
Irene bangun tidur. Dia datang di rumah pukul sebelas malam. Susahnya mencari transportasi umum saat malam hari, membuat waktu pulangnya sedikit lama.
"aduh badanku!" keluh Irene.
Akibat bertarung dengan tiga orang laki-laki sekaligus, saat malam kemarin, membuat badan Irene sedikit linu. Ketika diregangkan punggungnya, dengan mengangkat kedua tangannya setinggi mungkin, suara renyah tulangnya sampai berbunyi.
Mengingat kejadian kemarin malam, tiga orang yang menyerangnya mengunakan sihir, membuat Irene ingin bisa memakai sihir juga. Tapi mau sekeras apapun dirinya berusaha, semua itu hanya percuma. Keluarga Sheirahunt memang ditakdirkan untuk tidak bisa mengunakan kekuatan sihir.
Berbeda dengan keluarga Frainahunt. Mereka memiliki suatu hal yang tidak dimiliki oleh keluarga Sheirahunt yaitu mana. Tapi kelebihan yang dimiliki oleh keluarga Sheirahunt juga tidak bisa dimiliki oleh keluarga Franahunt yaitu kemampuan untuk memanipulasi benda.
"sampai kapan, jepit rambut ini bakal ada di kepalaku?" ucap Irene sambil berkaca.
Peta yang telah diberikan oleh Vio, sekarang menjelma menjadi sebuah aksesoris. Irene bingung, bagaimana cara melepas benda ini. Dia sudah melepas jepit rambut ini, sebelum tidur dan menaruhnya di meja rias. Tapi jepit rambut itu berubah menjadi seekor laba-laba dan melompat ke atas wajahnya.
"sudahlah. Biarkan saja."
Irene merapikan ranjangnya lalu menganti pakaian tidurnya. Jam di dinding sudah menunjuk di pukul tujuh pagi. Waktunya untuk sarapan pagi. Sebab kebiasaan sarapan di rumah, di jam tujuh. Ketika sedang menjadi petualang juga, Irene selalu sarapan di jam segitu.
Di lorong, ada beberapa pelayan yang sedang mondar-mandir. Irene kira bahwa rumahnya sudah tidak menyewa mereka lagi. Kemarin malam, tidak ada pelayan satupun yang terlihat di istana. Apa karena perginya dirinya? Jadi para pelayan tidak ada tugas lagi?
"selamat pagi kak Dian dan ibu." sapa Irene.
Di ruang makan. Ada kakak Dian dan Ibu Yana, sedangkan Ayah Grana sepertinya masih belum datang. Sepertinya beliau sedang sibuk.
"pagi juga, Irene." jawab kakak.
Kak Dian sedang duduk sambil membaca berita pagi. Ada foto adiknya di halaman utama koran. Pemberitahuan bahwa putri Sheirahunt sudah kembali, setelah menghilang selama sebulan. Sedangkan Ibu Yana sedang membaca sebuah buku, sepertinya itu buku kuno, sampulnya aja sudah usang berwarna coklat.
"kamu sekarang kok bangunnya kesiangan sih, nak?" ucap Ibu Yana.
Hanya senyuman manis yang bisa Irene berikan, untuk menanggapi ucapan ibunya. Dia bangun sedikit siang, karena badannya masih lelah, sehabis bertarung dengan tiga pria sekaligus, dan belum beristirahat, setelah menyelesaikan quest membunuh monster Tarantula yang menghalau jalan raya.
"oh iya, Irene. Mulai besok kamu bisa langsung masuk akademi Teodore. Aku sudah mendapat izin dari rektornya." ujar kak Dian.
"ibu setuju sih. Kalau kamu mau melanjutkan pendidikan lagi. Kalo enggak, kayaknya kamu bakal dinikahkan lagi dengan lelaki lain." sahut ibu Yana.
Irene duduk di kursi, meja makan. Dia berniat menanyakan sesuatu kepada ibunya. Sebuah keinginan yang sudah dirinya pernah lakukan, dan ternyata hal itu menyenangkan.
"jika aku tidak masuk akademi. Apakah aku bisa menjadi seorang petualang? Ibu." ucap Irene.
"Irene. Kamu menjadi petualang bakal mendapatkan apa sih? Sekalian aja menjadi jendral negara, kalo gitu." ujar Ibu Yana.
"Aku ingin tahu banyak hal. Katanya, ada dunia, dimana disana lebih maju daripada dunia kita. Aku ingin pergi kesana dan belajar sesuatu." kata Irene.
Ibu Yana menutup bukunya. Ketika beliau ingin mengeluarkan kata, pintu ruang makan diketuk. Seorang pelayan istana sedang meminta izin untuk masuk mengantarkan makanan untuk sarapan pagi.
"maaf nak. Kamu sudah dewasa sekarang. Cobalah berpikir realistis. Kamu juga salahsatu dari keluarga kerajaan. Belajarlah sesuatu yang dapat memberikan kontribusi bagi negara."
Tok~ tok~ tok~
(suara pintu ruang makan diketuk lagi)
__ADS_1
"silahkan masuk." ucap ibu Yana.
Kakak Dian hanya diam mendengarkan perkataan Ibu Yana. Pandangannya melihat ke arah mereka berdua, dari balik kertas koran yang sedang dia pegang. Kak Dian sepertinya tidak berani ikut campur, ketika Ibu Yana sedang berkata.
...****************...
Irene turun dari taksi. Sebuah tempat yang banyak, terdapat gerai-gerai yang letaknya sedikit terpisah jauh dari gerai lainnya. Semua orang yang ada disini sedang membeli barang daripara petualang, yang dijual kepada pihak ketiga. Terkadang, ada barang yang didapatkan oleh para petualang, ketika melawan monster atau mengeksplorasi tempat tertentu.
"terima kasih, pak." ucap Irene kepada supir taksi.
"sama-sama, Nona." jawab beliau. Setelah Irene membayarnya.
Penampilan Irene seperti gadis remaja dari keluarga Frainahunt. Warna rambutnya diubah menjadi putih. Berpakaian Saifuku pendek, putih dan hitam dengan rok hitam selutut. Tidak lupa mengunakan celana pendek, agar tidak malu jika harus berkelahi dengan laki-laki nanti. Takut roknya terbuka.
Tempat yang Irene kunjungi adalah sebuah balai kota. Tempat orang-orang menjual barang-barang aneh. Tidak ada tempat untuk makanan seperti warung, atau toko lainnya. Hanya ada gerai atau penjual beralas tikar yang sedang menjual barang yang tidak biasa.
"baiklah. Quest mana yang akan aku ambil?"
Di balai desa, ada sebuah aula yang terdapat sebuah papan quest sukarela. Sebuah papan kayu dengan banyak lembaran poster dari quest orang-orang yang tidak mempunyai biaya untuk memasang quest milik mereka di guild.
Memasang quest di guild membutuhkan biaya, karena pihak guild akan menyuruh para petualang untuk menyelesaikan quest yang masih ada di papan. Tujuannya agar quest lama tidak menumpuk di papan dan quest baru memiliki tempat untuk dipasang.
"sepertinya ini cocok." ucap Irene.
Quest membawa lendir slime. Biasanya lendir slime digunakan untuk bermacam-macam hal, seperti pembuatan sabun atau cairan pembersih kotoran, bahkan untuk obat.
Alasan lain, Irene mengambil quest itu karena sangat mudah untuk dilakukan. Menurutnya, quest ini cocok untuk mengisi waktu luangnya sampai waktu petang.
Irene tidak masalah harus basah-basah di gorong-gorong kota, selama di tempat itu ada monster Slime. Air gorong-gorong yang kotor akan menjadi bersih seperti air sungai.
"ingin mengambil quest inikah? Nona." tanya penjaga Aula balai.
Beliau adalah petugas di balai kota ini. Seorang pria parubaya dengan sedikit kumis. Pakaiannya seperti pakaian tentara, tapi agak sedikit berbeda. Kaen Faraval, nama yang tertulis di tanda pengenalnya.
Semua orang yang bekerja dibawah pemerintah Agastias, pasti akan memakai baju yang disainnya hampir sama. Disain pakaian prajurit yang sedikit dimodifikasi untuk membedakan profesi satu sama lain.
"iya bapak. Minta izinnya." ucap Irene.
"nama anda, Nona." jawab beliau.
Irene memikirnya nama yang akan dia tulis. Tidak mungkin dirinya menulis namanya memakai nama Reana lagi. Sudah banyak sosok lain dirinya, dia beri nama Reana.
"mungkin ini, nama yang paling cantik." gumam Irene.
Di buku catatan quest balai desa. Irene menulis nama Aria di kertas dokumen yang diberikan oleh bapak Kaen. Dokumen itu yang akan Irene bawa untuk menjadi bukti, jika dirinya sudah mendaftarkan namanya untuk menyelesaikan quest mencari Slime.
Sebelum menjadi petualang resmi guild. Hal seperti ini yang selalu Irene lakukan sebelumnya. Menyelesaikan quest milik warga yang tidak mampu. Dia ingin membantu warga, sekaligus mempraktekkan ilmu beladirinya.
"baiklah nona Aria. Ini kertas dokumennya. Kalau sudah selesai nanti, berikan kertas dokumennya untuk bukti." ucap pak Kaen.
Pak Kaen menstempel kertas quest tersebut dan menyimpannya. Ada lima lembar quest berburu Slime yang Aria ambil, tapi Slime yang akan diburu di setiap quest, berbeda jenisnya.
__ADS_1
"kalau mau mencari monster slime. Cari aja tempat yang sekiranya kotor, Nona. Tapi tempat itu terlihat bersih." tambah bapak Kaen.
"terima kasih bapak." jawab Aria.
Irene memutuskan, bahwa sosok dirinya yang mengunakan rambut putih, dia beri nama Aria. Ada Irene, si Elf cantik berambut pirang, ada Reana, si Elf berambut hitam, dan tentunya Aria.
Aria berjalan keluar dari Aula balai kota. Melawan sedikit kerumunan orang-orang yang sedang berjalan berlawanan dengannya. Dia ingin pergi menuju pinggir jalan untuk mencari taksi yang sedang stand by.
"pak. pesan taksi." ucap Aria.
"mau pergi kemana, Nona?" jawab pak supir.
"tempat pembuangan akhir, pak." jawab Aria.
Pak supir taksi memasang muka binging. Gadis cantik dengan pakaian imut seperti ini mau apa di tempat pembuangan sampah? Tapi karena itu sudah menjadi tugasnya untuk mengantarkan penumpang, tanpa banyak bertanya akan dia antar.
Di dalam taksi Irene kepikiran sesuatu. Pernikahannya sepertinya sudah dibatalkan, jadi dirinya tidak perlu kabur lagi dari rumah. Terus tujuan apa selanjutnya yang akan dirinya pilih?
"sehabis lulus akademi, nanti aku ngapain yah?" batin Irene.
Dia bingung. Tidak ada tujuan lagi, apa yang akan dirinya lakukan. Apa menjadi petualang saja seperti temannya, si Lize. Dia berkenala dari negara satu ke negara lain.
Taksi berhenti. Lampu lalu lintas sedang berwarna merah, untuk mempersilahkan kendaraan yang ada di jalan lain untuk pergi menyebrang.
"melamun kenapa, Nona?"
"sedang memikirkan masa depan sih, pak."
Pak supir mengangguk-angguk. Beliau sepertinya juga paham dengan apa yang sedang dialami oleh penumpangnya. Beliau menarik nafas panjang setelah mendengar perkataan seperti itu.
"lakukan saja. Apa yang kamu suka, Nona. Pasti nanti akan menemukan hal, yang dipikir pantas untuk diperjuangkan."
"terima kasih, pak. Sarannya."
Ketika menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau. Irene memalingan pandangannya ke arah kaca taksi untuk melihat ke arah toko-toko yang ada di pinggir jalan. Mencoba menghilangkan gundah akan masa depannya, dengan melihat ramainya orang-orang yang ada di trotoar.
"tunggu. Apa itu?" ucap Irene dengan lirih.
Di gang sempit yang diapit dua toko. Tutup besi saluran air, tiba-tiba saja terangkat dengan sendirinya. Sebuah tangan berwarna hijau muncul dari dalam sana.
Menurut Irene. Tidak mungkin ada orang yang bisa membuka tutup selokan umum. Semua tutup selokan digembok dari dalam, agar tidak bisa dibuka, selain oleh petugas pelayanan masyarakat.
Sosok yang ada di dalam selokan mengintip sedikit keluar. Dia seperti seorang anak kecil dengan rambut berwarna hitam, tapi kulitnya berwarna hijau.
"pertanda apa ini?"
Irene jadi teringat dengan sosok anak kecil yang dia lihat di kerumunan orang-orang, saat dirinya ditemukan. Irene sadar, jika wajah anak kecil yang ada di kerumunan itu sama dengan wajah En, kakaknya si Vio.
batin Irene sedikit gusar. Kejadian apa lagi yang akan dia alami nanti? Apa semua ini ada hubungannya dengan game dari dewa? Semenjak dirinya menjadi seorang player, hal-hal mengejutkan sering terjadi di sekitarnya.
"ada apa, Nona? Masih galau akan hidup?" tanya pak Supir.
__ADS_1
"tidak apa pak. Hanya melamun saja." jawab Irene.