LOLIPOP CINTA DAN DUSTA

LOLIPOP CINTA DAN DUSTA
EP 2


__ADS_3

“Ihh, ini juga tuntutan. Disekolah cewek nggak boleh pake celana panjang tau!” “ iya tau. Kamu jadi keliatan cantik lho nin” kata-kata terakhir ricko membuat pipi aninda panas dan memerah.


Aninda tersenyum malu sambil memalingkan wajah konyolnya. “hei, itu bus ke blok M! Duluan ya rick” teriak aninda sambil berlari kearah pintu bus tanpa bersalaman dengan ricko. Ricko hanya menggeleng sambil tersenyum, kemudian tangannya membalas lambaian aninda yang sekarang menjauh bersama bus itu.


Ricko masih saja tersenyum walaupun bus yang membawa aninda telah lenyap dari pandangan. Ia masih ingat betul, dulu aninda selalu membelanya bila ia dikeroyok umar cs. Aninda selalu membantunya mengerjakan PR, aninda berbaik hati menghiburnya, memberi tawa, dan banyak kenangan manis semasa SD. Sekarang, saat bertemu kembali dengan aninda dalam sosok lain entah kenapa ia begitu merindukan saat-saat bersama aninda dulu.


Bus yang membawa aninda melaju cepat mengantar dirinya sampai di halte bus depan perumahan Dharmawangsa. Aninda turun dengan langkah gontai menuju tepi jalan. Bus itu membuatnya mual bukan main. Sopirnya stress kali, nyetir kok ngebut gitu! Geramnya dalam hati. Ia merongoh saku seragam sekolahnya mencermati alamat yang tertera dalan kartu nama Vigo. Penuh semangat ia setengah berlari menuju rumah nomor lima yang ternyata dekat.


Rumah vigo bernuansa Eropa. Pilar-pilar besarnya mengingatkan aninda pada setting film horror yang sering ditontonnya di TV. Dengan hati-hati ia memencet bel disamping pintu gerbang yang megah. Ia memencet bel berulang kali, kemudian mengintip kehalaman rumah yang luas rindang. Honda Jazz terparkir didepan garasi disampingnya ada motor sporty biru yang membuat keyakinan hatinya semakin kuat. Ia masih mengintip ketika seorang wanita setengah baya membuka gerbang. Cepat-cepat ia menegapkan badan sambil merapikan seragamnya.


“non cari siapa?” Tanya wanita setengah baya itu. Rambutnya diikat kebelakang seperti keong. Baju yang dikenakannya sederhana. Diketahuinya kemudian nama wanita itu adalah Mbok Tiyem. “permisi mbok, saya ada perlu sama vigo” jawab aninda sopan. “oh den vigo ada didalam. Mari-mari masuk” mbok tiyem membukakan pagar dan mempersilakan aninda masuk. Aninda masih terbengong-bengong melihat kemegahan rumah vigo. Kolam ikan besar menghiasi bagian depan teras, deretan pohon cemara dan pohon mangga besar membuat halaman asri itu terasa adem.


Mbok tiyem mengantar aninda sampai diruang tamu, kemudian pamit kebelakang untuk memanggil vigo. Aninda meneliti setiap detail ruang tamu hiasan keramik mahal tersusun rapi disudut ruangan, lukisan-lukisan kuno terpasang indah didinding, sofa besar empuk dengan vas bunga indah dan mewah. Ia mengagumi ukira yang menghiasi jendela. Pandangannya terhenti ketika dirinya melihat vigo berjalan kearah gerbang. Aninda bergegas keluar rumah dan mengejar vigo sambil berteriak “hei, tunggu!” vigo terhenti dan berbalik kearah aninda. Dengan napas memburu aninda berdiri tepat didepan vigo. “mau lari kemana kamu?” teriak aninda lagi.

__ADS_1


“lari kemana? Maksudnya?” Tanya vigo heran. “tanggung jawab dulu dong!” emosi aninda meninggi menyadari vigo sedang mempermainkannya. “ tanggung jawab apaan? Jangan sembarang dong” ujar vigo kalem. Ekspresinya datar dan tanpa emosi. “masalah tadi pagi! Sepedaku ancur tau!” “ancur? Aku nggak ngerti deh”


“pura-pura amnesia ya? Tadi pagi kamu naik motor terus nyerempet aku” “kayaknya kamu salah orang deh”


“salah orang gimana? Jelas-jelas kamu yang nyerempet aku tadi pagi!” “ itu bukan aku” “terus siapa?setan?” “itu pasti….” Belum sempat vigo melanjutkan kalimatnya suara tawa meledak dari teras rumah. Aninda berbalik penasaran. Seketika tubuhnya terasa mati rasa. Terlihat sosok vigo di teras sana. Aninda mengerjap kenapa jadi ada dua vigo?!


“mungkin yang kamu maksud vigo, dia saudara kembarku” jelas cowok yang disangka aninda sebagai vigo. “ perkenalkan namaku yovi, kakaknya vigo atau lebih tepatnya kembarannya vigo” tambah yovi kalem.


Aninda cengengesan malu kemudian menyalami yovi “aninda”


“iya, tapi seenggaknya kamu ganti sepedaku dong” ujar aninda masih tenang. “kamukan bisa minta orangtuamu lagi” kata vigo tanpa rasa bersalah. “aku bukan orang kaya seperti kamu vig” aninda mulai emosi. “jangan bawa-bawa masalah gitu lah. Itukan nggak ada hubungannya.” Nada vigo mulai meninggi. “jelas ada dong” volume suara aninda jadi tinggi juga.


Rugi deh aku ngasih kartu nama ke kamu. Ternyata kamu nyebelin banget! Rutuk vigo dalam hati. “udah pulang sana. Kecelakaan itu juga salahmu sendiri nggak bisa hati-hati. Tau sendirilah sepeda butut kayak gitu masih dipake!” teriak vigo emosi.

__ADS_1


Kemarahan aninda sudah mau pecah ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskan pelan lewat mulut. Ia sadar, percuma menghadapi orang seperti vigo dengan menyertakan emosi. Ia mengambil tas yang tadi tertinggal diruang tamu lalu beranjak pergi meninggalkan vigo yang masih sibuk dengan kolam ikannya.


Mbok tiyem yang sejak tadi mencuri dengar pembicaraan mereka hanya bisa mengelus dada sambil menyaksikan kepergian aninda. “dia yang salah kok jadi dia yang marah-marah. Dasar orang kurang waras!” kata aninda ngedumel sendiri saat berjalan menuju halte. “hai! Pulang kemana?” “ya tuhan astaga!” aninda terkejut mendapati mobil yovi kini berada disampingnya.


Yovi tersenyum melihat keluguan aninda. “kuanterin yuk” “wah, rumahku jauh” jelas aninda kikuk. “ayolah” bujuk yovi.


Akhirnya aninda mau juga diantar pulang yovi setelah acara jual mahalnya tadi. Lagian susah dapet bus kalau udah sore begini. Lumayanlah. Kata aninda dalam hati.


“gimana tadi sama vigo?” Tanya yovi membuka pembicaraan. “ya gitu deh, dia sedikit nggak waras kali ya. Masa dia yang salah malah dia yang marah-marah” celoteh aninda. “dia emang gitu orangnya. Cuekin ajalah. Emang beneran sepeda kamu ancur?” Tanya yovi kalem.“bukan ancur lagi, lenyap ditelan got. Bingung deh besok sekolah mau gimana, belum lagi ntar ortu pasti marah-marah” keluh aninda lemas.


Sampai didepan rumah aninda, orangtuanya terbengong-bengong melihat putri mereka diantar mobil mewah. Dengan sopan yovi ikut turun dari mobil dan menemui orang tua aninda. Aninda terpaku melihat yovi dengan sabar menjelaskan permasalahnnya. Ia sedikit kagum dengan sikap yovi yang sangat bertanggung jawab. Ia tersenyum kecil melihat yovi yang langsung bisa akrab dengan kedua orangtuanya. “anak ayah ternyata jago juga milih pacar” ledek ayah aninda setelah yovi meninggalkan rumah mereka. “itu temen aninda yah” sangkal aninda ketus. “lebih dari teman juga nggak apa-apa” ibu aninda tak mau kalah.


Aninda menghela napas kuat-kuat.” Udahlah yah, bu, mending sekarang kita mikir anin berangkat sekolah pake apa besok?” kedua orang tua aninda bertatapan, kemudian mereka tersenyum penuh arti. Aninda mengernyit melihat sikap aneh orangtuanya dan memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2