
Ricko terdiam. Sorot matanya semakin tajam. “Kamu masih nunggu umar nin?” Air mata aninda hampir tumpah mendengar pertanyaan ricko.
“Sia-sia kamu ngarepin dia nin. Kamu sendiri nggak tahu sekarang dia dimana kan? Iya kan? Aku nggak bakal berhenti ngejar kamu sampai terbukti bahwa umar emang bener-bener masih ada buatmu”
Restiana memejam perlahan. Setetes air mata bergulir lembut. Gerimis membuat dinginnya malam jadi terasa ke tulang. Suasana hatinya ikut dingin, mungkin hampir beku. Kerapuhan jiwanya makin terlihat karena kelelahan yang mulai menerpa. Jalan cintanya begitu terjal. Juga seakan buntu.
Tiga hari aninda berpikir keras sebenarnya ini bukan sifat aslinya. Ia memikirkan benang benang cintanya yang kian berserabut. Kalau ia tetap pada pendiriannya menanti sesuatu yang tak pasti akan semakin banyak orang yang terluka. Ia harus berbuat sesuatu keputusan tegas yang akan menyelesaikan semua masalah ini.
Hingga hari sabtu aninda masih tetap membisu. Wajahnya sayu, lemah, lesu, lunglai. Orang yang melihatnya akan mengira aninda TKW indonesia yang baru disiksa majikan. Keceriaan yang selama ini melekat pada dirinya pergi entah kemana.
Bisik-bisik teman sekelasnya makin tak masuk akal. Mereka meledek ia terkena pelet dukun yang tidak suka dengan kecerewetannya. Ada juga yang berpendapat aninda mengidap virus aneh sehingga murung setiap hari.
Bu purwanti menduga muridnya yang satu ini sedang terkena sindrom ujian listening bahasa inggris yang akan diadakan minggu depan.
“Ada anak baru disekolah kita nin” lapor restiana saat mereka selesai berganti baju olahraga.
Sebenarnya aninda tidak tertarik. “Pindah kapan?”
“Ternyata udah dari senin lalu. Saking kupernya, kita sampai nggak denger beritanya”
Aninda tersenyum kecil, tak menanggapinya lagi. Ia sibuk melipat baju olahraganya agar muat ditas. Saat aninda membuka tas punggung, secarik amplop merah jatuh kelantai. Aninda melirik restiana, takut dia lihat. Ternyata restiana juga sibuk dengan baju olahraganya. Cepat-cepat aninda menyembunyikan amplop itu di saku rok.
Seperti biasa, saat istirahat aninda pergi ke tempat pertapaannya, perpustakaan. Kebetulan restiana belum selesai menyalin PR trigonometri dikelas, jadi aninda punya kesempatan membuka dan membaca isi amplop itu diperpustakaan.
Aku tunggu dibawah pohon sore ini
Umar
__ADS_1
Tangan aninda bergetar hebat setelah mengetahui isi surat itu. Badannya panas dingin, gemuruh dihatinya datang. Umar telah kembali! Umar sedang menantinya! Aninda sebetulnya heran, siapa yang memasukkan amplop itu kedalam tasnya, dan dari mana umar tahu alamat sekolahnya. Tapi aninda juga senang, berarti penantiannya selama ini tak sia-sia. Berarti masalah terbesar dalam hidupnya akan selesai hari ini. Takdir mulai berjalan sempurna, batin aninda senang.
Rasa gelisahnya mulai muncul saat memikirkan pertemuan nanti. Hati aninda meraba. Bagaimana kalau umar telah berubah, bagaimana kalau ternyata dia sudah menikah, atau malah umar menemuinya untuk sekadar mengucapkan salam perpisahan?
Aninda menggeleng kuat-kuat. Umar pasti menepati janji!
“Nin, surat dari siapa?” Suara ricko. Rupanya sedari tadi dia mengamati aninda dari belakang.
Cepat-cepat aninda menyembunyikan surat itu dari ricko.
“Umar udah kembali rick. Kamu jangan ngarepin aku lagi”
Wajah ricko terlihat datar. “Belum tentu dia kembali kepelukanmu nin” Aninda melongo. Terdiam tak bisa menjawab.
“Dia nggak bakal kembali untukmu nin!”
“Nin, coba lihat cowok yang lagi berdiri didepan kelas X-9”
Restiana membuyarkan lamunan indah aninda. Dengan enggan aninda menoleh ke arah yang ditunjuk restiana.
“Dia anak baru itu nin. Katanya sih namanya umar. Cakep ya!”
Jantung aninda mau copot mendengar nama umar disebut. Aninda menoleh kembali ke arah cowok itu. Pandangan aninda dan umar bertemu. Jantung aninda langsung berdegup lebih kencang.
Ah, masa dia umar yang selama ini dinantinya? Kalau bukan, bagaimana bisa ada amplop merah ditasnya? Sudah pasti dialah umar! Umarnya. Umarnya telah kembali!
Agar restiana tidak curiga, aninda menahan emosi dan berusaha bersikap biasa. Sekali lagi ia melihat ke arah cowok itu. Nanti juga bakal ketemuan, hati aninda terkikik senang.
__ADS_1
Hati ricko gundah. Umar akan menemui aninda nanti sore. Ia benar-benar tak mau hal itu terjadi. Ia tak mau kehilangan aninda untuk kedua kalinya dan untuk alasan yang sama. Hatinya bertanya, kenapa umar baru menemui aninda sekarang? Kenapa tidak sejak dulu saja? Dendam yang membakarnya kini berkobar lagi. Dendam yang selama ini ia sembunyikan dari umar.
Sore itu gerimis turun menemani langkah aninda menuju pohon perjanjian. Ayunan kakinya seperti mengikuti alunan musik ceria yang mewarnai hatinya. Ibunya sempat heran melihat putrinya tersenyum-senyum sendiri dikamar, didapur, diteras, bahkan mungkin dikamar mandi. Bagaimana aninda tidak semringah? Ia akan bertemu orang yang paling ia rindukan.
Aninda duduk dibawah pohon sambil sesekali merapikan penampilannya. Ia tak sabar menunggu kemunculan umar. Seharusnya umar sudah menunggunya. Mungkin dia mau kasih kejutan, pikir aninda menenangkan diri.
Hati aninda menjadi gelisah. Sudah satu jam ia beridiri, duduk, berjalan mondar-mandir, melamun, menengok kiri-kanan disekitar pohon. Tak ada yang datang. Aninda menggigiti kukunya, mencoba meredakan rasa tak sabarnya.
Seharusnya umar sudah datang, seharusnya umar sudah ada didepan aninda. Rasa penasaran berubah menjadi kekecewaan. Penantiannya tak terjawab. Umar lupa, atau... mungkin umar tak ingin bertemu dirinya lagi? Air mata aninda merebak.
Hari menjelang petang. Cahaya matahari hampir tak bersisa. Aninda merogoh tas kecil yang dibawanya, mengambil hp bututnya. Dengan tangan gemetaran aninda menghubungi orang yang sangat ia butuhkan sekarang. Ia takan kembali pada keputusan awal.
Sambil menunggu orang yang dihubunginya tadi, aninda berjalan kedepan gerbang Sdnya. Mungkin ini menjadi kali terakhirnya melihat gerbang Sdnya karena ditempat itu SD kini dibangun gedung pencakar langit. Menurut gambar dipapan besar yang terpancang didekat pagar seng, dilokasi itu akan didirikan hotel berbintang. Bekas Sdnya pindah ke perumahan didekat situ.
Hati aninda benar-benar remuk, semua berakhir sia-sia. Tak ada lagi kenangan yang tersisa untuknya. Memang sudah waktunya ia melepaskan masa lalu yang hanya menorehkan luka.
“Nin?” Rupanya yovi telah sampai. Ia cemas melihat aninda yang dibanjiri air mata.
Aninda tak kuasa menahan kepedihannya. Dengan segera ia memeluk yovi, tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun. Hanya isak tangis yang terdengar.
selamat membaca dan menikmati novel ini,walapun mungikin masih ada kekuranagan dari cara saya menulis dalam membuat novel ini semoga para pembaca dapat terhibur dengan adanya novel ini,saya sebagai author sangat berterima kasih kepada para pembaca atas aspirasinya agar kedepannya novel ini menjadi lebih menarik lagi dan tentunya membuat para pembaca puas
salam hangat dari author
ardhy ansyah
Fb@ardhy ansyah
__ADS_1
Ig@ardhy_ansyah123