
“sok penting amat gayanya” komentar aninda. “latihan karate di SMA kita emang ketat banget nin nggak boleh telat” bela restiana serius.
“yaelah ada batu dibalik udang nih!” ledek aninda sambil menampakkan senyum konyolnya. Setolol apa pun aninda ia tahu restiana memendam perasaan suka pada ricko apa lagi ternyata mereka dulu se-SMP. Aninda yakin restiana menyimpan perasaannya sejak SMP. Walaupun restiana tidak mengatakan apa pun, dari gelagatnya barusan tampak ia naksir ricko. Aninda tak mau bertanya macam-macam pada restiana karena yakin gadis itu akan mengatakan padanya suatu saat nanti.
“yov, aku pulang bareng resti ya? Aku perlu kerumahnya” pamit aninda saat yovi sedang sibuk mencatat hasil latihan basket. “oh iya nggak papa. Besok aku jemput lagi ya” ujar yovi tersenyum hangat pada aninda juga pada restiana.
Restiana dan aninda meninggalkan lapangan basket. Ada tiga pasang mata yang melihat mereka.
“tuh cewek kampong ngapain sok akrab sama yovi? Geram merli. “baru kelas sepuluh aja udah belagu” tambah syifa yang tak kalah sewotnya dengan merli. Sedangkan marsya hanya menaikan sebelah alisnya sambil memikirkan sesuatu. Ada sedikit kegetiran dalam hatinya bila mengingat masa lalunya. Masa lalu yang mulai ia sesali.
Vigo mendekati kembarannya usai latihan basket ia mengambil handuk kecil dari yovi, mengelap wajahnya yang dipenuhi keringat “yov, cewek itu kok ngejar-ngejar kamu terus?” katanya serius. “aku yang ngejar-ngejar dia vig” kata yovi kalem. “serius? Kok kamu mau sih sama cewek tengil kayak dia?” protes vigo. “cuman temen vig. Lagian aku Cuma kasian sama dia. Kamu sih nyerempet orang sembarangan kalau kamu dituntut kepolisi kan aku juga yang kena getahnya” cerocos yovi diluar kebiasaanya.
“iya iya aku kan cuma mastiin. Aku nggak mau dong kembaranku pacaran sama cewek tengil macem dia” ujar vigo coba menenangkan yovi. “tenang aja nggak bakal terjadi apa-apa” jawab yovi mantap.
Vigo tahu benar sifat kembarannya itu, yovi selalu memegang ucapannya. Yovi dan vigo sepasang kembar yang popular. Keduanya atlet basket kebanggaan SMA Harapan Jaya tapi karena suatu insiden, yovi memutuskan keluar dari tim dan memilih menjadi manajer tim basket SMA Harapan Jaya sedangkan vigo masih menjadi pemain tim inti dengan pangkat kapten, posisi yang paling diincar setiap pemain basket.
Yovi tak kalah dengan vigo. Ia dikenal dengan sikapnya yang tenang dan menghanyutkan. Diluar urusan basket, yovi pandai main piano. Keduanya memiliki talenta dan keduanya tampan.
Ricko selalu berlatih karate dengan semangat tinggi sehingga tak heran tahun lalu dia berhasil meraih juara kedua lomba karate SMA tingkat nasional.
“tahun ini bapak jamin kamu bakal jadi juara satu!” ujar pak teguh, guru karate sambil mengacungkan jempol.
Ricko yang mendapatkan pujian tersebut hanya tersenyum kecil kemudian memberi hormat pada gurunya. Seusai latihan dia menuju ruang ganti. Ia merogoh isi tasnya mengambil kunci loker yang tergantung didompet. Dompetnya terbuka saat ia memasukkan kunci kelubang loker. Foto seorang gadis berumur sepuluh tahun terpampang disitu. Ricko kecil berdiri disamping gadis itu yang menampakkan gigi ompong dan bekas ingus didekat hidungnya.
__ADS_1
Ricko tersenyum keruh. Ada dendam yang belum terbalaskan sampai saat ini, dendam yang disimpannya sejak dulu dan tidak lama lagi ia akan melampiaskan dendam dan kemarahan yang tersembunyi rapat dalam relung hatinya. Tidak lama lagi…
“ya ampun! Ternyata kamu punya novel sebanyak ini!” komentar aninda takjub begitu memasuki kamar restiana.
“itu juga papa sama mama yang beliin” kata restiana sedikit malu.
“ya udah, aku pinjam breaking dawn aja dulu. Kalau udah rampung bacanya ntar kukembaliin” kata aninda sambil memasukkan novel tersebut ke tas punggungnya.
Restiana memutar bola matanya “nyante aja napa nin” aninda cengengesan “aku pulang aja nggak usah repot-repot. Aku lagi pengen naik bus” restiana tertawa mendengar celoteh aninda “padahal aku baru mau nawarin…”
“nggak mau!” aninda memasang muka serius yang justru makin membuat restiana tertawa.
Kebiasaan yovi menjemput aninda setiap pagi membuat keakraban mereka bertambah. Pada minggu berikutnya keakraban mereka bahkan meningkat. Yovi mengajak aninda kerumahnya untuk membantunya mengerjakan tugas bahasa inggris-nya. Mulanya aninda malu-malu menolaknya tapi akhirnya mau juga. Begitulah aninda malu-malu tapi mau.
“vigo…! Kecilin dikit kenapa?” teriak yovi berusaha melawan suara musik. Suara musik berubah jadi lirih sekali, kemudain volumenya diperbesar lalu diperkecil. Kalau tidak ada yovi dihadapan aninda bisa dipastikan aninda akan mendobrak kamar vigo dan memarahinya habis habisan tapi ia hanya bisa menghirup napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan lewat mulut.
“sori ya, vigo kadang emang kurang waras gitu” yovi menggaruk rambutnya.
Aninda hanya bisa menanggapinya dengan senyuman palsu yang dibuat seindah mungkin.
HP yovi berbunyi. Ia langsung mengangkatnya dan mendengarkan orang di seberang sana dengan mimik serius. “nin, kutinggal sebentar ya. Aku mesti jemput mbok tiyem di pasar mang karyo lagi kerumah sakit ternyata”
“iya nggak papa. Lagian bagian ini nggak susah-susah amat” aninda menunjuk paragraf dilembar kerjanya.
__ADS_1
“sip, kalo vigo berulah nggak usah digubris ya” pesan yovi sambil meraih kunci mobil.
Aninda manggut-manggut bersemangat lalu yovi bergegas pergi.
Hujan turun saat aninda sedang serius mengerjakan tugasnya. DUAAAR! Guruh menggelegar keras. Aninda menjerit keras. Sejak kecil ia memang takut Guntur dan petir. Rupanya jeritan aninda membangunkan vigo yang baru saja tertidur.
“ngapain sih teriak-teriak? Ganggu orang tidur aja” omel vigo yang bergegas keluar kamar dan mendapati ternyata aninda baik-baik saja.
“gunturnya gede banget vig” kata aninda lirih. “temenin aku dong sini” imbuhnya memelas.
Vigo termenung. Ada aja orang bisa ketakutan sama guntur, diwajah aninda dia seperti merasakan deva ju. Dengan enggan ia mendekati aninda menatapnya lekat-lekat kemudian menggeleng pelan.
Vigo memilih duduk disamping aninda dan menjaga jarak sejauh mungkin “cemen amat sih jadi orang!”
Aninda hanya mengerucutkan bibir. Dulu saat ia ketakutan karena guntur, umar yang melindunginya. Begitu saja pikirannya terbang kesaat pertama kali aninda merasa iba terhadap umar.
“kamu kenapa?” Tanya aninda pelan, ada sedikit nada cemas didalam suaranya.
Umar masih menunduk dan menggeleng pelan. Bibirnya membiru karena dinginnya hujan.
Aninda tak berani menanyainya lagi, ia terus berjalan memayungi umar. Aninda memandang wajar umar lewat ekor matanya. Entah kenapa ia kembali merasakan desiran aneh yang menjalari tubuhnya. Tiba-tiba suara guntur membuat aninda menjerit. Ia menututp kedua telinganya kuat kuat, payung digenggamannya jatuh ketanah. Dengan segera umar mengambil payung kemudian memayungi aninda.
Fb@ardhy ansyah
__ADS_1
Ig@ardhy_ansyah123