Love And Adventure

Love And Adventure
Di Distrik Merah


__ADS_3

Aria dan Sanea turun di pinggir jalan distrik merah. Sama seperti biasanya, banyak sekali orang bertampang sangar berkeliaran, tapi pakaian yang mereka pakai, tidak semencolok saat malam hari.


Di sudut-sudut distrik, banyak tenda yang pintunya terbuka kosong, bahkan ada beberapa alas karpet yang ditinggalkan begitu saja, tanpa adanya seseorang yang beristirahat disana. Itu semua karena orang di distrik merah sedang bekerja.


Hanya ada beberapa gerai kecil seperti warung makanan, dan sebuah tempat stand, seperti pijat jalanan yang sedang buka. Selebihnya tidak ada, semua gerai lainnya sedang tutup saat siang hari, dan akan buka saat malam hari.


"kenapa kau bisa melawan dua orang itu? Sanea." tanya Aria.


"aku mendapatkan sebuah quest. Kau tidak mendapatkan misi sama sekali?" tanya balik Sanea.


Aria menggelengkan kepala. Dia saja baru tahu, jika seorang player diberikan sebuah quest yang harus diselesaikan. Berbeda dengan seorang petualang. Quest ada, jika mereka datang ke guild.


"tidak. Aku player baru soalnya." ucap Aria.


"siapkan dirimu. Aria. Kau nanti akan mendapatkan quest yang menyusahkan." ujar Sanea.


"apakah lebih menyusahkan daripada quest di guild?" tanya Aria.


"susahnya seperti tadi. Melawan orang-orang seperti itu." jawab Sanea.


Jawaban dari Sanea masih belum jelas. Aria ingin bertanya lebih nantinya, tapi dia harus menundanya terlebih dahulu. Tidak jauh dari hadapan mereka, cafe Red Baron Ground sudah terlihat.


Tempat Sanea untuk melaporkan questnya, sepertinya di cafe Red Baron Ground. Aria jadi penasaran, ada tempat apa saja di dalam cafe ini. Apa fasilitasnya lebih luas dan lebih banyak daripada Bar milik guild.


"Eira. Izin pergi ke tempat eksekutif dong." kata Sanea.


Mereka berdua berhenti di depan meja resepsionis. Sanea sedang meminta izin kepada seorang resepsionis wanita, yang dia panggil dengan nama Eira. Aria hanya diam berdiri di belakang Sanea, melihat mereka berdua berbicara.


Resepsionis kali ini beda orang, dengan yang sudah Aria temui ,saat dia masih memakai nama Reana. Seorang gadis memakai kacamata, dan topi baret berwarna biru. Rambutnya panjang sepunggung, dengan poni rambut sealisnya.


"jangan bawa orang asing masuk ke sana, Sanea. Itu tempat privat." ucap Eira.


"dia juga player sama seperti aku. Dia yang sudah membantuku melawan monster-monster itu." jawab Sanea.


Eira menunduk meminta maaf. Dia sudah berjanji kepada kepala dewan cafe Red Baron Ground, untuk tidak mengizinkan ada orang asing masuk. Tapi Sanea tidak kehabisan akal. Dia merogoh sesuatu dari balik baju di dadanya.


"tolong biarkan kita masuk. Aku akan memberimu kacamata langka ini." ucap Sanea.


"itu kacamata lensa kalimaya!" ucap Eira dengan antusias.


Mata Eira terlihat gembira. Matanya membelak besar saat melihat kacamata yang sedang Sanea pegang. Melihat ekspresi Eira, yang sepertinya ingin sekali mempunyai kacamata ini. Sanea menawarkannya lagi.


"aku beri ini deh. Tapi antar kami berdua!" ucap Sanea.


"eh Sanea. Tempat tempat ekslusif itu apa sih? Apa sama seperti ruang VIP di guild?" bisik Aria.


"lebih dari itu. Kau akan tahu sendiri nanti." jawab Sanea.


Eira memegang baju Sanea. Sepertinya Eira sudah sangat ingin memiliki kacamata itu. Daritadi, sorot matanya membelak terus ketika melihat kacamata itu.


"baiklah. Aku bantu kalian berdua untuk masuk. Tapi jangan lupa janjimu itu." ujar Eira.


Sanea tersenyum. Dia juga berjanji akan memberikan kacamata kalimaya ini kepada Eira, jika Eira berhasil membuat mereka berdua masuk ke tempat ekslusif.


"kartu perizinannya aku serahkan kepadamu, Eira." ucap Sanea.


Setelah sedikit menyogok resepsionis ini. Eira menyuruh Aria dan Sanea untuk duduk di salahsatu sofa yang sepi. Dia akan membuat kartu perizinannya terlebih dahulu sekarang.

__ADS_1


"mari kita lihat. Apa yang akan Eira lakukan." ucap Sanea.


"emangnya. Dia akan melakukan apa?" tanya Aria.


"membuat kartu izinmu. Tapi Eira akan mencuri dari orang lain, terus akan dia modifikasi." ujar Sanea.


"eh? Kok bisa begitu? Apa buat sendiri susahkah?" tanya Aira.


"bukan susah, tapi bahannya yang langka." jawab Sanea.


Kartu izin masuk di ruang ekslusif di cafe Red Baron Ground, berasal dari kulit monster repril. Mencari kulit monster reptil di dalam kota Agantha itu susah. Adanya di kota lain, seperti kota Trivia, yang masih banyak tempat alaminya, seperti hutan atau rawa-rawa.


Kota Trivia terletak sedikit jauh dari kota Agantha dan kota Roanes. Hanya di kota Trivia saja yang masih asri, tidak banyak bangunan tinggi dan modern. Hutan, sawah, ladang dan juga rawa masih terdapat banyak disana.


Karena banyaknya perburuan monster reptil. Hal itu membuat mereka menjadi langka. Monster reptil juga dianggap sebagai hama, sekaligus ancaman, bagi semua orang. Sebab itu, mereka diburu bukan hanya untuk diambil kulitnya, tapi juga, agar mereka tidak menyerang warga yang ditemui.


"permisi tuan. Bisa minta waktunya sebentar?" ucap Eira.


Dia menghampiri dua orang pria yang sedang duduk di sebuah sofa. Di mejanya, ada dua piring daging iga dan minuman bersoda. Eira langsung duduk di samping orang yang badannya paling besar. Disenderkannya bahunya di bahu orang itu.


"eh Nona resepsionis. Ada apa nih?" tanya orang itu.


Pria berbadan kekar berambut cepak terlihat kegirang. Tidak ada angin tidak ada hujan, seorang gadis imut berkacamata meminta bantuannya. Ekspresi di mukanya terlihat malu-malu, tapi seperti ingin melakukan sesuatu.


"nanti malam. Tolong temanin aku dong bang!" kata Eira.


Aria melonggo saat melihat cara gadis resepsionis itu merayu. Tampangnya yang terlihat seperti gadis lugu yang kutu buku, ternyata berbeda. Cara Eira merayu sudah seperti wanita malam yang sedang mencari mangsa.


"bisa kok. Tenang saja Nona. Mau ditemani dimana?" tanya pria itu sambil tersenyum.


Eira menggelengkan kepala. Dia hanya ingin dilindungi satu orang saja. Menurutnya, pria yang ada di sampingnya bisa untuk melakukan itu. Melihat otot-ototnya yang kekar, dan badannya yang tegak, pasti semua orang akan takut untuk mendekati dirinya, jika bersama orang seperti ini.


"kau beruntung, Dret." ucap teman pria itu.


"salah sendiri badanmu kecil, Van." jawabnya.


Setelah berbincang-bincang sana-sini. Eira meminum minuman bersoda dua orang yang bernama Dret dan Van. Alasan Eira meminumnya, karena dia merasa haus dan ingin tahu, minuman apa yang telah dua orang itu pesan.


Van dan Dret senang. Bagi mereka, hal itu seperti ciuman tidak langsung. Melihat bibir Eira yang berwarna merah, sudah membuat mereka melihat ke atas langit-langit dan berkhayal. Bagaimana rasanya jika bisa mencium bibir merahnya.


Setelah melakukan itu. Eira pamit pergi. Ada urusan lain yang harus dia lakukan. Apalagi dirinya adalah seorang resepsionis disini. Van dan Dret mengizinkannya. Apalagi setelah mendengar, bahwa Eira sedang bekerja saat ini.


"sampai jumpa Nona Eira." ucap Dret sambil melambai.


Van yang melihat hal itu hanya bisa menahan rasa irinya. Dia sedikit jengkel dengan temannya ini. Mukanya pas-pas an tapi bisa mengait wanita seimut Eira.


"kalian berdua. Ikuti aku sebentar." ucap Eira kepada Aria dan Sanea.


Sanea dan Aria mengikuti langka kaki Eira dibelakangnya. Di sebuah ruangan tunggu yang bertulisan Resepsionis Office, Sanea dan Aria disuruh menunggu oleh Eira.


"akan aku buatkan izinnya. Siapa nama anda, Nona?" tanya Eira kepada Aria.


"nama saya Aria." jawab Aria.


"hanya Aria? Tanpa nama belakang?" tambah Eira.


Aria diam sebentar. Dia tidak pernah memakai nama panjang. Di guild saja hanya nama depan sudah bisa mendaftarkan diri. Meskipun itu karena bantuan Wirl dan Yua juga.

__ADS_1


"tidak ada." jawab Aria.


"kau berambut putih padahal. Aku kira dari keluarga Franahunt." sahut Eira.


Eira pergi menuju ruangan lain yang terletak di sebelah ruangan Resepsionis Office. Ruangan itu dipisah dengan sebuah kaca, jadi semua orang yang ada di ruang Resepsionis Office bisa melihat, sedang apa yang terjadi disana.


Dari sakunya. Eira mengeluarkan sebuah kartu. Aria tahu betul kartu itu milik siapa. Kartu yang Eira pegang adalah milik pria yang bernama Dret tadi. Wajahnya ada di kartu yang Eira sedang pegang.


"Eira tadi sedang mengambil kartu milik orang lain, untuk diubah penampilannya, menjadi kartumu, Aria." kata Sanea.


"jadi, sewaktu dia memeluk badan pria kekar itu. Dia sedang mengambil kartunya?" tanya Aria.


"benar, Aria. Eira juga memberi racun neurotoksin di minuman mereka berdua." ucap Sanea.


Aria tidak menyangka hal itu. Racun yang Eira berikan kepada dua orang itu, bisa Eira simpan di mulutnya. Apalagi racun yang diberikan adalah neurotoksin yang bisa menyebabkan kelumpuhan saraf dan kejang-kejang. Niat Eira mungkin, ingin menghapus ingatan mereka berdua.


Eira memasukkan kartu itu di sebuah alat yang dapat mengubah data kartu. Dia menekan beberapa tombol. Kemudian suara dan cahaya muncul darisana.


Zing~ Zing~


(suara alat itu ketika bekerja)


"ini kartunya, Nona Aria." ucap Eira


"terima kasih." jawab Aria.


Eira menuntun mereka ke sebuah ruangan lagi. Tetapi ruangan ini berbeda. Ruangan ini seluas kamar sewa, dan hanya ada dinding berbata merah, dengan sebuah benda berbentuk kotak di tengah dindingnya. Di benda itu ada tulisan, masukkan izin.


"silahkan." ucap Eira.


"ikuti aku, Aria!" tambah Sanea.


Sanea memasukkan kartunya di benda itu, lalu sebuah cahaya menyinari seluruh ruangan. Cahaya itu membuat dinding batubata mengeluarkan sebuah tulisan, dua orang sudah teridentifikasi, kecuali satu orang. Menjauh atau izin ditolak.


Aria mencoba hal yang sama seperti Sanea. Dia memasukkan kartunya. Sebuah cahaya terang muncul dengan sekejap. Di dinding batubata bertuliskan, bahwa semua telah diidentifikasi, lalu kartu Sanea dan Aria keluar darinya.


Grek~ Grek~


(suara geseran dinding batubata)


"ini Aria. Kartumu. Wajahmu juga sudah ada." ucap Sanea.


"silahkan masuk, dan mana hadiahku?" ucap Eira.


Sanea memberikan kacamata yang sudah dirinya janjikan. Kacamata yang Eira pakai, tadinya berwarna hitam lalu berubah menjadi warna biru. Setelah berterima kasih, Sanea dan Aria masuk ke sebuah pintu yang telah terbuka, dari dinding batubata yang telah bergeser.


"ini mengarah dimana?" tanya Aria.


"kota semua player seAgastias berkumpul." jawab Sanea.


Di ujung lorong. Terlihat orang berlalu-lalang. Sebuah tempat yang menjual barang-barang langka, seperti yang tuan Faremon dan Sanea punya. Banyak sekali poster terpasang di dinding toko yang dilewati banyak orang. Poster itu bertulisan. Have Fun Monster Ghoul yang akan dilaksanakan sehari lagi.


"semua orang disini adalah player, Aria. Tugas kami sekarang, adalah melawan malapetaka yang akan diberikan oleh dewa terdahulu." jawab Sanea.


"tunggu. Malahpetaka apalagi?" tanya Aria.


Semenjak masalah pernikahannya sudah dibatalkan. Dia mendapat masalah baru lagi. Aria pikir, dengan mengikuti petunjuk yang telah diberikan kepadanya, dia bisa mencari tahu sesuatu, tentang negara Einhoren, tetapi malah dapat masalah baru.

__ADS_1


__ADS_2