LOLIPOP CINTA DAN DUSTA

LOLIPOP CINTA DAN DUSTA
EP 16


__ADS_3

Masih menggerutu, aninda masuk kekamar. Ia merogoh tas vigo yang terletak dimeja belajar, mencari sesuatu yang menimbulkan bunyi nyaring. Saat aninda berhasil menemukan hp vigo, bunyi itu berhenti. Ternyata kontak dengan nama “Mother” berusaha menghubungi vigo. Aninda mengeceknya, ada dua sms yang berasal dari kontak itu.


Pasti ini ibu vigo, batin aninda yakin.


Aninda melirik sekilas kearah vigo yang masih pulas. Awal-awal ia ragu membuka sms tersebut. Tapi karena takut itu pesan penting, ia nekat membukanya.


From : Mother


Nak, kamu dimana? Papa sama mama baru pulang kok dicuekin. Kapan kamu mau maafin mama?


From : Mother


Kok nggak diangkat sih? Papa nanyain kamu.


Sms baru masuk. Dari yovi


From : My Brotha


Vig! Mampir kemana kamu? Dicariin bonyok tuh.


Aninda memutuskan untuk membalas pesan yovi.


To : My Brotha


Ini aninda, vigo lagi tidur dirumahku tuh. Takut bangunin ntar ngamuk!


Tak lama kemudian balasan dari yovi masuk


From : My Brotha


Oh ya? Udah, biarin aja. Yang penting jelas lagi dimana. Bilangin, jangan pulang kemaleman.


Kali ini aninda tak membalasnya. Ia meletakkan hp vigo ditempatnya semula. Rasa tertarik aninda untuk terus memandangi vigo muncul. Pelan-pelan ia mendekati vigo yang masih pulas. Wajah vigo semakin tampan saat ia tertidur, tak ada keangkuhan yang tersirat. Aninda tersenyum sambil terus memandangi vigo. Inget nin, dia cowok jahat! Penyangkalan aninda kembali lagi.


Vigo terbangun tepat pukul tujuh malam. Ia langsung bergegas kekamar mandi dengan diantar aninda.


“Dasar kebo! Tukang tidur!” Ejek aninda.


Vigo menciprati aninda dengan air yang ada ditangannya.


“Diem cewek bawel!”


Aninda mendengus kesal, memeletkan lidahnya sembunyi-sembunyi dibelakang vigo.


Karena menu spesial buatan ibu aninda sudah tersaji rapi dimeja makan, mau tak mau vigo harus makan bersama keluarga aninda. Aninda mengernyit saat melihat vigo makan dengan lahap. Padahal menu spesial keluarganya hanya ikan asin goreng, kangkung oseng, tempe goreng, dan sambal terasi. Hati kecilnya senang melihat vigo menyuap makanan dengan begitu bersemangat.

__ADS_1


Karena sudah malam, sekalipun baru selesai bersantap, vigo langsung pamit.


“Vig, tadi ada sms dari ibumu. Terus dari yovi juga”


Aninda melapor saat vigo hendak meninggalkan rumahnya.


Vigo memandang aninda dengan penuh curiga, kemudian membuka hpnya.


“Kamu baca sms dari ibuku?” Tanya vigo kesal.


Aninda mengangguk ragu-ragu.


“Sembarangan! Kenapa kamu kasih tahu yovi aku dirumahmu?” Nada suara vigo meninggi.


“Aku nggak tahu...”


Belum sempat aninda menjelaskan, vigo sudah pergi meninggalkannya. Tergesa dia menghidupkan mesin motornya, kemudian hilang dari pandangan aninda.


Aninda sadar dirinya baru saja melakukan kekeliruan besar. Dan itu membuatnya gelisah.


Kegelisahan aninda tak kunjung mereda, terlebih bila mengingat kembali ekspresi vigo saat meninggalkannya tadi. Belum pernah vigo semarah begitu. Aninda berusaha mencerna kembali perbuatannya. Apakah salah dirinya memberitahu yovi yang sebenernya, bahwa vigo ada dirumahnya? Soal membaca sms dari ibunya, kan dia mau menjelaskan bahwa dia melakukannya karena khawatir ada hal penting, tapi vigo terlanjur meninggalkannya.


Harusnya vigo berterima kasih karena aku ngasih kabar ke keluarganya, gerutu aninda saat sendirian dikamar. Bisa saja keluarganya panik karena anggota mereka kurang satu, terus lapor polisi, terus keluargaku dituduh nyulik dia, kan repot! Aninda mulai mengada-ada, sekedar untuk meredakan kegelisahan hatinya.


Walaupun begitu, hati aninda tak bisa dibohongi. Rasa gelisah masih berkeliaran dihatinya. Ia kebingungan harus berbuat apa untuk menghilangkan rasa gundah itu.


Pagi yang mendung untuk hati aninda yang tak kalah mendungnya. Saat pelajaran aninda lebih banyak berdiam diri, tak seperti biasanya. Sampai-sampai Bu Purwanti curiga dengan kebisuannya. Riska menduga sejak pagi aninda berusaha menahan BAB alias Buang Air Besar. Teman lain mengatakan ada bisul besar dilidah aninda hingga dia diam seperti itu.


Aninda memutuskan pergi ke perpustakaan sekolah, dari pada harus sakit hati mendengar ledekan teman-temannya yang makin tak karuan. Rupanya restiana juga berada diperpustakaan.


“Kenapa suntuk gitu nin?” Tanya restiana mendekati aninda.


“Lagi males banget rasanya” jawab aninda sekenanya.


“Kamu nggak pandai berbohong” tembak restiana setengah menyindir.


Aninda memutar kedua matanya. “Sebenarnya...”


Restiana mendengarkan curhatan aninda dengan antusias. Sesekali ia mengangguk, sesekali menggeleng.


“Mending minta maaf aja nin” saran restiana setelah aninda menyelesaikan ceritanya.


“Siapa juga yang tahu dia bakal semarah itu karena masalah sepele gitu res?”


“Kita kan nggak tahu, itu masalah sepele apa bukan buat dia. Bisa saja ada alasan lain yang bikin dia marah”

__ADS_1


“Bener juga ya res” rupanya logika aninda sudah kembali ketempatnya.


Aninda celingukan kesana kemari, menjelajahi seluruh isi sekolah. Hasilnya nihil. Ia tak berhasil menemukan vigo. Aninda pasrah setelah kakinya pegal saking jauhnya berjalan menyusuri semua koridor sekolahnya. Ya Tuhan, aku kan belum mencari ke ruang basket! Batin aninda heran begitu menyadari ada yang terlupa.


Entah dapat semangat dari mana, tergopoh-gopoh aninda berbalik dan melangkah ke ruang basket yang lumayan jauh.


“Nyari siapa nin?” Ricko mengagetkan aninda.


Aninda memegangi dadanya karena kaget. “Eh, hai rick. Lagi pengen jalan-jalan aja”


“Jalan-jalan kok mondar mandir didepan ruang basket” ricko tertawa geli.


“Eh, iya ya?” Lagi-lagi aninda memperlihatkan ketololannya.


Tiba-tiba ricko mengubah ekspresi wajahnya. “Nin, boleh nggak aku ngomong sesuatu sama kamu?”


Aninda tertawa. “Muka kamu kok serius begitu!”


“Aku emang serius nin!”


Aninda berhenti tertawa, ricko beneran serius rupanya.


“Udah lama aku pengen ngomong sama kamu nin, tapi rasanya nggak ketemu waktu yang tepat” ricko menarik napasnya kuat-kuat.


“Jangan bikin aku ketakutan dong rick” aninda sedikit bingung dengan situasi yang dihadapinya saat itu.


“Aku suka kamu nin, sayang kamu” kata-kata itu keluar dari mulut ricko dengan begitu cepat.


Kontan aninda tertawa. “Rick, jangan becanda gitu ah! Nggak lucu tau!” Ricko menarik tangan aninda, menggenggamnya erat-erat.


“Nggak tahu kenapa pas ketemu kamu tadi aku langsung pengen ngungkapin perasaanku yang udah lama aku rasain”


Aninda melongo, benar-benar bingung.


“Nin, aku tau ini nggak romantis, nggak tepat waktunya. Tapi mau nggak kamu jadi cewekku?”


Aninda menggeleng pelan. “Kamu pasti lagi ngerjain aku. Iya kan rick?”


“Nin! Tatap mata aku! Aku serius nin! Aku cinta kamu! Cinta kamu dari SD! Aku nunggu kamu nin!” Ricko berbicara lantang.


Aninda gugup bukan main. Jantungnya berdegup kencang. Entah apa yang ia rasakan sekarang. Takut, kaget, semua bercampur dalam hatinya.


“Nin, aku nggak mau kamu jadi milik orang lain. Kamu mau kan jadi cewekku? Kamu juga suka sama aku kan?” Ricko mulai gugup sendiri.


“Nggak rick. Nggak begitu. Aku, aku udah nganggep kamu seperti adikku sendiri” jawab aninda gelagapan.

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2