LOLIPOP CINTA DAN DUSTA

LOLIPOP CINTA DAN DUSTA
EP 6


__ADS_3

Beberapa menit kemudian aninda merasakan HP-nyayang disimpan disaku roknya bergetar.


From Princess Yasmin :


Lagi nggak enak badan aja nih. Nggak usah SMS-an mulu perhatiin pelajaran. Ntar siang jenguk aku! Awas kalau nggak!


Aninda tersenyum membaca balasan SMS dari yasmin.


“is there something wrong, miss aninda?” bu purwanti rupanya membaca gelagat aneh aninda.


“no! No!” jawab aninda sekenanya. Kenapa sih aku selalu sial kalau mapel inggris, geramnya dalam hati.


Sementara itu diruang OSIS…


Yovi mulai bosan dengan perdebatan tema pensi yang akan diselenggarakan tiga bulan lagi. Ia memegang kepalanya mencoba berpikir. “menurutku tema buat acara pensi tahun ini hitam-putih aja kan lebih simple”


Beberapa peserta rapat setuju dengan usul yovi tapi ada juga yang kurang setuju.


“menurutku itu terlalu simpel dan kuno” komentar merli dingin.


“bener mer. Aku lebih setuju temanya Hollywood gitu deh” tambah syifa.


Marsya yang duduk disebelah yovi mencatat usul kedua temannya itu. Ia sekretaris OSIS. Marsya melirik yovi yang sedang berpikir lebih keras lagi. Rasa sesal itu kembali menjalari rongga dadanya. Seharusnya aku tak perlu mengatakannya, sesalnya dalam hati.


“kalau tema itu kasihan anak yang kurang mampu. Mereka pasti susah ngedapetin kostumnya” yovi mulai melancarkan alasan mautnya.


Kebanyakkan peserta rapat langsung setuju dengan alasan yovi. Setelah diadakan pengambilan suara akhirnya tema pensi adalah hitam-putih. Hal itu membuat trio cheerleader gusar. Mereka langsung meninggalkan ruang rapat tanpa pamit.


Toilet adalah tempat trio cheerleader sering berkumpul. Cermin besar tersedia disitu. Dengan bercermin mereka puas menatap keanggunan diri mereka.


Marsya mengeluarkan pelembab bibir kemudian mengoleskan dibibir tipisnya perlahan. “udah kita ngikut aja” katanya.


“yovi makin sewenang-wenang sejak putus dari kamu sya” ujar merli masih jengkel.


Syifa menjentikkan jari kearah cermin. “betul mer, sejak putus dari marsya,yovi jadi sedikit kaku”


Marsya diam sambil menatap mata kosongnya dicermin. Wajahnya yang anggun dan cantik berhasil menutupi rasa perih yang terasa dihatinya. Andaikan saja mereka tahu yang sebenarnya, katanya dalam hati.


Makan sendirian dikantin wajah aninda terlihat kesal. Kantin memang lagi sepi. Maklum para pelanggannya sedang pergi menonton pertandingan basket dilapangan.


“kenapa nin? Kelihatannya kok kamu suntuk banget?” Tanya ricko yang tau-tau duduk disamping aninda.

__ADS_1


Aninda gelagapan dengan kedatangan ricko yang tiba-tiba. Cepat-cepat ia mengelap mulutnya yang belepotan kuah. “nggak papa rick. Aku lagi kesel aja sama orang” “oh ya? Siapa nin? Jangan-jangan aku nih?” ledek ricko.


“bukanlah rick. Ngapain juga aku kesel sama kamu” sergah aninda cepat. “pokoknya ada lah. Orangnya nyebelin setengah mati!”


“ati-ati tuh, ntar malah jadi cinta” lagi-lagi ricko meledek aninda.


“apaan sih? Nggak mungkin banget lah! Eh abis latihan karate ya?”


“iya nih. Capek. Eh, kapan-kapan main sama aku yuk?”


Aninda langsung menyembunyikan senyum konyolnya. “main kemana?”


“yah makan bareng gitu. Mau ya?”


Aninda terdiam sambil mengigit bibir bawah. “boleh aja”


Ricko cepat-cepat meminta nomor HP aninda. Dalam hati ia senang bukan main. Aninda tak akan menolaknya lagi kali ini.


Tim cheerleader dan tim basket tampak bergerombol menuju kantin sekolah. Mereka semua kelelahan karena pertandingan tadi. Semua mata langsung tertuju pada aninda dan ricko yang duduk bersebelahan. Merli dan syifa mencibir. Marsya memasang wajah dingin menatap ricko tajam.


Aninda melirik gerombolan itu dengan tak enak hati. Pasti mereka mikir yang nggak-nggak nih, pikirnya cemas.


“hei nin” yovi mendekati meja aninda. “gabung ya sama kalian?”


“anin akrab sama ricko ternyata?” Tanya yovi heran.


Ricko tersenyum kecil. “ya gitulah. Gimana tadi pertandingannya?”


“wah, babak pertama kita kalah telak. Tapi kita menang di babak kedua” celoteh yovi semangat. “oh ya?” Tanya ricko.


Aninda terdiam, tak tahu harus berkomentar apa.


Belum sempat yovi menjelaskan lebih lanjut, tiba-tiba vigo datang dan mengajak yovi makan siang bersama tim basket.


Ricko mengerutkan kening.


Aninda mendengus kesal. Padahal sebenarnya dia ingin menanyakan kenapa yovi tak menjemputnya tadi pagi. Ia merasa makin kesal pada vigo, cowok sengak yang sepertinya akan selalu ia benci.


Ricko menyembunyikan kebencian pada si kembar. Ia tak mau aninda tahu hal yang memang sengaja ditutupinya. Aninda terlihat lemah sekarang dan ia tak mau menyakitinya. Hanya saja tadi tatapan aninda yang penuh harap pada yovi mengakibatkan bara kebencian dalam diri ricko semakin besar.


Sepulang sekolah…

__ADS_1


“nggak latihan basket vig?” Tanya aninda heran ketika mendapati vigo sudah berdiri didepan kelasnya.


Vigo tampak enggan menjawab. “lagi males. Ayo, buruan pulang!” “eh tapi aku mau kerumah yasmin, mau jenguk dia” ucap aninda.


“iya nanti sekalian aku anter. Aku mau jenguk juga”


Teman-temaan sekelas aninda yang baru keluar kelas mecuit-cuiti mereka berdua. Wajah aninda memerah. Restiana yang keluar bareng aninda memahami situasi yang ada. Ia langsung pergi tak mau mengganggu.


“ternyata anin doyan pacaran juga” ledek riska, teman sekelas aninda saat melewati aninda.


Aninda tak berani berkomentar apa-apa, wajahnya seperti kepiting rebus.


Bu purwanti keluar dari kelas dan mengerutkan dahi ketika melihat aninda bersama vigo. “is she your girlfriend?”


“perhaps tomorrow, mam. Now she is just my friend, my junior” vigo menjawab tenang, masih dengan sikap angkuhnya.


“she is a sweet girl” imbuh bu purwanti.


“you are right, mam” ujar vigo tersenyum.


Dalam perjalanan ke parkiran sekolah aninda masih memikirkan pembicaraan vigo dan bu purwanti yang sama sekali tak dimengertinya. Ingin sekali ia menanyakannya pada vigo, tapi pasti cowok itu akan menertawakannya. Lagian pasti mereka ngomongin ketololanku, pikirnya.


Vigo memberikan helm pada aninda kemudian menunggangi motornya.


“pembicaraanku sama bu purwanti nggak usah terlalu dipikirin kalau emang nggak tau artinya” vigo seolah bisa membaca pikiran aninda. Aninda memutar kedua bola matanya. Kesal.


“minggu depan sekolah kita tanding. Kamu wajib nonton aku main” vigo menjalankan motor pelan-pelan.


Aninda yang berada di boncengan menggeurutu. “aku bakal nonton tapi bukan nonton kamu”


Vigo diam tanpa ekspresi dibalik helmnya. Tanpa ba-bi-bu ia menambah gas motornya kuat kuat.


“vigo! Mulai lagi!” teriak aninda panik.


“udah ketemu sama cewek yang difoto itu?” marsya menunjuk foto aninda kecil yang ricko pajang dimeja belajarnya.


Hujan deras mengurungkan niat ricko untuk berlatih karate.


Ia memutuskan absen. Suasana hatinya juga sedang kacau karena melihat aninda berboncengan dengan vigo.


Ricko menatap lekat marsya, kakaknya. “tadi dikantin kami bareng kak. Kakak juga lihat orangnya kan? Yang kita lihat boncengan sama vigo”

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2