
Selama ulangan umum aninda sering bergerak gelisah karena soal matematika yang dihadapinya susahnya minta ampun, membuat otaknya seperti pita kaset rusak. Doa kekasihnya tidak manjur sama sekali. Pengawas ruangan, Bu purwanti sejak tadi melotot penuh curiga ke arahnya.
Dari empat puluh soal, hanya dua puluh yang berhasil dikerjakan aninda. Kepalanya menengadah, berharap bantuan Tuhan. Lima menit telah berlalu, tapi tetap saja aninda tak mampu memecahkan soal lagi. Aninda memutar kepalanya, memandang restiana penuh harap.
“Res!” Bisik aninda lirih berusaha memanggil restiana.
Restiana yang berada dua bangku di belakangnya tak mendengar. Ia masih sibuk dengan soal yang didepannya.
“Res!” Aninda sedikit meninggikan nada suaranya.
Restiana tampak semakin bersemangat membuat coretan dikertasnya.
Beberapa kali aninda berusaha menarik perhatian restiana, seperti menjatuhkan penggaris besi yang menimbulkan suara nyaring, tapi restiana tetap bergeming. Justru dehaman Bu purwanti yang ia dapat.
Dengan hati dongkol aninda berdiri dari kursi. “Restiana, dari tadi aku manggil kamu mau tanya jawaban!” Teriak aninda seperti orang kesurupan.
Teman-teman sekelas melongo tak percaya sambil menatap aninda dengan rasa geli. Restiana memberi kode kepada aninda untuk duduk kembali.
Terlambat sudah.
“Aninda!” Bu purwanti berteriak memanggil namanya.
Sepulang sekolah aninda berjalan gontai menuju kantor guru sesuai permintaan Bu purwanti saat ulangan umum tadi. Suasana kantor guru sepi, para guru berada di ruang panitia ulangan umum. Mata aninda jelalatan mencari sosok Bu purwanti duduk disitu, berhadapan dengan seorang siswa yang berdiri memunggungi aninda. Kemeja cowok jangkung itu lecek dan keluar dari celana, sama kacau dengan rambutnya.
Pasti cowok badung, batin aninda sambil berjalan pelan mendekati meja Bu purwanti. Aninda melirik cowok itu. Vigo!
“Nah, akhirnya kalian berkumpul. Yang satu tukang telat, yang satu lagi ketahuan nyontek” cibir Bu purwanti.
Aninda melirik vigo yang sedang menatap langit-langit, tampak tak peduli.
“Seharusnya ibu melaporkan kalian ke BP, tapi tidak tega” ujar Bu purwanti.
Sepi sesaat.
“Begini saja. Sebagai hukuman, kalian berdua bersihkan toilet di samping masjid sekolah selama tiga hari” begitu keputusan Bu purwanti.
Aninda menghela napas panjang. Lega. Ekspresi vigo tak berubah sedikitpun. Datar. Atau... masa bodoh?
Yovi memutuskan ke ruang basket setelah tahu adik dan pacarnya dihukum Bu purwanti. Tim basket sekolah sudah berkumpul didalam. Satriya juga ada bersama mereka.
“Kita udah tahu pelakunya yov” kata satriya dingin begitu yovi berada didalam.
Yovi menatap satriya dengan pandangan hampa.
__ADS_1
“Kita harus kasih mereka pelajaran!” Sambung rian berapi-api.
Yang lain berteriak lantang menyetujui usul rian.
“Kita harus tahu dulu alasan mereka” kata yovi datar.
Hati satriya mencelos. Ada sesuatu yang yovi tak boleh tahu.
Aninda bergidik memandang keganasan toilet sekolah. Bau busuk yang menyengat mengganggu hidung. Keramik yang aslinya putih kini tampak menjijikan dengan noda-noda cokelat permanen. Aninda menjepit hidung dengan kedua jari. Tangan satunya menenteng ember berisi campuran air sabun.
“Sini embernya! Malah ngelamun!” Bentak vigo kasar. Dia membawa peralatan pel.
Aninda menyipiykan matanya kesal. Dengan enggan ia mendekati vigo. Lalu meletakkan ember didekat cowok itu.
Vigo mulai membersihkan salah satu bilik toilet, aninda membersihkan bilik sebelahnya.
“Hei, makhluk mars, jadi orang jangan sentimen banget napa sih?” Teriak aninda parau.
Vigo tak menjawab, membuat aninda jengkel.
Keduanya bekerja dalam bisu. Yang terdengar hanya suara siraman air dan sikat.
“Vig!”
“Kenapa yovi nggak main basket lagi?”
“Emang penting?”
“Penting tau! Aku kan ceweknya!”
“Menurutku nggak penting!”
Aninda mendengus kesal, kemudian dengan berapi-api mendekati vigo. “Vig aku serius!” Vigo menghela napas jengkel.
Marsya masih sibuk dengan berkas-berkas diruang OSIS, sementara kedua sahabatnya pamit beli jajanan dikantin sekolah. Gelak tawa para pemain basket terdengar jelas ditelinga marsya. Ia memandang keluar jendela, anak-anak basket sedang latihan. Satriya juga ikut bersama mereka dan tentu saja yovi. Rupanya kubu yovi sedang bertanding melawan kubu satriya. Beberapa kali bola ada ditangan yovi, namun selalu saja gagal masuk ke ring.
Hati marsya serasa dicabik luka lama yang berusaha ia kubur. Seharusnya yovi menjadi kapten tim basket sekolahnya, seharusnya yovilah yang menjadi pemain terbaik, bukan vigo. Mata marsya memanas mengingat masa lalunya.
Marsya baru kelas sepuluh dan ia masih sangat lugu. Belum tersentuh salon dan segala macam polesan alat kecantikan. Rambut panjangnya selalu dikucir dua, dan kacamata tebal membingkai matanya yang indah.
Saat itu perpustakaan sekolah sepi seperti biasa. Ia menarik sebuah buku tebal dari rak kecil, lalu mulai membuka-buka isinya. Tiba-tiba dari arah samping seseorang cewek menarik rambutnya.
“Heh! Cewek cupu! Rajin amat kamu!” Teriak senior yang menjambaknya. Dia bersama teman teman satu geng.
__ADS_1
Marsya mengaduh kesakitan. Mereka justru tertawa. Tawa yang malamnya menghantui mimpi marsya.
Salah seorang dari mereka yang berpenampilan tomboi mendorong marsya hingga dia jatuh tersungkur mengenai rak kecil itu. Rak itu berderit karena hantaman tubuh marsya. Semua kembali tertawa melengking.
“Aku peringatin, jangan berani lagi deketin yovi. Dia inceranku!”
Itu kata-kata terakhir dari gerombolan cewek jahat itu. Mereka pergi dengan gelak tawa mengerikan. Marsya yang masih ketakutan menangis. Tubuhnya masih tersungkur gemetaran.
“Sya?” Yovi muncul dari balik rak. Ia kaget mendapati marsya menangis ketakutan.
Marsya dengan segera berdiri, tangannya bertumpu pada rak yang ditabraknya tadi. Rak itu kembali berderit keras dan mulai bergoyang.
“Awas!” Teriak yovi yang sigap mendorong marsya untuk menjauhi tubuhnya dari rak yang akan roboh itu. Marsya terhindar dari tumpahan buku-buku tebal yang jatuh secara berbarengan. Sayangnya justru yovilah yang menjadi korban. Jari-jarinya mengalami cedera permanen karena berusaha menyangga rak.
Sejak itu yovi tak bisa bermain basket lagi. Tangannya tak bisa digunakan dengan sempurna untuk menembak bola, untuk mendribel saja kadang sulit. Kalaupun sesekali ikut bermain, yovi melakukannya sekadar sebagai rekreasi dan bukan mengejar prestasi.
Kejadian itu mengubah marsya secara drastis. Ia bertekad menjadi pribadi yang ditakuti semua siswa disekolahnya. Ia mengubah penampilannya menjadi marsya yang sekarang.
“Apa kamu benar-benar mencintai yovi?” Aninda terkejut mendengar pertanyaan vigo yang diucapkan tanpa tedeng aling-aling itu.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Aninda melirik vigo yang kini memandanganya serius.
Mereka terdiam. Mungkin keduanya merasa sedikit bingung dengan situasi yang tiba-tiba berubah menjadi serius.
“Aku Cuma tanya” kata vigo akhirnya.
“Aku akan selalu berada didekatnya selama dia masih menginginkanku” kata aninda kaku. Dalam hati ia menyesali telah mengatakan hal seperti itu.
“Bukan itu jawaban yang ingin kudengar” vigo kembali menatap aninda tajam.
“Lalu?”
“Oh, susah juga ngobrol dengan si super loading!” Tatapan mata vigo tampak meremehkan aninda.
Aninda mendengus. “Dasar makhluk mars!” Ujarnya sebal. “Apa kamu bilang?” Oh, ternyata vigo peduli.
Aninda menjawab santai. “Emang aku bilang apa barusan?” Vigo menggeram dongkol.
Aninda cekikikan puas.
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123
__ADS_1