LOLIPOP CINTA DAN DUSTA

LOLIPOP CINTA DAN DUSTA
EP 7


__ADS_3

Ekspresi marsya berubah menjadi terkejut, bahkan tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Ia menatap adiknya, berharap ada penjelasan.


“sepertinya target kita melawan arah” guman ricko.


“jadi semua ini berhubungan dengan masa lalumu?” Tanya marsya hati-hati.


Ricko mengangguk pelan tapi mantap.


Hati marsya menjadi kalang kabut memikirkan apa yang terjadi kelak. “jangan sakiti dia, rick”


Ricko tak menjawab. Ekspresi wajahnya datar. Kemudian ia beranjak pergi keluar kamar meninggalkan marsya yang bibirnya bergetar.


Aninda bingung karena vigo tak mengantarnya pulang malah membawanya kesebuah kafe bernuansa klasik.


“ngapain vig?” Tanya aninda pelan. Pikiran aneh mulai merambati isi kepalanya. Jangan-jangan aku mau dijual. Pantas aja dia menjemputku tadi pagi, pikir aninda merinding.


“laper nih. Makan yuk” vigo menarik tangan aninda kuat-kuat.


Didalam kafe suasananya lebih tenang daripada diluar. Aninda gelagapan memasuki kafe yang terlihat begitu anggun dan mewah. Ia mengusap keningnya kaku, takut kalau-kalau menabrak sesuatu yang mahal.


Vigo memilih tempat duduk didekat panggung. Ada live music. Dipanggung seorang laki-laki memainkan gitar dalam irama klasik. Hmm… petikan gitar yang lembut itu sunggu menambah kenyamanan suasana kafe.


“mau pesan apa?” Tanya vigo ketus.


Aninda mengernyitkan membaca menu eropa.


Vigo hafal benar dengan ketololan aninda. “pesan steak ayam special dua, minumannya lemon tea yang italia ya?”


Pelayan kafe langsung mencatat pesan langganannya. “tumben bawa cewek” ledek pelayan itu.


“lagi pengen mas” jawab vigo asal-asalan.


Aninda menjadi besar kepala setelah tahu itu pertama kali vigo mengajak cewek ke kafe langganannya. Ia menyembunyikan senyum konyolnya berharap vigo tak mengetahuinya.


“main sini lagi vig!” pria yang bermain gitar tadi berjalan turun kearah vigo.


Vigo begitu saja berjalan kepanggung tanpa pamit pada aninda. Pengunjung kafe yang lumayan banyak langsung menghentikan obrolan mereka untuk sesaat menatap vigo. Begitu pun aninda yang masih kaget karena vigo berdiri dengan tiba-tiba.


Vigo meminta gitar kemudian mengatur letak mikrofon agar mendekat padanya. “ini lagu buat kamu aninda” ujar vigo lembut.


Seketika terdengar tepuk tangan riuh dari pengunjung kafe.


Vigo memetik gitar kemudian mulai bernyanyi…


I remember what you wore on the first day


You came into my life and I thought


Hey, you know, this could be something

__ADS_1


Cause everything you do and words you say


You know that it all takes my breath away


And now I’m left with nothing


So maybe it’s true


That I can’t live without you


And maybe two is better than one


But there’s so much time


To figure out the rest of my life


And you’ve already got me coming undone


And I’m thinking two is better than one


I remember every look upon your face


The way you roll you eyes


The way you say


Cause when I close my eyes and drift away


I think of you and everything’s okay


I’m finally now believing


That maybe it’s true


That I can’t live without you


And maybe two is better than one


But there’s so much time


To figure out the rest of my life


And you’ve already got me coming undone


And I’m thinking two is better than one


(boys Like Girls – Two Is Better Than One)


Tepuk tangan para pengunjung lebih riuh daripada sebelumnya, bahkan ada beberapa yang berteriak saking kagumnya. Aninda sendiri terpana mendengar suara bagus vigo, apalagi permainan gitarnya. Keren, puji aninda dalam hati. Tapi yang jelas, ia bingung karena tidak tahu apa arti lagunya padahal lagu itu ditujukan untuknya.

__ADS_1


Vigo turun dari panggang setelah mendapat beberapa tangkai bunga yang diambil penonton dari vas dimeja. Mirip konser Rain yang membuat aninda gigit jari.


Aninda mengurungkan niat untuk bertanya arti lagu itu karena pesanan mereka keburu tiba. Ia memandang vigo lekat-lekat, rasa penasaran mulai menyergapnya. Penasaran dengan seluruh perlakuan vigo terhadap dirinya hari ini. Penasaran dengan tatapan vigo yang terkadang membuat dirinya salah tingkah.


“apa arti lirik lagu tadi?” Tanya aninda setelah mereka berada diteras rumah yasmin.


“kebencian seseorang karena ketololan seorang cewek” vigo mengarang.


Aninda mematung. Padahal ia berharap lagu itu memiliki arti romantic. Ia menggeleng. Ingat aninda, dia kan cowok yang nggak berperasaan! Ujarnya dalam hati.


“ya Tuhan anin! Nggak usah repot-repot kali” yasmin heboh melihat aninda membawakan buah untuk dirinya.


“ini yang ngusulin makhluk mars, bukan aku” jelas aninda berbisik pelan pada aninda.


“vigo maksudmu?”


Vigo yang mendengar namanya disebut berdeham keras. “cepat baik ya yas”


Aninda dan yasmin langsung menelan ludah, takut kalau-kalau vigo bakal marah.


Yovi mengangkat kardus yang lumayan besar ke mobil dengan susah payah. Sore itu tekadnya memang sudah bulat untuk mengembalikan barang-barang tersebut ke pemiliknya. Dulu marsya juga pernah melakukan hal yang sama pada dirinya. Keputusan marsya yang mewarnai masa lalunya sudah tak membuat dirinya gusar lagi karena kini ia telah menemukan seseorang untuk disayangi.


Honda Jazz berhenti mulus didepan rumah megah marsya. Yovi mengeluarkan kardus dari mobil, lalu mengangkatnya ke pintu pagar rumah itu. Ia memencet bel cukup sekali.


Suara bel membuat ricko yang sedang berada dibalkon kamarnya di loteng menengok ke arah pagar. Ia melihat yovi. Tak lama kemudian marsya muncul dan membuka pintu gerbang. Yovi dan marsya saling memberi salam.


Ricko melihat kakaknya menangis. Jarak antara balkon dan pagar yang lumayan jauh tak memungkinkan ricko mendengar isi pembicaraan mereka.


“kamu udah nemuin yang lain?” marsya sesengukkan.


“sepertinya begitu” kata yovi lembut, mematung didepan marsya.


“siapa?”


“tak penting siapa dia sya. Yang jelas, aku lelah nunggu kamu terus”


Yovi mengusap kepala marsya sekilas, lalu mengecup keningnya. Itu saja. Ia kembali pergi bersama Honda Jazz-nya.


Marsya masih meneteskan air mata diambang pintu. Keputusannya semakin ia sesali. Pasti aninda! Pikir marsya marah sambil berjalan masuk kerumah.


Dari belakang, ricko meremas pundak marsya yang sudah berada diruang keluarga. “sabar ya kak”


Marsya memeluk ricko. Beruntung sekali ia memiliki adik sebaik ricko.


Yovi menyetir mobil tanpa arah. Matanya perih, seperih sakit didadanya yang kembali muncul setelah lama menghilang. Kenangan bersama marsya membayangi kembali. Ia ingat suara tawa marsya dalam gendongannya, teriakan manja marsya ketika menyemprotkan air dikebun belakang rumahnya, kehangatan marsya sewaktu memeluk dirinya… semua kenangan indah itu terus melintas dipikirannya. Datang begitu saja…


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123

__ADS_1


__ADS_2