Love And Adventure

Love And Adventure
Malam Perkumpulan


__ADS_3

"jadi maksudmu. Aku harus menemui orang ini?" ucap Aria.


Aria menatap Sanea, sambil menekan-nekan jari telunjuknya di titik bulat, berwarna kuning itu. Pikir Aria. Apa seperti itu? yang Sanea maksud barusan?


Sanea melihat ke arah kiri dan kanan untuk memastikan, tidak ada orang lain yang datang. Dia takut, jika ada pembeli lain yang tiba-tiba datang. Apalagi suasana Distrik Merah, semakin ramai akan pejalan kaki dan orang yang membeli makan malam.


"benar, Aria. Npc ini bisa memberikanmu apapun, jika kau berhasil menyelesaikan questnya atau mengalahkannya." ujar Sanea.


Kata Sanea. Dahulu, ketika dunia sihir dilanda peperangan besar, akibat perebutan sumber daya alam di kerajaan lain. Seorang dewa memberikan sebagian kekuatannya, kepada seseorang yang dia kehendaki.


Dari orang-orang itu. Muncullah istilah Npc. Mereka adalah orang yang diberi kekuatan untuk mengatur tatanan dunia sihir, seperti yang dewa itu wahyukan.


Perkataan Sanea tersebut, sama seperti buku milik ibunya yang pernah dia baca. Tapi, di buku itu, tidak menjelaskan, bahwa dewa itu memberikan sebagian kekuatannya kepada makhluk yang ada di dunia sihir.


"apa pernah? ada orang yang mengalahkannya?" tanya Aria.


"tidak ada sih." jawan Sanea.


Pernah ada rumor, kata Sanea. Para dewan yang dikatakan lebih hebat daripada rata-rata player yang ada di negara Agastias. Mereka saja dikalahkan oleh Npc khusus itu, tapi Npc itu memberikan sebagian hak eksekutif, kepada lima dewan tersebut.


Aria jadi semakin penasaran. Sekuat apa lima dewan tersebut? dan kenapa hanya sebagian saja orang yang menjadi player? Sebelumnya, saat dirinya menjadi petualang guild. kata permainan dewa, tidak pernah diucapkan oleh banyak orang.


"permisi nona. Pesanannya sudah siap." ucap seseorang.


Mendengar suara seseorang. Sanea dan Aria menjadi terkejut. Aria belum sempat menutup kertas petanya. Tapi, ketika mereka berdua melihat ke arah peta. Denah peta menjadi kosong. Tidak tergambar apapun di peta tadi.


Pemilik gerai datang, membawakan dua mangkok besar kepada mereka berdua. Aria melihat ukuran mangkok tersebut, dia sedikit syok. Berbeda dengan Sanea yang terlihat sudah menunggu kedatangan makanan itu.


Di mangkok itu, terdapat mie dengan kuah kaldu berwarna kuning. Ada tambahan beberapa bahan lain, seperti kentang, brokoli dan telur mata sapi bahkan potongan daging.


"ini makanan porsi pekerja proyek." ucap Aria.


"habisnya. Kau bilang, makanan yang sama denganku." kata Sanea.


Di rumahnya. Aria tidak pernah makan mie sebanyak ini. Makanan paling banyak, yang pernah dia makan adalah dua potong daging, dengan tambahan sayuran. Menurutnya, mie adalah makanan yang tidak sehat.


"jika tidak habis. Berikan saja kepadaku." ucap Sanea.


Sanea berkata seperti itu, setelah dia melihat raut wajah Aria. Dia seperti tidak yakin, apakah dirinya bisa menghabiskan makanan ini atau tidak.


"baiklah." sahut Aria.


...****************...


Mereka berdua melanjutkan perjalanan, menuju ke alun-alun Distrik Merah. Makanan mie milik Aria, Sanea habiskan. Aria tidak bisa memakan porsi banyak seperti Sanea.


Peta yang tadi, sudah berubah menjadi jepit rambut berbentuk bunga. Aria meletakkannya kembali, di rambut kepalanya, di bagian kiri.


"ternyata kemampuan khusus dari petamu, bisa berubah menjadi sebuah aksesoris." ucap Sanea, setelah melihat perubahan peta itu.


"begitulah." tambah Aria. Singkat.


Menurut informasi yang pernah Sanea dengar. Salahsatu dari lima dewan, yaitu Nona Ra. Beliau juga memiliki Ancient Map. Tapi kemampuan Ancient Map milik beliau, adalah bisa berubah menjadi bermacam-macam hewan.


Jika Aria ingat-ingat. Ancient Map miliknya juga, bisa berubah menjadi seekor hewan. Tapi perubahannya tidak lama. Peta miliknya berubah menjadi seekor hewan, hanya untuk bisa kembali menuju rambutnya saja.

__ADS_1


Jam besar yang ada di salahsatu dinding, di Distrik Merah, sudah menunjukkan pukul delapan kurang tiga puluh menit. Lokasi Distrik yang semakin padat akan orang-orang, yang entah datang darimana.


Salahsatu hal yang membuat Aria merasa aneh. ada banyak prajurit negara yang sedang berkeliaran di antara kerumunan orang-orang. Mengingat perkataan salahsatu dewan, Tuan Kai. Kata beliau, prajurit negara adalah musuh para player, tapi kenapa mereka ada disini?


"Sanea. Kenapa ada banyak prajurit negara disini?" tanya Aria.


"mereka juga ingin melindungi masyarakat, saat event nanti sedang berlangsung, Aria." ujar Sanea.


Aria menenggok kiri dan kanan. Banyak sekali orang yang memakai seragam prajurit kerajaan. Perasaan khawatirannya hanya satu. Semoga dirinya tidak bertemu dengan kedua gurunya, Kak Fa dan Kak Teo.


"melindungi? Melindungi dari apa?" tanga Aria. Lagi.


"event nanti akan berlangsung di kota. Para prajurit ini yang akan mengamankan masyarakat dari event Ghoul itu." jawab Sanea.


Jika Aria masih belum paham, Sanea menyuruhnya untuk menyimak ucapan singkat dari pengumuman para dewan Player nantinya.


"ikuti aku, Aria!" ucap Sanea.


Mereka berjalan lurus melewati kerumunan orang yang sedang berlalu-lalang. Semua orang yang datang di Distrik Merah, semua pergi ke arah yang sama, arah yang sedang Aria dan Sanea tuju.


Karena alun-alun di Distrik Merah, berada di belakang cafe Red Baron Ground, beberapa meter lagi. Melewati jalan aspal bercabang yang terdapat di bagian kiri dan kanan cafe Red Baron Ground.


"Sanea. Tunggu aku!" ucap Aria.


Kerumunan orang-orang itu membuatnya kesusahan untuk berada di samping Sanea. Berada di belakang Sanea saja, sangat susah. Kadang ada saja orang yang menabrak Aria.


"berjalan di tengah sepertinya mustahil." batin Aria.


Aria pergi menuju ke trotoar, karena disana terlihat tidak terlalu ramai akan orang berlalu-lalang. Di Trotoar, berjejer cafe kecil dan toko kecil lainnya. Orang-orang yang mengisi trotoar, hanya orang yang habis mengunjungi cafe atau toko.


Tidak memperdulikan hal itu. Aria melanjutkan jalan kakinya. Dia positif thinking. Mungkin saja, ketika pembicaraan tentang event di alun-alun, dia bisa bertemu dengan Sanea.


Sekarang. Aria hanya fokus mengamati keadaan Distrik Merah. Melihat banyaknya orang-orang yang datang membuatnya bertanya-tanya. Mereka semua datang darimana? Kemarin saja tidak seramai ini.


Tapi ada satu hal, yang membuat Aria, fokusnya tertuju kepada keadaan itu. Ada seorang gadis manusia berambut hitam panjang, dia sedang dirundung oleh lima prajurit elf berambut putih.


"dasar keluarga Frainahunt. Rasis mereka masih sama aja seperti dahulu." batin Aria. Dia pun bergegas menuju sana.


Aria/Irene jadi teringat akan masa lalunya di sekolah. Keluarga Frainahunt selalu merundung anak dari ras manusia dan ras elf campuran. Mereka menganggap, bahwa ras manusia dan elf campuran itu ras hina. Karena mereka ada dari kelakuan bejat para penjajah dahulu.


Karena Irene adalah putri dari raja, mereka menjadi segan untuk merundung dirinya. Meskipun kadang, dia pernah dibully. Dari kejadian itu, Irene ingin bisa beladiri untuk melawan mereka.


"dasar manusia hina! Kalau kau jalan, lihat-lihat dong. Lihat sebab tingkahmu ini!" ucap prajurit tersebut.


Dia sedang memarahi gadis yang sedang terjatuh itu. Di sekitarnya terdapat tiga belas buku tebal yang berserakan, dan lima gelas kopi yang telah tumpah. Gadis itu memakai sweater berwarna cream, dengan rok panjang berwarna putih. Berkacamata lingkaran besar.


Seragam prajurit yang prajurit itu pakai, terdapat noda kopi susu. Warna putih seragamnya menjadi warna coklat. Dua prajurit yang sedang duduk di jalan juga sama. Seragam mereka berdua terkena minuman kopi.


"maafkan aku! Aku tidak tahu, jika anda akan lewat disini." ucap gadis itu.


Dua orang yang terkena siraman kopi, berdiri dari duduknya. Salahsatunya menarik baju sweater gadis tersebut.


"ini gimana cara membersihkannya?! Bentar lagi, kita ada pertemuan. Kau akan membuat malu kami!" sentaknya.


Gadis itu hanya bisa menutup matanya dan diam tanpa kata-kata. Dia memegangi tangan prajurit pria itu, supaya dia tidak menarik pakaiannya lebih kuat lagi.

__ADS_1


"hey kalian. Apa seperti itu, kelakuan seorang bangsawan?" ucap Aria.


Lima orang prajurit elf itu, mengalihkan pandangannya menuju suara tadi. Di benak mereka, siapa gadis elf berambut putih ini? Kenapa dia tidak memakai seragam prajurit kerajaan seperti yang lainnya.


"siapa kau? Aku tidak pernah melihatmu di pertemuan keluarga." ucap salahsatu orang yang sedang berdiri.


"sebelum aku jawab pertanyaanmu. Lepaskan dia terlebih dahulu!" ucap Aria.


Anehnya. Orang-orang yang sedang berlalu-lalang, hanya menatap ke arah mereka. Tidak ada yang berani melerai atau menolong. Hanya tatapan mata yang orang-orang berikan, seperti sedang menonton sebuah film.


"jawab pertanyaannya dulu!" jawab pria itu.


"namaku Aria Frainahunt. Seperti yang kalian lihat. Aku keturunan keluarga Frainahunt." ujar Aria.


Salahsatu teman dari prajurit pria itu berjalan maju, di hadapan temannya. Dia menatap wajah Aria dengan teliti dari atas sampai bawah.


"oh begitu. Aku paham siapa dia. Dia pasti keturunan Frainahunt yang berasal dari kasta bawah." ucapnya.


"kasta Dinga pastinya. Tidak aku sangka, Kasta Dinga mempunyai gadis secantik ini." sahut temannya.


"gara-gara kita kebanyakan saudara, sampai lupa dengan saudara yang lain." tambah yang lain.


Pria yang mencengkram pakaian gadis asing itu melepaskan cengkramannya. Dia berjalan menuju hadapan Aria. Dia memainkan Jemarinya untuk melilit sehelai rambut Aria lalu menciumnya.


"aku turuti kemauanmu dan anggap saja semua tidak ada yang terjadi. Tapi kau harus menjadi pacarku!" ucap pria itu.


Aria tersentak sedikit ke belakang, setelah mendengar perkataan barusan. Dia tidak menyangka, akan bertemu orang dari keluarga Frainahunt yang kepedean.


"apa-apaan kau ini? Kita saja tidak saling kenal!" ujar Aria.


"apa kau ingat? Bahwa kasta terendah di keluarga Frainahunt harus mematuhi kasta tertinggi!" ucapnya.


Teman-temannya yang ada di belakang bersorai-sorai. Mereka meminta jatah untuk malam hari, jika nanti dia akan menikah.


"kau ini...!" ucap Aria.


Ingin sekali Aria pukul wajahnya. Tapi ada sesuatu kejadian yang membatalkan niatnya tersebut.


"astaga, Aria! Aku telah mencarimu kemana-kemana. Kau mau diapakan oleh mereka?" ucap Sanea.


Beruntung Sanea datang. Jika tidak, dia sudah menghajar habis orang-orang ini. Tidak peduli akan menjadi tontonan hiburan gratis.


"kalian berlima. Apa yang sudah kalian lakukan?" ucap seseorang.


Setelah Sanea datang. Muncul orang lain lagi. Dia seorang pria elf berambut putih berseragam prajurit. Jubah mantel putih yang mencolok membuatnya berbeda dengan prajurit lainnya.


"hormat tuan muda!" ucap lima orang itu.


Aria tahu, siapa sosok yang sudah datang ini. Dia adalah pangeran Daniel Frainahunt, adik dari tuan putri Airin Frainahunt. Mereka hanya berbeda tiga puluh menit, di masa lahirannya.


"Riney, Fado dan Ewa. Ada apa dengan seragam kalian? Kenapa kotor?" tanya tuan muda Daniel.


Aria tidak menatap wajah tuan muda Daniel. Dia sibuk membantu gadis asing tadi, untuk menata buku-bukunya kembali, yang terjatuh di jalan.


Dia merasa malu, untuk melihat wajah tuan muda Daniel. Karena dahulu, mereka pernah menjadi sepasang kekasih, sebelum perasaan mereka terhalang oleh keluarga.

__ADS_1


Apalagi ada kutukan, jika keluarga Frainahunt dan Sheirahunt menikah. Salahsatu dari mereka akan mati, ketika melakukan malam perrama. Sebab itu, cinta mereka tidak direstui.


__ADS_2