
Irene keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang menutupi bagian tengah badannya. Dia berniat untuk pergi ke kota Roanes, untuk mencari seorang penjual informasi, karena di kota tersebut, banyak disinggahi oleh para petualang dan pelancong dari negara lain, yang berkunjung di negara Agastias.
"Aku penasaran dengan sosok pangeran yang akan dijodohkan denganku, seperti apa sih dia?" Ucap Irene.
Alasan ayahnya, ingin menjodohkannya dengan pangeran Einhoren, hanya karena kesejahteraan negara, itu sangat tidak masuk akal. Kenapa harus dengan pernikahan, masa depan negara Agastias bisa sejahtera? Ada apa emangnya dengan pernikahan ini?
Irene berjalan ke lemari pakaiannya. Dia melihat, ada banyak sekali pakaian yang cantik dan elegan disana, tetapi ada satu pakaian yang berkesan buatnya, ketika dia sedang memilih, pakaian apa yang akan dia gunakan.
Pakaian itu adalah seragam biru putih, prajurit wanita negara Agastias. Irene mendapatkan seragam itu, sewaktu mengikuti pelatihan menjadi seorang prajurit, di bawah bimbingan komandan Teo Tamae dan Fa Amber yang sekarang dia panggil, dengan kak Teo dan kak Fa.
"Sepertinya, aku harus mencari sendiri informasi mengenai pangeran itu. Semoga saja, ada karavan dari negara Einhoren, di kota Roanes nanti."
Irene mengambil seragam prajurit itu untuk dipakai, agar bisa keluar dengan cara menyamar menjadi prajurit wanita baru. Sebelum memakai seragamnya, Irene mengikat dadanya dengan kain, supaya dadanya tidak terlalu menonjol.
Bagi seorang prajurit wanita, memiliki dada yang menonjol sangat menganggu dalam pertempuran, apalagi untuk petualang wanita dengan class bertarung langsung, seperti class Assasin atau Fighter, pengecualian untuk class Mage, karena mereka hanya mengerakan tongkat sihirnya aja.
"Baiklah. Sentuhan terakhir."
Irene memasang kain berwarna putih, bermotif bunga di rambutnya. Irene terdiam sebentar di depan cermin yang ada dinding, untuk menentukan gaya rambut apa, yang akan dia gunakan sekarang.
"Tadi sudah ponytail, sekarang harus beda dong gaya rambutnya." Ucap Irene sambil melihat wajah cantiknya.
Setelah merenung sebentar, putri Irene mengikat kain itu di rambut kirinya, rambut yang tadinya berwarna pirang, berubah menjadi berwarna putih. Dia hanya mengubah, di bagian mana rambutnya dibuat ponytail, ditambah dengan topi barret berwarna putih biru, untuk memaksimalkan penampilannya.
"Baiklah, saatnya berangkat!"
Putri Irene berjalan keluar dari kamarnya, untuk pergi menuju ke kota Roanes. Keadaan di dalam istana, masih sepi, tanpa adanya seorangpun yang terlihat, bahkan kakak dan kedua orang tuanya.
Ketika putri Irene sudah sampai di depan pintu, tempat dia masuk ke dalam kerajaan, hanya ada lima orang prajurit pria, yang sedang berjaga di pos kecil yang tidak jauh dari pintu kerajaan. Lima prajurit itu, ada yang sedang bermain catur dan ada juga yang sedang mengobrol dan tertidur.
"Permisi bapak-bapak!" Ucap Irene.
"Nona ini, prajurit siapa yah?" Tanya salahsatu mereka.
Bukan tanpa sebab, Irene memanggil bapak-bapak kepada mereka berlima. Dua diantara lima prajurit itu adalah ras manusia, wajah mereka saja seperti pria paruh baya, sedangkan tiga prajurit lainnya adalah ras elf yang memiliki umur panjang dan sulit untuk menua.
"Saya Reana, murid dari komandan Fa Ander pak. Saya ditugaskan untuk melindungi putri Irene, ketika komandan Fa tidak ada." Jawab Irene yang menyamar menjadi Reana.
"Bukannya komandan Fa, hanya punya satu murid saja, yaitu putri Irene?" Tanya beliau.
Di antara lima prajurit pria yang sedang berjaga, hanya prajurit ras manusia ini, yang sangat penasaran dengan identitas Reana. Temannya yang lain ada yang sedang bermain catur, bahkan ada yang sedang tidur, ini orang malah main detektif-detektifan.
"Enggak kok pak, omong-omong pak. Bisa antarkan saya ke kota, enggak? Jalan kaki sendiri ke kota capek soalnya." Ucap Reana, dia melihat ada dua sepeda motor, yang sedang menganggur di dekat pos.
"Mau kemana Nona? Enggak jagain putri Irene kah?"
"Putri Irene sudah tidur pak. Ini juga ada tugas dari komandan Fa, yang harus saya selesaikan."
__ADS_1
Mendengar hal itu, beliau menyuruh Reana untuk menunggu sebentar, karena sepeda motornya akan diambil. Beliau memberikan helm kepada Reana sebelum berangkat, tetapi Reana tidak memakai helm tersebut, karena telinga runcingnya, yang tidak dapat dimasukkan di dalam helm.
Beliau mengantar Reana menuju kota Agantha. Di malam hari, kota Agantha ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang dan orang yang sedang berjalan-jalan menikmati, suasana kota malam hari atau hanya sekedar mencari sesuatu, seperti makanan contohnya.
"Hati-hati Nona, jangan pulang terlalu malam karena raja Grana juga sedang keluar. Takutnya nanti komandan Fa pulang bersama raja Grana dan mbak tidak ada disana, bisa masalah nanti buat pekerjaan mbak." Ujar beliau.
"Terima kasih pak atas nasehatnya." Ucap Reana sambil sedikit menunduk.
Reana berjalan menuju pinggiran jalan yang banyak terparkir kendaraan berwarna biru. Kendaraan itu adalah taksi, angkutan umum yang digunakan untuk mengantar penumpang ke tempat yang diinginkan.
"Pak. Tolong antarkan ke kota Roanes!" Ucap Reana.
Supir taksi sedikit terkejut, ketika melihat bahwa penumpangnya adalah seorang prajurit kerajaan, padahal aslinya tidak.
"Baik Nona!"
Kendaraan itu berjalan menuju ke kota Roanes, yang terletak tidak jauh dari lokasi kota Agantha. Kota Roanes banyak ditinggali oleh para pelancong dan petualang, karena terdapat banyak tempat yang bisa dijadikan toko dan tempat penginapan.
Taksi itu berhenti di pinggir jalanan kota Roanes, yang memiliki banyak sekali gang sempit yang saling terhubung, bahkan banyak yang menyebut kota Roanes, sebagai kota seribu gang, karena jalan sempit di kota itu yang terlalu banyak, bagi orang yang pertama kali mengunjungi kota Roanes, pasti akan tersesat.
"Permisi. Apa ada karavan dari negara Einhoren?"
"Maaf saya tidak tahu."
Reana bertanya kepada orang yang sedang berlalu-lalang di jalanan kota Roanes, setelah dia turun dari taksi, tapi kebanyakan, orang sekitar menjawab tidak tahu.
"Aku harus masuk lebih dalam lagi, kayaknya." Ucap Reana sambil berjalan masuk ke sebuah gang yang terlihat ramai orang.
Di depan mata Reana, di ujung gang sempit terlihat seperti ada keramaian orang-orang dan cahaya lampu yang bersinar dari beberapa gerai yang ada disana.
"Pak. Karavan negara Einhoren adakah disini?" Tanya Reana.
Pedagang barang aneh seperti seruling, batu bermotif dan juga serat kayu itu mengamati Reana, ketika dirinya sudah bertanya, mungkin saja dipikiran beliau, kenapa ada prajurit kerajaan yang datang ke tempat ini?
"Cari saja gerai-gerai yang dinaungi dengan tenda berwarna putih merah, Nona. Gerai-gerai itu milik pedagang dari negara Einhoren biasanya."
Reana mengucapkan terima kasih lalu pergi, untuk mencari tenda berwarna putih merah, yang di bawah tenda tersebut terdapat beberapa gerai. Tenda itu ternyata berwarna putih, yang membuatnya disebut berwarna putih merah, karena ada lambang negara Einhoren disana.
"Permisi tuan. Apa disini menjual informasi tentang negara Agastias?"
Pedagang yang ditanyai oleh Reana, diam saling pandang. Ekspresi wajah mereka seperti kebingungan, sekaligus khawatir, ketika ada seorang prajurit negara Agastias bertanya tentang itu.
"Informasi apa yang sedang anda cari. Nona ksatria?"
Seorang pria yang tiba-tiba datang, menghampiri Reana. Dia sepertinya diberitahu oleh pedagang Einhoren yang lain, bahwa ada prajurit negara Agastias yang sedang berkunjung.
"Saya ingin bertanya semua, tentang negara Einhoren dan juga siapa putra mahkotanya sekarang."
__ADS_1
"Silahkan ikuti saya nona. Kepala dagang kami saja yang akan menjawab semua pertanyaan anda."
Pria itu membawa Reana menuju ke tempat manager mereka berada. Manager karavan ini berada di sebuah bangunan kecil yang di depannya dibangun tenda dan gerai-gerai mereka.
"Tuan Lagen. Ada orang yang ingin bertanya sesuatu."
"Tumben juga. Persilahkan dia untuk masuk!"
Pria itu mempersilahkan Reana untuk masuk ke dalam, karena beliau, orang yang sedang Reana cari. Reana sedikit menunduk, seperti hormat seorang prajurit, sebelum masuk ke dalam bangunan kecil di depannya.
"Permisi tuan. Saya ingin bertanya tentang putra mahkota negara Einhoren dan semua hal tentang negara itu."
Beliau adalah tuan Lagen, orang tua dengan rambut hitam rapi dengan jengkot tajam ke bawah, sedangkan kumisnya melengkung ke atas.
"Putra mahkota, maksudmu pangeran Roan? Apa yang ingin kau ketahui tentang putra mahkota?" Tanya beliau.
"Bagaimana perilaku putra mahkota di negara Einhoren? Apakah dia seorang diktator atau pangeran yang serakah?" Ucap Reana.
"Pangeran Roan sangat cinta kepada negara dan juga kerajaannya. Dia juga pangeran yang sangat baik di mata rakyat-rakyatnya." Jawab tuan Lagen.
Reana sedikit lega, jika dia terpaksa harus menikah dengan pengeran itu. Pangeran Roan ternyata memiliki reputasi baik di negara dan masyarakatnya. Reana tidak bisa membayangkan, bagaimana menikah dengan pangeran diktator dan memiliki sifat yang jahat.
"Satu hal lagi tuan. Bagaimana cara negara Einhoren memiliki semua teknologi ini? Kendaraan mesin, lampu listrik bahkan televisi? Sedangkan negara lain seperti negara elf ini saja, tidak bisa meniru teknologi mereka?"
Tuan Legan terdiam sambil menatap ke arah atas. Jemari beliau mengetuk meja berkali-berkali, ketika Reana bertanya tentang ini.
"Mungkin itu salahsatu reward yang diberikan oleh dewa kepada bangsa tertentu nona. Dahulu, semua bangsa saling berperang, sebelum utusan dewa datang untuk memecahkan masalah, tentang perebutan sumber daya alam itu."
Reana pernah mendengar, bahwa adanya monster aneh yang berkeliaran di dunia sihir, dikarenakan ulah dewa itu. Dewa itu membuat kesepakatan kepada semua orang, bahwa dengan menyelesaikan quest atau membunuh monster darinya, bisa mendapatkan barang yang berharga.
"Reward itu seperti apa tuan? Apa sama seperti menyelesaikan quest di guild?"
"Tidak itu berbeda. Mereka yang hanya menyelesaikan quest dari guild disebut dengan petualang, sedangkan mereka yang menyelesaikam quest dari dewa, disebut player."
Reana penasaran dengan kata Player. Kenapa bisa ada sebutan berbeda dengan player dan petualang? Apakah quest yang diterima player dan petualang itu tidak sama?
"Nona bisa mencari seorang Npc. Dia akan memberikan nona quest yang harus diselesaikan. Untuk mencari Npc, nona bisa melihat matanya. Mata mereka bersinar berwarna hijau."
Tuan Lagen menjawab pertanyaan Reana yang masih tersimpan di pikirannya. Karena tidak ada lagi pertanyaan yang ditanyakan ke tuan Lagen, Reana izin pamit kepada tuan Lagen sambil meletakkan uang 50 Nael di meja.
Di gang sempit kota Roana yang masih ramai orang, nona Irene sedang berpikir mengenai hubungan reward dari dewa dengan teknologi yang negara Einhoren punya. Menurutnya, masih ada yang janggal mengenai teknologi negara Einhoren punya.
"Aku harus mengecek sendiri ke negara Einhoren, apa yang sedang mereka sembunyikan."
Ketika Reana sedang berjalan di gang, ada seorang anak laki-laki yang menabrak dirinya, padahal jalanan tidak terlalu ramai dari sebelumnya, tapi masih ada aja orang yang menabrak orang lain.
"Aduh~ kamu tidak apa?"
__ADS_1
"Tante. Tolong bantu aku! Adikku sedang dibuntuti oleh orang jahat!"
Reana tidak percaya, dengan apa yang dia alami, ketika melihat, siapa orang yang telah menabraknya, dia adalah anak kecil yang Reana lihat, ketika sedang berada di mobil.