
Butuh sekian menit untuk melintasi ruang latihan karate yang luas. Ricko berkerenyit saat dari kejauhan terlihat kakak nya berjalan bersama kedua teman nya. Pasti mereka dari toilet karena tak ada ruang lain di dekat situ. Apa barusan mereka tidak mendengar suara keras? Pikir cowok itu bingung. Terdorong rasa ingin tahu, ia melanjut kan langkah nya memasuki toilet cewek.
“anin!” teriak ricko kaget begitu mendapati aninda tersungkur dilantai. Ia segera membantu aninda berdiri.
Restiana juga terkejut. “ya ampun! Nin kamu kenapa?” Aninda menggeleng pucat, tatapan mata nya kosong.
Ricko dan restiana memapah aninda ke UKS. Disana ada petugas yang selalu siap mengurus murid-murid yang tiba-tiba sakit atau butuh bantuan yang berkaitan dengan kesehatan.
“kamu istirahat disini dulu ya nin. Kami harus kembali ke kelas.” Ricko menyentuh lembut tangan aninda yang kini terbaring diranjang UKS. Ia memandangi cewek itu dengan perasaan iba. Lalu ia mengajak restiana kembali ke kelas.
“res, jangan lupa memberitahukan guru soal aninda yang perlu berisitirahat sebentar” ricko mengingatkan restiana saat mereka harus berpisah menuju kelas masing-masing.
Restiana mengangguk.
Dikelas ricko sulit berkonsentrasi. Rasa gusar nya pada marsya timbul lagi. Dia berencana menegur dan mengingat kan marsya soal kelakuan nya yang sudah kelewat batas. Tak seorang pun boleh menyakiti orang yang dicintainya. Dulu aninda yang selalu melindungi nya, sekarang giliran nya.
“apa? Si nenek sihir habis ngelabrak kamu?” yasmin berteriak dikamarnya, mata nya berkilat menatap aninda.
“ya dan aku baru tahu ternyata ricko adik marsya” jawab aninda lemas.
“astaga anin! Kemana aja kamu? Ya Tuhan, kuper banget sih kamu. Amit-amit jabang bayi” yasmin mengelus perutnya pelan.
Aninda tertawa terpingkal-pingkal.
“aku juga baru tahu suamiku ternyata teman curhat vigo”
Aninda melongo. “tahu dari mana?”
“kemarin waktu vigo kesini nin. Mukanya frustasi banget.”
“kenapa dia yas?” aninda berubah gelisah.
“ceile… mulai perhatian nih” ledek yasmin.
“iiiih… apaan! Maksud ku kan kalau dia susah aku senang yas”
__ADS_1
“cie cie… muka kamu merah tuh nin”
Aninda tersenyum kecut pada yasmin.
Yasmin menjawil pipi aninda.” Aku belum sempet tanya sama satriya, coba ntar malem ya” “nggak penting kok yas. Lagian buat apa. Cowok sengak kayak dia kok digubris” aninda memasang wajah cemberut.
Pada saat yang sama, di tempat berbeda…
Ricko menghampiri marsya dikamar dengan amarah meluap-luap. “aku nggak mau kakak nyakitin dia!”
“aku nggak nyakitin dia rick. Aku ngingetin aja”
“nggak boleh ada yang nyakitin dia. Inget itu kak!” seru ricko sambil berbalik kearah pintu. “buat apa sih rick, ngarepin cewek yang bahkan nggak bersimpati padamu?” marsya berteriak keras ketika ricko berada diambang pintu.
Ricko berhenti sejenak tanpa menoleh. “harus nya pertanyaan itu juga buat kakak”
Restiana memandang langit-langit kamar. Masih terekam jelas pembicaraan antara diri nya dan ricko diluar UKS.
Aninda masih terbaring diranjang UKS. Memang sebaiknya dia istirahat dulu untuk menghilang kan rasa kagetnya.
Restiana langsung berdebar, hatinya berharap ricko akan mengatakan cinta pada nya.
Ricko menarik napas perlahan. “res, aku pengen kamu tahu sesuatu. Aku.. kuharap… kamu bisa mengerti dan tidak marah padaku”
Restiana terdiam. Kini ia tahu ricko ingin mengata kan sesuatu yang berlawanan dengan harapan terbesar nya.
“sebenarnya, aku… aku suka aninda res” kata ricko terbata-bata.
Mata restiana berkaca-kaca. Ia berusaha keras membendung air mata nya.
“maaf res, aku nggak bermaksud menyakiti mu”
Restiana mencoba mengeluar kan suara nya yang bergetar.
“nggak papa kok rick. Aku malah nggak enak, berarti selama ini aku ganggu kamu”
__ADS_1
“nggak res, bukan gitu maksudku. Aku hanya… nggak mau ngasih harapan kosong ke kamu” “iya rick, aku tahu” restiana masih bisa menahan luapan air mata nya.
“makasih ya res” ricko memeluk nya ringan. Lega.
Pelukan yang justru menambah beban dihati restiana.
Bantal restiana kini basah karena air mata. Ia bingung harus mengambil langkah apa. Penjelasan ricko tadi membuat dia tak mungkin lagi memaksa cowok itu untuk mencintainya. Ia berharap bisa membuat ricko semakin terbuka padanya. Ya, restiana baru saja memutuskan diri nya akan menjadi tempat curahan hati ricko tentang cinta murni nya pada aninda. Restiana tahu itu akan membuat nya semakin sakit, tapi ia tak ingin jauh dari ricko. Hatinya memang perih, tapi cinta nya pada ricko membuat dia tak sanggup tersisih dari kehidupan cowok itu.
“aku bisa karena aku sanggup” gumam restiana lirih.
Akhir nya masa satu bulan terlewati.
Aninda duduk dibawah pohon dekat lapangan SD-nya. Itu tanggal perpisahan nya dengan umar. Sudah lima tahun ia melakukan hal serupa menunggu dalam harap. Harapan yang hanya membuahkan kehampaan.air mata nya bergulir pelan. Ia takut umar telah melupakannya. Tapi ketakutan terbesa rnya adalah kalau umar telah meninggalkan raganya tanpa sepengetahuan aninda. Hingga kini penantian nya belum juga sirna. Dilubuk hati aninda yang paling dalam masih ada setitik kekuatan dan keyakinan bahwa umar memang merindukan nya. Sama seperti dirinya yang selalu merindukan umar, terlebih pada malam-malam yang sunyi.
Rintik-rintik hujan mulai turun. Ah, musim hujan memang telah tiba. Untung lah kerindangan pohon yang menaungi aninda masih mampu menahan titik-titik air itu membuatnya tetap kering.
Ia menatap langit dengan pasrah. Sebentar lagi sore semakin pekat. Kenapa tadi nggak keingetan bawa payung? Payah banget sih, pikirnya kesal.
Suara dentingan sendok dan piring mendekati aninda. Penjual bakso keliling. Aninda tersenyum sopan pada si penjual bakso yang memang tetangga nya.
“dik anin dari mana?” Tanya penjual bakso itu heran melihat tetangga nya ada ditaman hujan hujan.
“habis main pak, nggak bawa payung. Jadi berteduh dulu” jawab aninda berbohong.
“oh, kalau begitu temenin bapak mangkal aja” canda penjual bakso itu.
Aninda hanya meringis malu. Tetangganya itu memang selalu mangkal dibawah pohon itu. Duh, mencium aroma kuah bakso yang mengepul harum membuat perut aninda merintih minta asupan gizi. Padahal uang serupiah pun ia tak membawa.
selamat membaca dan menikmati novel ini,walapun mungikin masih ada kekuranagan dari cara saya menulis dalam membuat novel ini semoga para pembaca dapat terhibur dengan adanya novel ini,saya sebagai author sangat berterima kasih kepada para pembaca atas aspirasinya agar kedepannya novel ini menjadi lebih menarik lagi dan tentunya membuat para pembaca puas
salam hangat dari author
ardhy ansyah
Fb@ardhy ansyah
__ADS_1
Ig@ardhy_ansyah123