
"Renay, Fado dan Ewa sedang memberi teguran, kepada orang yang telah menabrak si Renay, Tuan." ucap Ruin.
Hanya Renay, Fado dan Ewa saja yang tersiram air seduhan, dari enam gelas kopi. Ruin dan Jiy tidak. Mereka berdua, berada sedikit jauh, ketika gadis yang membawa buku itu menabrak Fado yang sedang mengantarkan enam gelas kopi.
"memberi teguran? Aku melihat kalian, seperti akan berbuat sesuatu, kepada temanku." kata Sanea.
Mereka berempat, menaruh pandang kepada Fado. Karena dia yang sudah berbuat genit kepada Aria, gadis yang baru mereka kenal. Fado mengajak Aria untuk menikah, sebagai tebusan, untuk masalah yang sudah ditimbulkan oleh gadis itu.
"itu tadi, cuman bercanda. Aku terpesona melihat kecantikan nona Aria. Secara tidak sadar, aku ingin menggodanya." ujar Fado.
Fado mencoba menjelaskan, penyebab dia melakukan hal tadi. Dirinya yang masih berstatus jomblo, nafsu birahi mendorongnya untuk melakukan hal tersebut. Apalagi melihat nona Aria, yang berasal dari keluarga yang sama, Fado ingin sekali menjadikannya kekasih.
"iya kan guys?" ucap Fado.
Dia melihat ke arah teman-temannya. Berharap teman-temannya ada yang mendukungnya. Tapi mereka terlihat cuek. Renay, Ewa, Ruin dan Jiy harus menjaga sikap, karena pangeran Daniel sedang ada dihadapan mereka.
Pangeran Daniel penasaran. Seperti apa, gadis yang baru saja Fido goda. Dia melihat ke arah dua gadis, yang sedang menata buku-buku, yang ada di jalan. Pangeran Daniel seperti, merasa kenal dengan gadis berambut putih itu.
"sebagai pangeran. Saya meminta maaf. Jika anak buah saya telah berbuat tercela!" ucap pangeran Daniel.
Dia sedikit menundukkan badannya, bagaikan seorang ksatria yang sedang meminta maaf. Lima anak buahnya, meminta kepadanya, untuk tidak melakukan hal itu. Karena semua kesalahan ini, disebab oleh mereka.
Sesudah membantu gadis asing tersebut. Aria melihat kembali, wajah orang yang dulu pernah dia sukai. Wajah penuh kharisma dan baik hati, masih bisa terlihat di wajahnya.
"dasar Daniel. Ternyata, kau masih belum berubah." batin Aria.
Pangeran Daniel tidak malu untuk meminta maaf, meskipun kesalahan tersebut, bukan berasal dari perbuatannya. Sama seperti dahulu, ketika Aria/Irene masih duduk di bangku sekolah.
Dia pernah menghampirinya untuk meminta maaf, karena saudara-saudaranya sudah mengganggunya. Dahulu, dirinya sering sekali diganggu oleh keluarga Frainahunt, karena hanya dirinya, yang berbeda dengan anak elf, bangsawan yang lain.
Teng~ Teng~ Teng~
(suara lonceng di menara jam)
Semua jam yang ada di distrik merah, menunjuk di pukul delapan. Sebentar lagi pengumuman event akan segera dimulai. Kerumunan orang yang sedang bersantai di kedai-kedai, sudah banyak yang beranjak dari tempatnya.
"tidak apa pangeran. Itu bukan salah anda." ucap Sanea.
"tidak apa. Salah anak buahku, termasuk salahku juga." jawab pangeran Daniel.
Aria yang sedari tadi melamun, menatap wajah pangeran Daniel. Dia mulai tersadar, setelah pandangan mereka berdua, saling bertemu. Aria langsung memalingkan mukanya ke arah lain, untuk menghindari hal itu.
"mari kita pergi Sanea!" ucap Aria.
"kau benar. Sekarang waktunya pengumuman event." sahut Sanea.
Tidak lupa, Aria mengajak gadis asing itu untuk pergi bersamanya. Aria membawakan beberapa bukunya, supaya gadis itu tidak keberatan. Sekaligus, untuk menghindari, kejadian menabrak orang seperti tadi.
"Fido. Kau tadi yang menggodanya bukan?" tanya pangeran Daniel.
"benar, pangeran." jawab Fido.
Apapun hukuman yang akan diberikan oleh pangeran Daniel. Fido siap menanggungnya. Dia merasa, bahwa pangeran Daniel akan memberikan dirinya sebuah hukuman, karena telah menggoda gadis asing.
"kau tahu, siapa namanya?" ucap pangeran.
"namanya Aria, pangeran." jawab Fido.
Pangeran Daniel melihat punggung Aria yang semakin menjauh. Hatinya menjadi berdebar, ketika menatap wajah gadis itu. Tatapan gadis bernama Aria tersebut, mengingatkan dirinya akan kekasihnya yang dahulu.
"entah kenapa. Aku jadi teringat kepadamu lagi. Irene." ucap pangeran Daniel.
__ADS_1
Mengetahui jam dinding, sudah menunjuk di pukul delapan. Pangeran Daniel mengajak lima anak buahnya untuk mencari toko baju di Distrik Merah. Jas bisa menjadi pakaian alternatif, untuk pengganti pakaian seragam militer.
Mereka berlima, mengikuti pangeran Daniel dari belakang. Ruin dan Jiy mengingatkan Fado, bahwa tidak sopan untuk mengajak wanita yang tidak dikenal, untuk menikah.
"lain kali, kenalan yang baik-baik dulu. Jangan langsung diajak menikah!" ujar Ruin.
"betul. Nafsu itu dijaga! Jangan sembarangan diungkapin!" tambah Jiy.
Fado sedikit kesal, mendengar nasehat tersebut. Dia tahu, jika Ruin dan Jiy, aslinya ingin menggoda, gadis bernama Aria itu. Mereka juga antusias, meminta jatah main malam, jika dirinya, beneran bisa menikah dengan Aria.
"padahal kalian sama saja tadi." ucap Fado.
"betul itu. Ruin dan Jiy juga ingin ambil bagian, saat malam malam pertama dengan gadis itu." tambah Renay.
Ewa mengangguk, mendengar ucapan Renay. Baru saat ini, Fado ada yang membelanya. Saat tadi, ketika dia sedang berdebat dengan teman Aria yang memiliki dada melon itu, semua temannya, mengacuhkannya.
...****************...
"Aku, berterima kasih sekali." ucap gadis itu.
Dia mengucapkan terima kasih, sambil melihat ke bawah. Aria dan Sanea yakin, bahwa gadis ini sangat pemalu. Dahulu Irene juga begitu. Terlalu sering di istana, membuatnya menjadi gadis yang pemalu. Entah kenapa, berinteraksi dengan orang baru itu membuatnya merasa gugup.
Beruntung, ibunya memberikan pita sutra senja, yang bisa mengubah warna rambutnya. Irene jadi bisa melakukan apapun, tanpa takut merasa malu. Menjadi seorang putri raja yang melakukan kesalahan itu, rasanya tidak enak sekali.
Berkat pita rambut ini, Irene bisa berganti-ganti penampilan, tanpa takut untuk dikenali oleh semua orang. Jika dirinya, seorang putri negara Agastias.
"siapa namamu?" ucap Aria.
"namaku Kozuki." jawabnya.
"salam kenal, Kozuki. Namaku Aria." sahut Aria.
Penampilan Kozuki seperti gadis polos. Dia memakai berkacamata berlensa lingkaran, rambutnya hitam panjang, diikat dua, hampir selutut. Badannya kecil, tidak berotot.
Seorang wanita yang pernah bertarung. Pasti badannya sedikit berisi. Meskipun tidak lebih berisi daripada badan laki-laki. Mengingat resepsionis yang bernama Eira, Aria tidak bisa menganggap Kozuki, gadis yang polos. Bisa saja dia berbahaya.
"maaf. Saya ingin pulang setelah ini." ucap Kozuki.
Dia menaruh bukunya di jalan. Buku miliknya yang sedang Aria pegang, Kozuki izin untuk mengambilnya kembali.
"Kozuki, enggak ikut pengumuman event?" tanya Aria.
"tidak perlu. Aku punya tugas sendiri yang harus aku lakukan." ujar Kozuki.
Kozuki pamit kepada Aria dan Sanea. Dia lanjut berjalan keluar dari Distrik Merah. Beruntung jalanan yang sudah mulai sepi, Aria tidak kepikiran lagi, jika dia akan menabrak orang lain.
"mari Aria. Kita akan terlambat nanti." ujar Sanea.
"eh Sanea. Apa ada tugas yang lebih penting, daripada menyelesaikan event ini?" ucap Aria.
Sanea menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu. Jika benar, si Kozuki adalah seorang playar. Sepertinya, para dewan sudah memberinya sebuah tugas, yang berbeda dengan player yang lain.
...****************...
Semua orang berkumpul di halaman luas. Tidak ada pepohonan, hanya ada barang-barang bekas yang digunakan oleh orang-orang untuk tempat duduk. Di tengah alun-alun. Sebuah panggung dengan mimbar, berdiri tegak. Layar tancap dan alat pengeras suara juga ada disana.
"hai Aria, hai Sanea." ucap Wirl.
"hai juga, Wirl." jawab Sanea.
"bagaimana caramu untuk menemukan kita?" tanya Aria.
__ADS_1
Wirl menunjuk ke rambut Aria. Hanya dia yang memiliki warna rambut putih, diantara orang-orang yang berpakaian nyentrik dan sangar.
Orang yang memiliki warna rambut putih lainnya, ada di barisan belakang. Mereka semua adalah para prajurit negara, dari keluarga Frainahunt yang sedang berada disini.
"Yua, dimana? Kenapa dia tidak ikut?" tanya Aria.
"Yua, ada urusan. Entah apa urusan dia." jawab Wirl.
Di atas panggung yang terbuat dari beton. Banyak orang yang naik di atas sana. Aria mengenal, beberapa sosok yang sedang naik di atas panggung. Ketua cafe Red Baron Ground yaitu tuan Faremon, dan empat orang dewan, yang pernah dia temui di Tempat Perkumpulan.
Tuan Faremon dan para dewan, duduk di tempat yang sudah dipersiapkan. Selain mereka, semua orang berdiri di belakang. Mereka berdiri membentuk sebuah barisan yang memanjang ke samping.
Tetapi, ada satu orang yang tidak Aria kenali, di antara empat orang dewan yang sedang duduk itu. Dia seorang pria elf berambut hitam, dengan bandana berwarna hitam di dahinya. Waktu di gedung pertemuan, pria itu tidak ada disana.
"tanpa berlama-lama lagi. Saya, selaku perwakilan dari para dewan player. Ingin menyampaikan informasi, mengenai Event Have Fun Ghoul." ucap pria elf berambut hitam itu.
Layar televisi yang ada di kota, biasanya dipakai untuk menyiarkan berita. Digunakan untuk menyuting orang itu. Supaya semua orang bisa melihatnya dengan jelas, meskipun berada dikejauhan.
Menurutnya. Event itu akan dimulai besok, saat dini hari. Ketika semua kegiatan sedang redup-redupnya. Tugas para player adalah mengalahkan monster Ghoul yang menjadi intinya.
Event ini diadakan oleh dewa. Untuk menyeleksi. Siapa yang pantas menjadi player dan mendapat semua manfaat, menjadi seorang player. Dan tentunya, untuk kejadian menarik yang akan ada di masa depan.
"eh. singkat sekali." ujar Aria.
"lama-lama buat apa coba? Informasi selebihnya akan diberitahukan nanti, oleh para player yang lain." ujar Wirl
Setelah menyampaikan informasi tersebut. Ternyata masih ada pengumuman lainnya. Jendral keamanan dari keluarga Frainahunt, yaitu putri Airin Frainahunt, ingin menyampaikan sesuatu.
"apa? Putri Airin?" ucap Aria. Lirih.
Gadis berambut putih panjang, yang dikuncir satu, naik ke atas panggung. Dia berseragam sama seperti prajurit lainnya, tapi ada sesuatu yang mencolok di bajunya. Sebuah medali berwarna emas, terpasang di dada kirinya.
Semua orang yang hadir disana, bertanya-tanya. Untuk apa, hadir jendral keamanan di Distrik Merah? karena berurusan dengan prajurit negara, adalah salahsatu hal, yang paling dihindari oleh para player.
"selamat malam, semua. Saya selaku, perwakilan dari Keamanan Negara. Kami ingin bekerja sama dengan kalian untuk menyelesaikan Event ini." ujar putri Airin.
Banyak dari semua orang tidak setuju. Banyak orang bergumam, jika nanti quest yang aslinya untuk para player, akan diambil oleh prajurit negara untuk diselesaikan. Para Player, mengantungkan hidup mereka darisana.
Beda halnya dengan Aria. Dia bergumam mengenai sosok putri Airin sekarang. Dia sudah menjadi jendral keamanan di negara Agastias. Sebuah pencapaian yang sangat hebat sekali, sedangkan Aria sendiri. Dia masih sibuk mencari tahu, sosok pangeran Einhoren yang sebenarnya.
Duar~
(terdengar suara ledakan)
Semua orang melihat ke arah sumber suara ledakan itu berasal. Para prajurit keamanan juga langsung bergegas menuju disana. Diikuti sebagian orang, yang bukan seorang prajurit.
Ada juga beberapa orang yang langsung pergi keluar dari Distrik Merah. Menurut mereka, acara informasi tentang event sudah berakhir, biarkan saja para prajurit negara yang menangani hal tersebut. Semua orang harus bersiap untuk event ini, besok hari.
"aku mau pulang saja. Kalau kalian gimana?" ucap Wirl.
"kalo aku sih. Kayaknya bakal bersenang-senang dulu." kata Sanea.
Aria jadi teringat sesuatu. Hari besok adalah hari pertamanya untuk masuk akademi. Dia juga belum pernah mengunjungi akademinya sama sekali.
"aku juga, sepertinya harus pulang." ucap Aria.
Setelah berkata seperti itu. Aria berlari keluar dari Distrik Merah menuju trotoar pinggir jalan. Dia tidak ingin bangun kesiangan lagi seperti kemarin.
"mau aku antar sampai ke kota, Nona?" teriak Wirl.
"tidak apa. Aku titip salam saja kepada Yua. Aku kangen dia." teriak Aria juga.
__ADS_1