
Marsya dan restiana tercengang mendengarnya.
Ricko tertawa sinis, “akhirnya kamu tahu juga”
Kemarahan yovi bertambah karena reaksi ricko yang tampak meremehkannya. “Kenapa kamu ngelakuin itu semua!” Tanya yovi menuntut penjelasan sambil mengangkat tangannya.
Tampaknya ia ingin menonjok ricko lagi.
Untung satriya keburu menahannya, “yov, jaga emosimu!”
Yovi menarik napas perlahan, seakan memberi kesempatan pada ricko untuk menjawab pertanyaannya.
“Seharusnya kamu lebih tahu masalah ini. Kamu kan kakak dia” ujar ricko kalem. Rasa sakit dipipinya tak membuatnya menjadi lemah.
“Nggak usah basa-basi! Kenapa?” Yovi bertanya dengan intonasi yang sengaja dilembutkan.
“Kamu pengen tahu kenapa?” Ricko balik bertanya dengan tak kalah kalem.
Yang lain justru menunggu dengan tegang.
Ruang perawatan umar berada dibagian ujung rumah sakit yang cukup besar itu. Aninda melewati lorong-lorong dengan hati yang berdetak tak karuan. Beberapa kali ia berlari pelan saking tak sabar ingin melihat kondisi umar. Ternyata umar tak berada dirumah karena harus dirawat dirumah sakit, entah sakit apa. Perasaan cemas dan penasaran aninda membesar ketika melihat pintu ruangan umar berada tepat didepannya. Ia mengetuk dan pelan-pelan membuka pintu itu.
Terlihat umar terbaring lemah dengan selang infus dilengannya. Aninda menutup mulutnya sendiri, sedih menyaksikan kondisi pangeran kecilnya.
Umar membuka mata perlahan karena merasakan kehadiran seseorang. Ibu umar menyambut gembira kedatangan aninda.
“Nak aninda ngobrol dulu sama umar ya, tante mau beli minuman dikantin” kata ibu umar sambil menarik kursi dan memberi tanda agak aninda duduk. Sosok wanita ramah itu seperti kurang tidur karena ada garis hitam dibawah matanya.
Aninda mengangguk sopan. Dengan hati-hati ia duduk dikursi yang tersedia disamping ranjang umar. “Kamu sakit apa?”
“Penyakitku nggak penting buat kamu nin. Aku Cuma pengen ngasih tau kamu sesuatu yang penting banget” kata umar serius.
Aninda mengerutkan dahi. Bingung. “Sesuatu apa mar?”
“Ini berhubungan dengan masa lalumu”
“Masa lalu kita maksudmu?” Koreksi aninda.
__ADS_1
Umar menggeleng. “Selama ini kamu keliru nin. Kamu mengira aku umar, masa lalumu”
Seketika petir dahsyat seperti menyambar aninda. “Maksud kamu apa? Mar, aku tahu kamu lagi sakit sekarang, nggak usah bilang macem-macem dulu deh”
“Nggak nin, aku pengen kamu tahu sebelum aku mati. Aku bukan umar masa lalumu nin. Beberapa bulan lalu saudaraku memaksaku pindah sekolah agar kamu mengira aku umar. Sebelumnya dia nyeritain semuanya ke aku. Tentang dia, kamu dan umar” “Dia.. dia siapa maksudmu?” Potong aninda penasaran.
“Ricko”
Ricko tersenyum sinis melihat teman-teman disekelilingnya tegang menunggu jawabannya. “Karena vigo adalah masa lalu aninda yov!” Rikco tertawa nyaring.
“Maksudmu apa? Nggak usah ngarang cerita!” Yovi menarik kerah ricko lagi.
Senyuman sinis ricko menghilang. “Kamu kaget kan? Tapi ini emang faktanya, vigo sesungguhnya adalah umar, pangeran kecil aninda, orang yang selalu aninda damba!”
“Nggak usah macem-macem sama aku rick!” Ancam yovi pelan.
“Dia bener yov. Vigo emang masa lalu aninda” tiba-tiba satriya angkat bicara agar mempersingkat waktu.
Yovi menoleh, menatap tajam pada satriya, mencari kesungguhan.
Ekspresi bingung yovi membuat ricko kembali tertawa. “Biar lebih jelas, nama belakang kalian berdua kumara sastrodjoyo kan? Dan saat SD vigo lebih senang dipanggil nama tengahnya, umar”
“Aku butuh penjelasanmu sat” kata yovi pada satriya dalam perjalanan menuju bandara.
Satriya mulai bercerita dalam nada tenang.
“Ricko melakukan ini karena dia nggak mau kamu ketemu umar lagi, dia cinta banget sama kamu nin. Tapi cara dia ngedapetin kamu salah. Tepatnya, licik” umar melanjutkan ceritanya yang sempat dipotong aninda.
“Seharusnya ricko tahu aku nggak tahu keberadaan umar saat ini. Jadi kenapa ricko ngelakuin ini semua?” Aninda bingung.
“Karena selama ini umar ada di dekat kamu nin. Dekat banget”
“Mkasudmu mar?” Penjelasan umar seperti sebuah teka-teki bagi aninda.
“Umar ada vigo, vigo kumara sastrodjoyo. Saat SD dia lebih suka dipanggil nama tengahnya, umar”
Aninda menutup mulutnya yang melongo dengan kedua tangan yang gemetaran. Matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
Yovi, satriya dan rian tiba dibandara. Vigo terlihat sedang duduk bersama teman-teman basket didekat pintu keberangkatan. Setengah berlari yovi mendekati kembarannya. Ia langsung melayangkan tonjokan keras ke wajah mulus adiknya. Teman-temannya terbengong-bengong, tak percaya menyaksikan perbuatan yovi yang biasanya santun dan tenang.
“Pengecut kamu!l teriak yovi parau.
Orang-orang disekeliling mereka mulai mengerubungi yovi dan vigo. “Kenapa kamu nggak bilang? Kenapa kamu nggak nunjukkin ke aninda bahwa kamulah orang yang selama ini dia nanti? Kenapa?”
Vigo mengelap darah dibibirnya dengan tangannya yang dingin.
“Karena aku nggak mau lagi ngerebut sesuatu dari kamu yov”
“Bego banget sih kamu!” Aku aja nggak pernah mikir gitu. Aninda milikmu dari dulu sampai sekarang. Seharusnya kamu tahu itu. Cara pengecutmu yang kayak gini justru nyakitin banyak orang.”
Yovi menarik napas panjang, berusaha meredakan emosinya.
“Ya... Terserah penilaianmulah yov. Aku memang salah.” Vigo mengulurkan tangan. “Aku minta maaf” vigo mengangguk lalu melepaskan pelukan. “Pesawatku hampir berangkat, aku harus segera masuk” ujar vigo kalem. “Yov, jagain aninda ya? Ceritain semua kebenaran pada dia” yovi terdiam sejenak, lalu perlahan menyambut uluran tangan vigo. Kedua bersaudara itu berpelukan erat. “Hati-hati ya vig. Maafin aku juga”
“Oke”
Vigo, kemudian bersalaman dengan semua temannya. Selamat tinggal indonesia, batinnya hampa.
Aninda berjalan meninggalkan rumah sakit sambil tersedu pelan. Jadi vigo sebenernya umar. Pangeran kecil yang selama ini ia cari, yang selama ini ia nanti. Jadi itu penjelasan kenapa selama itu vigo tahu segalanya tentang dirinya. Itulah alasan vigo menonjok ricko di menara, karena mereka memang musuh bebuyutan sejak dulu.
Setelah naik bus yang cukup lama, sampai juga aninda didepan rumah vigo yang tampak sepi. Gerbangnya terbuka lebar sehingga aninda memutuskan langsung masuk tanpa perlu memencet bel. Ia menuju beranda dan mengetuk pintu.
“Non ninda cari den yovi?” Tanya mbok tiyem begitu membukakan pintu ruang tamu untuknnya. “Nggak mbok, saya cari vigo!” Ujar aninda tergesa-gesa.
“Lho, den vigo pergi ke amerika hari ini. Katanya ada sekolah yang ngundang den vigo main basket. Non ninda nggak tahu toh?”
“Haa? Apa?” Aninda seperti ingin pingsan mendengarnya.
“Jam berapa berangkatnya?”
“Wah, udah dari tadi kok. Masuk dulu non, biar mbok buatkan teh”
Aninda mengangguk. Tubuhnya terasa lemas. Dia langsung duduk disofa yang terdekat dengan pintu agar tak keburu jatuh. Aneh, hatinya tak merasakan apapun lagi. Apakah ia sudah mati rasa?
Fb@ardhy ansyah
__ADS_1
Ig@ardhy_ansyah123