
Aninda sangat berharap pada malam yovi menembaknya, vigo akan menarik tangannya kuat kuat seperti biasanya. Dengan begitu dia dan vigo bisa berlari ke luar aula. Tapi, apa yang terjadi? Vigo justru menghilang tak jelas! Kebayang dong kecewanya hati aninda.
Aninda baru saja tahu vigo menghindarinya karena sengaja ingin memberi kesempatan pada kembarannya untuk mewujudkan cintanya. Dan itu ternyata sia-sia karena toh hubungan cinta aninda dan yovi sudah tamat.
Saat akhirnya vigo menyatakan cintanya ternyata aninda sedang berharap banyak pada umar. Oh!
Rentetan perjalanan cinta aninda begitu rumit. Sekarang ia mencinta vigo, dan juga umar. Egonya menang karena ia tak mau kehilangan dua-duanya. Namun, hati kecilnya juga tahu kalau bersikap seperti itu terus-terusan pastilah ia bakal kehilangan dua-duanya. Aninda menggeleng kuat-kuat.
Aku harus mendapatkan kepastian dari umar besok.
Pertandingan basket antara kelas aninda melawan kelas vigo segera dimulai. Anak-anak sudah berkumpul dipinggir lapangan.
Semua penasaran dengan babak semifinal ini. Cuaca yang mendung justru menjadi magnet bagi cewek-cewek untuk menonton pertandingan. Setidaknya mereka tak perlu takut menjadi hitam atau kepanasan.
Priiit!
Pertandingan dimulai. Sekejap saja bola berhasil dikuasai kelas vigo. Dan menit-menit selanjutnya permainan lebih banyak terjadi di daerah kelas aninda karena serangan bertubi-tubi pihak lawan. Entah berapa kali jaring kelas aninda bergetar.
Aninda gemes sendiri melihat teman-teman sekelasnya yang mati angin di lapangan. Mereka seperti takut memegang bola, apalagi merebutnya. Tak heran bila bola selalu saja dikuasai kelas vigo. Ups, bahkan lihatlah! Dengan mudahnya vigo melakukan tembakan three point. Cewek cewek dari segala penjuru kelas langsung bersorak heboh memuji penampilan vigo yang memang super keren. Hampir semua kelas mendukung kelas vigo.
“Ayo, jangan mau kalah sama makhluk mars!” Teriak aninda berang.
Mendengar teriakan aninda, vigo jadi lebih ganas lagi. Dengan tenang ia merebut bola dan berhasil melakukan three point lagi.
Aninda makin kesal.
Vigo berpaling dan kemudian mengedipkan sebelah matanya pada aninda. Skor akhir pertandingan 41-6. Kelas aninda benar-benar dibantai.
“Aduh! Kalian mainnya gimana sih? Kemarin pas latihan bagus, kok sekarang jadi melempem gini!” Cerocos rizka kesal sambil melangkah bersama-sama para pemain kekelas.
Jangan ditanya betapa sewotnya aninda. Ia masih berada dilapangan, sengaja menunggu vigo yang sedang berjalan kearahnya. Begitu jarak mereka sudah dekat, aninda memelototi vigo. Cowok itu tersenyum angkuh.
Belum sempat aninda mengomeli vigo, guru olahraga memanggil vigo. “Kamu dipanggil kepala sekolah”
__ADS_1
Vigo berjalan lurus mengikuti guru olahraga tanpa sempat menyapa aninda.
“Ninda!” Panggil restiana setelah kepergian vigo. “Kamu masih disini rupanya. Ada temen sekelas umar yang nyariin kamu. Dia nunggu didepan kelas kita”
Tanpa ba-bi-bu aninda berlari menuju kelasnya. Seorang cewek yang tak asing lagi dimata aninda terlihat sedang menunggu dirinya. Cewek itulah yang pernah mengatakan umar amnesia.
“Hai nin, aku Cuma mau ngasih alamat umar padamu. Dia sakit” kata cewek itu sambil menyodorkan potongan kertas yang berisi alamat umar.
“Umar yang nyuruh kamu?” Tanya aninda bingung.
Restiana yang berdiri disamping aninda juga tak kalah bingungnya.
Cewek itu mengangguk. Kemudian ia langsung pergi tanpa memperkenalkan dirinya.
Aninda berdiri mematung. Semoga jalan takdirku segera terungkap, batinnya senang.
Tidak sulit menemukan rumah umar yang ternyata tak begitu jauh dari sekolah. Rumahnya tampak sederhana. Hati-hati aninda mengetuk pintu.
“Permisi nek, saya aninda, temen sekolah umar. Bisa saya ketemu umar?” Sapa aninda halus.
“Umar baru saja tidur. Besok saja ya” nenek itu sepertinya tak suka ada yang mengganggu umar. “Oh... Tolong beritahu umar, aninda mencarinya ya nek”
Hp aninda berbunyi keras. Aninda yang sedang menonton TV segera mengangkatnya begitu membaca nama “Yovi” dilayarnya.
“Vigo disitu?” Terdengar nada panik yovi.
“Nggak. Kenapa yov? Kok panik banget?”
“Dia dituduh ngancurin piala karate nin! Tadi dia dipanggil kepala sekolah. Dan sampe saat ini belum pulang. Udah kucari kemana-mana, tapi nggak ada” jelas yovi terburu-buru.
“Kok bisa?” Seru aninda terkejut.
“Salah satu piala yang ada di ruang karate ilang. Terus ditemuin diruang basket dalam kondisi rusak. Katanya, ada anak yang ngaku lihat vigo yang ngelakuin”
__ADS_1
“Siapa anaknya?”
“Kepala sekolah nggak mau bilang. Sekarang yang terpenting adalah mastiin vigo nggak macem macem. Udah dulu ya nin, aku mau nyari dia di kafe” Sambungan telepon terputus.
Muncul rasa khawatir dalam benak aninda. Vigo pasti lagi frustasi sekarang, orangnya emang susah ditebak. Dan kalau vigo putus asa, bisa-bisa dia... Tak berani melanjutkan dugaannya, cepat-cepat aninda mengambil jaket.
Tempat pertama yang terlintas dalam benak aninda adalah sekolah. Ini hari sabtu, jadi bisa dipastikan masih ada siswa yang berlatih olahraga. Benar saja. Hampir semua ruang olahraga terdengar riuh. Aninda pusing, sekolahnya luas dan vigo bisa berada dimana aja. Aninda mencari vigo hingga sampai disuduh sekolah tempat anak-anak olimpiade sedang berkumpul.
Aninda sedikit grogi melewati ruangan anak-anak yang super genius itu.
“Ninda!” Seru seseorang dari arah berlawanan. Rupanya rossi, siswi olimpiade yang sekelas dengan aninda. “Lagi ngapain nin? Tumben”
“Kamu lihat vigo nggak?” Tanya aninda putus asa.
“Tadi siang aku lihat dia di menara astronomi nin” jawab rossi sangat halus dan sopan. “Oh ya? Makasih banget ros. Aku kesana deh”
Dalam langkah mantap aninda menaiki tangga yang menuju puncak menara. Menara astronomi biasa digunakan anak-anak klub pecinta astronomi untuk meneropong bintang. Tinggu menara itu kurang lebih sepuluh meter. Untuk mencapai puncak menara yang berupa teras terbuka, tersedia tangga beton seperti yang biasa dijumpai dirumah. Dengan tersengal-sengal karena tak mau melepas lelah diperhentian yang ada, aninda sampai juga dipuncak menara. Pada anak tangga terakhir ia melihat punggung vigo yang bidang.
Pelan-pelan aninda mendekati vigo. Ia memilih berdiri disampingnya. Udara dipuncak menara terasa lebih dingin.
Vigo sama sekali tak menggubris kehadiran aninda, yang napasnya masih memburu.
Pedih hati aninda melihat vigo yang begitu tak berdaya. Ia meraih tangan vigo, yang ternyata dingin, kemudian mengelusnya lembut.
Vigo bangkit dengan cepat dan langsung memeluk aninda erat. Aninda mengelus punggung vigo lembut. Ia tahu sebenarnya vigo ingin menangis. Apa yang menimpa laki-laki ini?
Lima tahun lalu...
Daun-daun meranggas berjatuhan lemah dari pohon rindang, tertiup embusan angin bulan mei. Aninda kecil memperhatikan umar yang sejak tadi memunguti daun yang sudah menguning. Hari itu terik sehingga mereka memutuskan berteduh dibawah pohon cinta mereka. Aninda tersenyum melihat kegigihan umar memilah daun yang dianggapnya masih bagus.
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123
__ADS_1