
Aria menarik kesimpulan dari semua kejadian yang sudah dia alami. Kejadian tentang Ghoul, jika mereka memakan ras lain untuk bisa bertahan hidup. Masuk akal, jika Vio dan Enn saat malam itu, di kota Roanes, berkeliaran untuk mencari mangsa.
Kejadian mengenai permainan dewa, jika permainan itu bisa mengabulkan segala keinginan, selama bisa menyelesaikan questnya. Mungkin saja, para Ghoul ingin memenangkan Event ini, untuk bisa mendapatkan cara, supaya mereka bisa hidup tanpa memakan ras lain.
"nama Nona, siapa yah?" tanya Riff.
"oh~ maaf. Namaku Aria." jawab Aria sambil tersenyum.
Aria lalu melihat ke arah Ayano, yang sedang terbaring. Proses penyembuhan dengan sihir Healing, sepertinya sudah selesai. Kepala Ayano sedang diperban dengan kain kasa dan diberikan obat luka, agar darah di kepalanya tidak keluar lagi.
"beruntung yah, Nona Aria. kami tadi mendengar ada suara ledakan yang bertubi-tubi, jadi kami mencoba lewat jalan sini."
"terima kasih, Riff. Tolong panggil aku, Aria saja!"
Bum~
(suara ledakan dari tempat jauh)
Aria dan Riff sontak, melihat ke arah sumber suara itu muncul. Suara ledakan tersebut, entah muncul dari apa? Di pikiran Aria, sepertinya suara ledakan tersebut berasal dari sebuah sihir. Jika ledakan dari kendaraan terbakar, pasti disertai dengan kepulan asap hitam, tidak hanya api saja.
"Riff. Dia sudah kami obati." ucap Manra.
"baguslah. Dia sudah tidak menjadi Ghoul lagi, bukan?" tanya Riff.
Manra menggelengkan kepalanya. Dia menunjukkan sebuah serum yang tadi dia pakai, untuk menyembuhkan Ayano agar dia tidak berubah menjadi Ghoul. Serum itu kosong, tidak ada isi cairan di dalamnya.
"kita harus mendapatkan serum baru lagi. Bisa menjadi masalah, jika kita nanti tergigit oleh mereka." ujar Manra.
"kalian dapat darimana? Serum itu." tanya Aria.
"kami mendapatkannya dari orang asing. Dia tiba-tiba muncul dan menawarkan sebuah obat." jawab Manra.
"sewaktu itu. Kami berenam, sedang menolong warga sipil yang sedang diserang oleh beberapa Ghoul." tambah Riff.
Riff menjelaskan lagi. Ketika mereka berenam bertemu di perempatan jalan, setelah dipindahkan di tengah kota, saat jam sudah menunjukkan pukul dua belas. Terdengar suara teriakan dari warga yang sedang meminta tolong.
Mereka yang mendengar teriakan tersebut, memutuskan untuk pergi menuju ke lokasi. Di hadapan mereka. Ada tiga orang warga Agantha, sedang bertarung dengan tiga Ghoul. Beruntungnya, mereka bisa membela diri mengunakan sihir-sihir dasar.
Salahsatu dari tiga orang tersebut. Ada yang menjadi Ghoul karena terkena gigitan dari salahsatu Ghoul. Terpaksa orang tersebut harus dibunuh, agar tidak menyerang orang yang lain.
"setelah kejadian tersebut. Seorang kakek-kakek datang dan menawarkan sebuah obat, untuk penawar racun Ghoul itu." ucap Riff.
"tetapi. Orang tua itu aneh sekali. Dia meminta bayaran tiga Orb monster daripada uang." tambah Manra.
Orb monster. Aria pernah mendengar hal tersebut. Orb monster didapat dari mengalahkan monster jadi-jadian. Di dunia sihir, terdapat dua monster : monster asli dan monster palsu.
Monster asli. Jika mereka mati, mereka akan menjadi sebuah bangkai. Biasanya bagian tubuh mereka, bisa dimanfaatkan untuk dibuat sesuatu, seperti obat atau dibuat bahan peralatan.
Monster palsu. Jika mereka mati, tubuh mereka akan lenyap menjadi debu. Tapi mereka akan meninggalkan sebuah barang-barang tertentu. Banyak orang yang menyebutnya dengan item.
"bentar lagi. Kita akan sampai." teriak Juan.
Juan memberitahu semua orang yang ada di bak belakang mobil. Dia mengeluarkan sebagian tubuhnya dari cendela mobil, agar suaranya bisa terdengar sampai ke belakang.
"quest yang sebenarnya. Dimulai sebentar lagi." ucap Riff.
"kita tidak tahu. Sampai kapan quest ini akan berlangsung. Tapi jika kita bertemu lagi. Jangan lupakan kita. Nona... Em~" ucap Manra. Bingung melanjutkan perkataan.
"panggil saja Aria." jawab Aria.
Mendengar nama Aria. Juan jadi melirik ke Aria. Pandangan mata, mereka berdua bertemu. Sepertinya Juan sudah ingat, jika dirinya pernah berjumpa dengan Aria.
"ternyata kau." ucap Juan.
"humm." jawab Aria. Cuek.
Bruak~ Bruak~
(mobil menabrak beberapa kursi di depan cafe)
Karena Juan tidak segera masuk ke dalam tempat mengemudi. Mobil yang mereka tumpangi jadi oleng, hingga naik ke trotoar dan menabrak beberapa inventaris cafe. Mereka yang ada di belakang bak mobil, reflek memegang sesuatu, untuk menjaga keseimbangan.
__ADS_1
Ander yang berada di dalam mobil, langsung mengarahkan setir, agar tidak menabrak sesuatu yang lain. Ketika mobil sudah berada di jalan raya, Ander mengeluarkan sebagian badannya, seperti Juan. Dia memukul kepala Juan, karena tidak mau masuk ke dalam tempat mengemudi.
"eh orang. Kau sedang apa sih?" tanya Ander.
"maaf deh. Aku lagi menghirup udara luar." ujar Juan.
...****************...
Tempat yang tadi disebutkan oleh Ayano, di peta pasar, ternyata berada di taman kota. Suara gemerisik pepohonan yang rimbun, membuat suasana taman saat malam ini, terasa sangat nyaman.
Angin malam yang berhembus, membuat beberapa ayunan bergerak-gerak sendiri. Tetapi ada yang membuat keadaan taman saat ini berbeda, ketika Aria dan yang lain, sudah sampai di tempat itu.
"disana. Banyak orang yang sedang berkumpul." ujar Manra.
Di tengah taman. Ada beberapa kendaraan yang sedang terparkir. Banyak juga barang-barang bekas, seperti kotak kayu lapuk dan barang rongsokan seperti besi tua berserakan. Sebuah barang yang tidak mungkin ditaruh di tempat seperti ini.
"Juan. Yakin disini tempatnya?" tanya Riff.
"benar. Aku yakin." jawab Juan
Juan membuka peta yang dia bawa. Lokasi tempat Handy Talkie tersebut memang ada disini. Ketika Juan dan Riff melihat peta, simbol keranjang belanjaan sudah menghilang. Hanya simbol tempat Handy Talkie saja yang masih ada.
"tidak aku sangka. Kita akan bertemu lagi." ucap Ander kepada Aria.
Aria tidak menjawab perkataan Ander. Aria bingung. Apa Ayano harus dibawa ke tengah taman, bersama orang-orang yang lain? atau dia ditinggalkan sendiri di belakang bak mobil?
"aku urus Ayano. Kau pergi saja bersama mereka. Event ini harus secepatnya selesai." ujar Ander.
"baiklah." jawab Aria. Simpel.
Ander tidak seburuk sikapnya, seperti yang Aria bayangkan. Aria pikir, dia akan negatif thinking kepadanya, jika salahsatu temannya Aria ingin sentuh.
"kapan dimulainya? Lama banget."
"katanya jam tiga sih."
"haduh mengantuk."
(ucapan beberapa orang yang ada disana)
Srrt~ Srrt~
(suara Handy Talkie yang tiba-tiba menyala)
"aneh sekali. Kenapa hanya ada para player saja?" ujar Riff.
"kau benar. Tadi kita bertemu dengan beberapa warga sipil padahal." tambah Manra juga.
permisi~ dan selamat malam~
(suara orang dari Handy Talkie)
Saya ucapkan terima kasih untuk kalian yang sudah hadir. Saya sebagai utusan dari sang dewa ingin menyampaikan sesuatu.
Event ini diadakan, untuk membantu makhluk dari ras Ghoul, untuk bisa hidup sedikit lebih normal seperti ras yang lain.
Tugas kalian adalah menemukan Ghoul yang sedang menyamar. Dia juga yang menginfeksi warga untuk berubah menjadi Ghoul.
Jika selama lima hari. Event ini tidak diselesaikan. Ras Ghoul akan mendapat cara agar bisa hidup seperti ras lainnya.
Srrt~ Srrt~
(suara gemerisik dari Handy Talkie lalu mati)
Semua orang masih kebingungan. Banyak pertanyaan dibenak mereka yang masih belum terjawab. Informasi yang diberikan benar-benar sangat minim sekali.
Apalagi Aria. Dia juga penasaran. Apakah utusan dewa yang tadi berbicara di Handy Talkie tersebut. Orang yang pernah berada di Distrik Merah, untuk menyampaikan wahyu tentang Event?
"awas semuanya! Ada sesuatu yang terjadi." ujar seseorang.
Handy Talkie itu bergerak-gerak. Daging Ghoul yang membungkusnya berubah menjadi makhluk hidup. Wujudnya seperti seekor laba-laba. Badannya penuh dengan daging berwarna merah kenyal. Matanya besar dan hanya ada satu beserta gigi-giginya yang tajam.
__ADS_1
Grrh~
(suara makhluk itu ketika mendesis)
Semua orang bersiap untuk menyerang. Senjata yang masing-masing mereka punya, dikeluarkan untuk berjaga-jaga, jika ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
"kita akan bertemu di hari besok. Saat dini hari. Aku berharap, kalian bisa menyelesaikan quest yang beliau berikan." ucap monster itu.
Monster itu melompat ke api unggun yang berada di belakangnya. Api unggun itu menyala, karena ada beberapa bongkahan kayu di dalamnya yang sedang terbakar.
Bum~
(suara ledakan api unggun di tong besi)
Api unggun itu, seketika meledak. Kilatan cahaya apinya membuat orang-orang di sekitarnya menjadi bunar. Hanya cahaya putih yang bisa Aria lihat dan rasakan.
Ketika cahaya itu perlahan menghilang. Aria terbangun dari tidurnya. Badannya penuh akan keringat. Jam di dindingnya sudah menunjukkan pukul enam pagi. Waktunya dirinya untuk berangkat ke Akademi.
Aria memegang rambutnya untuk melihatnya. Warna rambutnya masih memutih. Sewaktu dirinya akan tidur, Aria ingat, dia sudah melepas pita rambut senjanya.
"astaga. Itu hanya mimpikan? Tapi kenapa terasa sangat nyata sekali?" ucap Aria.
Dia masih teringat, pesan yang disampaikan oleh orang dari Handy Talkie di mimpinya semalam. Sebuah tugas, untuk menemukan orang yang sedang menyamar menjadi Ghoul. Karena orang itu juga, di kota Agantha nanti, Ghoul akan muncul.
Aria juga masih mengingat. Nama orang-orang yang tadi dia temui, di mimpinya. Riff, Ander, Juan dan Manra. Dua orang lagi yang sedang merawat Ayano, Aria tidak tahu. Dia lupa bertanya, siapa nama mereka.
Tok~ Tok~ Tok~
(suara ketukan pintu kamar Aria)
"Irene. Bangun! Sudah pagi!" ucap Ibu Yana.
"iya Bu. Irene bangun!" jawab Irene.
Tok~ Tok~ Tok~
(suara ibu yang masih mengetuk pintu)
Irene yang masih terbaring di kasur, berusaha bangkit dari tidurnya. Dia menyibakkan selimut yang sedang menutupi sebagian badannya, tidak lupa melepas ikat rambutnya.
Di luar pintu kamar. Ibunya masih terus mengetuk pintu, Irene tadi rasanya, sudah berkata dengan suara yang terdengar sedikit keras. Sepertinya suaranya yang tadi, tidak terdengar oleh Ibunya.
"iya ibu~ iya~" kata Irene.
Ibu Yana membuka pintu kamarnya langsung, sebelum Irene yang membukakan pintunya. Irene lupa, tidak mengunci pintu kamarnya, saat kemarin malam, dia sudah terlalu lelah untuk melakukan hal itu.
Kritt~
(suara gesekan engsel pintu saat dibuka)
"Irene. Waktunya sarapan! Kamu engga sekolahkah, Nak?!...hmm." ujar Ibu Yana. Ucapannya tiba-tiba terpotong.
"iya Ibu. Irene akan sarapan sekarang." jawab Irene.
Irene berjalan menghampiri Ibunya. Dia ingin berangkat menuju ruang makan, meskipun Irene masih memakai pakaian tidurnya.
"tunggu, Nak. Kau habis melakukan apa, tadi malam?" tanya Ibu Yana.
Beliau menyetop Irene, sebelum keluar melewati pintu kamarnya. Irene jadi kebingungan, melihat tingkah laku Ibunya yang seperti itu.
"apa sih? Bu. Aku ingin sarapan, seperti mau Ibu. Kenapa dilarang sih?" tanya Irene. Balik.
Ibu Yana menunjuk ke dada Irene. Pandangan mata beliau, menyuruh Irene untuk melihat ada apa di dadanya.
"pakaianmu!" kata Ibu Yana.
Irene jadi teringat, kejadian di mimpinya, tadi malam. Pakaiannya disobek oleh Ayano, saat dia akan menjadi Ghoul. Dada kiri Irene jadi terlihat jelas, karena sebagian baju piyamanya yang sobek.
"eh~ astaga!" ucap Irene.
"kenapa piyamamu bisa sobek? Irene." tanya Ibu Yana.
__ADS_1
"tadi malam suasananya panas aja, Bu. Irene jadi kebablasan sampai merobek bajunya." jawab Irene. Bohong.
Baju piyamanya sobek, seperti yang Irene alami di mimpi, saat dia menyamar menjadi Aria. Tetapi, kenapa hanya sobekan piyamanya saja yang terbawa, saat dirinya sudah bangun? Irene masih bertanya-tanya di benaknya, kenapa jaket Ayano tidak terbawa juga?