LOLIPOP CINTA DAN DUSTA

LOLIPOP CINTA DAN DUSTA
EP 5


__ADS_3

“sini aku gendong. Kamu takut guntur ya?” kata umar lembut diluar tabiatnya.


Aninda kecil mengangguk pelan.


Umar menggendong aninda dengan tertatih, sementara aninda memegangi payungnya dengan tangan gemetar. Aninda tersenyum kecil. Ia tahu dirinya menyukai umar.


Lamunan aninda buyar karena sentuhan vigo dipundaknya. “hobi ngelamun ya mbak?” sindir vigo kaku.


Aninda mendengus kesal kemudian kembali menekuni PR bahasa inggris-nya.


Vigo mengintip perkerjaan aninda. Sontak ia terbahak-bahak.


“masa ditanya ‘siapa nama aktornya’ malah jawabannya nama produser!” cemooh vigo sambil menahan perutnya yang sakit karena tertawa.


“sirik amat ih! Inikan PR-ku, terserah aku dong mau jawab apa!” bela aninda tak mau kalah. “udah sengak, arogan pula” imbuh aninda kesal.


Vigo hanya tertawa pelan “baru kamu cewek yang ngatain aku gitu”


“baru kamu cowok yang pedenya selangit! Sengak!” nada marah dalam suara aninda penuh penekanan.


Vigo menjitak pelan kepala aninda sambil berjalan kembali kekamarnya.


Aninda mengaduh lirih, lalu mengusap kepalanya pelan-pelan. Sial! Batin aninda geram. Ia mengakui pasangan kembar itu memang tampan dan sulit dibedakan secara fisik. Soal emosi? Ia sudah mengenali ciri keduanya. Ia menggeleng menyadari begitu berbeda tabiat mereka berdua apalagi kelakuan brutal vigo yang selalu membuatnya kesal dan marah. Betul-betul tak habis pikir ada orang sesombong vigo.


Malam harinya saat aninda berusaha memejamkan mata entah kenapa ia kembali teringat umar.


“aku mau pindah rumah nin” kata umar suatu hari pada aninda. Saat mereka sedang duduk dilapangan.


“kenapa mesti pindah?” Tanya aninda penasaran.


“orang tuaku minta aku pindah. Aku juga nggak tahu kenapa” jawab umar lugu.


Raut aninda tampak kecewa. “yah, padahal kita udah janji bakal selalu bersama”

__ADS_1


“tenang nin! Pokoknya tahun depan kamu harus tunggu aku disini! Dibawah pohon ini!” umar tampak yakin sekali.


Aninda tersenyum lega. Ia berharap umar akan menepati janjinya.


Vigo meletakkan buku yang baru dibacanya. “yov, siapa sih sebenernya nama cewek tengil itu?”


Yovi yang baru saja memakai selimut menjawab enggan. “namanya Aninda Chandra ningsih, kirain kamu udah tau”


Vigo termenung kaku mencoba mencerna nama itu.


“jangan terlalu kasar sama dia vig. Dia cewek manis, baik, lucu pula” tambah yovi lirih. Sejurus kemudian yovi tertidur pulas saking lelahnya.


Vigo masih belum bisa memejamkan mata, pikirannya tertuju pada sosok aninda gadis mungil dengan kulit sawo matang bermata indah, tapi… ampun! Suaranya menggelegar! Dia imut, selalu menampakkan keceriaan dan yang jelas dia cantik. Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal? Tanya vigo dalam hati.


Vigo seperti mendapatkan semangat hidup yang telah lama melayang. Ia tersenyum mantap.


Ricko berdiri didepan cermin yang menampakkan bayangan dirinya yang kelelahan. Ia mencuci muka dengan air yang mengalir di wastafel. Latihan tadi benar-benar menguras energy. Ia mengelap wajah dengan handuk kemudian bergegas menuju tempat tidur sambil menatap langit langit kamarnya, pikirannya tertuju pada batinnya yang kian bergejolak.


Ricko sadar dirinya jatuh cinta, tapi masih trauma dengan masa lalu yang menggoreskan kenangan kelam. Kepercayaan dirinya pernah runtuh dan sekarang masih dalam proses pemulihan. Ia belum sepenuhnya kembali menjadi dirinya sendiri. Ia butuh suatu kekuatan untuk membalaskan dendamnya. Kekuatan yang membuktikan bahwa dirinya berhak mendapatkan cinta.


“kamu nggak pantes sama aninda! Kamu nggak bisa ngelindungin dia!” umar mendorong ricko kuat-kuat.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut ricko selain tangis yang membuat ingusnya menyesakkan napas. Ia tak berani melawan umar. Dirinya terlalu lemah menghadapi umar dan teman-temannya.


“aninda sukanya sama aku. Dia nggak suka sama kamu. Bocah ingusan, pendek, jelek!” sindir umar yang terbakar marah besar.


Umar tahu ricko bermaksud “menembak” aninda. Sudah lama umar tahu ricko suka aninda. Ditengah jalan umar dan teman-temannya menghadang ricko untuk melabraknya.


Ricko masih tersungkur lemah ditanah, tak berani menatap mata umar yang penuh amarah. Rasa kecewanya pada aninda mulai tumbuh tapi rasa sukanya pada aninda juga kian kuat. Ia benar benar merindukan gadis kecil itu.


“awas kalau kamu berani deketin aninda. Dasar cowok lemah!” umar cs kemudian pergi meninggalkan ricko seorang diri. Meninggalkan dendam dan luka yang diam-diam tersimpan dalam hati ricko.


Ricko terus berangan-angan tentang gadis kecilnya dulu. Aninda yang sekarang masih seperti aninda yang dulu ia kenal. Aninda yang ceria, aninda yang selalu membuat orang-orang tertawa. Hanya saja aninda tak perlu lagi melindunginya. Sepantasnya sekarang aku yang melindunginya, batin ricko mantap.

__ADS_1


Napas yasmin memburu, matanya tak bisa ia pejamkan. Padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul satu pagi. Keringat dingin menetes dikening, perasaan bersalah dan menyesal merayapi hatinya. Pikiran buruk selalu melintas dalam kepalanya. Apa yang telah kulakukan? Aninda pasti marah padaku kalau sampai tahu, batin yasmin lemas. Ia merapatkan selimut kemudian tertidur dengan mimpi-mimpi yang terus menghantuinya.


Restiana menyelesaikan halaman terakhir novel yang begitu menghanyutkan perasaannya. Ia melepas kacamata kemudian merebahkan tubuhnya dikasur. Sebelum tidur ia selalu merogoh bawah bantal sejenak menatap foto yang disimpannya disitu. Foto dirinya dengan ricko saat pesta ulang tahunnya. Senyumnya mengembang bila menatap ricko. Ada begitu banyak rasa yang ingin ia sampaikan pada ricko hanya saja ia terlalu takut mengungkapkannya. Besok aku harus curhat sama aninda, tekadnya dalam hati.


Aninda kaget bukan main ketika mendapati vigo menjemputnya pagi-pagi sekali.


“ngapain kamu ke sini?” Tanya aninda tak acuh.


“yovi lagi nggak bisa jemput kamu” jawab vigo juga tak acuh.


Aninda berdecak pelan. “seharusnya kamu nggak usah repot-repot!”


“oh, ini kembarannya nak yovi ya? Ya Allah… gantengnya!” tiba-tiba ibu aninda nongol dari dalam rumah.


Vigo tersenyum pada ibu aninda kemudian menyalaminya.


“ya sudah sana berangkat!” perintah ibu aninda pada putrinya. Ia mendelik sekilas pada aninda, kesal dengan sikap anaknya yang dinilainya tidak sopan.


Aninda mendengus pelan kemudian berpamitan kesekolah.


“jadi anak tengil banget sih” ujar vigo pelan.


Aninda hanya mengerucutkan bibir.


Parkiran sekolah masih sepi ketika mereka berdua sampai.


Maklum, hari masih begitu pagi.


“emang kenapa yovi nggak bisa jemput aku?” Tanya aninda penasaran sambil merapikan rambutnya karena memakai helm.


“emangnya kamu pacarnya apa? Ngarepin dia jemput terus!” jawab vigo dengan aksen sengak.


Pelajaran bahasa inggris selalu sukses bikin aninda bosan dan mengantuk. Jadi untuk menghindari tertidur dimeja ia selalu berceloteh dengan yasmin. Tapi karena hari itu yasmin absen, aninda duduk sendirian. Sebuah ide terlintas dalam otak aninda yang biasanya kosong. Ia merogoh HP-nya kemudian sibuk memencet tombol-tombolnya.

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2