Love And Adventure

Love And Adventure
monster


__ADS_3

Reana berjalan keluar dari kamar penginapan menuju ke lobby. Dia menghitung uangnya yang tersisa di tas ajaibnya. Semalam, dirinya habis menyewa penginapan untuk beristirahat. Tingkatnya tiga lantai dan masih terbilang, penginapan mewah.


"astaga! Uangku tinggal 120 Neal." ucap Reana.


Di tas ajaibnya. Ada dua lembar uang dengan nominal 20 Neal dan 100 Neal. Penginapan yang sudah Reana sewa untuk beristirahat, benar-benar telah menguras sebagian uangnya.


"Reana. Siap untuk menjalani misi?" tanya seorang gadis.


Dia memakai celana pendek dari kain. Berstoking hitam dari kulit. Rambutnya hanya sebahu dan berwarna hitam. Reana memanggilnya dengan nama Lize.


"aku siap, Lize. Uangku juga sudah menipis." jawab Reana.


"yuk! Kita berangkat, Reana! Aku tidak sabar dengan misi ini. Sensasi petualangan bisa aku rasakan." ujar Lize. Antusias.


Lize dan Reana berjalan bersama menuju ke tempat Guild. Mereka sudah kontrak dengan Guild, di misi berjenis Squad, untuk mengalahkan monster yang menghalangi, akses suplai barang-barang yang akan diantar menuju kota Agantha.


Di perjalanan, Reana berhenti sejenak. Dia melihat ke sebuah layar televisi besar yang terpajang di pinggir jalan. Di layar, terdapat berita, putri raja negara Agastias sedang menghilang. Putri itu bernama Irene Sheirahunt.


"ada apa Reana? Kok berhenti?" tanya Lize.


"tidak apa. Aku hanya sedang melihat berita di layar saja." jawab Reana.


...****************...


Sling~ Slang~ Slang~


(Suara sabit saat mengoyak sesuatu )


Gadis berambut hitam panjang, bermodel ponytail, membunuh monster yang ada dihadapannya. Dia seorang Elf bertelinga runcing, dengan kedua mata berwarna biru, dan memegang senjata sabit, yang dia gunakan untuk membunuh monster-monster yang sedang menghalangi jalan raya.


Monster-monster itu menghalangi jalan raya, yang digunakan kendaraan negara Agastias untuk menuju ke negara lain. Gangguan jalan tersebut, menyebabkan kendaraan transportasi yang membawa barang dagang menuju negara lain menjadi terganggu.


"Bunuh semua monster Tarantulanya!" Teriak seorang pria.


Pria itu sepertinya berumur tidak terlalu tua, dengan memakai seragam militer kerajaan. Dia dan enam orang lainnya mendapat quest dari guild, untuk memberantas monster Tarantula yang menganggu jalur transportasi kota.


Mereka bertujuh, ditugaskan untuk membasmi semua monster Tarantula, agar kendaraan transportasi bisa berangkat menuju negara lain, untuk menjual barang dagangan, tetapi terdengar berita, bahwa ada lima monster yang sudah menyerang tiga truk yang sedang menuju ke negara Agastias, saat malam hari.


Mengetahui hal ini, kepala guild kota memberikan quest berjenis squad, untuk membasmi monster yang sudah menyerang tiga truk saat itu. Monster itu diidentifikasi berjenis laba-laba, berukuran tidak normal, yang memiliki jari kaki sangat tajam, dan keras, untuk melindungi dirinya.


Monster Tarantula itu menyerang tiga truk yang sedang membawa hewan peternakan. Para pengamat mengira, bahwa lima monster Tarantula itu sedang kelaparan, jadi mereka memilih untuk menyerang sebuah truk, karena disana terdapat sebuah makanan.


"Incar bagian bawah perutnya! Bagian itu tidak tertutupi oleh sisik batu mereka!" Ujar salahsatu orang.


Mereka berusaha menyerang bagian bawah perut monster Tarantula, tetapi untuk melakukan hal itu, tidaklah mudah. Monster-monster itu bergerak sangat lincah dan memiliki kemampuan untuk melompat tinggi, belum lagi bagian atas tubuh mereka yang susah untuk dipotong.


Ting~ Tang~ Tang~


(Suara senjata beradu pukul dengan badan monster)


"Hiyaa...! Rasakan ini!" Ucap elf berambut hitam.


Dia mengunakan senjata sabitnya, untuk menyerang terus-menerus di bagian persendian jari kaki Tarantula. Ketika melihat ada celah, elf itu mengayunkan sabitnya dari arah bawah ke atas, untuk menusuk tubuh bagian bawah Tarantula.


Khik~


(Suara jeritan Tarantula)


Tarantula yang terkena tebasan sabit secara vertikal, menjerit lalu mati. Bekas luka sabit di tubuhnya mengeluarkan darah berwarna hijau, yang dimiliki oleh semua serangga, dengan baunya yang tidak amis, tetapi menyengat.

__ADS_1


"Satu beres." Ucapnya.


"Reana. Tolong bantu yang lainnya!" Ucap gadis di belakangnya.


"Serahkan saja padaku, Lize." Ucap Reana.


Lize membacakan sihir penyembuhan, untuk mengobati luka gores yang Reana alami. Sihir penyembuhan ini hanya bisa mengobati luka yang tidak fatal, dan tidak terlalu parah. Luka fatal masih harus disembuhkan dengan pengobatan medis, karena pengobatan sihir bisa membahayakan pengunanya karena menghabiskan banyak mana.


"Reana. Berikan potion ini ke om Rafael!"


Lize memberikan potion berwarna ungu kepada Reana, agar diberikan ke om Rafael yang sedang bertarung dengan monster Tarantula, yang ukurannya lebih besar dari Tarantula yang lain, mungkin saja itu indukannya.


"Aku akan memancing perhatian monster itu mengunakan potion kimia." Ucap Lize.


"Jangan terlalu gegabah yah Lize!." Kata Reana.


Lize dan Reana membantu om Rafael yang berjarak tidak jauh dari tempat mereka berdua. Taktik penyerangan yang mereka lakukan adalah menjauhkan Tarantula itu dari kelompok, dan menyerang mereka satu lawan satu, sedangkan induk Tarantula akan dilawan bersama.


"Bagian disini selesai!"


"Monster yang disini juga!"


"Dibagian sini juga sudah beres!"


Semua orang berkumpul, untuk membantu om Rafael untuk melawan indukan Tarantula, setelah semua berhasil mengalahkan anakkannya. Di tim ini, hanya Reana dan Lize saja yang seorang perempuan, sedangkan lima orang lainnya adalah seorang laki-laki.


Om Rafael dan dua orang yang berada di sampingnya, adalah seorang Tanker. Tugas Tanker yaitu pembuka war dan penerima serangan langsung, sedangkan Lize adalah Support dengan keahlian kimia, yang digunakan untuk menyerang dan bertahan, dia juga bisa mengunakan sihir penyembuhan biasa.


Tiga orang lainnya termasuk Reana adalah seorang Fighter, yang bertugas memberikan serangan bertubi-tubi mengunakan kekuatan fisik mereka. Tugas seorang Fighter hampir sama dengan tugas seorang Tanker, tetapi kemampuan mereka tidaklah sama.


Seorang Tanker dan seorang Fighter bisa melakukan open war, karena mereka berdua memiliki ketahanan fisik yang kuat, tetapi seorang Fighter, tidak bisa menahan banyak serangan seperti seorang Tanker, apalagi serangan langsung, karena seorang Fighter tidak memiliki skill protectif yang biasa digunakan oleh para Tanker.


"Kepung laba-laba ini ke seluruh sisinya!" Teriak om Rafael


"Makan ini monster!"


Tar~ Tar~ Tar~


(Suara botol kaca yang pecah)


Lize melempar beberapa botol kaca yang memiliki cairan lengket, ke bagian persendian dan tanah tempat indukan Tarantula itu. Cairan itu mirip seperti gumpalan slime, yang sedikit demi sedikit mengeras seperti lem, hingga membuat pergerakan induk Tarantula sedikit terhambat.


"Om Rafael. Ini dari Lize. Tolong minumlah!" Ucap Reana sambil memberikan potion tadi


"Terima kasih Reana." Ucap om Rafael setelah mengambil potion itu


Induk Tarantula itu hanya bisa menjerit, seperti seekor tikus setelah Lize memberinya cairan lengket ke bagian persendian monster itu. Cairan lengket yang menempel di tubuh induk Tarantula, seperti sebuah lem yang sedang ditarik-tarik, saat monster itu berusaha untuk mengerakan badannya.


"Cairan slime itu tidak bertahan lama! Secepatnya kita harus membunuh monster ini!" Ujar Lize


"Kepung monster ini dari segala sisi! Jangan biarkan dia melompat ke tempat lain!" Teriak om Rafael kepada semua orang


Semua orang mengepung segala sisi indukan Tarantula, sesuai perintah om Rafael, tetapi monster Tarantula itu tidak tinggal diam. Saat dirinya merasa terancam, monster itu menembakan cairan asam dari mulutnya.


"Awas serangan!"


Seorang Tanker bisa menghindar atau memilih menangkis dengan perisainya, seperti yang om Rafael sedang pegang, dia membawa perisai dan juga pedang di tangannya, sedangkan yang lainnya harus menghindar, untuk tidak terkena cairan asam tersebut.


"Serang dengan semua yang kalian punya!"

__ADS_1


Semua orang menghajar induk Tarantula itu, dari arah depan dan belakang, meskipun terlihat seperti seorang pengecut, yang bisanya main keroyokan. Serangan bertubi-tubi dibagian bersendian, membuat salahsatu kaki Tarantula itu terpotong, hingga membuat monster itu tidak bisa berdiri dengan seimbang.


Indukan Tarantula yang sudah sempoyongan, hanya bisa menerima takdir, bahwa dia akan segera mati, seperti anak-anaknya yang lain. Semua orang menusuk dan menebas bagian bawah monster Tarantula hingga darahnya muncrat kemana-mana.


Monster itu hanya bisa menjerit kesakitan sebelum mati kehabisan darah, di atas rerumputan di pinggir jalan raya, dengan tiga truk dan banyak bangkai hewan yang telah dia dan anak-anaknya serang.


"Quest selesai." Ucap om Rafael


Om Rafael mengangkat kepalan tangannya ke atas, lalu disambut semua orang yang berteriak kegirangan atas selesainya Quest ini. Amannya jalur logistik akan membuat negara Agastias tidak mengalami krisis stok bahan.


"Akhirnya, aku bisa membuktikan, bahwa aku bisa hidup mandiri, menjadi seorang petualang." Ucap Reana sambil menancapkan sabitnya ke tanah


Reana ingin segera kembali ke kota, dan mengambil upah dari quest ini, lalu mengambil quest yang lain, untuk melanjutkan petualangannya.


"Kau ingin jadi seorang petualangkah Reana?" Tanya Lize


Lize mendengar, kata petualang yang keluar dari mulut Reana, jadi Lize mengira, bahwa Reana ingin berpetualang lebih jauh lagi, dengan menyelesaikan quest-quest yang berbeda jenis lainnya.


"Aku ingin sih, soalnya aku dipaksa untuk menikah oleh orang tuaku." Jawab Reana dengan nada tidak mood


"Menikah?! Bukannya itu bagus bisa menikah? Aku juga menginginkan hal itu!" kata Lize


Lize pernah berkhayal, memiliki pacar sesama petualang yang menjalin cinta di alam liar,  berdua dengan sang kekasih, saling membantu dalam menyelesaikan quest dan berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya, sampai mereka menemukan tempat yang cocok untuk membenih cinta.


"Masalahnya, aku bakal menikah dengan selain rasku. Aku merasa takut, jika diriku hanya dijadikan boneka pemuas saja, tanpa diberikan kasih sayang."


"Ehh...! siapa yang akan kau nikahi memangnya?"


"Dia dari ras manusia. Aku sering mendengar, ras manusia selalu menjual ras lain sebagai budak."


Lize yang mendengar hal tersebut menjadi malu, karena dirinya adalah ras manusia juga. Perbudakan ras lain memang masih terjadi di negara manusia.


"Aku minta maaf atas kelakuan ras aku yah Reana." Kata Lize sambil memegang kedua tangan Reana


"Itu bukan salahmu kok. Bagiku kau orang yang baik. Kita saja baru ditemukan oleh quest yang sama, tapi aku merasa kita sudah seperti teman akrab." Ujar Reana sambil menatap mata Lize


Reana tahu bahwa tidak semua ras manusia itu jahat bahkan ras elf juga ada yang jahat seperti ras manusia. Semua tidak bisa dipukul sama rata.


"Semoga kita bisa bertemu lagi Reana! Aku akan melakukan petualangan ke tempat lain setelah quest ini."


"Tentu saja Lize. Jangan lupakan aku jika nanti kita akan bertemu di lain tempat! Oke?!"


Reana dan Lize berpelukan untuk mengenang persahabatan singkat mereka. Persahatan yang ditemukan oleh quest dan dipisahkan oleh hobi masing-masing.


"Baiklah semua! Saatnya kembali ke kota sebelum matahari surut!" Teriak om Rafael


Semua petualang yang sedang beristirahat serentak mulai bangkit, meskipun masih terdapat rasa mager untuk berdiri. Mereka akan kembali ke kota sebelum matahari tenggelam, jika tidak mau maka dia akan ditinggal di tempat ini sendiri.


"Btw Reana. Kenapa enggak kau tolak saja perjodohanmu itu?" Ujar Lize


Reana mendengar perkataan Lize langsung mengelengkan kepala, menurutnya hal itu sangat susah untuk dilakukan.


"Masalahnya susah banget Lize. Masa depan semua orang dipertaruhkan di pernikahanku." Kata Reana


Lize tersenyum saja saat mendengar alasan yang Reana berikan, mungkin sebegitu besar tanggung jawab yang harus Reana pikul agar nama baik kehormatan keluarganya tidak tercoreng.


"Lebih baik menuruti kata hati saja loh Reana! Soalnya kita sendiri yang akan mengalami hal tersebut. Lebih baik kecewa dipilihan sendiri daripada kecewa dipilihan orang lain!"


"Alasanmu ada benarnya juga sih Lize. Aku pikirkan lagi soal pernikahanku nanti. Terima kasih!"

__ADS_1


Reana mencabut sabitnya lalu berjalan bersama petualang lain di belakang om Rafael. Semua orang berjalan menuju ke tempat kendaraan yang mereka tumpangi untuk datang ke tempat ini.


Cahaya matahari yang berwarna kuning jingga menyinari jalan raya dan sekitarnya. Warna hitam usang jalan raya terlihat sangat estetik saat cahaya jingga menerpa warna hitam usang yang dimiliki jalan raya ini, apalagi dipadukan warna hijau dan coklat dari rumput-rumput yang tumbuh di sekitarnya.


__ADS_2