
Irene duduk di kursi meja makan, sambil menyantap sarapannya. Ibu Yana dan kak Dian juga. Mereka sekarang, lebih fokus untuk menghabiskan makanannya.
Di hari sebelumnya, ibu Yana sarapan sambil membaca buku. Kak Dian juga. Dia lebih fokus untuk membaca berita koran, dibandingkan menghabiskan makanannya.
"sudah siap untuk masuk ke Akademi? Nak." tanya ibu Yana.
"semoga saja, ibu." jawab Irene.
Irene belum mengunjungi tempat Akademinya sama sekali. Dia juga belum tahu, di kelas mana, dirinya akan masuk nanti. Dari kemarin, dirinya sibuk untuk menyelesaikan quest dan mencari tahu, kegunaan peta yang telah diberikan oleh Vio dan Enn.
Dan ada yang aneh. Kenapa orang tuanya tidak menyuruhnya untuk mampir dulu, ke akademi yang akan dirinya masuki? Mereka semua sedang sibuk akan sesuatukah? Sampai mereka tidak mengingatkan Irene? Kalo dipikir-pikir, itu juga salah Irene sendiri.
"fokus belajar yah, Irene! Teman sekolahmu dulu aja, sudah jadi jendral keamanan sekarang. Supaya kamu berguna sedikit bagi keluarga." ucap kak Dian.
Tatapan tidak percaya, Irene kasih kepada kak Dian. Irene terkejut, bagaimana kak Dian bisa tahu? Kalau putri Airin sudah menjadi Jendral Keamanan? Saat malam itu, Irene kira, bahwa Putri Airin hanya seorang prajurit biasa. Hanya seorang perwakilan, dari Keamanan Negara.
"benar itu. Wajah putri Airin, sampai ada di koran pagi ini. Di berita dikatakan, kalau putri Airin sedang mencari pelaku pengeboman di Distrik Merah." ujar ibu Yana.
Ibu Yana meletakkan koran dan bukunya, di atas meja makan. Di berita utama, ada sebuah gambar gedung, di Distrik Merah yang hancur gosong, akibat sebuah ledakan. Judul disana tertulis, Jendral Keamanan, putri Airin Frainahunt sedang mencari pelaku pengeboman.
"lihat, Irene! Putri Airin saja menjadi orang yang berguna bagi negara Agastias. Kamu kapan?" tanya kak Dian.
"cerewet banget deh! Lihat saja nanti, aku yang akan membuat negara Agastias, menjadi lebih baik daripada sebelumnya!" jawab Irene. Percaya diri.
Irene lanjut, membaca isi beritanya, karena penasaran. Apalagi berita ini, sepertinya menyangkut tentang peristiwa yang sudah terjadi, pada malam itu. Saat itu, Irene harus pulang, karena besok dirinya harus pergi ke akademi.
Para prajurit forensik mengetahui, jika pelaku memakai sebuah alat peledak yang berbeda dengan alat peledak yang ada di dunia sihir, setelah dilakukan indentifikasi di TKP. Para pencuri itu telah mengambil sebuah kertas, yang ditaruh di dalam botol dan beberapa gulungan kertas lainnya.
Tidak tahu, apa motif dari pencurian tersebut. Para prajurit negara menetapkan mereka, sebagai buronan, karena mereka disangka, kelompok berbahaya, karena memiliki sebuah bom yang langka. Bom tersebut tidak pernah diproduksi di negara Agastias.
"selamat pagi." ucap Ayah Grana.
Beliau datang dan langsung duduk di kursi, meja makan. Ekspresi di muka beliau, seperti orang yang sedang galau. Tatapan mata yang lesu, dapat dirasakan oleh semua orang.
"Ayah kenapa? Sakit?" tanya Ibu Yana. Beliau peka duluan.
Ayah Grana menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya. Gelengan kepala yang diberikan, untuk menjawab pertanyaan dari Ibu Yana.
Irene, Ibu dan kakak Dian tahu, jika Ayah sedang berbohong. Raut wajah beliau, terlihat seperti, orang yang sedang memiliki sebuah masalah.
"Dian. Nanti kamu datang ke ruang kerja Ayah, yah! Ada laporan yang Ayah ingin, kamu baca!" ucap Ayah Grana.
Kak Dian menatap Ayah dengan tajam. Ada sesuatu yang penting sepertinya. Sesuatu itu, hanya diketahui oleh Ayah dan Kakak saja. Ibu dan Irene tidak tahu, masalah apa itu.
...****************...
Irene menatap salahsatu, seragamnya. Baju seragam, tanpa lengan berwarna putih, dengan rok selutut berwarna hitam. Akademi Teodore, bahkan memberikan dua pilihan kaos kaki yang berbeda. Kaos kaki pendek dan stoking berwarna hitam.
"seragamnya kok, ada dua macam yah?" ucap Irene. Bingung.
Setelah Irene makan dan mandi. Seorang pelayan wanita, membawakan sebuah kotak, yang di dalamnya terdapat seragam sekolahnya. Di dalam kotak, ada dua seragam yang berwarna sama, tapi modelnya berbeda, ketika Irene membukanya.
Satu seragam berwarna putih, berkerah di bagian leher, tanpa lengan. Roknya hitam, panjangnya selutut. satunya lagi, seragam berwarna putih, bermodel sweater rajut, tapi rok hitamnya pendek sekali. Tidak sampai selutut.
"eh?! Ada petunjuk pemakaian seragamnya juga." ucap Irene.
__ADS_1
Ada secarik kertas yang Irene temukan, ketika sudah mengeluarkan semua seragamnya dari kotak. Kertas itu dilipat dan ditempelkan di dalam kotak. Irene membaca tulisan yang ada di kertas tersebut.
Seragam Akademi Teodore memiliki dua macam seragam. Seragam pertama, model tanpa lengan. Dibuat seperti itu, agar para siswi wanita tidak merasa kegerahan dan bisa memperlihatkan salahsatu daya tarik mereka.
"hah?! Apa maksudnya ini?" batin Irene.
Dia mencoba memahami maksud dari tulisannya. Daya tarik wanita. Irene melihat dirinya di cermin, sambil memakai seragamnya. Irene baru paham, maksud dari daya tarik wanita adalah ketiaknya. Lubang untuk ketiak saja, dibuat sangat besar, sampai itu miliknya, sedikit kelihatan.
Seragam kedua, seragam berwarna putih, bermodel sweater berlengan panjang. Dibuat dari rajutan benang. Karena bagian seragam atasnya, terasa terlalu menutupi, rok hitam yang berbahan rajutan benang, dibuat lebih pendek agar seimbang dengan seragam atasnya.
satu kata yang terpikirkan di hati Irene, setelah selesai membaca kertas tersebut. di luar nalar coy!. Seragam Akademinya bagus dan imut, tapi ada sisi gelap dibaliknya.
"engga jelas banget. Aku kira, pakai seragam ini dan itu, ada jadwalnya. Ternyata enggak." keluh Irene.
Jam di dinding kamar, sudah menunjukkan pukul, setengah delapan. Jam delapan, Irene harus tiba di Akademi agar tidak terlambat. Irene memilih untuk memakai seragam yang banyak menutupi badannya. Sweater rajut berwarna putih, meskipun rok hitamnya sangat pendek.
Kaki dan paha mulus Irene, bisa ditutupi dengan stoking berwarna hitam tadi. Irene sedikit lega, risiko orang-orang yang memperhatikan pahanya pasti sudah berkurang, meskipun ada risiko lain. Orang yang suka stoking, pasti bakal sering memperhatikannya.
"waktunya menuntut ilmu." ucap Irene. Semangat.
Dia keluar dari kamar dan berjalan menuju ke halaman depan istana. Kak Dian dan Ibu Yana, tidak bisa mengantarkan Irene, pergi ke Akademi Teodore, karena ada sebuah urusan. Apalagi Ayah Grana. Beliau akhir-akhir ini terlihat sibuk terus.
Tugas untuk mengantar Irene, diberikan kepada salahsatu prajurit penjaga, yang ada di depan istana. Orang tua Irene sudah menyuruh para prajurit yang berjaga di pos kecil, untuk mengantarkan putri Irene menuju Akademi Teodore.
"silahkan masuk! Tuan Putri." ucap seorang prajurit penjaga.
"terima kasih, Bapak." jawab Irene. Santun.
Prajurit yang mengantarkan dirinya. Ternyata orang yang dulu pernah mengantarkan Irene di kota Roanes. Waktu itu, Irene sedang menyamar, menjadi orang yang ditugaskan untuk menjaga putri Irene. Nama samaran Reana yang dia pakai saat itu.
"ada apa, Ayah?" jawab Irene.
Pintu mobil belum Irene tutup. Ayah Irene, tiba-tiba memanggilnya. Beliau berdiri di luar, di depan pintu samping mobil, sambil menatap Irene, sebelum pergi.
"Ayah sudah meminta pemandu Akademi, untuk menjelaskan tentang sekolahmu. Dia akan memandumu nanti, jika kamu sudah sampai disana." ucap Ayah Grana.
"iya, Ayah. Terima kasih." jawab Irene.
"kamu belajar yang giat yah, Nak. Ayah sadar. Jika memaksamu untuk ikut campur dalam membantu urusan negara itu tidak boleh." tambah Ayah Grana.
Setelah berkata, Ayah Grana menutup pintu mobil. Bapak prajurit menyalakan mesin mobil dan menekan pedal gas. Mobil berjalan menuruni jalanan berkelok yang ada di bukit, tempat Irene tinggal.
"Nona Irene, prajurit wanita yang dulu ditugaskan untuk menjaga Nona. Dia dimana sekarang?" tanya bapak supir.
"yang namanya Reana itukah Pak? Dia sudah selesai masa kontraknya." jawab Irene. Asal-asalan.
Ketika dalam perjalanan. Irene teringat dengan sosok putri Airin. Dia sudah menjadi orang yang berguna untuk negara dan keluarga. Sedangkan Irene sendiri, dia masih tidak jelas tujuan hidupnya.
Dulunya, Irene memiliki tujuan untuk bertemu dengan Pangeran Einhoren. Setelah mendengar perkataan Ayah, Ibu dan Kakaknya. Irene harus mencari tujuan yang lain. Tujuan yang berguna bagi negara dan keluarganya, sama seperti Putri Airin.
...****************...
Ting~ Ding~ Ding~ Ting~
(suara lonceng jam Akademi Teodore)
__ADS_1
Irene sampai di depan Akademi Teodore. Sekolahan yang besar, terletak di tengah pertigaan jalan besar. Di hadapan Akademi, banyak tempat nongkrong dan tempat makan yang terlihat bagus.
"saya tinggal, tuan Putri." ucap prajurit supir.
"terima kasih sudah mengantar, Pak." jawab Irene.
Di depan Akademi. Seorang perempuan yang menggunakan seragam, bermodel tanpa lengan, sedang berdiri di depan gerbang Akademi. Dia menggunakan jas almamater sekolah, untuk menutupi ketiaknya. Jas itu tidak ada, di kotak seragam Irene tadi.
"putri Irene. Selamat pagi!" ucapnya.
"selamat pagi juga. Eh~ tunggu dulu" ucap Irene.
Irene tahu, siapa perempuan ini. Dia orang yang pernah membantu dirinya untuk membuat kartu izin masuk ke Tempat Perkumpulan. Dia adalah Eira. Perempuan berkacamata yang terlihat polos tersebut.
Eira mengenalkan dirinya kepada Irene. Semua perkenalan Eira, irene tanggapi, seolah-olah mereka berdua baru saja bertemu, meskipun Irene sudah tahu. Siapa Eira sebenarnya.
"mari! Saya antar tuan putri, untuk mengenal Akademi Teodore!" ucap Eira.
"tolong panggil aku, Irene saja! Aku tidak suka dipanggil tuan putri!" ujar Irene.
Mereka berdua, menyusuri seluruh bagian depan Akademi Teodore. Ada lapangan luas untuk olahraga, kolam renang yang panjang, bahkan ada beberapa pohon kelapa dan pasir berwarna putih. Kolam renangnya hampir mirip dengan di pinggir pantai.
Bagian tengah Akademi. Ada dua perpustakaan yang besar. Dindingnya dicat berwarna coklat kayu dan emas, agar serasi dengan peralatan yang terbuat dari kayu di perpustakaannya. Kelas untuk para siswa dan siswi ada banyak. Kata Eira, satu kelas bisa menamping dua lima orang.
Di bagian belakang Akademi, terdapat kantin sekolah. Banyak kursi dan meja, di depan sebuah gerai. Banyaknya pohon yang tumbuh, membuat suasana kantin terasa teduh. Melihat semua ini, Akademi Teodore seperti sekolahnya anak konglomerat.
"Nona Irene. Ada satu tempat yang paling wow sih. Menurut orang-orang." kata Eira.
Eira berkata dengan nada sedikit lemas. Ekspresi wajah Eira yang seperti itu, membuat Irene semakin penasaran. Seberapa wow tempat itu.
"benarkah? Aku mau melihatnya!" ucap Irene.
Eira membawa Irene menuju lantai atas. Tepatnya, di lantai dua Akademi Teodore. Mereka harus naik tangga untuk menuju tempat itu.
Ketika mereka berdua sudah menaiki tangga. Di lantai atas, banyak sekali barang-barang bekas peralatan sekolah yang sudah rusak. Walaupun tempat itu banyak barang rongsokan, rasa debu di hidung tidak ada sama sekali.
Bruak~ Bruak~ Tiar~
(suara barang-barang pecah)
Dari kejauhan. Terdengar suara sorak-sorak orang, disusul dengan suara barang-barang yang pecah.
"tempat apa ini?" tanya Irene.
"ini yang paling wow menurut orang-orang. Zona delapan enam." ujar Eira.
Irene melihat dua orang sedang berkelahi. Di sekitarnya banyak sekali orang yang menonton. Ada yang memberikan barang untuk senjata, kepada orang yang sedang berkelahi itu.
"ini sekolah apa sih?" batin Irene.
Tadi pagi. Irene berniat sekolah, agar dirinya tidak menjadi beban untuk keluarganya. Apalagi setelah mengetahui, jika putri Airin sudah menjadi Jendral Keamanan Kota.
Setelah tahu, bagaimana isi sekolahnya. Irene merasa, sepertinya menjadi petualang lebih baik, daripada sekolah disini.
Menjadi petualang bisa menghasilkan uang dan membantu orang lain. Jika sekolah disini. Kelihatannya hanya menghabiskan uang orang tua dan bakal menjadi orang nakal, jika sudah lulus dari sekolah.
__ADS_1