LOLIPOP CINTA DAN DUSTA

LOLIPOP CINTA DAN DUSTA
EP 24


__ADS_3

“Buat apa sih?” Celoteh aninda penasaran.


Umar tetap sibuk dengan daun-daun jatuh itu. “Nanti juga kamu tahu”


Aninda tersenyum ceria. Umar selalu membuat kejutan untuknya, membuat hari-harinya terasa indah dan mengasyikkan. Meski masih SD, ketulusan cinta mereka satu sama lain seakan tak kalah dibandingkan ketulusan cinta orang dewasa yang sudah berkomitmen. Umar merangkai daun-daun itu dengan ranting pohon yang ditemukannya. Susah payah ia merangkai daun yang menguning itu, berusaha menatanya seindah mungkin. Aninda hanya duduk terdiam disampingnya, memperhatikan ketekunan jari-jari umar sambil tersenyum.


“Jadi deh!” Umar memamerkan hasil karyanya. Sebuah mahkota kecil dari daun kuning yang tampak seperti emas.


“Itu buat apa?” Tanya aninda polos. Ia takjub melihat hasil karya umar yang begitu mengagumkan saat itu.


Umar mendekati aninda, kemudian meletakkan mahkota itu di atas kepala aninda. “Ini buat Tuan Putri yang paling cantik dari seorang pangeran gagah!”


Aninda tersipu malu. “Makasih, pangeranku”


“Karena sekarang aku udah ngasih kamu mahkota, nanti pas kita udah gede aku tinggal melengkapinya dengan memberimu kalung” kata umar yang terdengar seperti janji.


“Kenapa kalung?”


“Karena kemarin aku nonton film bareng kakak sepupu. Di situ pangerannya ngasih kalung ke tuan putrinya, lalu bibir mereka nempel gitu.” Ah, saat itu umar memang benar-benar masih polos.


“Aku nggak ngerti kok bibir mereka nempel?” Aninda mengerenyit heran.


“Kata kakak sepupuku, itu namanya ciuman, dan hanya boleh dilakuin orang gede pada cinta sejatinya”


Aninda yang tampak antusias tidak mengerti penjelasan umar. Ia hanya manggut-manggut dengan wajah kanak-kanaknya.


“Kalau udah gede nanti kita ciuman ya nin. Ciuman pertama kita berdua. Kamu mau kan jadi ciuman pertamaku?” Tanya umar malu-malu.


Aninda tersenyum polos. “Pasti!”


“Janji?” “Janji!”


Dan hari itu mereka membuat lagi sebuah janji, menambah deretan janji mereka sebelumnya. Kepolosan membuat mereka yakin janji-janji itu kelak terwujud menjadi nyata. Benarkah?


Aninda sesegukan dikamar tidur, menyesali perbuatan vigo tadi. Ia kaget dan marah karena vigo telah mengambil ciuman pertamanya. Kesembronoan vigo membuat aninda terpaksa mengingkari janji suci masa lalunya. Apa sih maunya vigo melakukan itu? Batin aninda geram. Kan masih banyak cewek yang mau diperlakukan seperti itu olehnya, lalu ngapain dia memilihku? Ciuman pertama seharusnya sakral dan bukan seperti tadi...

__ADS_1


Aninda menjotosi guling dipelukannya. Ia menyesal telah memercayai vigo, sosok yang kini kembali berubah menjadi cowok menyebalkan.


Tak aneh bila aninda perlu seminggu untuk meredakan perasaan dongkolnya gara-gara ciuman vigo. Disekolah maupun dirumah bawaannya uring-uringan terus. Restiana sampai harus berpikir dua kali kalau mau mengobrol dengan aninda.


Kalau mau jujur, sebenarnya bukan ciuman vigo, tapi ketidak jelasan keberadaan umarlah yang membuat aninda belingsatan. Bahkan saat dirinya kerumah umar untuk kedua kalinya, tak seorang pun ada di sana. Tidak juga neneknya. Rumahnya sepi.


Kabar vigo bakal dikeluarkan dari sekolah juga sudah didengar aninda. Cowok itu harus meninggalkan SMA Harapan Jaya senin besok. Padahal hari sabtu rapor semester satu akan dibagikan, yang berarti liburan panjang sudah menanti. Aninda membayangkan liburannya akan indah karena ada umar, tapi sekarang harapannya kandas.


Mata aninda jelalatan sewaktu berdiri didepan kelasnya, mencari restiana yang sejak pagi tak dilihatnya. Apa iya restiana absen? Biasanya dia paling rajin sekolah. Saat kekantin aninda melihat syifa dan merli tanpa marsya. Itu juga kejadian langka mengingat mereka bertiga selalu kemana-mana bersama. Sampai-sampai aninda suka meledek, mungkin ke neraka pun mereka bersama. Kenapa hari itu banyak keganjilan? Tiba-tiba ada panggilan dari hpnya.


“Nin, kerumahku sini!” Teriakan yasmin langsung mengenai saraf kaget aninda.


“Ada apa yas?” Tanya aninda datar.


“Aku sendirian dirumah nih. Cuma sama si baby. Barusan satriya pergi sama yovi” keluh yasmin.


“Ouw, pantesan aku nggak lihat yovi disekolah. Tapi hari ini emang banyak banget yang nggak kelihatan disekolah”


“Kamu nggak tahu kenapa pada nggak sekolah?” Tanya yasmin menggoda.


Spontan aninda menggeleng. Tentu saja yasmin tidak melihatnya.


Saat aninda berjalan melewati gerbang sekolah, hpnya berbunyi lagi. Ia mengerenyit melihat nomor asing yang tertera dilayar hp. Penasaran ia mengangkatnya.


“Halo, selamat siang?” Suara wanita yang sepertinya berumur setengah baya.


“Selamat siang” jawab aninda sopan.


“Benar ini nak aninda?” Tanya suara diseberang sana untuk memastikan dirinya berbicara dengan orang yang dicari.


“Betul. Ibu siapa ya?”


“Saya ibunya umar. Begini, nak aninda, umar sedang dirawat dirumah sakit” mata aninda membuat saat mendengarnya. “Umar minta agar nak aninda datang kerumah sakit sekarang. Bisa kan?”


“Bisa bu! Rumah sakit mana?”

__ADS_1


“Harapan Sehat”


“Baik bu, sebentar lagi saya kesana” “Ya, ibu tunggu ya nak aninda. Terima kasih” Sambungan terputus.


Tergesa-gesa aninda mencari nomor yasmin, kemudian ia memencet warna hijau pada hpnya.


“Ada apa nin?” Tanya yasmin halus.


“Aku nggak jadi kerumahmu, ada urusan mendadak dan gawat darurat! Oke?” Tanpa menunggu jawaban yasmin, aninda langsung memencet tombol merah. Ia bergegas mencari angkutan umum kerumah sakit Harapa Sehat.


Yovi, satriya, dan tim inti basket SMA Harapan Jaya sepakat melakukan rencana yang disusun beberapa hari lalu.


“Jadi biar aku, satriya, dan rian aja yang dateng. Aku nggak mau ngerusuh dirumah orang. Ntar kalau ada apa-apa, kuhubungi kalian. Nah, kalian nganter vigo kebandara ya? Ntar aku, satriya, dan rian nyusul. Deal?” Yovi sekali lagi mengulangi kesepakatan mereka dengan tenang.


“Deal!” Jawab yang lain serempak.


Yovi, satriya, dan rian menaiki mobil yovi menuju rumah yang tak asing lagi bagi yovi. Sedangkan rifki dan keempat anak lain bergegas menuju Bandara Soekarno-Hatta.


Hari itu marsya demam sehingga tak sekolah. Semalaman ia tak bisa tidur, dan sekarang matanya terasa berat sekali. Restiana ada dirumahnya, menemaninya bersama ricko. Obrolan kecil mereka dalam nada rendah hampir tak terdengar oleh marsya. Ketika matanya hampir tertutup, terdengar ketukan di pintu kamar.


Yovi.


Marsya tersenyum lemah sekalipun terkejut melihat kedatangan yovi. Baik hati betul dia sengaja menjengukku, pikir marsya agak bingung. Tapi senyumnya hilang ketika menyaksikan yovi menghampiri ricko, menarik kerah baju cowok itu... Lalu menonjoknya mantap.


Restiana menjerit nyaring.


Marsya hanya melongo, badannya terasa lemah sekali.


“Kamu yang ngelakuin semua pada vigo kan?” Teriak yovi emosi.


Satriya dan rian berdiri tegap dipintu, sekadar berjaga-jaga.


“Ngelakuin apa?” tanya ricko tenang sambil mengusap-usap pipinya yang sebentar lagi pasti memar.


“Nggak usah sok suci deh! Kamu yang ngelaporin tuduhan bohong itu kan rick? Kamu juga yang jadi ketua pengeroyokan vigo beberapa bulan lalu!” Seru yovi.

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2