
“Maaf mengganggu” kata aninda sambil mendekat ke samping yovi.
Marsya tampak terganggu dengan kehadiran aninda.
“Boleh minta anterin kerumah bersalin?”
Yovi dan marsya mengernyit.
“Jangan salah paham dulu. Yasmin udah melahirkan, tadi satriya telepon”
Dengan segera yovi berdiri. “Marsya, kamu ikut?”
Marsya mengangguk cepat-cepat, lupa bahwa kedua sahabatnya masih berada disekolah. Aninda menarik napas lega karena berhasil mendapat tebengan.
Vigo rupanya sudah datang mendahului rombongan aninda. Satriya kan sohibnya. Tatapan vigo sedingin es ketika matanya bertemu dengan mata aninda. Aninda tak menggubrisnya, ia lebih berminat melihat kondisi yasmin serta bayinya.
“Yasmin!” Seru aninda girang sambil mendekati yasmin yang sedang duduk menggendong bayi ditempat tidur.
Yasmin tersenyum senang, namun wajahnya masih terlihat lelah. Proses bersalin memang menyita energi. “Cowok nin!” Pamer yasmin bangga.
Aninda segera mengelus si bayi dengan lembut.
“Sini yov, sya” ajak yasmin lembut ketika ia menyadari ada yovi dan marsya juga.
“Aduh, gemes deh lihat baby mungil gini” ingin sekali aninda mencubit bayi mungil dan putih itu.
“Gimana babynya?” Tanya marsya kaku mengingat dulu hubungan nya dengan yasmin kurang baik.
“Alhamdulilah, sehat. Aku juga kaget, kupikir lahirnya kecepatan. Tapi kata dokter, kayak nya bayi udah diperut sepuluh bulan” yasmin menepuk-nepik si bayi yang seperti nya mulai terganggu dengan sentuhan aninda.
“Oh, syukurlah” kata marsya pelan. Kemudian ia mendekati bayi karena aninda sudah beranjak, sengaja memberi kesempatan padanya dan yovi.
“Selamat ya yas, sat!” Ucap yovi bersahaja.
Satriya yang ada disamping yasmin tersenyum kalem.
Sementara itu didepan ruang OSIS SMA Harapan Jaya, syifa dan merli kebingungan mencari teman mereka. Beberapa kali mereka sibuk menelepon. Sekolah sudah sepi, hanya tinggal mereka berdua.
__ADS_1
“Syif, udah hampir magrib nih!” Protes merli cemas.
“Terus, gimana marsya? Aduh.. Tega amat sih kamu!” Syifa berkacak pinggang.
“Kayaknya dia digondol nenek gayung deh!”
Kedua cewek itu ngakak sambil berlari menuju gerbang.
Azan magrib berkumandang sepuluh menit lalu. Marsya dan yovi segera pamit karena diluar sudah mulai gelap. Aninda sebenarnya juga ingin pulang, namun urung karena tarikan tangan vigo.
“Kamu pulang sama aku aja” bisik vigo sangat pelan, tapi terdengar jelas ditelinga aninda.
“Nin, kamu nggak mau pulang bareng?” Tanya marsya ramah.
Aninda meringis, menggeleng ragu-ragu.
“Dia pulang bareng aku” kata vigo ketus.
Tak lama kemudian datanglah sanak saudara yasmin dan satriya berduyun-duyun. Vigo menarik tangan aninda, mengajak nya berpamitan pada yasmin dan satriya.
“Makhluk mars ngajak balik nih. Besok aku kesini lagi” pamit aninda setengah berbisik. Yasmin mengangguk pelan. “Trims. Ati-ati ya nin”
“Kamu mau nerima aku lagi kan yov?” Tanya marsya setelah keberanian nya terkumpul.
“Aku nggak yakin kamu bakal nggak ngecewain aku lagi sya” kata yovi pelan. Tersirat nada khawatir.
Marsya mengangguk. “Aku bakal nunjukin bahwa aku sungguh-sungguh yov”
Hujan deras memaksa aninda dan vigo berteduh dihalte bus terdekat. Kalau nekat menerjang hujan, bisa-bisa besok keduanya sakit. Apalagi besok vigo harus bertanding basket melawan kelas aninda. Jalanan sunyi karena deras nya hujan yang bercampur angin kencang. Badan aninda menggigil. Batin nya was was karena hanya ada dia dan vigo.
Vigo melepas jaket yang membalut bagian luar baju OSISnya yang sudah tak rapi lagi. “Nih pake” ujarnya sambil menyodorkan jaket pada aninda.
Aninda menepis jaket vigo. “Nggak usah vig”
Vigo sedikit kesal. “Kalau ntar sakit gimana?” Tandas vigo ketus. Dengan terpaksa ia memakaikan jaket pada aninda.
Aninda tak kuasa menolak. “Kalau aku sakit kamu senengkan?” Aninda memeletkan lidah.
__ADS_1
Vigo diam saja. Ia memperhatikan hujan yang tak kunjung reda. Orang tua aninda bisa cemas kalau ia memulangkan putri mereka sampai larut malam. Kemudian ia mendesah karena dingin nya malam mulai mengenai tulang nya. Kondisi tubuhnya memang kurang fit akhir-akhir ini.
Aninda bergeser mendekati vigo, berusaha membuat vigo merasa hangat disamping nya.
“Ngapain deket-deket?” Celetuk vigo sambil melirik aninda. Sejak tadi ia terus-menerus meremas-remas kedua tangan nya karena kedinginan.
“Kamu kedinginan kan?”
“Siapa bilang?”
“Kenapa sih kamu selalu kasar padaku? Kalau benci bilang aja. Jangan kaya gini dong!”
Vigo terkejut mendengar ucapan aninda. Ia menatap aninda tajam.
Aninda yang tahu dirinya sedang dipelototi, beringsut menjauhi vigo. Sepertinya ia sudah kebablasan ngomong sehingga ngeri membayangkan kemarahan vigo.
Vigo masih memandangi aninda tanpa ekspresi, berusaha menyelami ketakutan yang tampak di mata cewek itu.
Vigo dengan sigap menarik tangan aninda, kemudian memeluknya erat-erat. Aninda kaget bukan main. Ia meronta, meminta vigo melepaskan pelukannya. Tapi semakin ia meronta, semakin erat dekapan vigo. Jadi yang bisa dilakukan aninda adalah pasrah dalam pelukan vigo.
“Kamu tahu kenapa aku bersikap keras, kasar padamu?” Vigo bertanya dalam nada lembut.
Aninda menggeleng pelan. Kenyamanan karena pelukan vigo mulai mengaliri tubuh nya.
“Karena aku sayang kamu nin. Aku cinta kamu”
Aninda membisu, kaget mendengar pernyataan vigo. Dan juga kaget karena petir baru saja terdengar.
“Aku sayang kamu nin, dan aku nggak berdaya saat yovi bilang dia juga cinta kamu. Yang bisa aku lakukan Cuma sembunyi, nyari kesempatan biar bisa bareng kamu. Karena aku nggak mau ngerebut sesuatu dari yovi lagi. Udah terlalu banyak yang yovi berikan padaku. Dan kamu nggak tahu batinku tersiksa setiap aku lihat kamu bareng yovi. Kamu nggak tahu kan?” Jantung aninda berdegup kencang.
“Aku nggak mau lagi kehilangan kamu nin” lanjut vigo, “semakin keras aku berusaha ngejauhin kamu, semakin bertambah rasa cinta ini. Benar-benar menyiksaku” “Aku, aku...” Aninda mulai menangis.
Jam dinding menunjukkan pukul setengah satu malam. Beberapa kali aninda berusaha memejamkan mata, tetap saja tak bisa. Ia bergerak gelisah ke kanan ke kiri, menutup kepala dengan bantal, menelungkupkan badan. Semua usaha untuk tidur sia-sia. Bayangan vigo tak mau pergi dari pikiran nya.
Oke, aninda mengakui, ia memang tertarik pada vigo sejak pertama kali bertemu, sekalipun pertemuan itu diwarnai pertengkaran. Dan entah kenapa, aninda senang saat vigo memaksanya pulang sekolah bareng, saat vigo menatap nya lembut, dan puncak nya saat vigo menyanyikan lagu untuk nya dikafe.
Vigo tak pernah tahu bagaimana tersiksanya aninda lantaran mencintai nya. Gengsilah yang membuat dia menyembunyikan perasaan itu dalam-dalam, sampai akhirnya malah yovi yang menyatakan cinta nya.
__ADS_1
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123