
“aninda kok belum datang juga?” Tanya yasmin cemas pada restiana dan ricko. Mereka bertiga meilih duduk ditribun paling depan. Alasannya agar bisa melihat pertandingan dengan jelas.
“paling lagi dijalan. Yovi-vigo juga belum nongol” restiana berusaha menenangkan yasmin yang sejak tadi gelisah.
“tuh dia” kata ricko sambil menunjuk aninda yang berlari ke arah mereka.
“maaf telat, tadi mesti berantem dulu sama vigo diruang pemain” jelas aninda dengan napas memburu. Ia memilih duduk diantara ricko dan yasmin. Disebelah kiri ricko ada restiana.
“kenapa lagi?” Tanya restiana pelan.
“biasalah masalah nggak penting. Nggak tahu mau dia sebenarnya apa!” ujar aninda sewot.
“udah, udah. Mau mulai nih!” yasmin menyikut aninda.
Penonton hening ketika wasit memasuki lapangan. Lalu kembali riuh ketika kedua tim memasuki lapangan.
“akhirnya pertandingan final yang kita tunggu-tunggu…” suara komentator membahana melalui speaker disudut-sudut lapangan. “SMA Harapan Jaya melawan SMA Nusantara!” Tepukan riuh para penonton semakin keras.
Ditribun seberang siswa-siswa SMA Nusantara mulai menyanyikan yel-yel penuh semangat.
“ayo satriya!” yasmin berteriak kencang membuat gendang telinga aninda berdenging.
Siswa kelas sebelas SMA Harapan Jaya kompak meneriakkan yel-yel pendukung sekolah mereka.
Tubuh aninda merinding menyaksikan begitu hebatnya kejuaraan basket ini.
“sori telat. Aku mesti beresin tugas dibawah dulu” tiba-tiba yovi muncul dan langsung mengambil tempat disamping aninda.
Yasmin bergeser sedikit namun tidak terlalu peduli dengan kehadian yovi. Tangannya mengepal kuat saat melihat satriya menembak bola namun gagal.
“yasmin emang suka gugup gitu” ujar aninda tersenyum pada yovi.
“mirip kamu dong!” ledek yovi.
Aninda tidak terima dirinya dikatakan sama gugupnya seperti yasmin. “ih… apaan!”
Ricko memandang kearah yovi dengan tatapan dingin, gelora panas dalam batinnya kini datang lagi.kakak-adik sama aja, pikir rikco gusar. Sedari awal ricko memang tak menikmati pertandingan karena restiana kentara sekali mendekatinya. Gadis itu selalu berusaha membuka obrolan dengan ricko, memuji-muji ricko, membuat ricko merasa tidak nyaman. Ia tidak menyukai restiana, hatinya sudah tertambat pada aninda.
__ADS_1
Marsya berusaha menstabilkan napasnya yang ngos-ngosan sesuai tampil sebagai cheerleader. Ia memandang sekilas ke yovi yang sejak tadi tertawa ceria bersama aninda. Tangannya mengepal erat, napasnya memburu. Marsya tak menyadari dirinya sedang cemburu. Yang ia tahu, ia tak ingin yovi dekat dengan cewek kampungan seperti aninda. Menurutnya, aninda tak pantas mejadi pendamping yovi. Sebenarnya ia juga menginginkan ricko berhenti mencintai gadis itu, tapi itu justru membuat ricko gusar padanya.
Baginya, aninda hanyalah gadis kampong yang aneh. Tak ada yang spesial dalam diri aninda. Gadis dengan kulit sawo matang, rambut yang tak pernah tersentuh salon, wajah tanpa make-up. Benar-benar bertolak belakang dengan dirinya. Entah apa yang dilihat cowok-cowok itu, batin marsya geram.
“nin aku ke toilet sebentar ya?” pamit yasmin sambil bergegas meninggalkan bangku penonton. Kekalahan tim SMA Harapan Jaya pada babak pertama membuat yasmin pucat seperti bulan kesiangan. Tingkat senewen yasmin makin menjadi-jadi sehingga ia harus ke toilet.
Aninda tampak gelisah. Sudah memasuki kuarter keempat, tapi yasmin tak juga kembali. Aninda bergerak panik menoleh ke belakang, berharap yasmin segera tiba.
Pikiran aninda meraba-raba.
Satu menit, yasmin bercermin sebentar.
Dua menit, yasmin keluar dari toilet.
Tiga menit, yasmin melangkah menuju tribun. Pasti jalan menuju tribun penuh sesak sehingga langkahnya terhambat.
Sepuluh menit…
Aninda menoleh kaget seketika seseorang mengguncang pundaknya. Ternyata riska, teman sekelasnya yang tampak panik.
“yasmin pingsan di toilet.” Tubuh riska bergetar hebat ketika mengatakannya.
Dada aninda naik turun sewaktu mendapati yasmin yang terbaring tanpa daya diruang pemain. Tim medis baru selesai memeriksa yasmin. Kepanikan merayap aninda. Kata riska, tadi yasmin ditemukan tergeletak disalah satu bilik toilet dengan mulut penuh busa. Untunglah riska ke toilet bersama teman-teman sehingga mereka bisa berbagi tugas dengan cepat.
Setelah menggotong dan memindahkan yasmin keruang pemain, riska buru-buru mencari aninda.
Yovi yang tadi ikut berlari dibelakang aninda berusaha menenangkan semua orang. “tenanglah. Ambulans yang memang disiagakan untuk pertandingan besar ini siap membawa yasmin kerumah sakit.”
Selama perjalanan kerumah sakit, didalam ambulans aninda terus-menerus terisak. Ia masih kaget. Restiana menyandarkan kepala aninda dibahunya.
Mobil Jazz yovi mengiringi persis dibelakang ambulans. Karena tak ingin konsentrasi satriya yang masih bertanding menjadi kacau dengan berita yasmin, mereka menunda memberitahunya. Tapi sebelum berangkat, yovi sempat menitipkan pesan untuk satriya lewat pelatihnya.
“udah nin, yasmin pasti baik-baik aja” hibur restiana lembut.
Bersama yovi dan ricko, mereka duduk dengan gelisah dikoridor rumah sakit.
“nggak res, yasmin belum pernah begini!” kata aninda tetap panik.
__ADS_1
Yovi dan ricko hanya diam. Semua menunggu dokter yang sedang memeriksa yasmin.
Sebenarnya ingin sekali ricko memeluk aninda, mengusap pipinya yang dipenuhi bulir air.tapi ia tak kuasa, ada begitu banyak mata yang tak menginginkan ia berlaku begitu.
Akhirnya dokter yang memeriksa yasmin keluar juga. Aninda langsung berdiri dan setengah berlari menghampiri dokter. “gimana keadaan yasmin dok? Dia kenapa?”
“mmm… kamu keluarganya?” Tanya dokter itu tenang.
“kami temannya dok”
Yovi, restiana, dan ricko sudah bergabung dengan aninda.
“keluarga sedang dalam perjalanan” imbuh yovi tenang.
“yasmin hamil.” Jelas dokter itu sambil menatap para remaja dihadapannya. “kalian sudah tahu hal ini sebelumnya kan?”
Mereka berempat menggeleng bersamaan.
Dokter itu mengelap kening perlahan. “saya harus berbicara serius dengan orangtuanya. Yasmin mencoba mengugurkan kandungannya dengan pil yang dia telan tadi. Saya tinggal dulu ya. Kalau orangtuanya datang, segera hubungi suster jaga.
Lagi-lagi mereka berempat mengangguk. Kali ini dengan tatap hampa. Masing-masing sulit memercayai kabar yang baru mereka dengar. Apalagi aninda dan yasmin berteman sejak kecil.
Aninda melangkah gontai menuju kamar yasmin. Dengan bahasa tubuh yovi menyuruh ricko dan restiana untuk tetap menunggu dikoridor. Sepatutnya mereka memberikan kesempatan kepada aninda untuk berbicara empat mata dengan yasmin. Aninda begitu syok, kaget, kecewa, iba, dan sayang menjadi satu.
Wajah yasmin tampak pucat. Ada infuse didekat pergelangan tangannya. Perlahan aninda duduk disamping tempat tidur, kemudian mengelus kening yasmin lembut. Air mata kembali menuruni pipinya, pedih melihat yasmin terbaring lemah.
Mata yasmin membuka perlahan menatap aninda. “maaf nin” katanya parau.
Aninda menggeleng lemah. “siapa yas? Satriya?”
Yasmin mengangguk pelan. Air mata mulai mengalir deras.
Aninda langsung memeluk yasmin lalu mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.
“ssshh…”
Tangis yasmin makin menjadi, seperti jeritan sesal atas perbuatannya. Rasa malu mulai menjalarinya, malu pada aninda yang sejak kecil bersamanya. Malu pada Tuhan karena dosa ini. Orangtuanya pasti kecewa, sedih, marah, dan entahlah. Ia juga tahu sekolah akan mengeluarkannya. Mengapa dulu ia tak berpikir sejauh itu? Oh!
__ADS_1
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123