LOLIPOP CINTA DAN DUSTA

LOLIPOP CINTA DAN DUSTA
EP 3


__ADS_3

Esok paginya aninda baru tahu arti senyuman kedua orangtuanya kemarin. Honda Jazz telah terparkir anggun di depan rumahnya. Pemilik mobil tersebut sedang mengobrol dengan ibu aninda. “lho ngapain kak yovi jemput aku?” teriak aninda histeris.


Ibu aninda langsung membulatkan kedua bola matanya “ninda, jangan teriak-teriak gitu kasihan yovi” “nggak papa bu. Aninda kalau ngomong emang gitu. Yuk berangkat, ntar telat lho” kata yovi sopan.


Sepanjang perjalanan kesekolah aninda merasa tidak enak hati. Ia terus berpikir ini pasti akal-akalan kedua orangtuanya. Aninda anak bungsu jelas dirinyalah yang selalu jadi objek keisengan orang rumah. Kedua kakaknya bekerja dijakarta, jadi untuk saat ini ia sepeti anak tunggal. Orangtuanya pengusaha batik tradisional dengan pendapatan tak seberapa sehingga mereka terbiasa hidup sederhana. Kedatangan yovi dengan mobil mewah tentu saja membuat girang orangtuanya. Apa lagi mereka memang baru kali itu kedatangan teman cowok aninda yang seramah yovi.


“kenapa diem? Kirain aku kamu susah diem” yovi membuyar kebisuan aninda. “eh, nggak papa jawab aninda singkat. “nggak perlu terlalu sopan kok ngomong sama aku. Kemarin kamu berani bentak-bentak” goda yovi mengingatkan aninda pada kejadian kejadian salah paham kemarin. “anggap aja aku teman sebayamu. Lagian aku risi ngomong sama orang yang terlalu sopan kayak kamu” imbuh yovi semakin meledek. “jadi nggak papa nih manggil aku-kamu?” Tanya aninda lugu.


“yaela…nyante aja lagi” senyum yovi mengembang sempurna dan saat aninda melihat senyum itu, desiran aneh merayapi dadanya. Terakhir aninda merasakan desiran aneh seperti ini ketika ia masih SD, persisnya setiap kali menatap umar. Mungkin terdengar ajaib, tapi cinta pertamanya adalah musuh bebuyutannya sendiri. Umar preman di SD-nya, gemar membuat keributan dan mengganggu anak-anak lemah salah satunya ricko. Aninda selalu menolong ricko yang dikeroyok umar dan teman-temannya. Sejak saat itu aninda menganggap umar sebagai musuh abadinya begitupun sebaliknya.


Desiran aneh itu bermula saat aninda pulang dari rumah yasmin. Saat itu aninda kelas lima SD, itu berarti sudah lima tahun dirinya berperang dengan umar. Hujan deras mengguyur perjalanan pulang aninda tapi untung saja kedua orangtuanya telah membekalinya dengan payung kecil warna pelangi aninda bersenandung pelan untuk menahan rasa takut karena derasnya hujan. Dari kejauhan ia melihat seorang anak laki-laki berjalan didepannya sempoyongan tanpa pelindung hujan. Aninda berlari penasaran dan menjejeri laki-laki kecil yang ternyata umar. Merasa iba melihat umar yang sepertinya sedang ada masalah ia memayunginya. Mata umar sayu, ada kesepian disitu.

__ADS_1


“umar kamu kenapa?” Tanya aninda pelan, ada sedikit kecemasan dalam suaranya. “aninda jangan bengong terus dong!” seruan yovi membuyarkan lamunan aninda. “apa sih yang ada dipikiranmu?” “lagi mikirin PR bahasa inggris nih” aninda berbohong. “emang susah?” Tanya yovi menengok sekilas. “aku memang nggak bisa mata pelajaran ini dari dulu” jawab aninda polos. Yovi tersenyum lebar dan…lagi-lagi aninda meleleh tersengat senyum yovi yang menurutnya luar biasa menawan.


Begitu sampai diparkiran sekolah aninda buru-buru keluar. Hatinya mencelus ketika mendapati begitu banyak pasang mata yang memperhatikan dirinya turun dari mobil dan kebanyakkan mata kaum hawa. “cuekin mereka” bisik yovi pelan. Aninda justru grogi karena yovi berjalan sangat dekat disampingnya. Sehabis membenarkan kucir rambutnya aninda berjalan dengan langkah setegak mungkin.


Aninda berusaha tersenyum pada setiap mata yang meliriknya. Senyum konyol yang hanya dimiliki Aninda Chandra ningsih. Tapi hatinya kembali mencelus ketika melihat ketiga pentolan cheerleader marsya, syifa, dan merli juga memandang kearahnya. Aninda menelan ludah sambil komat-kamit tidak jelas.


“Gila nin! Bisa-bisanya kamu berangkat bareng cowok paling cool disekolah kita. Hebat kamu nin!” seru yasmin histeris ketika aninda tiba dibangkunya. “Sssst… ceritanya panjang dan nggak masuk akal deh. Ya lagian kenapa kamu nggak bilang vigo punya kembaran?” suara aninda masih lemas karena tatapan mata para serigala tadi.


“hahaha… maaf. Ku kira kamu udah tahu tapi lebih heboh lagi ceritaku nin. Kamu tahu, aku udah jadian sama satriya!” pamer yasmin, sulit mengatur volume suaranya. Seisi kelas jelas sekali mendengarnya. “Haa? Serius? Kok bisa secepat itu?” komentar aninda penasaran.


Waktu makan dikantin jam istirahat yasmin menceritakan kisah jadiannya dengan satriya. “Oh gitu ya? Jadi kalian udah pedekate dari awal MOS?” ujar aninda manggut-manggut. “ya gitu deh, aku aja nggak nyangka dia nembak aku secepet itu tapi yang namanya jodoh mau gimana lagi?” kata yasmin dengan mimik pamernya. “idih ngarep amat” sindir aninda sambil memonyongkan bibir. “boleh duduk bareng kalian? Aku sendirian nih” tiba-tiba restiana, temen sekelas mereka muncul dengan mangkuk bakso ditangan. “ya Tuhan tinggal duduk aja sini pake izin segala” komentar aninda.

__ADS_1


Mereka bertiga menghabiskan sisa istirahat dengan obrolan konyol. Restiana yang terkesan pendiam ternyata tak kalah heboh dibanding aninda. Dan keakraban pun dimulai.


“nin, kamu keperpus sendirian nggak papa kan? Soalnya aku mau nonton satriya latihan nih” kata yasmin sepulang sekolah. Aninda hanya mengangguk pelan. Sekarang yasmin udah punya pacar yang harus diperhatikannnya. Jadi mau tak mau aninda harus mau dinomor duakan. “ kok cemberut gitu nin?” yasmin merasa tidak enak hati. “siapa juga yang cemberut? Lagian… nggak ada yasmin, restiana pub bisa” lawak aninda. Sontak yasmin dan restiana tertawa lepas. Aninda tersenyum melihat kedua temannya tertawa.


“kamu mau pinjem novel apa sih nin?” Tanya restiana bingung melihat aninda yang sejak tadi membolak-balik buku di rak. “itu lho breaking dawn. Kamu udah pernah baca belum?” mata aninda masih jelalatan mencari novel yang dicarinya. “Ya Allah ninda! Kalau itu sih aku punya dirumah!” seru restiana.


Aninda berbalik menghadap restiana, kemudian matanya membulat “astaganaga! Kenapa nggak bilang daritadi?” restiana tersenyum simpul. Mereka bergegas keluar perpustakaan. “ke lapangan basket bentar ya” ajak aninda.


Suara riuh dilapangan terdengar dari perpustakaan walaupun letak perpustakaan sudah diatur sedemikian rupa agar terhindar dari ingar-bingar lapangan. Langkah restiana terhenti ketika melihat ricko berjalan kearah mereka. Aninda sedikit terheran dengan sikap restiana yang mendadak aneh ketika menatap ricko. Dia yakin, pasti ada sesuatu yang restiana rasakan terhadap ricko.


Ricko tersenyum kecil pada mereka berdua “hai, dari perpus ya?” “Ih sok nebak” ujar aninda sambil memeletkan lidah. Ricko tersenyum, sedangkan restiana masih mematung memandang ricko. “hai res, apa kabar? Ternyata kamu sekelas sama aninda?” Tanya ricko. “eh..oh..iya rick” jawab restiana terbata-bata. “yaudah duluan ya. Buru-buru nih” kata ricko bergegas pergi menjauhi kedua juniornya.

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2