LOLIPOP CINTA DAN DUSTA

LOLIPOP CINTA DAN DUSTA
EP 27


__ADS_3

Sepulang sekolah aninda membuka lagi rapornya sambil menggeleng-geleng. Ia sudah belajar mati-matian, tetap saja semua nilainya pas-pasan. Restiana yang berada disebelahnya puas karena mendapat peringat dua. Ternyata peringkat satu benar-benar rossi.


Aninda mengeluh pelan, rasanya ia takkan semangat menjalani hari esok. Apalagi liburan panjang yang bakal sangat membosankan telah menantinya.


Liburan telah berjalan satu minggu. Benar dugaan aninda, liburan justru bikin frustasi. Benar benar tak ada yang bisa membuatnya bergairah. Yang ada hanya omelan ibunya setiap pagi, yang menyuruhnya ini-itu. Bahkan aninda harus mengisi malam tahun baru bersama anak-anak kecil dikompleks rumahnya dengan menonton kembang api dilapangan.


Aninda pusing sekaligus iri pada teman-temannya. Bagaimana tidak? Yasmin dan satriya sedang bulan madu di Australia, menggantikan bulan madu mereka yang tertunda. Restiana bersama keluarganya berlibur ke Hongkong. Yovi dengan marsya jalan-jalan ke Bali.


Astaga! Kepala aninda hampir pecah memikirkan kesenangan dan nasib baik mereka. Mereka pasti tak tahu kondisi dirinya yang begitu mengenaskan. Si pengecut vigo pasti juga sedang asik di Amerika. Ah, lagi-lagi vigo. Seharusnya ia melupakan vigo karena kali ini pangeran kecilnya itu benar-benar tak akan kembali.


“Aninda, waktunya cuci piring!” Seru ibunya nyaring.


Aninda mendengus kesal. “Yes, mam!”


Dua minggu yang berjalan begitu lambat...


Sebuah undangan bersampul merah tergeletak di depan aninda. Undangan pesta pernikahan yasmin dan satriya. Itu beban untuk aninda, mengingat ia tak punya pakaian pesta yang layak. Apalagi pestanya di hotel berbintang yang baru saja diresmikan. Hotel yang dibangun dibekas Sdnya. Hotel yang di halamannya ada pohon kenangannya.


Dalam kebingungan aninda mendengar suara mobil berhenti, yang kemudian disusul dengan suara derit pintu pagar rumahnya. Marsya datang sendirian, tanpa yovi. Aneh sekali.


“Nin, kamu mesti ikut aku” kata marsya setelah memberi salam.


“Ada apa kak? Kok pagi-pagi begini?” Tanya aninda bingung.


“Kamu diundang ke pesta pernikahan yasmin kan?”


Aninda mengangguk cepat.


“Kamu udah beli kado buat dia? Udah ada baju yang mau dipake ntar malem?” Sekarang aninda menggeleng cepat.


“Ya udah, ganti baju sana. Kita belanja gila-gilaan hari ini”


Tanpa aba-aba aninda bergegas kekamar, mengganti bajunya dengan celana jeans dan cardigan merah.


Ternyata marsya membawa aninda ke mal paling mewah. Marsya langsung mengajak aninda ke tempat yang menyediakan gaun-gaun pesta. Kaum shopholic pasti ngiler melihat keindahan gaun-gaun glamor disitu.


“Ayo nin, pilih baju yang kjamu suka. Kok malah bengong?” Kata marsya sedikit geli dengan keluguan aninda.


“Aduh kak, aku nggak punya duit buat beli gaun mahal begini” kata aninda jujur.


“Nggak usah mikirin itu nin. Aku yang traktir”


“Tapi, kak...”


“Kamu tenang aja”

__ADS_1


Terpaksa aninda menuruti marsya. Tapi untuk memilih gaun yang pas saja aninda tidak becus. Marsya lagi-lagi menggeleng melihat aninda yang sejak tadi bingung. Beberapa kali aninda mencoba gaun-gaun itu, tapi ada saja yang membuat aninda tidak suka. Seperti belahan dada yang terlalu rendah, terlalu mini, warna terlalu ngejreng, pokoknya ada-ada saja alasan aninda.


Marsya sendiri sudah menemukan gaun yang pas untuknya. Gaun pink selutut dengan lengan dibagian kiri saja. Aninda berdecak kagum menyaksikan keanggunan marsya saat mencoba gaun itu.


“Ini aja ya nin!” Marsya menunjuk gaun merah yang indah.


Saat mengenakannya, aninda terkejut. “Aduh kak, gaun ini nggak ada lengannya. Dan bawahnya juga pas diatas lutut”


“Udah deh nin, ini bagus banget. Cocok untukmu” kata marsya mencoba meyakikan aninda.


Dengan berat hati akhirnya aninda setuju untuk mengenakan gaun itu nanti malam. Ia merasa tak enak pada marsya yang mulai kelelahan mencarikan gaun untuknya. Berikutnya mereka pergi ketempat pernak pernik untuk mencari kado. Kali ini aninda mantap memilih sendiri kadonya.


Baru sekitar pukul tiga sore mereka keluar dari pusat pembelanjaan itu dengan menenteng tas belanjaan.


“Nin, aku udah izin sama orangtuamu supaya kamu boleh langsung ke pesta nanti malem. Jadi setelah ini kamu nggak usah pulang dulu” celoteh marsya saat mobil mulai berjalan.


“Terus, sekarang kita mau kemana kak?” Aninda sedikit heran dengan rencana marsya yang tersusun rapi.


“Kerumahku. Kita mesti dandan, dan waktunya pasti nggak sebentar”


Dalam undangan tertera pesta pernikahan yasmin dimulai pukul tujuh malam. Aninda dan marsya sudah siap, tinggal menunggu dijemput yovi, marsya tampak begitu cantik dan berkilau. Yang tidak biasa aninda. Ia benar-benar cantik walaupun hanya diberi sedikit polesan diwajahnya. Rambut aninda diombak besar-besar sehingga terkesan alamiah dan indah pastinya. Gaun merah tadi memang pas dan bagus dibadannya, belum lagi sepatu hak tinggi bertali hitam yang membuatnya terlihat anggun. Marsya benar-benar sukses mengubahnya menjadi cinderella.


“Oke, dua putri yang sudah siap ke pesta malam ini” ujar yovi saat tiba diruang tamu marsya.


“Siap sayang?” Tanya yovi pada marsya yang duduk disampingnya. Aninda duduk dibelakang, menatap sepasang kekasih itu dengan iri.


“Oke, kita berangkat” mobil yovi melaju dengan kecepatan standar menuju tempat pesta.


Aninda menatap pohon besar yang penuh kenangan itu. Pohon yang berdiri indah dengan ranting-ranting menjuntai seakan ikut menyambut para tamu. Aninda menunduk lesu, memikirkan masa lalunya yang penuh sekarung harapan dibawah pohon itu.


“Yuk nin!” Ajak marsya sambil menggandeng yovi dengan mesra. Aninda berjalan di sebelah marsya.


Dekorasi pesta yang mewah dan gemerlap indah seakan menyihir perasaan aninda hingga sejenak melupakan duka dan kenangan. Tamu yang datang mengalir tanpa henti hingga berjibun jumlahnya. Benar-benar pesta yang megah dan meriah. Mereka berada di ruang bergaya timur tengah yang dipenuhi pohon palem serta dominasi warna emas.


“Aih, yasmin, kamu cantik banget!” Puji marsya sewaktu menyalami yasmin.


“Duh, makasih. Kamu dan aninda juga cantik malam ini!” Balas yasmin sungguh-sungguh.


“Selamat ya yas!” Ujar aninda saat gilirannya bersalaman.


“Okay my baby, muka kamu kok kurang senyum ya?” Cibir yasmin menggoda mantan teman sebangkunya itu.


“Ye, perasaan kamu doang tuh!” Aninda mengerucutkan bibirnya. Ia tak bisa lama-lama mengobrol dengan yasmin karena tamu yang lain sudah mengantre di belakangnya. Gilirannya menyalami satriya. “Selamet ya sat”


Satriya mengangguk. “Nin?”

__ADS_1


“Apa?”


“Jemput pangeranmu di bawah pohon cinta kalian”.


Epilog


Aninda membuka matanya sambil merasakan semilir angin yang sedari tadi membuainya. Dengan kaki gemetar ia melangkah mendekati pohon besar itu. Samar-samar ia melihat sosok pangeran kecilnya berdiri tegap di naungi pohon itu. Air matanya mengalir tanpa bisa di cegah. Air mata kerinduan yang begitu lama terbendung dilubuk hatinya yang terdalam.


Aninda mengubah langkah kecilnya menjadi setengah berlari hingga bisa melihat pangeran kecilnya dengan jelas. Jarak mereka sudah sangat dekat sekarang, tapi aninda memilih untuk berhenti. Air mata memenuhi kedua pipi, napasnya memburu.


Tatapannya tak pernah lepas dari pangeran kecilnya.


Entah apa yang akan aninda lakukan. Perasaan senang membanjiri batinnya. Tapi perasaan marah dan kecewa juga datang silih berganti. Ingin sekali ia menampar pangerannya, memarahinya habis-habisan karena bersikap pengecut. Namun, rindu yang membuncah membuat dia ingin memeluknya. Dilema membuat tangisnya semakin deras.


Vigo berjalan mendekati aninda pelan-pelan. Malam ini ia sungguh tampan dalam balutan jas hitam.


Aninda mundur beberapa langkah, takut dengan perasaannya yang kacau. Dengan sigap vigo menarik tubuh aninda ke dalam pelukan hangatnya.


Aninda tersedu.


Vigo hanya diam sambil mengelus kepala aninda. “Kenapa menangis?” Bisik vigo lembut.


Aninda memukul pelan dada vigo yang bidang. “Kamu tega! Jahat!”


Vigo tersenyum. “Maafin aku, putri kecilku, aku nggak bakal ninggalin kamu lagi”


Aninda masih terisak. Vigo menuntunnya untuk bersandar di bawah pohon rindang yang disoroti lampu itu. Vigo merogoh kantong celananya, dan mengambil sesuatu yang kemudian ia pasangkan di leher aninda. Sebuah kalung emas dengan bandul berlian mungil yaang indah. Inilah salah satu janji mereka dulu.


Aninda memandangi wajah vigo lekat-lekat. Dengan lembut vigo mencium keningnya. Aninda memeluk vigo lagi, tak ingin melepaskannya untuk yang kedua kalinya.


“Kamu mau jadi cewekku lagi?” Tanya vigo.


Aninda mengangguk. “Kita belum pernah putus. Dan aku mau jadi cewekmu yang sekarang” Kemudian vigo mengaku bahwa ia memang sengaja menyuruh yovi mengatakan bahwa dirinya takkan kembali, menyuruh marsya untuk mempersiapkan pesta. Semua kejadian beruntun yang membuat aninda bingung. Yang pasti, vigo masih akan sekolah di SMA Harapan Jaya. Tampaknya kehidupan aninda akan menjadi indah. Ia telah menemukan pangeran kecilnya. Aninda tersenyum puas pada bulan temaram.


“Aku cinta kamu, Aninda Chandraningsih” bisik vigo lembut dengan sepenuh hati.


The End


trimakasih untuk para pembaca seria lolipop cinta dan dusta,semoga kalian selaku terhibir dengan cerit2 author,dan trimakasih untuk yang sudah suport saya,dan jangan lupa mampir dinovel2 author ya lain


trima kasih 😁


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123

__ADS_1


__ADS_2