LOLIPOP CINTA DAN DUSTA

LOLIPOP CINTA DAN DUSTA
EP 15


__ADS_3

November datang membawa guyuran hujan yang lebat. Marsya mengusap jendela kelasnya yang berembun, menatap lapangan SMA yang sepi, tak ada lagi murid-murid yang beraktivitas disana. Pelajaran olahraga dipindahkan ke aula bila cuaca tak mendukung seperti hari itu. Kekecewaan menyeruak dari benaknya, biasanya ia bisa melihat yovi berolahraga. Hujan tolong berhenti, pintanya dalam hati.


“Hampir ujian semester, tapi semua mapel rasanya bablas dari kepala!” keluh aninda sepulang sekolah.


Restiana yang berjalan disampingnya tersenyum geli mendengarnya. “Yah belajar dong nin” “Iya, belajar sih belajar. Tapi tetep aja yang dipelajari mental semua.” Gerutu aninda.


“Belajar sama yovi dong. Dia ikut Lomba Cerdas Cermat kan?”


“Iya res, tapi aku nggak enak. Masih ngegantung dia nggak jelas.”


“Ya Tuhan! Kamu masih belum jawab juga nin?”


“Udah res, aku udah nolak. Tapi tetep dia mau nunggu aku”


Restiana mengerutkan dahi. “Berarti dia serius dong nin”


“Nggak tahu lah res”


Dahi restiana kembali berkerut, tampak seperti usus dua belas jari. “Maksudmu?”


“Dia juga mikirin marsya, dia cerita gitu sama aku”


Restiana memilih tak berkomentar. Marsya sudah banyak bercerita pada dirinya, termasuk hal yang aninda tak tahu. Yang memutuskan hubungan dengan yovi adalah marsya, itupun keputusan sepihak. Dan menurut pengamatan restiana, sepertinya yovi memang masih memiliki rasa untuk marsya, walaupun mungkin hanya setitik.


Marsya lebih banyak berdiam diri saat rapat OSIS berlangsung. Ia sesekali melirik yovi yang duduk disampingnya. Merli dan syifa risih melihat sikap sahabatnya itu.


“Sya, jangan ngeliatin dia terus” bisik merli ditelinga marsya.


Marsya tersenyum ke arah merli. “Mumpung masih bisa ngeliat dia mer”


Merli dan syifa memutar bola mata, pasrah dengan sikap sahabatnya yang mulai aneh.


“Yov?” panggil marsya begitu rapat usai.


“Ada apa sya?” tanya yovi tenang.


Marsya sengaja menunggu semua anak keluar, hanya tinggal mereka berdua diruang OSIS.


“Aku pengen kita balik yov. Aku tahu aku egois, tapi aku emang masih sayang sama kamu yov” akhirnya marsya bisa mengeluarkan unek-uneknya selama ini.


“Terlambat sya, aku udah terlanjur kecewa sama kamu” ungkap yovi.


“Aku tahu yov. Aku Cuma pengen kamu tahu rasaku buat kamu masih seperti yang dulu. Aku sayang kamu” ujar marsya lirih.


Yovi terdiam. Sesaat kemudian ia meninggalkan marsya sendirian.

__ADS_1


Aku nyesel udah nyampakin kamu, gumam marsya dalam hati sambil menatap punggung yovi. Kristal-kristal kecil berguliran jatuh dari matanya.


If I could wish upon a star


Then I would hold you in my arms


And I know we could love once again


If I could turn the hands of time


The you would love me, still be mine


Baby, I would be right where are you


If I could wish upon a star


(Samantha Mumba – Wish Upon A Star)


“Nin, kamu pulang sama vigo ya. Ada seleksi OSIS soalnya” yovi menghampiri aninda yang masih bersama restiana dikoridor kelas. “Aku udah bilangin vigo, dia masih diruang basket”


Aninda mengiyakan, kemudian bergegas menuju ruang basket. Restiana sudah dijemput sopir.


Hujan masih awet, membuat sebagian murid lebih memilih nongkrong disekolah daripada menerjang hujan. Sebentar lagi ujian semester ganjil, jadi bisa dipastikan semua anak menjaga tubuh mereka tetap fit.


Ruang basket bersebelahan dengan ruang karate yang berada dipojok. Terdengar gelak tawa dari ruang basket. Dengan hati-hati aninda mengetuk pintu, suara tawa langsung terhenti.


“Vigo” jawab aninda dengan mimik yang sengaja dibuat seanggun mungkin. Padahal itu justru membuatnya terlihat seperti cewek konyol.


Si cowok jangkung mempersilakan aninda masuk setelah mendapat anggukan dari sang kapten, vigo.


Ruangan itu seperti ruang yang lain. Ada kursi empuk yang memanjang pada salah satu sisi, yang kini diduduki anggota tim. Lemari piala berada dipojok, kotak penyimpanan bola berada persis disampingnya. Loker berukuran besar berhadapan dengan kursi panjang.


Aninda risi karena ia satu-satunya cewek didalam ruangan itu. Vigo memberi tanda agar aninda duduk disampingnya, jauh dari jangkauan teman setimnya. Sekarang aninda merasa terlindungi.


“Pulangnya nunggu ujan reda” kata vigo angkuh.


“Iya!” Ujar aninda ketus.


“Nin, milih yovi atau vigo?” Ledek rian.


Semua tertawa.


“Nggak milih dua-duanya” jawab aninda sekenanya.


Tawa anak-anak basket makin melebar.

__ADS_1


Vigo hanya tersenyum sinis.


Hari itu aninda mendapatkan banyak teman baru, yaitu anak-anak basket. Ternyata mereka tak seangkuh seperti terlihat di lapangan. Semua bersikap ramah padanya. Apa mungkin karena ia teman kapten mereka? Kebanyakan anggota tim inti berasal dari kelas sebelas, selebihnya kelas dua belas yang sebenarnya sudah harus berhenti bermain mengingat ujian nasional semakin dekat.


Akhirnya aninda tahu si jangkung yang membukakan pintu untuknya bernama rian. Yang paling kecil rifki, paling jago bikin lelucon yang mengocok perut aninda. Dan masih banyak lagi yang aninda kenal dan langsung lupa namanya saking kecilnya volume otaknya.


“Kamu temen deket yasmin kan nin? Gimana kabar yasmin dan satriya?” Tanya rifki.


“Iya, aku terakhir kesana dua bulan lalu. Tapi masih sms-an terus. Kabarnya baik, juniornya juga baik katanya” jawab aninda pelan.


“Kapan-kapan kita jenguk mereka yuk!” Usul rifki, yang langsung disetujui semua anggota tim.


Vigo lebih banyak diam ketimbang ikut ngobrol dengan teman-temannya. Ia lebih memilih mendengarkan lagu lewat MP3. Tak peduli dengan aninda yang sejak tadi meliriknya kesal.


Hujan telah mereda menjadi gerimis kecil. Satu persatu anggota tim meninggalkan ruang basket. Sampai akhirnya tinggal aninda dan vigo yang tersisa.


“Yuk pulang!” Ajak vigo sambil menepuk pelan bahu aninda.


Aninda langsung bangkit dan melangkah menjejeri vigo. Dia tak berani membuka percakapan. Suasana hati vigo terlihat sedang tidak baik hari itu.


“Aku males pulang” kata vigo saat perjalanan pulang. “Aku main ke tempatmu dulu ya?” Tambahnya dengan nada sedikit memaksa.


Aninda tak berani menolaknya. “Ya boleh”


Orangtua aninda senang bukan main saat tahu vigo berkunjung kerumah mereka.


“Nak ganteng, tumben mau mampir” ledek ibu aninda super ramah.


Aninda merasa gerah dan memutuskan untuk mandi, meninggalkan vigo bersama kedua orangtuanya.


Diluar hujan lebat turun kembali disertai guruh yang menggelegar. Aninda yang baru saja mandi masuk kekamarnya. Hatinya mencelus saat mengetahui vigo sudah terkapar pulas dikasurnya.


“Ya ampun!” Seru aninda kaget.


Ibu aninda menghampiri putrinya sambil memberi isyarat dengan jari telunjuk dibibir. “Katanya dia ngantuk nin. Kamu pindah kekamar ibu aja sana”


Setelah ganti baju, aninda mengomel kesal. “Apa-apa mesti vigo yang dibela! Anak sendiri nggak pernah dibelain!”


“Jangan gitu nin, dia tamu kita. Ada pepatah yang mengatakan, tamu adalah raja” ayah aninda memulai khotbahnya.


“Iya yah, tapi masa keterlaluan gitu, diizinin tidur dikamar aninda” protes aninda masih menggunakan nada sopan.


“Ya sekali-sekali nggak apa-apa kan? Lagian...” Ayah aninda tak menyelesaikan kalimatnya karena terdengar seruan ibu aninda.


“Hp vigo bunyi nin!” Seru ibu aninda dari dapur. Ia sedang memasak makan malam.

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2