
Ulangan umum semester ganjil berlalu juga. Tibalah saat melepas ketegangan belajar dengan melakukan classmeeting selama seminggu. Semester itu giliran lomba basket antar kelas, bergantian dengan voli yang dipertandingkan semester lalu. Senin kemarin kelas aninda menang melawan kelas X-2 sehingga berhak masuk babak perempat final. Lawan mereka berikutnya kelas XI IPA 3.
Aninda dan restiana menerobos kerumunan yang memenuhi sekeliling lapangan. Hari itu ada pertandingan kelas vigo versus kelas X-9. Dengan susah payah aninda berhasil menembus penonton yang berjubel. Sekarang ia bisa jelas menyaksikan pertandingan. Restiana yang membuntutinya tampak kelelahan.
“Nin, sinting kamu ya! Nerobos orang segitu banyak” restiana memegangi dadanya yang naik turun.
“Yaelah, kalau nggak gitu kita nggak bisa ngeliat apa-apa” kata aninda membela diri.
Aninda mengamati sekelilingnya. Kebanyakan supporter kelas X-9. Di samping aninda berdiri segerombolan cewek heboh yang sejak tadi berteriak-teriak menyuarakan kelas X-9, padahal belum satupun pemain yang memasuki lapangan. Aninda dan restiana sampai harus menutupi telinga saking takut tuli permanen.
Begitu para pemain memasuki lapangan, suara teriakan memekakkan telinga membahana dari semua sudut lapangan.
“Vigo! Vigo! Vigo!” Jerit para cewek penghuni kelas XI IPA 5.
“Umar! Umar! Umar!” Teriak para cewek penghuni kelas X-9.
Vigo memasang tampang jutek, tak memedulikan teriakan teman-teman yang menjagokannya.
Berbeda dengan umar yang langsung tersenyum simpatik pada teman-teman sekelasnya.
Batin aninda kembali merintih mengingat masa lalunya dengan umar. Senyuman umar seperti tertuju padanya, tapi aninda langsung tersadar bahwa senyuman itu untuk teman-teman sekelasnya yang berdiri heboh disekitarnya.
“Astaganaga! Senyuman umar manis banget!” Teriak seorang cewek kelas X-9.
“Udahlah sil, percuma aja. Dia juga nggak bakal inget namamu!” Temen yang berada disebelah cewek tadi mengernyit cuek.
“Tapi itu karena amnesianyakan, lu?” Cewek yang pertama membela diri.
A m n e s i a.
Dunia serasa berhenti bagi aninda. Bisakah sang waktu juga berhenti agar ia memiliki ruang kosong sejenak untuk mencerna informasi yang didengarnya barusan?
Umar amnesia? Sejak kapan dan kenapa? Apa ini alasan dia tak datang ketempat kenangan mereka. Pohon perjanjian? Kalau ya, lalu kenapa dia bisa mengingat aninda saat menulis surat itu?
Kepala aninda seperti berputar. Ia memandang lurus kedepan. Perutnya bergejolak, tak sanggup menahan emosi yang begitu cepat menyelimutinya. Ia harus segera mencari kepastian tentang amnesia umar. Segera.
Ah, dunia kembali berputar. Dan aninda kembali menyadari keberadaannya. Ia mengamati para pemain yang berada dilapangan, mencari sosok yang telah meracuni kehidupannya. Dia---umar---ada disana, berlari cepat mendribel bola sambil mengamati posisinya yang terkepung pemain lawan.
Permainan itu tampak berjalan begitu lambat bagi aninda. Kepalanya berkedut. Setiap melihat bola memantul dari tangan umar. Keseimbangannya hilang. Sekuat tenaga aninda menahan tubuhnya agar tetap berdiri tegak. Namun gagak. Gedebuk!
Samar-samar aninda melihat langit-langit kamar. Disampingnya ada yovi yang memandanganya lekat-lekat. Raut cemas membungkus wajah yovi.
__ADS_1
“Nin?” Bisik yovi pelan.
“Udah berapa lama aku pingsan?” Pandangan aninda sudah cukup jelas.
“Nggak lama kok nin. Udah enakan?”
Aninda mengangguk pelan, matanya menerawang.
Ada sekelumit kekecewaan dalam hati yovi.
Hari berikutnya restiana lebih memilih mengajak aninda duduk dikantin dari pada nonton berdiri dibawah terik matahari. Ia tak mau kejadian kemarin terulang lagi pada aninda. Suasana kantin sepi karena hampir semua murid SMA Harapan Jaya menonton pertandingan basket yang makin seru. Restiana sedikit kagok melihat kebisuan aninda.
“Masih pusing nin?” Bisik restiana.
Aninda menggeleng.
“Mau makan?”
Aninda kembali menggeleng.
Restiana berdecak pelan.
Restiana merangkul pundak aninda. Ia tahu persis perasaan yang sedang melingkupi hati temannya. Perasaan tentang cinta bertepuk sebelah tangan yang masih menyiksanya hingga kini.
Tanpa mereka berdua tahu, sesungguhnya dua sosok yang begitu mencintai aninda tahu kenyataan yang baru diucapkan aninda. Salah satu diantara mereka tersenyum getir karena ternyata aninda masih menunggunya sampai saat ini. Sedangkan sosok yang lain semakin tersayat hatinya dengan pernyataan aninda.
From Princess Yasmin
Nin, aku udah nemuin umar!
Aninda membalas sms dari yasmin dengan malas-malasan.
Aku juga udah tau...
From Princess Yasmin : oh yeah? Terus?
Aninda : terus apa? Dia kena amnesia, yas
From Princess Yasmin : ???
Aninda : !!!
__ADS_1
Mobil yang ditumpangi aninda dan yovi melaju pelan menuju rumah aninda. Kegiatan disekolah belum selesai, tapi aninda ingin sekali pulang dan tidur.
“Nin? Kita putus” kata yovi kalem.
Aninda tersengat mendengar pernyataan kekasihnya. Bibirnya bergetar. “Kenapa?”
“Seharusnya kamu udah tahu jawabannya. Kamu nggak mencintaiku nin. Kamu masih mencintai umar kan?”
Aninda diam membisu, bibirnya terkatup rapat.
“Kamu beberapa kali menyebut nama umar saat pingsan kemarin”
Mobil yovi berhenti didepan rumah aninda. Si pengemudi menghela napas, lalu menengok ke kiri, menatap mata aninda yang sengaja belum turun. “Percuma ngelanjutin hubungan kita. Apalah arti semua ini kalau ternyata salah satu diantara kita membohongi perasaan yang sebenarnya. Aku nggak mau maksa kamu lagi nin. Kejarlah umar, mungkin dia yang terbaik buatmu”
Aninda menangis. Perasaan bersalah menjebol pertahanannya.
Yovi mengelus kepala aninda. “Jangan nangis gini dong nin. Aku nggak mau kamu nangis”
“Maafin aku yov. Pasti kamu marah sama aku. Benci sama aku” “Nggak nin, aku nggak bakal benci sama orang yang paling aku sayangi”
Tangisan aninda malah semakin menjadi.
“Cinta itu nggak bisa dipaksain, dia datang dengan sendirinya dan akan pergi dengan sendirinya pula. Ada yang bilang, cinta nggak harus memiliki, kupikir itu omong kosong tapi ternyata bener. Buat apa memiliki raganya doang, sedangkan jiwanya entah berkelana kemana. Itu malah bikin aku sakit dan aku yakin kamu juga sakit. Yang penting sekarang kita intropeksi diri dulu aja, ada pelajaran yang bisa kita ambil dari semua kejadian ini”
Aninda masih menangis karena rasa bersalahnya.
“Nin, mulai sekarang kita jadi kakak-adik aja oke? Aku bakal jadi kakak terbaik buatmu”
“Maaf” bisik aninda parau.
Yovi mengangguk pelan. “Cinta tercipta bukan untuk saling menyakiti, tapi untuk saling mengerti”
Air mata aninda masih mengalir.
Memang dari luar yovi tak tampak menangis, tapi batinnya perih merintih sejak kemarinn itulah akhir kisah cintanya dengan aninda. Menyakitkan.
Berita yovi putus dengan aninda langsung merebak pada hari ketiga. Aninda sendiri bingung kenapa semua orang bisa langsung tahu. Mestinya hanya dirinyalah dan yovi yang tahu.
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123
__ADS_1