Love And Adventure

Love And Adventure
Tugas Khusus


__ADS_3

"jadi, untuk apa kau membawaku disini?" ucap Aria.


Aria berkata sambil berjalan di samping Sanea. Jalanan yang sedikit lebar tidak akan membuat dirinya bertabrakan dengan orang lain, yang sedang berlalu-lalang. Apalagi kebanyakan pejalan kaki disini berjalan tidak sendiri, ada minimal satu orang di samping mereka.


"Aku membutuhkan rekan untuk menyelesaikan quest. Para dewan berkata, jika quest akan lebih menyusahkan lagi nantinya." jawab Sanea.


"tapi apakah bisa? Syarat untuk pergi ke tempat seperti ini aja, si Resepsionis tadi sampai harus mencuri kartu player lain?" kata Aria.


Sanea tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. Dia merogoh sesuatu di dadanya. Sebuah kertas mengkilap, dia tunjukkan kepada Aria. Kertas yang pernah Yua dan Wirl tunjukkan, kepada resepsionis wanita yang bernama Libia. Sewaktu malam kemarin.


"tenang saja. Kertas ini bisa mengabulkan semuanya." jawab Sanea.


"aku paham itu. Aku juga sudah pernah melihat kehebatan dari kertas yang kau pegang." sahut Aria.


Tempat perkumpulan. Begitu yang orang-orang memanggil tempat ini. Sebuah desa kecil yang terlihat sangat modern. Setiap toko disini hanya menjual peralatan yang jarang ditemui di kota Agantha. Halkie Talkie saja dijual secara eceran.


Kata Sanea. Untuk membeli sesuatu barang di tempat ini sangatlah ribet. Harus ada dua surat izin dari dewan Red Baron Ground yaitu : 1. kertas eksekutif seperti yang dipunyai oleh Sanea, Wirl dan Yua, 2. sertifikat izin pemilikan barang. Jika tidak mempunyainya maka tidak bisa membeli.


Ribetnya izin, dikarenakan barang-barang tersebut sangat langka. Karena kelangkaannya, semuanya harus digunakan sebaik mungkin. Kebanyakan orang yang mempunyai barang itu adalah player. Mereka membutuhkan barang itu, untuk membantu questnya.


"sebentar, Aria. Kita mampir ke toko serba ada dulu." ucap Sanea.


"kau ingin membeli apa?" tanya Aria.


"perlengkapan dong. Nanti malam ada pengumuman soal event yang akan dilaksanakan besok. Pasti semua toko bakalan ramai." jawab Sanea.


"event? Event yang bertulisan Have Fun Monster Ghoul itukah?" tanya Aria. Lagi.


Mengenai event tersebut. Sanea juga masih belum terlalu tahu. Penyebab semua player disuruh berkumpul sebelum hari H event tersebut, supaya semua player mendapatkan penjelasan. Apa yang harus mereka lakukan, saat event itu sedang berlangsung.


Kata Sanea. Hanya para dewan saja yang diberi petunjuk oleh dewa, mengenai event itu. Tugas dari para dewan adalah, memberitahu petunjuk yang sudah diberikan oleh dewa. Karena cara untuk menyelesaikan eventnya, hanya sang dewa yang menentukan.


Ting~


(suara bell saat pintu masuk didorong)


"selamat datang di toko barang ajaib." ucap seorang kasir.


Suasana toko sedang tidak banyak orang yang berkunjung. Terlihat ada beberapa pria berpakaian sama sedang membawa barang-barang kepada seseorang. Dilihat dari situasinya, mereka adalah pegawai toko dan orang yang sedang membeli barang.


"halo, Tara." sapa Sanea.


"Sanea. Apa kabar." jawabnya.


Aria berjalan bersama Sanea, menuju ke depan meja kasir. Tidak lupa Aria memberikan salam kepada Tara. Dia menundukkan sedikit badan sambil mengangkat sedikit roknya. Setelah Aria berkenalan dengan Tara. Sanea ingin memesan sesuatu kepadanya.


Barang yang Sanea pesan adalah bola debu peledak, peta informasi dan beberapa jenis potion. Setelah mencatat semua itu, Tara memanggil karyawan pria yang sedang tidak sibuk, untuk membawakan barang-barang yang Sanea pesan.


"wah. Kau elf keluarga Franahunt bukan?" ucap Tara.


Tara memperhatikan rambut Aria yang warnanya putih. Dia memiliki tinggi yang sedikit pendek dari Aria. Berambut hitam panjang. Warna pakaiannya sama seperti karyawan yang sedang mondar-mandir membawa barang-barang pesanan penjual.


Bajunya putih berlengan panjang, dengan rok hitam selutut, sambil berkaos kaki putih dan memakai sepatu model feminim, berwarna hitam. Tapi hanya Tara yang bekerja di toko ini, yang berasal dari ras manusia. Karyawannya berasal dari ras elf. Telinga mereka panjang dan runcing.


"iya. Salam kenal." jawab Aria. Berbohong.

__ADS_1


Tara bergumam tanpa suara. Sepertinya dia seperti sedang memikirkan sesuatu.


"nona Aria punya masalah apa? Kok sampai menjadi seorang player?" tanya Tara.


"iya juga. Apakah kau mempunyai sebuah masalah, Aria?" tanya Sanea juga.


Tara dan Sanea menjelaskan. Mereka dulunya juga mempunyai sebuah masalah yang rasanya tidak bisa untuk diselesaikan. Namun, ada orang asing yang menawarkan mereka solusi, untuk bisa menyelesaikan masalah yang mereka punya.


Tapi mereka harus menyelesaikan quest yang diberikan oleh sebuah permainan. Sejak saat itu, mereka menjadi seorang player. Meskipun masalah yang mereka punya, perlahan menghilang dengan sendirinya, atau bisa mereka selesaikan tanpa bantuan permainan ini.


"hanya masalah keluarga aja sih." jawab Aria. Simpel.


Tara mengangguk. Dia tidak bertanya lebih lanjut lagi. Apalagi, jika masalah yang dialami oleh Aria adalah masalah keluarga. Masalah yang tidak bisa diceritakan kepada sembarang orang.


"apapun yang terjadi. Jangan pernah menyerah saja. Kita boleh berhenti untuk beristirahat, tapi jangan pernah untuk mencoba menyerah." ucap Tara.


"aku setuju. Memang dengan berusaha tidak menjamin kita untuk berhasil, tapi dengan menyerah, sudah memastikan bahwa kita sudah gagal." tambah Sanea.


Karyawan toko datang, membawa tiga kotak berukuran sedang. Sanea merogoh sesuatu di dadanya untuk mengambil dua surat izin untuk membeli, dan sebuah dompet untuk mengambil uang, dan membayar semua barang tersebut.


Setelahnya. Sanea dan Aria pamit untuk pergi. Masih ada tempat lain yang harus mereka berdua datangi yaitu tempat para dewan berada. Tidak jauh dari pandangan mereka. Terlihat sebuah gedung yang dibangun dari batu marmer putih.


Di belakang gedung itu. Dikelilingi oleh lautan. Debaran ombak dan bau asin air laut sampai tercium di hidung. Di depan gedung putih itu, terdapat sebuah alun-alun dengan patung prajurit elf menunggangi sebuah kuda.


"aku berharap. Kita bisa menjadi rekan yang baik nantinya." kata Sanea.


"kenapa kau tidak mencari rekan sejak dahulu?" tanya Aria.


"dahulu, semuanya bisa aku selesaikan sendiri. Sekarang sih, sudah tidak. Pertarungan tadi aja, aku kesusahan. Apalagi, jika tidak ada bantuanmu." jawab Sanea.


Di benaknya. Aria jadi bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang sudah dilakukan oleh Vio dan Enn kepadanya? Aria merasa, jika dirinya tidak menemukan petunjuk apapun mengenai negara Einhoren, malahan dapat masalah baru yang tidak jelas.


"jadi Sanea. Nanti kita akan melawan musuh seperti apa aja?" tanya Aria.


"musuh kita adalah monster yang ingin menguasai dunia. Jadi tugas kita adalah mencegah mereka untuk mencapai tujuannya." ucap Sanea.


Setiap bulan, pasti akan muncul seekor monster. Mereka dikirim oleh dewa terdahulu, untuk mengalahkan para player, dan makhluk yang sudah hidup terlebih dahulu di dunia sihir.


Tugas para player yang Sanea maksud. Mengalahkan semua monster yang ingin menguasai dunia, dan mencegah kedatangan monster, dengan menyelesaikan quest yang diidentifikasi, bisa membuat monster dikirim ke dunia sihir.


"jadi. Vio dan Enn yang sudah aku tolong. Adalah monster." batin Aria.


Dia jadi teringat, dengan omongan pria yang kemarin pernah Aria temui. Bahwa Vio dan Enn akan menjadi monster dan membunuh banyak orang.


Jika menarik kesimpulan yang telah disebutkan oleh Sanea. Mungkinkah Vio dan Enn adalah salahsatu target, dari quest yang diidentifikasi, bisa membuat monster dikirim ke dunia sihir?


Jika iya. Apa yang sedang Vio dan Enn lakukan sekarang? Apakah mereka sedang berburu warga Agastias atau sedang merencanakan hal yang lain?


...****************...


Aria dan Sanea memasuki gedung berwarna putih marmer tersebut. Pintunya terbuat dari kaca. Banyak orang sedang duduk di kursi yang ditata berjejer panjang menyamping. Di depannya terdapat sebuah meja resepsionis dengan tiga orang pegawainya.


"ikuti aku, Aria. Kita tidak usah ikut mengantri." kata Sanea.


Tempat sebesar kota, seperti ini. Tidak ada prajurit keamanan yang berkeliaran. Di kota Agantha saja, setiap di perempatan jalan raya, pasti ada beberapa prajurit negara yang sedang bekerja menjaga ketertiban.

__ADS_1


"siapa yang mengelola tempat sebesar ini? Di kota ini tertib sekali, meskipun tidak ada prajurit keamanannya." ucap Aria.


"raja kedua yang membangun tempat ini dahulu, katanya. Sekarang tempat ini dikelola oleh sahabat dekatnya." jawab Sanea.


Mereka berdua menuju ke sebuah tangga. Anehnya, tangga itu hanya setengah saja, tidak menghubungkan apapun. Di depan tangga itu terdapat dua orang pria, yang sedang menjaga.


Aria dan Sanea ditanya mengenai Shining Card. Kertas mengkilap yang barusan Aria dapat dari Eira. Izin menuju tempat dewan, harus memiliki benda tersebut.


"surat izinnya, Nona." ucap salahsatu penjaga.


Sanea mengambil kartu itu dari dadanya. Aria juga mengambil kartu tersebut dari tas yang ada di belakang pinggulnya.


Sesudah memberikan kartu itu. Mereka disuruh untuk naik di tengah-tengah tangga. Salahsatu dari penjaga itu mengucapkan mantra, lalu tangga yang Aria dan Sanea tumpangi terbang ke atas, menuju ke sebuah pintu.


"permisi. Saya Sanea Diena. Ingin melaporkan quest yang sudah diberikan kepada saya." ucap Sanea.


Di hadapan mereka berdua. Ada empat orang yang sedang duduk di masing-masing tempat duduk yang berbeda. Ada yang duduk di depan kursi dan meja, ada yang duduk di sebuah sofa dan ada yang duduk di atas rak buku.


"silahkan masuk." ucap seorang wanita.


Wanita itu yang sedang duduk di sofa. Penampilannya terlihat seperti seorang pengantin yang mengunakan busana hitam. Mukanya tidak dapat dilihat karena tudungnya.


Aria mengikuti tingkah laku yang dilakukan oleh Sanea. Sebelum mereka memasuki ruangan. Sanea menundukan kepala terlebih dahulu. Tata salam bangsawan sepertinya tidak pantas untuk dilakukan saat ini.


"Sanea Diena yah. Mari kita lihat, apa questmu." ucap pria yang duduk di rak buku.


Dia mengangkat tangan kanannya ke depan. Sebuah buku yang ada di rak buku langsung terbang menuju di tangannya.


"permisi." ucap orang lain.


Aria tahu suara siapa ini. Dia melihat ke arah belakang. Sesuai feelingnya. Suara itu adalah Wirl. Ternyata Wirl tidak hanya bekerja sebagai pegawai guild petualang.


"silahkan masuk. Wirl." ucap nona Ra.


Ketika masuk di dalam ruangan. Wirl sontak kaget. Dia bisa bertemu putri Irene yang sedang menyamar di tempat seperti ini.


"eh putri -" ucap Wirl.


Sebelum Wirl menyelesaikan perkataannya. Putri Irene memberinya kode untuk tutup mulut. Wirl melihat putri Irene seperti mengesek-gesek jari telunjuknya di bibirnya.


"permisi ketua dewan." ucap seseorang lagi.


Nona Ra langsung menyuruhnya untuk masuk. Beliau mengisyaratkan dengan tangan kanan. Sepertinya beliau capek untuk menjawab salam orang-orang yang sedang datang.


"sebuah kebetulan. Banyak yang melapor hari ini." ucap pria yang duduk di rak buku.


"sepertinya ini sebuah pertanda, Kai. tapi aku tidak tahu apa itu." ucap Nona Ra.


Pria bernama Kai yang sedang duduk di rak buku mengusap-usap dagunya. Dia sedang kepikiran pertanda apa yang akan terjadi nantinya.


"eh kau!" ucap Aria.


"oh kau yang membuat questku gagal rupanya." ucap pria baru datang itu.


Aria tidak menyangka. Pria yang dia temui saat membantu Via dan Enn ada disini.

__ADS_1


__ADS_2