencuri sekaligus mencari perhatian. Caranya mudah, beri perhatian untuk memancing perhatian balik.


Itulah yang dilakukan segerombolan kakak kelas cewek. Mereka menggoda yovi yang sedang berjalan menuju ruang OSIS. Yovi yang memang ramah dengan senyum simpatiknya.


Sebelumnya, ada cewek kelas X yang kentara sekali berpura-pura menjatuhkan buku didepan yovi agar dia berhenti, dan syukur-syukur keluar sikap gentlemannya untuk mengambilkan buku tersebut. Dan lebih syukur lagi bila yovi mau menyapa dan ngobrol sebentar. Duh!


Ulah para siswi tersebut membuat aninda frustasi. Yovi benar-benar bukan miliknya lagi.


“Nin, kamu cemburu?” Rupanya restiana tidak tahan dengan gerutuan aninda sepanjang pagi ini.


“Sedikit” jawab aninda sambil menyipitkan mata.


“Terus, kenapa putus?”


“Ke perpus aja yuk!”


“Lagi-lagi ngeles!” Restiana mau tak mau membuntuti aninda menuju perpustakaan.


Marsya dan kedua abdi setianya duduk lunglai diruang OSIS. Pagi ini memang jadwal mereka bertiga untuk menyiapkan keperluan classmeeting. Mereka harus datang pagi sekali untuk mengecek keadaan lapangan, tempat para penonton, dan sore harinya mereka harus memastikan lapangan sudah bersih kembali.


Merli sibuk mengipasi wajahnya, syifa asyik dengan sisirnya yang sedari tadi tak pernah berhenti mengelus rambutnya yang bisa dibilang sudah sangan, sangat rapi. Sedangkan marsya hanyut dengan pikirannya.


Merli menyenggol syifa agar berhenti menyisir rambut. Dagunya menunjuk kearah marsya yang semakin hari berubah menjadi aneh.


“Sya!” Syifa membuyarkan lamunan marsya.


Wajah marsya menampakkan ekspresi penuh tanya.


“Kamu kenapa?” Merli berhenti mengipas.


Marsya menggeleng perlahan.


Kedua temannya bertatapan, mendelik satu sama lain.


“Yovi putus sama aninda” kata marsya akhirnya.


“Terus?” Tanya merli dan syifa berbarengan.

__ADS_1


Marsya berpikir sejenak. “Aku rasa itu...”


“Jangan bilang kamu mau ngejar yovi lagi” potong syifa kesal.


Marsya menatap syifa bingung. “Aku Cuma pengen memperbaiki semuanya syif”


“Yovi udah berubah sya” syifa mencoba meyakinkan marsya.


Merli manggut-manggut menyetujui pendapat syifa.


Marsya menggeleng, kemudian menatap tajam kedua teman setianya. “Dia berubah karena aku berubah”


Merli dan syifa mendelik. Mereka yakin marsya sudah sinting.


“Oh, jadi yovi yang memutuskan hubungan kalian?” Restiana menyimpulkan cerita aninda.


“Iya res, dan itu yang bikin aku jadi ngerasa bersalah”


Udah, yang penting sekarang udah beres masalahnya. Setahuku sih yovi bukan tipe pendendam” Aninda manggut-manggut pasrah.


Marsya menyalin kembali laporan kegiatan classmeeting sore hari ini. Kedua temannya sedang mengecek keadaan lapangan. Sekilas marsya melihat ricko berjalan menyebrangi lapangan.


“Belum pulang?” Yovi masuk keruang OSIS tanpa suara.


Marsya gelagapan mendapati yovi sudah berdiri didepannya. “Hari ini jadwalku piket”


Yovi tersenyum, senang dengan perubahan marsya akhir-akhir ini. Yovi mengamati penampilan marsya, tak ada polesan diwajahnya. Itu mengingatkan yovi pada pertemuan pertamanya dengan marsya. Dulu marsya tampil polos. Tapi kembalinya kepolosan wajah marsya tak berarti telah berhasil meruntuhkan dinding pembatas antara keduanya.


Sore itu suasana lapangan basket SMA Harapan Jaya ramai. Anak-anak cowok kelas aninda masih giat berlatih basket, di pinggir lapangan cewek-cewek yang sejak tadi memberi semangat pada tim basket kelas mereka masih semangat berteriak. Kelas aninda berhasil masuk semifinal, dan besok lawan mereka adalah kelas vigo. Bagaimana seisi kelas tidak gelagapan? Vigo kan pemain terbaik SMA mereka. Bisa dipastikan kelas vigo akan bermain sangat bagus besok.


Aninda melirik ruang OSIS yang berada tak jauh dari lapangan basket. Di depan ruang OSIS duduk dua sosok yang sangat dikenalnya, marsya dan yovi. Sudah tentu ada rasa cemburu dalam lubuk hati aninda, tapi ia berusaha menepisnya.


Aninda mengalihkan pandangannya ke pokok lapangan. Ada syifa dan merli yang tampaknya kesal menyaksikan kehebohan kelas aninda. Beberapa detik kemudian syifa dan merli mendekati ketua kelas aninda yang sedang beristirahat. Aninda mendengus kesal. Syifa dan merli selalu saja membuatnya tidak nyaman.


“Ayo! Semangat, teman-teman!” Teriakan rizka membuat telinga aninda berdenging. Rizka memang berdiri persis di sebelah aninda.


“Nin, mana semangatmu?” Protes restiana yang berdiri di sebelah aninda juga.

__ADS_1


“Haus res. Aku kekelas dulu ya ambil minum” pamit aninda lemes. Sejak tadi kerongkongannya memang kering kerontong.


Saat berjalan menuju kelasnya, aninda melihat ricko yang hendak keluar menuju gerbang. Perasaan hari ini nggak ada jadwal latihan karate, batin aninda heran. Ia tahu persis hal itu karena teman sekelasnya juga anak karate. Mungkin ada yang ketinggalan tadi, pikir aninda sambil kembali melangkah.


Dikelas aninda minum dengan cepat. Rasa hausnya tak kira-kira, seperti orang yang mengalami dehidrasi parah. Puas minum, aninda mengelus perutnya yang menjadi kembung.


Sewaktu kembali kelapangan, aninda melihat vigo berjalan cepat menuju gerbang. Ini yang lebih aneh, batin aninda. Setahunya vigo paling anti pulang sekolah sore. Ia hanya pulang sore saat latihan basket. Tapi hari ini kan lapangan yang Cuma satu-satunya itu dipakai kelas aninda. Kelas vigo juga nggak ada jadwal latihan. Tiba-tiba muncul kecurigaan dalam diri aninda.


Marsya yang sejak tadi duduk disamping yovi masih dia membisu. Yovi juga tak mengajaknya ngobrol, ia terlalu sibuk memperhatikan permainan kelas aninda. Sementara marsya sibuk memikirkan adiknya, ricko. Baginya sangat aneh ricko pulang sesore itu. Dan kenapa tak lama setelah kepergian ricko, tahu-tahu vigo muncul?


Pada waktu yang sama di tempat yang berbeda...


Yasmin terus memegangi perutnya yang mulas bukan main. Ia berjalan dengan susah payah keluar kamarnya. Sejak semalam perutnya memang sudah terasa mulas. Ia tak memberitahu suaminya semalam karena tak mau membuatnya khawatir.


“Yah!” Teriak yasmin setengah merintih.


Tak ada jawaban dari satriya.


“Pasti dihalaman belakang” gumam yasmin kesal. Pelan-pelan ia menuruni tangga menuju lantai bawah. Satriya, suaminya tertidur pulas didepan TV yang masih menyala. “Yah!” Yasmin merasa kecapekan.


Satriya terbangun. Istrinya terlihat pucat. “Kenapa bun?”


“Kerumah sakit yah!” Jerit yasmin tak kuat menahan sakit.


Dengan segera satriya memapah istrinya ke mobil. Sesuai yang dijadwalkan, rumah bersalin memang telah menanti mereka.


Aninda merogoh hp yang bergetar disaku roknya. Tertera nama “satriya” memanggil. Cepat cepat aninda menjawabnya. Perasaan kaget sekaligus senang membuncah didada aninda. Beberapa kali ia manggut-manggut, kemudian sambungan putus.


“Res, yasmin udah melahirkan” bisik aninda sangat pelan. Bisa dipastikan hanya dirinya dan restiana yang tahu.


Restiana menutup mulutnya, terkejut.


“Jenguk yuk!” Ajak aninda bersemangat.


“Tapi hari ini aku ada acara keluarga nin. Titip salam aja buat dia ya!”


Aninda kecewa, bagaimana ia bisa sampai dengan cepat dirumah sakit kalau tidak ada tebengan? Ia teringat yovi. Cepat-cepat ia menggendong tas dan berlari menuju tempat yovi dan marsya masih duduk berduaan.

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2