Love And Adventure

Love And Adventure
Mencari Sesuatu


__ADS_3

"kenapa kau bisa disini? Sanea." tanya Irene.


Sania menyuruh Irene untuk diam terlebih dahulu. Dia menunjukkan lima jari telapak tangannya di hadapan Irene.


"sebelum aku jawab. Aku harus memanggil namamu siapa?" tanya Sanea.


Irene menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada murid Akademi Teodore yang sedang mampir di cafe. Irene bisa melihat, murid-murid lain Akademi Teodore dari kaca cafe. Mereka lebih suka nongkrong di trotoar pinggir jalan.


"panggil sesuai situasi aja. Sekarang, aku Irene. Nanti, aku Aria." ujar Irene. Dia memberikan isyarat jempol ke Sanea.


"oh~ oke." jawab Sanea. Dia mengacungkan jempolnya juga.


Sanea mengeluarkan sebuah Handy Talkie yang berbeda. Handy Talkie itu lebih kecil, daripada Handy Talkie yang pernah Irene lihat sebelumnya. Memiliki warna hijau tua, dengan antena di bagian kiri yang bisa dilipat.


Pakaian yang sedang Sanea gunakan juga berbeda. Sanea mengunakan baju yang imut. Pakaian sailor seperti yang pernah Irene pakai, sewaktu dirinya menyamar, tetapi pakaian Sanea berwarna hitam dengan rok selutut, tanpa mengunakan stoking.


"dengarkan ini, Irene!" ujar Sanea.


"iya." jawab Irene. Singkat.


Antena di bagian kiri Handy Talkie itu Sanea buka. Suara gemerisik muncul, setelah tombol di samping kanan Handy Talkie sudah ditekan.


"omong-omong. Kenapa kau bisa disini?" tanya Irene.


"aku berniat untuk berangkat ke Distrik Merah, tapi karena aku sedang lapar, aku mampir deh disini." jawab Sanea.


Tiga sandwich yang berada di nampan yang tadi Sanea pegang. Dia makan dengan tiga kali kunyahan. Irene sudah paham, kenapa Sanea harus memakan makanan yang banyak. Dia seorang petarung bertipe Fighter dan Tanker.


Gaya bertarung Sanea, lebih menonjol di dalam bertahan daripada menyerang. Sanea pasti mengeluarkan banyak tenaga untuk bisa menahan serangan musuh dengan katananya. Jika Sanea tidak makan banyak, pasti dia akan gampang kelelahan.


Srrt~ Srrt~


(suara Handy Talkie yang mulai terhubung)


Untuk seluruh player yang telah mendapatkan mandat dari para dewan. Kami harap kalian datang di tempat permohonan. Ada tugas yang akan diberikan disana.


Srrt~


(suara Handy Talkie yang mulai mati)


"mari kita pergi Irene! Kita sudah setim, bukan?" ucap Sanea.


"tunggu dulu! aku masih di jam sekolah loh." jawab Irene.


Irene melihat ke arah gerbang Akademi. Dia takut, jika murid-murid lain yang ada di lapangan sekolah sudah masuk di kelas, karena ada guru yang mengisi mata pelajaran. Beruntungnya, masih banyak murid yang berkeliaran di Akademi dan luar gerbang.


"aku bilang ke Eira aja. Dia pasti bisa mengizinkanmu." ujar Sanea.


Sanea mengubah saluran sinyal di Handy Talkienya. Dia sedang mencari saluran milik Eira. Saluran Handy Talkie milik Eira, hampir sama dengan saluran para player yang ditugaskan untuk mencari informasi untuk Distrik Merah.


"jangan Sanea! Nanti dia akan tahu, jika Aria itu aku." Ucap Irene.


"terus. Gimana dong? Bolos sekolah gitu?" tanya Sanea.


Handy Talkie yang Sanea pegang, dia matikan. Handy Talkie itu Sanea letakkan di atas meja. Karena ada murid Akademi Teodore yang berkunjung di Cafe. Sanea memasukkan Handy Talkienya di tas serbaguna yang berada di belakang pinggulnya.

__ADS_1


Kring~


(suara bell cafe pintu ketika ada orang masuk)


"selamat datang!" ucap pegawai cafe.


Setelah berfikir sejenak. Irene memantapkan diri untuk membolos sekolah. Di kelasnya juga masih jam kosong. Apalagi kejadian di kelas yang baru saja dia alami. Kembali ke kelas sepertinya hanya akan memperjelek moodnya.


"baiklah. Aku akan bolos sekolah. Sepertinya event ini bakal menganggu keamanan negara jadi aku harus ikut untuk menyelesaikannya." ucap Irene.


"bagus Irene. Akhirnya, aku tidak menyelesaikan questku sendirian lagi." ujar Sanea.


Sanea menaruh uang tip di atas meja. Dia menghabiskan minuman es lemonnya. Irene juga, kopi yang tadinya panas, sekarang sudah menjadi dingin, karena percakapan yang tadi dirinya lakukan bersama dengan Sanea.


Kring~


(suara bell pintu cafe ketika Sanea buka)


"entah. Quest apa yang akan diberikan kepada kita. Aku belum pernah mengambil quest di tempat permohonan." ucap Sanea.


"eh~ ada tempat misterius lagi begitu? Sebuah lokasi kayak tempat perkumpulan?" tanya Irene. Penasaran.


Sanea mengelengkan kepala. Tempat permohonan tidak seperti tempat perkumpulan. Lokasi tempat permohonan masih ada di sekitar Distrik Merah. Kata Sanea, tempat permohonan digunakan untuk berdoa para player, kepada dewa permainan untuk meminta petunjuk.


"kau akan mengetahuinya nanti. Jika sudah sampai disana." ujar Sanea.


Mereka berdua berjalan di trotoar, mencari taksi yang sedang singgah di pinggir jalan. Sebelum Irene dan Sanea masuk ke dalam taksi, Sanea mampir di pembeli makanan Takoyaki. Dia membeli sebungkus Takoyaki dan mengambil sebuah bungkusan kain merah panjang.


"apa itu?" tanya Irene.


"katanaku dong. Aku menitipkannya sebentar." jawab Sanea. Enteng.


Mereka naik ke dalam taksi. Sanea menyuruh supir taksi untuk mengantarkan mereka ke distrik merah. Sebelum Irene memasuki taksi. Dia telah mengubah warna rambutnya menjadi putih lagi. Irene selalu membawa pita rambut senja mengunakan tas kecil ajaibnya, kemanapun.


...****************...


Pagi hari di Distrik Merah. Jam di sebuah dinding yang terdapat coretan grafiti rumit, menunjukkan pukul setengah sepuluh. Tanpa adanya orang yang berjualan di pinggiran. Banyak sekali orang yang berjalan dengan terburu-buru bersama beberapa rekannya.


Efek event Have Fun Ghoul. Bisa mengubah kondisi orang yang berada Distrik Merah menjadi sibuk, seperti masyarakat yang hidup di kota Agantha. Sebelumya, Aria dapat melihat banyak orang yang berleha-leha di sudut-sudut Distrik, bagaikan orang gelandangan.


"kau membawa Shinning Card, Aria?" tanya Sanea.


Aria mengecek benda tersebut, di tas kecil ajaib yang dia ikat di paha kanannya. Tas kecil ajaib yang Aria pakai sekarang, lebih kecil bentuknya daripada tas ajaib sebelumnya. Karena bentuk tasnya yang kecil, Aria bisa mengikatnya di pahanya.


"untungnya, aku membawanya selalu sih." ujar Aria.


Aria dan Sanea berjalan menuju ke lokasi, tempat permohonan berada. Sanea menunjuk sebuah bangunan yang besarnya, hampir setara dengan cafe Red Baron Ground. Bangunan itu memiliki tiga menara, jika dilihat dari kejauhan.


Bangunannya berbentuk kotak. Atapnya terbuat dari marmer berwarna coklat emas, tetapi di atap itu, ada lubang besar dengan noda gosong seperti habis terbakar. Tiga menaranya berwarna putih bersih. Katedral Grasio, nama yang tertulis di depan pintu bangunan tersebut.


"ada perlu apa? Kalian ada disini?" ucap penjaga pria. Santun.


Penjaga itu berpenampilan berbeda sekali. Biasanya, penjaga akan berpenampilan menyeramkan, agar orang yang melihatnya terintimidasi. Penjaga Katedral ini memakai jas dan celana hitam panjang. Senyuman ramah, dia berikan kepada siapapun yang berkunjung.


"kami diminta datang kesini karena sebuah tugas." ujar Sanea.

__ADS_1


Irene mengangguk dua kali, ketika penjaga pria itu melihat ke arahnya. Sanea mengeluarkan Handy Talkie miliknya dan Shinning Cardnya, begitu juga Aria, dia hanya menunjukka Shinning Card saja.


"baiklah. Silahkan masuk!" ucapnya.


...****************...


Aria dan Sanea berjalan masuk ke dalam Katedral, setelah diizinkan oleh pria tadi. Mereka harus melalui sebuah lorong terlebih dahulu, kemudian melewati sebuah tempat yang terbilang luas. Di tempat itu banyak sekali kursi-kursi yang berjejeran dan mimbar di depan.


Beberapa kursi yang ada di tempat ini. Ada yang hancur berantakan karena terbakar dan ada yang tinggal separuhnya saja. Tempat ini seperti habis terkena kebakaran. Aria jadi teringat, tentang suara ledakan, saat malam pengumuman event. Mungkin disini, lokasi kejadiannya.


Beberapa Player di tempat ini. Ada yang sedang berbicara dengan seorang pria yang berpakaian persis seperti pria yang ada di depan Katedral. Ada yang berbicara dengan seorang wanita yang memakai gaun berwarna hitam dan mengunakan tudung yang menutupi rambutnya.


"kalian Player?" tanya seorang wanita. Dia tiba-tiba menghampiri Aria dan Sanea.


"iya. Kami disuruh kesini." jawab Sanea.


Wanita itu mengajak Sanea dan Aria untuk mencari tempat duduk terlebih dahulu. Dia akan menjelaskan semuanya nanti. Katanya, tidak enak mengobrol sambil berdiri. Setelah, mereka duduk. Wanita itu memperkenalkan dirinya. Dia bernama Iren.


"kami mendapatkan arahan dari dewa. Untuk bisa menyelesaikan Event ini. Kita harus mencari Npc yang mempunyai informasi mengenai Event ini." ucap Iren.


Iren memberikan sebuah kertas kuno yang warnanya sudah kusam. Ketika Sanea menyentuh kertas itu, sensasi saat menyentuh kertasnya aneh sekali. Ada bulu-bulu halus dan kertasnya memiliki pori-pori seperti kulit. Di kertas itu terdapat tulisan yang samar.


"disini tertulis..." ucap Sansa.


Monster ras Ghoul diberikan kesempatan untuk bisa hidup normal seperti makhluk lainnya. Jika mereka bisa mendapatkan bahan terakhir untuk membuat ramuannya.


Jika ras Ghoul berhasil. Mereka akan dijadikan makhluk baru di dunia sihir. Mereka akan memiliki akses ke game dewa sama seperti makhluk lainnya dengan reward yang lebih besar.


Sanea merenung, setelah dia membaca tulisan di kertas tersebut. Dia masih tidak paham maksudnya. Aria juga. Dia masih berusaha mencerna makna tulisan yang sudah dibaca oleh Sanea barusan.


"tugas kalian adalah untuk menemukan bahan kedua dari ramuan yang bisa membuat Ghoul menjadi makhluk sungguhan." ujar Iren.


"bahan ramuan ke dua? Apa hubungannya dengan Event ini? Sungguh, kami masih belum paham." ucap Sanea.


Menurut Iren. Para Ghoul sedang membuat sebuah ramuan yang bisa membuat para monster superior menjadi terbebas dari belenggu permainan dewa. Belenggu tersebut, membuat para monster superior akan menjadikan mereka Npc untuk dibunuh oleh Player dunia sihir.


Ledakan yang ada di Katedral, disebabkan oleh para Ghoul yang datang saat ada pengumuman event. Mereka datang ke Katedral, untuk mencuri beberapa item yang telah diberikan oleh cafe Red Baron Ground untuk dianalisa oleh pihak Katedral.


"jadi kami harus mencari apa? Bahan ramuannya atau Npcnya?" tanya Aria. Dia sudah lelah mendengar perkataan yang berbelit-belit.


"menurut saya. Kalian harus menemukan Npcnya terlebih dahulu. Itu pilihan paling masuk akalnya." jawab Iren.


Kertas tersebut Sanea pegang. Di belakangnya masih ada beberapa tulisan lagi. Kata Iren, kertas itu yang akan memberikan beberapa petunjuk untuk menemukan ramuan tersebut.


"dibelakangnya tertulis~ hmm kecil sekali tulisannya." ujar Sanea.


Ramuan bertuah dibuat oleh peracik obat misterius. Tempat tinggal beliau berada di kegelapan dan tempat yang pengab.


"sebisa mungkin. Kalian harus mendapatkan bahan tersebut. Kami akan berdoa kepada dewa untuk diberikan petunjuk lainnya." ujar Iren. Dia izin pamit untuk pergi.


Tempat gelap dan pegab. Aria teringat tempat dirinya pertama kali bertemu dengan Sanea. Di gorong-gorong kota Agantha yang agak gelap dan sedikit pengab.


Sanea juga mengingat-ingat kejadian tersebut. Mungkin dua orang yang pernah dirinya lawan. Mereka adalah seorang Ghoul yang sedang mencari bahan untuk membuat ramuan bertuah.


"sepertinya. Botol kaca yang dahuku akh rebut dari dua orang yang pernah kita lawan. Sudah mereka ambil kembali di Katedral ini." ucap Sanea.

__ADS_1


"kita harus pergi mencari ramuan ini. Aku rasa, aku tahu. Dimana tempat yang gelap dan pengab. Sebelum itu, tolong jelaskan padaku. Belenggu apa yang mengikat para monster ini, yah Sanea!" ujar Aria.


Sanea mengangguk. Mereka pergi keluar dari Katedral, untuk pergi ke tempat yang Aria maksud. Aria yakin sekali, Npc itu sepertinya ada di dalam sana.


__ADS_2