LOLIPOP CINTA DAN DUSTA

LOLIPOP CINTA DAN DUSTA
EP 26


__ADS_3

“Mbok, vigo bakal balik lagi kan?” Tanya aninda datar saat mbok tiyem menyuguhkan segelas es teh.


Mbok tiyem terdiam sejenak. Raut wajahnya terlihat khawatir.


“Katanya sih nggak non. Den vigo bakal nerusin sekolah di sana”


“Aninda?” Yovi muncul dari pintu depan. “Kebetulan kamu ke sini. Aku pengen ngasih tahu kamu sesuatu” kata yovi lembut, padahal beberapa jam lalu ia baru menonjok dua orang dengan emosi tinggi.


Yovi mulai bercerita tentang kasus pencurian piala yang dituduhkan pada vigo, serta pengeroyokan teman-teman ricko pada adiknya.


“Jadi ricko yang ngelakuin ini semua?” Tanya aninda terkejut.


Yovi mengangguk pelan.


“Apa hakmu ngelarang aku deket sama ricko? Dia temenku sejak SD! Benarkah kamu yang nyuri piala itu? Aku nggak tahu kamu selicik itu vig! Sejahat itu! Pergi kamu vig!”


“Aku emang mau pergi nin. Bilang kamu cinta aku nin!” vigo mencium bibir aninda. Aninda menampar vigo.


Rentetan peristiwa bersama vigo terlintas kembali dalam ingatan aninda. Ketololannya membuat dia tak menyadari selama itu umar ternyata berada didekatnya.


“Vigo juga salah nin” hibur yovi seakan bisa memba pikiran aninda.


“Aku bingung. Kok vigo bisa jadi kakak kelasku? Itu yang bikin aku nggak pernah berpikir atau mencurigai dia adalah umar” tanya aninda.


“Aku dan vigo ikut program penyetaraan pas SMP. Waktu dia SD aku masih di amrik. Dulu disini dia ikut nenek dari pihak ibu. Ketika kelas lima SD dia disuruh ke amrik karena kondisi nenek disini yang mulai sakit-sakitan. Tamat dari SMP diamrik, vigo maksa pindah ke indonesia. Dia ngotot pengen balik dan bersekolah disini. Aku terpaksa ngikut, buat jagain dia yang emosinya susah dikendaliin. Ternyata kamulah penyebab dia pengen banget pulang ke indonesia.”


“Terus, kenapa sekarang kamu nggak ikut dia ke amrik?” Aninda rupanya belum puas bertanya.


“Buat apa coba? Dia ke amrik diundang salah satu SMA di sana. Aku nggak diundang”


“Kata mbok tiyem dia nggak bakal pulang”


“Doain aja dia nggak betah”.


Senin pagi...


Akhirnya semua siswa SMA Harapan Jaya tahu vigo ternyata tak bersalah. Dan biang kerok semua kekacauan itu adalah ricko. Ternyata rickolah si pelapor hilangnya piala karate ke kepala sekolah. Sudah tentu ricko mendapatkan sanksi berat dari sekolah atas perbuatannya itu.


Aninda menceritakan semuanya pada restiana setelah restiana menceritakan kejadian dirumah marsya. Restiana hampir menangis mendengar cerita sahabatnya itu.


“Dan sekarang aku mengerti maksud kalimat Kita boleh menanti, tapi jangan terlalu menanti yang tak pasti” ujar aninda lemah.


“Maksudnya apa nin?” tanya restiana penasaran.

__ADS_1


“Alasan cewek yang terus menanti cowoknya karena dia menanti sesuatu yang tak pasti, yaitu si cowok”


“Nin, aku tetep bingung”


“Aku juga sebenernya bingung” aninda tersenyum melihat ekspresi lugu restiana.


Tiba-tiba wajah restiana berubah menjadi sendu. “Ricko bakal pergi ke London hari ini”


“Kamu udah ketemu dia?”


Restiana menggeleng pelan. “Mau nggak temenin aku kerumahnya sepulang sekolah?”


“Kayaknya aku nggak bisa res. Aku belum siap ketemu dia. Mungkin ini memang belum saatnya”


Restiana tersenyum kecil, berusaha memahami perasaan aninda.


Aninda enggan bertemu ricko yang telah berlaku licik dibelakangnya.


Yovi membenahi catatan seluruh kegiatan OSIS, lalu memasukkannya ke salah satu lemari diruang OSIS. Ia menoleh saat pintu ruang OSIS berderit. Ternyata marsya yang membukanya. Wajahnya masih pucat. Yovi sempat heran melihatnya memaksakan diri ke sekolah.


“Urusan OSIS udah beres kok sya” kata yovi.


“Aku kesini mau minta maaf atas perbuatan adikku padamu” Marsya tulus mengatakannya.


“Semua udah berlalu sya, ngapain sih dibahas lagi?” Yovi tampak cuek sambil terus sibuk menata berkas-berkas.


Waktu restiana tiba dirumah ricko, sebuah koper jumbo terlihat diruang tamu. Ricko kaget melihat kehadiran restiana.


“Rick, kamu mau pergi?” Tanya restiana sedih.


“Ya res, aku mau ke London. Aku pengen nyari kedamaian disana. Res, maafin aku ya.” Ricko mendekati restiana, kemudian memegang kedua tangan cewek itu.


“Ma..af karena apa rick?” tanya restiana terbata. Dia grogi tangannya dipegang oleh orang yang sangat dicintainya.


“Karena aku belum bisa membalas cintamu”


“Nggak papa rick” ujar restiana lirih.


“Res, aku mesti berangkat sekarang, pesawatku berangkat sebentar lagi. Sampein maafku pada temen-temen ya. Terutama pada aninda dan vigo. Aku bener-bener nyesel”


Restiana hanya mengangguk lemah.


Sebelum naik ke mobil, ricko mengecup kening restiana. Hari itu restiana bahagia sekaligus berduka.

__ADS_1


“Sya?” yovi mengelus kening marsya lembut saat marsya siuman.


Mata marsya mengerjap karena sinar lampu diruang UKS.


“Yov, tadi aku mau bilang bahwa aku...”


“Aku cinta kamu sya” yovi memotong kalimat marsya.


Marsya mendengarnya tak percaya. “Yov? Aku mimpi? Aku masih pingsan?”


Yovi tersenyum lepas, kemudian mengecup kening marsya.


“Kamu udah bangun, marsya sayang. Kamu mau jadi cewekku lagi kan?”


Air mata marsya mengalir, tak sanggup mengatakan apa-apa. Ia mengangkat badannya untuk memeluk yovi.


Sebenarnya yovi memang tak pernah berhenti mencintai marsya. Dulu ia pernah mencintai aninda, tapi ia menyadari aninda hanya cinta sesaat atas sakit hatinya karena marsya. Ia mulai yakin marsya mau berubah untuknya saat marsya tak mau lagi memakai aksesori lebay, juga tak pernah lagi memoles wajahnya. Marsya berusaha keras menjadi dewasa, dan itu membahagiakan yovi. Dengan demikian marsya membuka dirinya agar yovi bisa mencintai marsya apa adanya, termasuk menerima semua kekurangan marsya.


Hari pembagian rapor di SMA Harapan Jaya tiba. Sabtu yang lumayan cerah mengingat akhir akhir ini hujan selalu turun. Karena semester satu, rapor tidak perlu diambil oleh orangtua, melainkan langsung diberikan kepada masing-masing siswa. Warga kelas aninda sudah lengkap pagi itu. Sesuai urutan abjad, aninda tak perlu menunggu lama untuk menerima rapor.


“Aninda chandraningsih” panggil Bu Purwanti, wali kelasnya.


Aninda berlari kecil ke depan.


Bu Purwanti sedikit heran melihat aninda yang biasanya tidak bisa diam.


“Kenapa hari ini, nin?” tanya Bu Purwanti heran.


“Nggak papa kok, Bu” jawab aninda lesu.


“Nin, you must know it. Sometimes the time when we really love him is the time we should actually let him go”


Aninda tercengang mendengar kalimat Bu Purwanti, yang sama sekali tak ia mengerti.


Bu Purwanti tertawa melihat wajah ***** aninda. “Terkadang pada saat kita benar-benar mencintainy, justru kita harus merelakannya”


Aninda tersenyum kecil, mencoba memahami makna kata-kata mutiara dari Bu Purwanti. Kemudian ia berbalik menuju bangkunya.


“Nin, kamu ranking satu ya? Kok tadi Bu Pur kelihatan seneng banget?” Bisik rossi penasaran. Rossi khawatir kalah saing dari aninda, yang terkenal rada bodoh.


“Tenang ros, masih kamu yang ranking satu kok!” Jawab aninda asal.


Rossi langsung cekikikan, senangnya bukan main.

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2