
Yua, Wirl dan putri Irene berjalan menyusuri distrik merah. Di setiap tempat yang ramai dengan orang-orang, disana pasti diterangi dengan lampu berwarna merah, sedangkan lampu berwarna kuning hanya dipasang di pinggir trotoar untuk penerangan jalan raya.
Distrik ini dulunya adalah tempat singgah bagi para petualang dari seluruh negeri. Tempat para petualang zaman dahulu mengambil quest dan bercengkrama, sebelum adanya guild resmi dari pemerintah yang dipindahkan, supaya dekat dengan perbatasan keluar dari negara Agastias.
Pejalan kaki yang berkeliaran di trotoar selalu memakai pakaian bernuansa misterius seperti seorang intel yang sedang menyamar. Ada juga yang berpakaian sangar layaknya seorang preman. Berbeda di kota lainnya, seperti kota Agantha dan kota Roanes, pejalan kakinya memakai pakaian yang wajar.
"Kita cari cafe yang paling besar di tempat ini." Ucap Wirl.
"Jangan pisah dari kita berdua Irene, kalo kau tidak mau diculik." Ujar Yua.
Mereka bertiga menyebrangi perempatan jalan yang hanya ada orang-orang yang sedang menyebrang. Kendaraan seperti mobil pribadi, bahkan tidak terlihat terparkir di tepi jalan. Angkutan umum juga sepertinya tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Setelah mengantar penumpang pasti langsung pergi.
Di tengah pertigaan jalan. Ada sebuah cafe yang memiliki tiga lantai. Di sekitarnya, ada banyak sekali warung kecil yang menjual berbagai macam barang, seperti makanan dan minuman dan juga barang tertentu. Cafe itu memiliki sebuah tulisan yang dipasang di atapnya. Red Baron Ground.
"Kalian dulu sering kesini?" Tanya putri Irene.
"Di distrik ini. Cara mencari uang sangat gampang, Putri." Ujar Wirl.
"Cara mencari uang di distrik ini kebanyakan memakai tenaga." Tambah Yua.
Bagi negara yang dulunya pernah terjadi perang besar. Mencari uang dengan cara memakai tenaga sangatlah diminati. Apalagi jika bukan bertarung. Banyak orang di dunia sihir sudah terbiasa mempelajari ilmu bela diri daripada ilmu berbisnis.
Semenjak sesosok dewa memberikan sebuah solusi untuk menyelesaikan perebutan sumber daya alam. Semua kehidupan masyarakat berubah total. Banyak orang beralih profesi sebagai pembisnis daripada menjadi seorang petualang.
Seorang petualang saat zaman dahulu, berpetualang untuk mencari hal baru atau melawan monster. Karena melawan monster tidak memberikan upah yang cukup maka dewa itu membuat sebuah quest untuk membantu keuangan para petualang.
Quest itu akan memberikan sebuah reward bagi yang sudah menyelesaikannya seperti uang, jasa dan barang. Keuntungan seperti itu tidak dimiliki oleh quest dari guild yang hanya memperoleh uang dari orang yang sudah memasang quest tersebut.
"Irene. Kau belum pernah masuk ke basecamp para player?" Ucap Yua.
"Kalo masuk sih belum. Aku cuman sering berkunjung saja di distrik ini." Ujar putri Irene.
Irene berkunjung di distrik ini hanya untuk mencari teman party. Terkadang ada quest dari guild yang harus beranggota banyak untuk menyelesaikannya. Di distrik merah banyak orang yang bisa disewa jasanya untuk membantu menyelesaikan quest.
"Cafe ini sama seperti guild. Kalo guild untuk para petualang, jika cafe ini untuk para player." Tambah Wirl.
Ketika masuk di dalam cafe Red Baron Ground. Suasananya tidak jauh berbeda dengan suasana yang ada di guild petualang. Banyak orang yang sedang mengobrol. Perbedaannya hanya di tempatnya yang tidak ditata rapi. Tempat duduknya tidak diatur, tapi berantakan sesuka hati.
Di guild. Bar mengunakan satu meja kayu bundar dan empat kursi kayu. Lain halnya dengan cafe ini, tempat nongkrongnya mengunakan empat sofa dengan satu meja. Irene kira penerangan di cafe ini bakal lebih merah daripada yang ada di luar. Untungnya tidak, ternyata sama dengan penerangan yang ada di guild.
Wirl berbicara dengan resepsionis wanita. Berbeda sekali sifatnya dengan resepsionis wanita yang ada di guild. Resepsionis di cafe ini sifatnya dingin dan judes, tidak seperti di guild yang akan selalu tersenyum ramah ketika ada orang sedang bertanya.
"Kami ingin berkonsultasi." Ucap Wirl.
"Tuan Faremon sedang sibuk. Silahkan datang besok lagi." Jawab resepsionis itu.
Saat Wirl sedang bertanya. Putri Irene melihat ke sekitar cafe. Orang yang ada di tempat ini sepertinya kebanyakan seorang manusia atau mungkin setengah elf. Mereka tidak memiliki telinga runcing seperti dirinya, meskipun ada beberapa orang yang memiliki telinga runcing.
Karena negosiasi terasa alot. Wirl dan Yua memberikan sebuah kertas mengkilap kepada si resepsionis. Kertas mengkilap itu bukan sebuah uang, tapi kertas itu terlihat bisa mengubah ekspresi judes si resepsionis.
__ADS_1
"Baiklah. Tolong ikuti saya." Ucapnya.
Mereka bertiga diajak menuju ke pintu yang ada di samping loket resepsionis. Setelah berjalan lurus mengikuti si resepsionis, dia berhenti di depan pintu.
Tok~ Tok~ Tok~
(Suara ketukan pintu)
"Pak Faremon. Ada tamu." Ucapnya.
"Libia, kau Bilang saja kalo aku sibuk." Jawab beliau.
Resepsionis bernama Libia menjelaskan bahwa orang yang ingin bertemu dengan beliau memiliki Shinning Card. Setelah terdiam sebentar mendengarkan perkataan Libia dari balik pintu, beliau akhirnya mengizinkan tamu itu untuk masuk.
Ruangan beliau memiliki satu meja, sedikit panjang dengan ukiran orang purba sedang berburu hewan liar. Cahaya lampu di tempat ini tidak berwarna merah seperti lampu yang ada di distrik merah.
Yua, Wirl memberikan salam kepadanya, putri Irene yang melihat dua temannya sangat menghormati beliau juga memberikan salam. Status harus dibuang jika sedang bergaul dengan masyarakat.
"Yua dan Wirl, dan siapa nona ini?" Ucap beliau.
"Pak Faremon. Teman kami ini ingin berkonsultasi." Ucap Wirl.
Yua mengangguk. Dia mengandeng tangan putri Irene untuk duduk bersama di sofa. Pak Faremon mengunakan jas hitam, berdasi merah dengan kemeja putih. Pakaian seperti itu tidak lazim dimiliki oleh orang biasa.
"Apa yang kamu ingin tanyakan, Nona?" Tanyanya.
"Masalah apa yang kamu tanggung?" Tanya beliau.
Putri Irene menjawab. Dia ingin mengetahui teknologi yang dimiliki oleh negara Einhoren. Kenapa mereka bisa memiliki semua itu, sedangkan negara lain tidak bisa. Putri Irene juga ingin tahu, alat apa yang sedang negara Einhoren cari di negara Agastias dan apa itu keturunan tertentu.
Pak Faremon mengeluarkan berbagai macam barang dari laci mejanya. Semua barang yang dia keluarkan tidak pernah ada yang mempunyainya di negara Agastias. Beliau menjelaskan nama barang-barang itu dari Radio, Handphone, Pistol dan Handy Talkie.
"Teknologi seperti ini?" Tanya beliau.
Bukan hanya putri Irene yang terkejut melihat barang yang pak Faremon punya. Yua dan Wirl juga sama terkejutnya. Mereka bertiga tambah terkejut lagi ketika tuan Faremon mencoba alat yang bisa berkomunikasi dengan orang lain.
Jika itu sihir komunikasi. Hanya seorang penyihir kelas support saja yang bisa mengunakan sihir komunikasi jarak jauh. Syarat memakai sihir itu juga harus ada sesama penyihir kelas support untuk menjadi media penangkapnya, tapi alat itu berbeda.
"Darimana anda mendapat alat seperti ini?" Tanya putri Irene.
"Handy Talkie ini? Saya dapat dari dunia lain." Jawab beliau.
Tuan Faremon menjelaskan bahwa ada dunia yang lebih hebat dan lebih maju di bidang ilmu pengetahuannya, tapi di bidang ilmu sihirnya berbanding terbalik. Untuk bisa menuju ke dunia itu ada dua cara yaitu dengan memenangkan quest Event atau batu portal yang didapat dari Npc tertentu.
"Untuk apa anda bertanya soal itu?" Tanya tuan Faremon.
"Tidak apa. Saya hanya ingin mengetahuinya saja." Jawab putri Irene.
Tuan Faremon menatap putri Irene. Dia memperhatikan bahwa ada ekspresi lain yang sedang disembunyikan oleh kliennya. Tidak mau masuk terlalu dalam ke masalah personal, pak Faremon menghela nafas sambil menutup kedua matanya.
__ADS_1
"Soal alat yang ingin negara Einhoren teliti. Mungkin itu menara Sacram."
"Menara Sacram?!" Sahut Wirl.
"Buat apa mereka meneliti menara itu?" Tambah Yua.
Semua orang asli negara Agastias pasti tahu tentang menara tersebut. Menara itu adalah senjata terakhir bangsa Elf. Raja Elf kedua mengunakan sihir yang ada di menara Sacram untuk melindungi kerajaan Elf, sebelum beralih nama menjadi negara Agastias.
Sihir menara tersebut akan membuat sebuah barrier mana yang akan melindungi kerajaan elf dari serangan musuh. Setiap orang yang memaksa memasuk ke barrier akan terpotong dan terbakar, disebabkan tekanan mana yang ada di barrier itu.
"Anda yakin dengan hal itu?" Tanya putri Irene.
"Alat apa lagi yang mereka cari, jika bukan itu?" Ucap tuan Faremon.
"Tapi, untuk mengaktifkan menara itu harus ada yang memiliki kuncinya." Ujar putri Irene.
"Keturunan tertentu yang membawa kuncinya." Jawab tuan Faremon.
Penyebab menara Sacram sudah tidak pernah dipakai lagi karena tidak ada yang memiliki kuncinya. Hanya raja ke dua saja yang memiliki kunci untuk mengaktifkan menara Sacram. Setelah wafatnya raja kedua, menara Sacram sudah tidak pernah diaktifkan lagi.
Putri Irene merenung. Dia mencoba menarik semua kesimpulan yang telah dia dapatkan. Negara Einhoren sepertinya ingin berperang lagi seperti zaman dahulu, tapi siapa yang akan menjadi musuhnya? Mungkin sekarang, negara Einhoren sedang mencari tahu, siapa keturunan tertentu itu.
"Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan. Saya ingin lanjut bekerja." Ucap tuan Faremon.
Pak Faremon aslinya tidak ingin menerima tamu sama sekali saat ini. Karena ada orang yang memiliki Shinning Card, itu menjadi pengecualian. Beliau cuman memberikan Shinning Card kepada orang yang sudah berjasa kepadanya untuk berhutang budi.
Mereka bertiga pamit keluar dari ruangan. Sebelum mereka membuka pintu. Pak Faremon menyuruh mereka untuk datang lagi di distrik ini. Ada pemberitahuan penting mengenai game dewa pada pukul delapan malam, yang akan di sampaikan oleh para player veteran.
"Kalian nanti ke tempat ini lagi?" Tanya putri Irene.
"Mungkin iya." Ujar Wirl.
Yua hanya diam saja mendengarkan mereka. Jam di cafe menunjukan pukul sepuluh malam. Sejam lebih mereka bertiga berada di distrik merah, meskipun sudah hampir larut malam masih banyak orang yang nongkrong di distrik ini.
Di setiap sisi jalan terdapat alas tikar untuk orang-orang bersantai. Di sela gang di distrik ini juga ada beberapa tenda petualang yang didirikan. Jika di jam sekarang, ada di kota Agantha, mungkin sudah sepi orang.
"Aku masih bingung. Bagaimana caraku mencari tahu rahasia negara Einhoren." Kata putri Irene.
"Sepertinya kau harus pergi ke negara itu secara langsung." Ujar Yua.
"Tapi kau harus punya paspor untuk ke negara lain dulu sih, atau mempunyai suatu kepentingan disana." Tambah Wirl.
Putri Irene paham dengan perkataan Wirl. Dia harus lulus sekolah akhir dulu untuk mendapatkan paspor untuk izin pergi ke negara lain. Karena persyaratan membuat paspor adalah lulus pendidikan sekolah terakhir.
"Sepertinya sudah waktunya aku sekolah formal lagi." Ucap putri Irene.
Membahas sekolah formal. Putri Irene jadi teringat masa lalunya saat dia masih sekolah di bangku dasar. Keluarga Frainahunt sering mengucilkannya, karena hanya dirinya anak elf yang berasal dari keluarga Sheirahunt.
Karena tidak ada angkutan umum di pinggir jalan. Mereka bertiga menumpang di mobil barang yang sudah mengantar barang-barang untuk sebuah toko. Sesampainya di kota Agantha, mereka akan pulang dengan caranya masing-masing.
__ADS_1